TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
Episode 103


__ADS_3

Shabita berdiri di depan pintu sambil menunggu kekasihnya pulang, ia sangat kesal karena hingga jam 21:20, Anggara tidak pulang ke rumah. Ia gelisah, hingga tidak bisa tenang. Ia mendengar Dara menangis ketakutan, Shabita segera berjalan ke kamar Dara. Ia terkejut melihat Dara diasuh oleh Kuntilanak.


"Dara!" teriaknya. Ia ketakutan setengah mati, takut Dara dibawa oleh hantu itu. Namun, Kuntilanak itu segera menghilang pada saat Anggara melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Shabita segera memeriksa Dara yang kini menangis di pelukannya.


Anggara tidak peduli, ia pikir karena Dara bersama ibunya, pastinya tidak apa. Paling jua menangis lantaran haus. Ia segera membersihkan diri di kamar mandi dan mendekati Shabita yang wajahnya pucat. "Kenapa kamu?" tanya Anggara lembut sambil mengusap kepala Shabita.


"Ta--tadi ... ada yang memangku Dara!" katanya terbata-bata. Tanpa sadar ia menelan ludah.


"Siapa?" tanya Anggara dengan tenang sambil meraih Dara.


"Kunt ... ti ..." Sangat sulit bagi Shabita untuk berkata-kata.


"Hah, ngomong pa kamu?" Anggara nyaris tertawa mendengar Shabita, tetapi melihat sikap gadis itu membuatnya gelisah jua.


"Anak kita didatangi makhluk halus maksudmu?" terkanya sambil memeluk erat Dara.


Shabita mengengguk. "Aku takut dia jadi sepertiku," keluh Shabita.


"Susstt .... Jangan bilang begitu. Doakan saja yang baik-baik." Anggara menaruh Dara kembali ke pangkuan Shabita.


Ia meraih sajadahnya. "Aku belum sempat salat Isa tadi karena banyak kerjaan."


Shabita hanya memperhatikan pemuda itu salat, ingin rasanya ia juga melakukan hal yang sama, tetapi apa daya. ia belum suci untuk melakukan itu. Shabita hanya merangkul Dara sambil memandang Anggara.


"Apa doamu, Anggara?" tanya Shabita saat pemuda itu selesai mengerjakan salat.


"Bilang tidak, ya," goda Anggara.


"Tidak mau bilang ya, tidak papa, kok." Shabita cemberut. Ia mengalihkan pandangannya kepada Dara.


"Aku cuma minta satu?"


"Apa?"


Anggara mendekatinya. "Semoga aku tambah sayang sama kamu," bisiknya.


"Gombal," ledek Shabita seraya mendorong pelan Anggara.

__ADS_1


"Udah makan belum? Aku bawa makanan buatmu," kata Anggara sambil turun dari ranjang lantas menuju ke luar kamar. Ia kembali lagi membawa sebungkus makanan. "Dimakan, ya." Anggara berniat menyuapi Shabita.


"Kamu sendiri?" tanya Shabita. Ia mencegah Anggara menyuapinya.


"Belum. Kamu makan dulu, kalau sudah kenyang baru sisanya buat aku," kata Anggara.


"Enggak mau. Kamu makan juga," tolak Shabita sambil menaruh Dara di kasur kemudian meraih makanan di tangan Anggara. "Kamu sesuap, aku sesuap," katanya sambil tersenyum.


"Terserah, deh." Anggara berpura-pura pasrah. Ia membuka lebar mulutnya saat Shabita menyuapinya. "Kamu belum!" bantah Anggara saat Shabita kembali menjejalkan makanan ke mulutnya.


"Aku sudah makan tadi," bela Shabita.


"Curang!" Anggara tidak jadi makan. "Itu kubelikan buatmu, tapi kamu gitu."


"Iya ... iya, aku makan!" cegah Shabita saat Anggara ingin berbaring membelakanginya. Ia makan di depan pemuda itu. "Nah, aku makan, kan." Ia memandang Anggara yang berpura-pura tertidur. "Anggara, aku udah makan, nih!" rengeknya sambil menggoyahkan lengan pemuda itu.


Shabita menaruh makanan itu di atas kasur, kemudian ia melipat kedua tangannya. Anggara mengintip Shabita, ia kemudian melirik makanan yang ditaruh kekasihnya.


"Kenapa tidak dihabiskan," tegur Anggara.


"Malas," jawab Shabita.


