
Anggara kini berada di rumah Sean sedangkan Shabita dibiarkan bersama Talia. Ia ingin berbicara secara pribadi dengan Sean.
"Istrimu tidak kamu ajak?"
"Tadi bersamaku, tetapi dia bilang tidak enak bila tidak bersama anak tirinya itu. Jadi kuantar pulang saja dia."
"Oh, terus kedatanganmu selain mau pinjam uang apa?"
"Ingatanmu cuma itu saja. Siapa bilang aku ke sini mau pinjam duitmu?!"
"Menurut pengalamanku. Kamu datang cuma modal dengkul. Pulang-pulang bawa uangku."
"Asam!" umpat Anggara.
"Terus bila bukan itu kamu mau apa? Mau nikah lagi, minta ilmu pelet atau ingin segera kaya?"
"Jauhkan pikiran sintingmu itu! Aku ke sini karena Dara."
"Dara keponakanku? Apa kabarnya dia?"
"Meresahkan." Anggara hela napas lelah.
"Dia menggoda, ya, lebih cantik dari ibunya, ya?" Anggara melotot. Ia menjepit kepala Sean dengan lengannya. "Anggara lepaskan daku!"
"Kamu bercanda terus di saat aku serius!"
"Iya-iya! Aku kapok! Nggak lagi-lagi, deh!"
Anggara melepaskan Sean. Ia merapikan diri dan meredam emosi. "Begi-" Terlihat wajah Sean yang mengesalkan. "Kamu dengar aku tidak?!"
"Iya!" Sean mengusap lehernya yang sakit.
"Awas, kalau kamu buka mulut!" Anggara hela dan buang napas. "Dara, sudah menunjukkan sifat asli Toni. Kini dia di sana sendirian tanpa aku. Aku sangat cemas dengannya. Apa kamu ada cara supaya dia terbebas dari iblis itu?"
Sean berjalan mondar-mandir sembari menopang tangan di belakangnya. Tingkahnya sudah seperti seorang kakek-kakek. Mata Anggara tidak pernah lepas memperhatikannya. Sean berhenti, ia memandang Anggara. Namun, kemudian berjalan mondar-mandir kembali. Hilir mudik begitu saja dari tadi. Hingga membuat Anggara kesal hingga ke ubunnya. Sean berhenti, ia menunjuk langit. Nyaris membuka mulut. Namun, kemudian diurungkan. Malah melakukan hal yang seperti tadi.
"Buh! Kapan selesainya orang ini berpikir?" batin Anggara. Tangannya mengepal siap menghantam.
"Aku tidak tahu." Akhirnya ia buka suara.
"Terus, aku harus meminta bantuan siapa?"
"Talia. Coba kamu bicara padanya."
"Aku tidak ingin mengusiknya. Saat ini dia sedang sibuk."
"Hem, aku tak dapat membantu. Jalan satunya memang dia harus tahu tentang asalnya tak bisa kamu sembunyikan lagi."
"Tapi-"
__ADS_1
"Kamu takut Dara membencimu karena menyebabkan kematian Toni," tebaknya.
"Bukan hanya itu. Aku cemas dia akan membenci ibunya lantaran sedari awal ilmu itu berasal dari ibunya."
"Tidak akan bisa hilang walau kita ingin menghilangkannya Anggara. Ada sesuatu yang tidak bisa kita lawan dengan kekuatan. Hanya keyakinan untuk terus bertahan."
"Jadi?"
"Sulit mengusir Kuyang bila telah merasuk di tubuh manusia bahkan di-ruqiah pun akan kembali. Kecuali keyakinan diri. Tuhan akan membantu bila orang itu mau membantu dirinya sendiri. Intinya dirinyalah yang harus bertahan."
"Aku ragu dia mampu bertahan."
Sean tersenyum miring mengejek Anggara. "Aku sudah pernah bilang. Dara itu sangat berbahaya bagi kalian. Tinggal kamu dan Shabita yang harus menunjukkan jalan kebaikan padanya. Tidak peduli dia terlahir jahat atau baik. Didikan dari rumah yang kuat akan membuatnya kuat pula."
Anggara berbalik, ia memandang ke bawah. Saat ini mereka memang berada di lantai dua di atas balkon. "Aku tidak tahu lagi. Aku takut dia akan seperti ibunya bahkan mungkin lebih mengerikan lagi."
"Apa kepalanya pernah terlepas?"
Anggara berkerut mengingat-ingat. "Aku tidak tahu, tetapi ia sering menjerit karena lehernya tergores memanjang."
