
Dara meraih tisu di toilet kampus. Menyeka darah yang mengalir di sela lehernya. Ia meringis merasa perih. Anan datang karena merasa cemas. Tak seharusnya pemuda berbadan bagus dan kemeja biru malam itu memasuki kamar kecil wanita.
"Mau apa?" tanya Dara yang terkejut sembari menutupi lehernya. Ia tahu ada seseorang di belakangnya lantaran melihat pantulan dari cermin.
"Aku tadi sekadar lewat, tapi saat kulihat darah di tisu yang kamu gunakan itu, aku jadi cemas. Apa kamu mau diantar ke klinik?"
"Tidak usah!" Dara segera pergi.
Anan menyusul ke luar. Ia sempat mendapat pandangan sinis dari para gadis yang hendak menggunakan toilet.
"Ngapain itu mereka di kamar mandi berdua?"
"Jangan-jangan...."
Dara duduk kembali di tempatnya. Ia sempat meliris Bagus yang sedang menikmati permen karet sembari mendengarkan musik.
"Kamu, kok, masam?" tanya Bagus.
"Kenapa memangnya?"
"Kasih gula-gula biar manis." Bagus mendorong permen ke arah Dara.
"Apa, sih, yang buat kamu nggak pernah nyerah berteman denganku, padahal aku yakin pasti sering buat kamu kesal?"
Bagus meraih permen yang tak kunjung disentuh Dara. Ia membuka dan membuang bungkusnya di dalam laci mejanya. "Aaa!" perintahnya agar Dara buka mulut dan mau memakan permen itu.
"Nggak mau! Ini musim corona. Aku nggak mau makan sembarangan apalagi dari tangan orang yang belum tentu bersih." Ia berpaling, tetapi Bagus malah memaksanya membuka mulut dengan menekan kedua pipi dara. "Kamu ini!"
"Biarin. Kalau mau mati kita mati berdua aja. Kan, aku sudah pegang kamu juga. Tuh, pipimu."
Dara spontan meraba kedua pipinya. "Kenapa dengan pipiku?"
"Ada darah," bisik Bagus.
Dara terkejut. Ia segera meraih tisu basah dari dalam tas. Gadis ini pula meraih cermin. "Mana?"
"Kurang besar!" Tak! Bagus mengeluarkan cermin berukuran seperti buku tulis dari tasnya.
Dara nyaris tertawa karena lelaki itu membawa cermin yang lumayan besar. "Sempat-sempatnya bawa beginian."
"Biar kegantenganku nggak luntur. Aku harus ekstra bercermin full!"
"Kayak bencong."
Bagus melotot, ia melirik cerminnya kemudian segera meletakkan di meja. "Per detiknya sepuluh ribu!"
"Eh, bayar, kukira ridho?"
"Ridho dari mananya. Dihina begitu aku jadi berpikir ulang ingin meminjamkan secara cuma-cuma. Berikut permennya, aku minta itu pula dibayarin. Satu biji itu harganya dua juta!"
"Idih, mahal amat. Yang maksa siapa tadi?"
"Nggak tahu. Orang gila kali! Pokoknya ganti!"
Dara memuntahkan permen di tisu. "Aku miskin. Nggak sanggup bayar. Tarik saja, ya. Sisanya aku bayar nanti!"
Bagus bukannya jijik. Ia malah meraih permen itu kemudian memakannya. Membuat Dara melongo. "Oke!"
"Aku terinfeksi corona, loh. Baru tadi malam."
Bagus melotot. Ia segera memandang Dara. "Itu artinya aku juga kena? Ayo, nikah mumpung masih ada sisa hidup!" Ia menarik tangan Dara.
"Lebay!" ledek Dara. Ia menepis Bagus.
Bagus melirik Anan yang melewati mereka sembari memandang Dara. "Dia sering lirik kamu?" bisik Bagus.
Dara yang menunduk saat ini segera memandang Bagus. Cup! Tak sengaja dirinya malah mencium pipi pemuda itu. "Sorry nggak sengaja!" Dara panik. Berpikir Bagus akan marah.
"Yang di sini belum, Yang!" Ia malah menyodorkan pipi satunya.
__ADS_1
"Ngomong apa, sih? Tadi kan, aku nggak--"
"Sussss!" Bagus menutup mulut Dara dengan buku. "Jangan keras-keras, aku kan jadi malu." Bagus bersikap seolah seorang gadis. Ia tersipu kemudian berbalik.
"Manusia nggak jelas!" ledek Dara.
"Malam ini papa dan mama aku pergi ke acara ulang tahun pernikahan teman mereka."
"Terus urusannya denganku apa?" tanya Dara heran.
"Aku sendirian, loh, di rumah."
"Terus?"
"Kalau kamu mau ke rumah aku bisa juga. Mumpung mereka tidak ada. Kamarku cukup nya---aduh!" Ia didorong Dara hingga terjatuh dari kursi. Yang melihat mereka diam-diam tertawa. "Aku cuma bercanda, woy!" teriak Bagus.
"Nggak lucu tahu! Kamu ngeledek aku, ya?!"
"Kamu bilang aku bencong. Aku cuma bersikap sebagaimana seorang gadis genit saja yang ditinggal sendiri di rumah."
"Asam!" Dara kemudian meraih tisu. Darah kembali ia rasakan mengalir, itu sebabnya ia menyeka kembali.
Bagus terheran. "Pulang, yuk!"
"Eh, kenapa?" Dara heran.
"Kamu berdarah."
