TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
23 PRAMUDA


__ADS_3

Seorang pemuda tampan berkebangsaan Amerika, datang menghadiri rapat penting pada hari ini. Di pukul 10:00, ia beserta dua orang bawahannya yaitu Alfa dan satu lagi Winda yang pandai berbahasa Inggris-Indonesia sebagai Juru Bicara mereka. Semua mata takjub melihat pemuda yang berjalan mendahului dua karyawannya itu. Benar-benar bersinar dan ramah terhadap mereka semua.


Chang sudah menunggu di ruangannya dan didampingi oleh Shabita sebagai sekretarisnya. "Van, tolong kamu bagikan semua berkas pada mereka, satu per satu," pintanya dengan nada lembut.


"Baik, Pak." Shabita segera membagikan semua folder berisi berkas itu pada mereka semua yang telah duduk di meja rapat direksi.


"Silakan dibaca dulu," kata Chang. Ia menepuk bangku di sebelahnya untuk memberi isyarat agar Shabita duduk di situ.


Shabita menurut saja, gadis itu kini juga memperhatikan isi materi rapat mereka hari ini. "Pak, laporan keuangan kita minggu lalu belum diberikan  oleh asisten bagian atministrasi. Katanya Toni tidak datang hingga saat ini," bisik Shabita seraya menutupi wajah mereka dengan map itu.


"Asisten bagian keuangan kita mana? Kalau Toni tidak ada, pastinya dia kan ada?" bisik Chang juga.


"Katanya Toni juga tidak mengizinkan dia untuk meng-input data keuangan perusahaan secara rinci."


Chang berkerut dahi, baru ini dia bertemu dengan kasus aneh seperti itu, bukannya seharusnya asisten dan ketuanya bekerjasama, tetapi ini lain ceritanya. Sepertinya ada sesuatu yang aneh dari perbuatan Toni. "Kamu lupain Toni. Dia anggap saja sudah mati. Saya tidak suka sama mayat hidup seperti dia," larangnya ketika Shabita akan berucap lagi.


"Oke, ini berkas yang kalian kirim kemarin. Sudah kami baca semua," kata Winda. Perempuan matang berusia tiga puluh lima tahun dengan rambut kemerahan serta kacamata yang melekat di wajahnya.


Shabita dan Chang kaget karena mendengar suara Winda, mereka buru-buru bersikap normal. Mereka berdua memandang pada berkas yang diberikan oleh Winda. Nampak Winda sedang berdiskusi dengan atasannya.


"Kata Pak Pramuda, melihat keuangan dan perusahaan ini yang kian hari kian memburuk, maka kami tidak bisa menerima resiko untuk menyetujui kerjasama di perusahaan kalian ini. Sorry ... ini sebuah keputusan sulit bagi kami," kata Winda.


Pramuda menangkupkan kedua telapak tangannya dan berkata, "Sorry," katanya. Kemudian ia membisiki kembali Winda.


"Katanya, dia akan senang hati akan menerima kalian lagi bila dirasa ada harapan dan jaminan bagi kami untuk mempercayakan keuangan kami kepada Anda." Winda mengartikan ucapan Pramuda.


Mereka bertiga menunggu Chang angkat suara, tapi pemuda itu malah mengangkat foldernya tinggi-tinggi untuk menutupinya berbisik pada Shabita. "Menurutmu?" tanya Chang.


"Saya mana mengerti, Pak. Kalau saja ada mereka di sini pasti mereka saja yang menjelaskan," jawab Shabita. Yang dimaksud gadis itu adalah manajer keuangan, bagian atministrasi dan jajaran pemasaran, tapi hingga kini hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.


"Biar mereka ada juga, kalau laporannya tidak ada pada mereka sama saja percuma." Chang mencibir kesal.


"Sudah selesai diskusinya?" tanya Winda.


Chang kembali menurunkan foldernya dan meletakkannya di meja. "Beri kami kesempatan itu, Mister. Kami akan menjalankan sebaik-baiknya amanah kalian," pinta Chang.


Winda berbisik lagi pada Pramuda. Ia mengartikan bahasa Chang padanya. Setelelah selesai ia lalu berkata, "Jaminannya apa dan bagaimana kami bisa mempercayai perusahaan Anda untuk memegang uang sebesar itu?" Winda menyampaikan ucapan Pramuda.


Udah Van, nguyang saja. Kamu akan kaya dan tidak perlu lagi bekerja. Hihihi.... Iblis dalam pikirannya berbicara. Atau kau goda saja pengusaha tampan di depan sana, kau pasti bisa melelehkannya.