Shabita terpaksa meraih makanan di tangan Anggara. "Aku mau kamunya makan," katanya. "Jangan nolak, ya. Aku nggak tega kamu pulang kelaparan lantaran cuma pengen lihat aku makan duluan."


Anggara mengusap kepala Shabita, ia tersenyum sambil menerima suapan kekasihnya. "Kalau aku pulang malam, tidak usah ditunggu. Jaga anak kita baik-baik agar tidak diganggu lagi," pesan Anggara.


"Em," jawab Shabita sambil menyuapi Anggara kembali.


***


Pagi harinya Shabita telah sibuk di dapur. Ia berniat membuatkan Anggara bekal. Pemuda itu terbagun dan segera mandi untuk mengerjakan salat Subuh. Ia sempat memandang Shabita, tetapi terlalu terburu-buru mengejar waktu. Maklum, ia tidur terlalu larut, sehingga sedikit terlambat. Beruntung belum lewat waktunya.


Dara menangis saat Anggara salat di depannya, anak itu gelisah dan wajahnya merah. Ia tidak suka Anggara mengerjakan salat di depannya. Ia kembali diam di saat pemuda itu usai dan segera memangkunya.


"Dara, jangan nakal, ya. Jangan bikin mama pisah sama papa." Anggara berbisik di telinga Dara. Sepertinya Dara mengerti, ia meraba wajah Anggara dan membuka mulutnya seperti mencoba berkomunikasi dengan Anggara.


"Ini bekal buatmu!" Shabita menaruh rantang bersusun di atas kasur. Ia kemudian memangku Dara.

__ADS_1


"Kok, repot-repot?" tanya Anggara.


"Biar kamu nggak lupa makan," jawab Shabita.


"Oke," jawab Anggara sambil turun dari ranjang. Ia mengganti pakaiannya. Sementara Shabita masih malu untuk melihat tubuh pemuda itu, maka ia berbalik. Padahal dulu sebagai seorang dokter, ia tidak malu melihat pasiennya. Entah kenapa dengan Anggara rasanya malu sekali.


"Aku pergi dulu," pamit Anggara sambil mengusap lembut rambut Shabita kemudian mencium pipi Dara.


Shabita tersenyum, ia sangat tidak ingin Anggara pergi sedetik pun darinya, tetapi mau bagaimana lagi, pemuda itu harus bekerja.


Seorang perempuan cantik berselisih dengan Anggara, ia sengaja menubruk pemuda itu. Beruntung rantangnya tidak terlepas dari tangannya. "Maaf," katanya sambil merapikan selendang kuningnya yang sempat dilihat Anggara, leher perempuan itu tergores memanjang.


Anggara tidak membalas permintaan maaf perempuan itu. Ia malah segera berbalik ke rumahnya dan kemudian mengetuk pintu rumah.


"Ada apa?" tanya Shabita sambil menggendong Dara. Shabita bingung melihat Anggara kembali lagi.


"Anak kita ..." Ia bingung menjelaskan pada Shabita. "Ikut aku saja, ya?"


"Ke mana, ke kerjaanmu?" tanya gadis itu tidak mengerti. Ia melirik Dara.


"Kamu bisa jaga dia di tempat temanku," jawab Anggara.


"Kenapa ke situ? Kok, kamu panik?"


"Ambil pakaiannya, biar anak ini aku yang gendong," saran Anggara.


Shabita segera memasukkan segala perlengkapan bayi ke dalam tas. "Kenapa, sih?" tanyanya masih penasaran.


Anggara segera mengunci pintu setelah Shabita keluar dari rumah. "Kemarikan tasnya biar kubawa."


"Dara?" tanya Shabita. Ia hendak meraih Dara dari Anggara.


"Biar kugendong saja," jawab Anggara sambil berjalan. Ia berharap tidak bertemu perempuan itu lagi di jalan.


Hem, titisan Kuyang rupanya. Harus kukusingkirkan kalau tidak, aku akan punya saingan di sini! Perempuan tadi memperhatikan mereka dari balik pohon.


Anggara melajukan jalannya, ia menarik tangan Shabita yang dirasa lambat dalam mengiringinya.

__ADS_1


Aneh? Kenapa dia panik begitu, apa ada sesuatu sehingga membawa kami pergi dari rumah itu? Shabita masih memandang Anggara sembari berjalan.


Mereka yang tidak sengaja melihat Anggara dan Shabita berjalan bergandengan tangan, saling pandang kemudian tersenyum pada Shabita. Shabita hanya membalas senyum mereka dengan senyuman.


__ADS_2