
Seorang bocah lelaki berumur lima tahun sedang mendengarkan di balik pintu sebuah kamar. Suara jerit terdengar dari dalam. Matanya membesar dengan perasaan takut. Namun, enggan untuk pergi. Ia tetap setia mendengarkan.
"Egh! Sakit, Papa! Sakiit!"
"Sebentar lagi jadi, sabarlah!"
"Ada apa di sana?" batin Bagus. Ya, bocah lelaki itu adalah Bagus.
"Egh! Mama, udah nggak kuat lagi! Mau mati!"
Kemudian semuanya sunyi. Angin entah datang dari mana, menerpa tubuhnya. Ia segera menghindari pintu. Bagus melihat sebuah api yang datang dan menembus pintu. Ia panik, segera berlari. Bersembunyi di balik sekat ruang tengah. Tidak lama ayahnya keluar. Bagus penasaran apa yang terjadi di dalam sana. Ia segera membuka pintu kamar setelah dirasa ayahnya tidak terlihat lagi. "Ma ... aa?" Ia memanggil Fine. Darah berceceran di lantai. Bagus menghindari agar jangan sampai menginjaknya. Ia melihat tubuh ibunya di kasur. Bagus segera menyentuh tangan ibunya yang lunglai. "A--a?" Namun, ia heran ada darah di tangan Fine. Bagus kemudian memandang Fine untuk melihat wajah ibunya. "Aaaaa!" Ia memekik saat melihat kepala Fine sudah tidak adalagi.
Suara langkah ayahnya mendekat. Ia segera bersembunyi di kolong ranjang. Dipikirnya ibunya tewas dibunuh ayahnya. Bagus menutup mulut sangat erat dengan kedua tangan. Sang ayah merapikan selimut dan tangan yang lunglai tadi. Ia kemudian pergi. Bagus segera keluar dari kolong. Ia menangisi ibunya. Setelah dua hari wajahnya pucat. Tidak mau keluar kamar sehingga ayahnya menjadi cemas.
"Bagus, keluar? Ayo, makan!"
"Tidak!" batin Bagus. Ia sama sekali tidak berani keluar kamar.
"Bagus, dari kemarin tidak mau keluar kamar, ayo keluar!" Suara Fine.
"Itu mama!" pikirnya. Bagus segera berlari menuju pintu.
"Bagus, jangan ngambek begitu, dong." Fine meraih Bagus kemudian merangkulnya.
"Ma aaa aa?!" Bagus meraba wajah ibunya saat digendong.
"Apa, hem?" Fine mengajak Bagus ke meja makan. "Hari ini, Bagus makan apa saja yang Bagus mau. Mau mainan, baju, game. Semuanya dibeliin, deh!" Ia menyajikan beberapa lauk untuk Bagus. Biasanya mereka tidak pernah makan itu. Hanya tempe dan nasi setiap harinya. Bahkan baju yang Bagus pakai adalah baju pemberian orang. Bagus juga heran melihat Fine mengenakan banyak perhiasan.
"Bagus, makan yang banyak, ya," kata ayah.
Bagus tak berani menatap ayahnya. Masih takut akan kejadian itu. Ia merapat pada sang mama. Dikira Fine Bagus ingin disuapi, jadi dia menyuapi Bagus. Hari pun berlalu. Tepatnya satu minggu setelah kejadian itu. Ia telah biasa mendengar ibunya menjerit setiap jam 5 sore dan paginya kembali normal. Bagus yang sedang riang kini bermain di depan rumah. Ia melihat anak-anak sebayanya dan adapula yang telah SD sedang bermain di depan sana. Bagus berniat untuk memamerkan mobil barunya. Ia berharap dengan itu, mereka mau berteman dan tidak mengejeknya lagi. Bagus berlari kecil sembari menunjukkan mainannya.
"Eh, si bisu, tuh datang," bisik anak gemuk berumur tujuh tahun.
"Aa ... aaa!" Ia menunjukkan mainan itu.
"Eh, ada mainan baru rupanya anak ini. Pinjam, ya?"
Dengan polosnya Bagus meminjamkan. "Aa?" Bagus memandang anak seumuran dengannya sedang mendekat.
"Kamu jangan pinjamkan dia. Dia bisa merusaknya. Nanti mamamu marah. Lebih baik pinjam ke aku aja." Bagus bingung. Ia merasa tidak enak bila mengambil kembali. Berharap mereka bermain sebentar, ternyata satu jam lebih tak kunjung kelar. "Aau!" Lengannya dicubit.
"Dasar bisu! Kan, aku udah lama di sini. Sana ambil mainannya!"
"Aaa ...." Maksudnya ia menolak karena takut oleh anak bertubuh besar tadi.
"Yah, mainan murahan! Apa-apaan ini. Nggak bagus!" Prang! Mainan itu dilempar hingga mengenai kaca teras tetangga mereka.
"Eh, aduh! Lari!"
Mereka semua lari. Bagus hendak lari, tetapi didorong hingga terjatuh.
__ADS_1
"Ulah siapa ini?" Pemilik rumah segera keluar. Bagus panik. Ia segera lari ke rumah.
"Oh, jadi si bisu itu! Dasar keluarga ribut! Dari dulu bikin ribut. Sudahnya malam teriak-teriak! Ini anaknya bikin ulah!" Ia mengomel sembari berjalan. Tak lupa pula memungut mobil mainan tadi.
Tok tok tok! Fine yang sedang duduk menghitung uang di kamar mendengar suara pintu diketuk terkejut. Ia pula terkejut Bagus datang kemudian merangkulnya. "Ada apa, Gus?"