Shabita menggeleng ia ingin menghilangkan bisikan itu. Tanpa sadar matanya bertemu dengan mata Pramuda yang memandang heran padanya. Gadis itu segera mengalihkan pandangannya kepada Chang, tapi lehernya berkata lain. Lehernya kaku dan dapat berputar sendiri tanpa keinginannya. Aku diaturnya. Sial sekali! Shabita mengumpati iblis dalam dirinya. Tanpa sadar matanya berkedip sendiri pada Pramuda. Kurang asam kenapa mataku ini? Shabita cepat-cepat menutup wajahnya dengan folder yang ada di depannya. Ia sempat melihat reaksi Pramuda yang kaget sekaligus terpesona melihatnya.


"Kamu kenapa?" bisik Chang yang aneh melihat tingkah Shabita.


"Sepertinya saya sedang jat-" Shabita segera menutup mulutnya sendiri. Bukan ia yang bicara tadi, ia diatur oleh orang itu. Mulut tidak tahu diri. Umpat gadis itu.


"Ngomong apa sih, kamu?" tanya Chang heran.


"Hello, bisa bicara sebentar?" tegur Winda saat dilihatnya mereka berdua tengah asyik berbicara di balik folder masing-masing.

__ADS_1


"Ekhem," Chang mendehem dan menegakkan duduknya sembari dua jemarinya disatukan di meja. "Maaf, kami hanya mendiskusikan tentang pertanyaan kalian tadi," jawab Chang.


Pramuda menepuk bahu Winda tiga kali. Winda segera mendekatkan dirinya padanya. "Begini, kata Pak Pramuda ia berubah pikiran. Dia setuju memberi kalian kesempatan itu." 


"Baiklah kami mengerti," kata Chang dengan wajah kecewa.


"Pak, maksud yang di depan itu setuju. Bukan tidak," bisik Shabita.


"Masa?" Chang tidak percaya.


"Benar, kami setuju memberikan kesempatan itu pada Bapak. Tolong gunakan sebaik-baiknya modal dari kami itu ya, Pak," kata Winda.


Chang melongo heran dan juga senang. Pasalnya ia heran bagaimana bisa disetujui padahal tadinya mereka menolak. Memang aneh, tapi rasa itu ia kesampingkan dahulu demi kemajuan perusahaannya kelak. "Terima kasih," ucapnya senang.


Mereka saling tatap dan sama-sama mengangguk, kemudian berdiri memberi jabatan tangan pada Chang dan Shabita. "Selamat bekerja, semoga sukses." Winda mewakili mereka berdua berbicara.


"Terima kasih," ucap Chang dan Shabita bersamaan sambil membalas uluran tangan mereka.


"You ... Shabita?" Pramuda membaca ID pada baju gadis itu.


Shabita menengadahkan kepalanya untuk menatap pemuda itu. "Yes, i am Shabita," jawabnya.


Pramuda tersenyum. "Thank," katanya seraya meninggalkan mereka.


Shabita tersenyum membalas senyum Pramuda yang masih mengembang hingga di luar sana. Chang memandang Shabita yang kini memandangnya.


"Ngomong apa tadi dia sama kamu?" tanya Chang.


"Itu sih saya dengar. Kamu pikir saya tidak bisa bahasa mereka, bisalah. Saya gak ****-**** amat kok. Walaupun di sekolah sering dibegoin sama teman," kata Chang. "Mata kalian itu saling bicara, saya tidak senang melihatnya, apalagi kamu tersenyum genit padanya. Saya makin tidak senang," tambahnya lagi.


"Bapak aneh, mata-mata saya kok, situ yang marah," sindir Shabita sembari berjalan membereskan semua folder di meja dan membawanya pergi.


"Berapa kau sewakan matamu itu. saya akan bayar! Pokoknya sebut saja, asal kamu jangan melihat dia, saya bayar per jam mata itu." Chang berteriak kesal.


"Sinting!" Shabita kembali ke kantornya dan menaruh folder berisi berkas itu di mejanya.


****


Anggara masih sibuk menangani kasus penemuan mayat tadi malam. Ia belum sempat tidur sama sekali karena harus mengurus semua itu. Inspektur Zamal menghampirinya sembari menyodorkan secangkir kopi dan gorengan.


"Dimakan dulu mempung masih hangat,"  katanya seraya duduk di teras rumah besar itu sembari mencicipi kopi panas miliknya.


"Terima kasih," ucap Anggara seraya minum. Ia kemudian mengambil satu gorengan dan memakannya.