Dara kelabakan. "Ini cuma kece-"
Namun Bagus meraih ranselnya dan pula ransel Dara. Ia mengajak Dara membeli sesuatu dari apotik di sebelah kampus.
"Kok, di sini, ini bukan rumahku?" Dara heran saat melihat rumah kecil sederhana. Ia segera turun dari mobil.
"Buka pakaianmu!"
"Buka saja!" Bagus memaksanya.
"Jangan, Gus! Kita masih anak-anak. Jangan gin--aw!" Keningnya diketuk oleh Bagus.
Bagus berhasil membuka kemeja hitam milik Dara. Kini gadis ini hanya mengenakan kaus dalam. "Darah itu tidak akan bisa ditahan hanya dengan menekan tisu." Bagus segera menuju arah dapur. Ia kembali dengan air hangat dan kain. "Lehermu kenapa bisa begini?"
"Biar aku yang seka sendiri!" Ketika hendak merebut kain Bagus menolak.
"Aku saja. Aku bisa melihatnya dengan jelas."
"Kamu ini keturunan atau disinggahi?"
"Maksudmu?" Dara tak paham.
"Kamu Kuyang, kan?"
Dara memucat. Ia menelan ludah. Tubuhnya panas dingin. "Ngarang aja kamu. Nggak lucu!"
"Yang nggak lucu itu kamu. Mana ada orang bertahan hidup dengan luka begini panjang. Sudah gitu terus mengalir." Ia selesai menyeka kemudian membalut leher.
"Aku cuma-"
"Jangan mengelak!" Bagus kemuduan kembali ke dapur.
"Apa kamu akan cerita pada orang tentangku?"
"Kalau iya, apa mau menggigitku?"
Dara terdiam. Ia melirik tangan Bagus yang meraih kedua jemarinya. "Aku takut orang akan tahu. Bahkan mamaku juga tidak tahu. Hanya papaku yang tahu."
"Sebagai seorang teman aku akan mendengarkan dan memberi semangat. Semangat buat terus bertahan."
"Kamu tidak marah, takut, atau benci padaku?"
__ADS_1
Bagus menggeleng lemah sembari tersenyum. "Terus terang aku mengidolakan Kuyang."
"Eh?" Dara terkejut. Ia nyaris tertawa. "Kok, gitu?"
"Mereka cantik-cantik, sih."
"Idih." Dara menampar pelan lengan Bagus.
"Eh, benaran. Ada nggak Kuyang yang jelek?"
"Nggak tahu."
"Buktinya kamu cantik."
"Apa cuma itu?"
"Banyak ...! Mimpi punya istri Kuyang itu enak. Bisa disuruh mencuri uang aku tinggal duduk terima hasil, kalau sakit hati dengan seseorang tinggal suruh dia aja gigit si orang."
"Hah, apa-apaan itu. Ceritamu nggak masuk akal!" Dara kemudian diam sejenak menyadari sesuatu. "Artinya kamu nikah sama aku cuma mau kaya doang! Emangnya aku ini Kuyang kek gitu?!"
"Eh, dia sadar sendiri. Siapa yang bilang mau menikah denganmu. Masih banyak kuyang di luar. Nggak cuma kamu!"
Dara tersipu malu. "Oh." Itu saja yang lepas dari mulutnya.
"Sok, cantik" Karena perkataan itu. Bagus akhirnya mendapat pukulan kecil bertubi dari Dara pada lengannya.
***
Shabita melirik Anggara yang kini sedang membantu Lani mengerjakan tugas sekolah.
"Ng, Dara tidak dijemput?"
"Tadi Bagus kirim pesan. Katanya dia yang akan antar anak kita."
"Sebenarnya ada apa kamu dan Dara?"
Lani melirik mereka berdua. "Ma-Pa, kenapa dengan Kak Dara?"
"Tidak ada. Kakakmu sedang sakit," jawab Anggara sembari mengusap lembut rambut Lani. "Kita bicara setelah ini, ya, Ma?" pinta Anggara.
Shabita segera menuju kamar. Tak lama Anggara datang. "Kenapa dia, kamu juga sering tidur sama dia?"
"Kamu cemburu?"
"Jelas. Kamu kan, bukan bapaknya." Shabita bahkan menghindar saat akan dirangkul Anggara. "Aku nggak suka!"
Anggara menggaruk pelipisnya dengan telunjuk kanan. "Dia itu anak aku, Van. Nggak ada perasaan lebih kecuali sayang pada anak."
Shabita melirik lengan Anggara. "Dara sangat tertutup saat malam itu hingga sekarang. Kamu juga gitu. Sering diam-diam ke kamarnya."
"Ya Allah, Van. Kamu nuduh aku dengan dia. Masa, aku tega mencelakai anak sendiri."
"Siapa tahu aja. Bapak kandung saja ada yang menodai anaknya apalagi kamu yang bukan bapaknya!"
Anggara duduk di sisi ranjang. "Salah terus. Tidur sajalah!" Ia lantas meraih selimut.
"Eh, kok tidur?!" protes Shabita.
"Dengar kamu ngomel suaranya merdu sekali. Aku jadi ngantuk. Terusin!"
"Ih!" Shabita mencubit lengan Anggara dengan gemas.
Anggara tertawa lepas kemudian merangkul Shabita. "Jangan marah lagi, ya, sayang. Aku cintanya cuma sama kamu."
"Gombal!"
Anggara hanya tertawa sembari mencubit lembut pipi Shabita. Lani yang tadinya hendak masuk ke kamarnya. Menjadi tak jadi lantaran mendengar Shabita.
"Jadi Kak Dara bukan anak papa."
__ADS_1