"Yang harus kamu tahu Kuyang tidak selamanya memutus leher orang yang dijadikannya rumah. Ada yang merasuk hanya untuk berlindung dari suara azan, ada yang merasuk untuk menghisap sedikit darah kita dan adapula yang merasuk sengaja untuk menjadikan kita alat pencari mangsa. Dalam kasus ini Shabita adalah yang dijadikan alat pencari mangsa sedangkan Dara tidak. Dia berjalan dengan akalnya sendiri. Mampu berkomunikasi dan mengambil tindakan sendiri. Jadi keputusannya memang ada di tangan Dara. Itu makanya aku pernah bilang Dara adalah sang ratu. Berbahaya sekali bila tidak dikendalikan."
"Aku nggak paham."
"Menolak paham?" sindir Sean. "Intinya kamu urus sendiri. Itu anakmu, kok!"
"Kejam. Sariani mana?"
"Kalian menikah?"
"Nggak, cuma menegaskan saja. Dia milikku!"
"Oh, kupikir kamu gila."
"Diam kau!"
"Di mana dia aku dari tadi tidak melihatnya?"
"Lagi marah karena aku kedatangan pasien perempuan."
"Oh, cemburu."
"Biasalah. Namanya juga cewek. Mau manusia atau hantu sama aja. Nggak beda!"
"Kamu itu ngomong atau marah, sih? Dari tadi ngegas melulu."
"Perasaanmu aja kali."
"Sudahlah. Aku sedang pusing. Kalau bisa pulang sebentar untuk menengok anakku aku pasti pulang."
__ADS_1
"Kulihat ada lelaki yang mendekati putrimu, siapa dia?"
Anggara berkerut dahi. Ia mengingat siapa saja yang dekat dengan Dara. "Bagus."
"Dia juga bisa membuat Dara tenang."
"Aku pun berpikir demikian. Makanya aku percayakan Dara padanya."
"Hanya kamu harus hati-hati. Di antara mereka ada arwah usil dan satu orang perempuan yang memiliki gangguan."
"Arwah, perempuan gangguan, apa maksudmu?"
"Saat ini Bagus ditaksir oleh arwah cantik yang amat usil."
"Terus perempuan gangguan itu?"
"Seperti manusia kebanyakan dia memiliki ilmu Kuyang. Dia berdiri di antara mereka berdua."
"Apakah berbahaya?"
"Justru dirinya yang dalam bahaya bila di dekat Dara. Sebab Dara dapat memakannya."
Anggara terkejut. Jika itu benar maka, Dara akan menjadi seperti ibunya yang saat itu dikuasai oleh Wati. Dulu Shabita juga memakan sesamanya. "Jadi aku harus bagaimana?"
"Dia baik bersama Bagus, tetapi juga tidak terlalu baik bagi Bagus bersamanya. Sebab ada satu rahasia yang perlu kamu tahu. Bagus adalah anak dari perempuan itu."
Anggara semakin tidak dapat berkata-kata. Ia terdiam memikirkan nasib Dara. "Apa aku harus menjauhkan mereka?"
"Itu pun tidak mungkin."
"Kasih, dong solusinya, dodol!"
"Hah, marah terus! Kok, bisa Shabita mau sama kamu begini?"
"Diam kau!"
"Aku tidak dapat memberi solusi. Bila ingin dia dan ibu dari lelaki itu tidak berseteru maka jauhkan saja sekalian anaknya dari ibunya. Suruh Dara mengikutinya."
"Maksudmu anak gadisku kamu suruh tinggal dengan lelaki begitu? Asal, kamu!"
"Kayak kamu tidak. Aku tahu kelakuanmu dulu. Tinggal dua kontrakan dengan Shabita, tapi malam tidur sekamar. Di rumah Toni juga begitu. Seranjang malah. Sok, baik, luh!"
"Tapi, aku nggak ngapa-ngapain, tahu!"
"Ya, percaya sajalah sama Bagus. Tidak usah buruk sangka dulu. Kalau tidak yakin kenapa tidak dinikahkan saja?"
"Mereka masih kuliah."
"Itu solusiku. Mau dipakai atau tidak itu terserah kamu yang jelas bagaimana caramu dulu menghadapi Shabita. Ya, begitulah cara Bagus akan menghadapi Dara."
__ADS_1
Anggara tertegun. Ia terlihat sedang berpikir keras. Sebab dirinya cemas bila Dara harus tinggal bersama Bagus.