"Buka pintunya, Fine!"
"Mama buka pintu dulu, ya."
"Aaa!" Bagus mencegah.
"Sebentar." Fine segera meninggalkan Bagus. Anak ini ketakutan. Ia segera bersembunyi di lemari. Hingga terlelap.
"Kamu lihat ini! Anakmu lempar mainan ini ke teras rumah. Pecah kacaku!"
Fine memandang mainan yang ia belikan. "Berapa saya harus ganti?"
"Oh, kebetulan. Sekalian sama sewa rumah yang udah nunggak tiga bulan!"
"Ya, saya ada uang. Tunggu sebentar, Bu." Ia kemudian menuju kamar. Melihat Bagus tidak ada dipikirnya Bagus sudah kembali ke kamar. Tanpa pikir panjang ia langsung meraih uang di kasur. "Ini, Bu."
"Hitung dulu." Ia segera menghitung. "Tumben ada duit, ngepet, ya?"
"Suami saya baru dapat kerjaan, Bu."
"Syukur, deh. Biasanya suka nongkrong di warung lesehan. Yah, buat gaya-gayaan, paling cuma mesan air putih, doang."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Fine terdiam. Ia sungguh sedih. Tajam sekali mulut orang itu. Sebagai seorang ibu bukan maunya memiliki anak kekurangan. Apalagi ekonomi mereka yang kurang sehingga memilih jalur sesat. Itu oun atas bujukan suaminya. Jika tidak mana rela menahan sakit setiap malam.
Bagus terbangun. Ia terkejut saat mendengar teriakan Fine. Bagus yang bersembunyi di lemari segera mengintip. Tak ada ayahnya hanya ibunya yang mengerang sakit sembari bergulingan. Bagus segera menghampiri. Ia terkejut saat ibunya tidak lagi bergerak. "Maaa ... aaa?" Ia mengguncang tubuh ibunya.
Fine mendadak membuka mata. Bagus termundur saat kepala itu lepas dari tubuh kemudian melayang di atasnya. Bagus mematung. Ia amat pucat. "Hihihi ....!" Kepala itu melewati Bagus kemudian lenyap saat mencapai pintu.
***
Bagus termenung di teras rumah Dara. Ia yang sedang menunggu Dara membuat minuman kini sedang duduk di lantai teras.
"Maaf, lama, Kak."
"Kamu siapa?" Bagus heran. Gadis itu mirip dengan Dara, tetapi lebih muda.
"Aku, Lani, Kak. Kakak Dara-nya lagi--"
"Lani, jadi kamu yang ambil minuman itu, kakak kira hilang ke mana?"
"Habisnya, Kakak lama di kamar mandi. Lani, cuma kasihan sama Kak Bagus."
"Ini adikmu, kalian kembar?" tanya Bagus sembari membandingkan mereka berdua.
__ADS_1
"Iya, adik aku." Dara kemudian duduk di dekat Bagus.
"Lani, ke dalam dulu, ya, Kakak."
"Iya, makasih tehnya." Bagus tersenyum manis.
"Lani!" tegur Shabita saat Lani tak sengaja menubruknya lantaran terpana dengan Bagus.
"Maaf, Ma."
"Kamu lihat apa sampai begitu?"
"Teman kakak datang. Orangnya cakep, Ma."
"Oh, itu Bagus. Papamu setuju dia sama kakakmu. Menurutmu gimana orangnya?"
Lani kembali memandang Bagus yang sedang asyik menjelaskan materi yang baru mereka pelajari dari kampus. "Baik." Ada kecewa terlihat.
"Kok, kamu seperti tidak senang begitu?"
Lani tersenyum hambar. "Lani, senang, kok. Ma, Lani ke kamar dulu. Mau mengerjakan PR." Ia segera menuju ke kamar.
Shabita berkerut dahi. Namun, ia tidak ingin berpikir terlalu cepat. "Nak Bagus udah lama?" Shabita nimbrung di antara mereka.
"Eh, Tante. Nggak lama, kok, Tan. Cuma setahun duduk."
"Ih, lebay!" Dara mencubit pinggang kanan Bagus. Pemuda itu hanya meringis.
"Lagi belajar, ya?"
"Iya, Tan. Belajar mencintai Dara yang super galak!" Ia segera berlari ke sisi Shabita. Menjadikan Shabita sebagai tameng.
"Heh, jangan bilang gitu ke mama aku! Ma, itu orang cuma bercanda. Kita cuma teman."
Shabita nyaris tertawa. Ia menahan geli melihat kelakuan mereka. "Kapan acara lamarannya, Tante tunggu, loh." Bukannya membela Dara. Ia malah ikut menggoda.
"Mama!" Dara protes.
"Asyik, udah ada lampu hijau." Plak! Dara melemparnya dengan sendal.
"Jangan gitu, ah, Dara. Nggak baik gitu sama calonmu."
"Calon dari mananya, pacaran aja enggak. Ah, nyesal melempar sendal bersih. Harusnya diinjakkan dulu ke kotoran ayam. Baru dilempar!"
"Sudah, ah! Mama, mau nonton dulu. Kalian yang akur, ya." Ia segera pergi.
"Mulutmu itu tidak bisa diam, ya? Bicara seenaknya saja."
"Kata-kata adalah doa. Siapa tahu jadi kenyataan."
"Aku ogah nikah sama kamu!"
__ADS_1
"Yang mau nikah sama kamu siapa? Kepedean, yee!"
"Serah, deh!" Dara kemudian merampas buku dari Bagus.