"Kita sudah menghubungi pihak yang memiliki CCTV di sekitar sini. Katanya akan memberikan hasil rekamannya semalam. Semoga saja kita bisa melihat kejadian yang sebenarnya," kata Inspektur Zamal. Ia menselonjorkan kedua kakinya dan tersenyum pada Anggara. "Kemarin itu kenapa kamu bawa dia. Apa di rumah terjadi sesuatu?" Inspektur Zamal mengganti topik pembicaraannya.


"Dia?" Anggara bingung.


"Istrimu itu loh," kata Inspektur Zamal.

__ADS_1


"Oh, dia bukan istri saya. Masih berteman, Pak," jawab Anggara.


"Teman kok sedekat itu?"


"Maunya saya sih lebih, tapi gak tau dia." Anggara menghela napas seraya mengusap wajahnya.


"Udah bilang belum?" tanyanya.


Anggara memandang atasannya sekilas kemudian menunduk seraya tersenyum hambar. "Sudah, tapi ditolak."


"Terus kenapa masih bersama?"


"Saya yang maksa," jawab Anggara dengan senyum getir.


"Kasihan," Inspektur Zamal geleng-geleng kepala seraya mengusap punggung Anggara.


Seorang bertubuh tinggi kurus datang melapor. "Pak, Jonathan sudah datang," katanya seraya menghormat.


"Suruh dia kemari!" perintah Inspektur Zamal.


Pemuda tadi segera menjalankan perintahnya. Tidak lama yang diperintah datang dengan membawa bungkusan putih berisi CCTV dan kaset perekam, serta laptopnya.


"Pak, ini semua hasil dari perkumpulan kami," kata Jonathan seraya duduk dan membuka bungkusan itu.


Inspektur Zamal memperhatikan pemuda berwajah tegas dan sedikit berisi itu membongkar barang temuannya. Matanya berbinar ketika ada satu foto di sana. "Ini tersangkanya?" Ia ambil foto gadis di situ.


Jonathan segera merebut foto itu darinya. "Bukan, ini pacar saya," jawabnya cepat.


"Foto pacar, kok nyelipnya di situ," sindir Inspektur Zamal.


Anggara dan para polisi lain segera berkumpul untuk melihat hasil rekaman yang diputar di laptop mereka. Mereka tercengang tidak percaya melihat seseorang datang ke rumah besar yang menjadi tempat penyelidikan mereka saat ini, menjadi aksi pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang yang mustahil untuk dinalar dengan akal sehat manusia.


"Apa itu, Pak?" Tunjuk salah seorang dari mereka.


Semua memerhatikan apa yang ditunjuk itu. Seorang pemuda datang sambil menerima telepon, dia berdiri sambil mencari-cari seseorang. Tidak jelas wajahnya tapi mereka dapat melihat bahwa itu adalah seorang pemuda. Pemuda itu mengendus-endus bau busuk. Ia mengipas wajahnya dan menutup hidungnya. Masih menerima telepon, ia berjalan mengitari rumah besar itu. Seseorang datang dengan tubuh dihinggapi lalat langsung mencekiknya dari belakang. Tampak pemuda itu mencoba melawan tapi ia tidak sanggup bernapas karena baunya yang membuat dirinya jijik dan belatung yang juga ikut menjalar ke tubuhnya. Setelah pemuda itu tidak bernyawa lagi, maka si pelaku jatuh ke tanah. Yang mati kini hidup kembali dan tertawa, kemudian meninggalkan si pelaku tadi. Tubuh pelaku tiba-tiba meleleh.


Inspektur Zamal menepuk paha Anggara. "Betul kata cewekmu itu. Dia jalan sendiri!" serunya.


"Hii... Pak, hantu itu mah." Mereka sama-sama merinding.


"Tetap saja harus kita cari sampai ketemu, kalau tidak dia pasti mencari tubuh baru lagi," kata Jonathan.


"Tapi kita tidak tahu siapa orang yang menjadi korbannya itu. Wajahnya saja tidak terlihat," kata salah seorang dari mereka.


"Anggara, coba kau tanya sama cewekmu itu siapa tahu ia bisa merasakannya." Saran Inspektur Zamal.


"Kemarin dia cuma bercanda, Pak," jawab Anggara.


"Tanyakan saja, tidak ada salahnya kok." Inspektur Zamal mendesak dengan nada lembut.

__ADS_1


Anggara menggaruk kepalanya. Kemudian memakai topinya. "Saya pulang dulu ganti baju. Nanti saya pikirkan saran Bapak tadi," katanya.


__ADS_2