TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
Bodyguard Tampan


__ADS_3

Toni telah bersiap akan pergi lagi. Ia menyiapkan semuanya sendiri, tidak ingin meminta bantuan Shabita. Gadis itu hanya memandang gerak-geriknya sedari tadi.


"Jangan keluar sendiri tanpa Talia. Aku takut musuh-musuhku akan membahayakanmu," pesan Toni sambil memakai sepatunya.


"Talia tidak kuliah? Selama ini selalu menjagaku," dalih Shabita.


"Talia bilang akan mencarikanmu pengawal." Toni memandang Shabita dan mengusap perutnya.


"Em."


"Aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik." Toni mengecup puncak kepala gadis itu dan ke luar.


"Papa, mau Talia antar?" tawar gadis itu saat Talia sedang berada di sofa tamu dan melihat Toni akan ke luar.


"Jaga saja ibumu!" Toni kemudian pergi menaiki mobilnya.


Talia mendesah, baru saja bertemu sudah berpisah. Betapa sibuknya Toni sekarang, hingga waktu luangnya dihabiskan di tempat kerja.


Shabita bangkit dari tempat tidur, membersihkan diri setelah itu ke dapur. Tidak berselera makan dan minum saat memeriksa kulkas. Talia menegur dengan menepuk pundaknya.


Meminta agar gadis itu menepi karena dirinya akan mencari sesuatu di dalam kulkas.


"Papamu biasa seperti itu, ya?" tanya Shabita sambil duduk di kursi makan.


Talia mengambil sebotol susu dan menuangnya ke dalam gelas kemudian menaruhnya di atas meja. "Cuek maksudmu?"


"Em," jawab Shabita.


Talia duduk dan meminum segelas susu tadi. "Sejak dia berganti tubuh, selalu ada hal baru yang dia lakukan." Talia menaruh kembali gelas yang telah kosong itu di meja "Mungkin kalau dia mengambil tubuh presiden tukasnya akan lain lagi." Talia tersenyum geli.


"Pengawal yang kamu bilang itu ...." Ragu Shabita untuk bertanya. Takut menyusahkan Talia lagi.


"Dia belum datang padahal janjinya pagi ini." Talia memandang jam dinding yang ada di kiri ruangan itu.


"Kapan kamu kuliah?" tanya Shabita.


"Ketika dia datang," jawab Talia seraya menuang susu ke dalam gelas dan memberikan agar diminum Shabita.


Shabita hanya memegang gelas itu, tanpa ada niat meminumnya. "Kalau boleh tahu siapa namanya?" tanyanya.


"Kamu kenal dia," jawab Talia.

__ADS_1


"Justru itu aku makin penasaran!" Shabita kesal karena Talia main rahasia padanya.


"Minumlah." Talia tidak mengubris pertanyaan Shabita. "Aku harus bersiap ke kampus, paling sebentar lagi dia akan datang."


Shabita mendesah, ia meminum susu itu hingga habis. Shabita kembali lagi ke kamarnya untuk melihat Anggara di seberang sana, tetapi pemuda itu tidak datang.


"Kamu harus mencicipi makanannya terlebih dahulu, tapi sebelumnya makan obat ini. Dapat menangkal racun. Bila ternyata beracun maka rasanya pahit, bila tidak berarti aman," kata Talia kepada seseorang di depan kamar Shabita. Gadis itu hanya mendengar Talia berbicara.


"Jaga dia seperti nyawamu. Ingat pesanku!"


Talia berlebihan Shabita tersenyum dengan peraturan gadis itu.


Talia masuk dan menghampiri Shabita. "Dia datang. Kuharap kamu tidak sejutek waktu itu," bisiknya.


Shabita berkerut dahi. Ia curiga dengan ucapan gadis ini. "Siapa dia?"


"Lihat saja sendiri. Aku harus kuliah dulu." Talia meninggalkannya sendirian di kamar.


Shabita mengendap-endap ke luar kamarnya. Ia penasaran dengan pengawal yang dimaksud Talia tadi. Pemuda tegap bertubuh bagus sedang membelakanginya. Berkemeja hitam dan berkacamata hitam pula.


"Kayak kenal, tapi siapa, ya?" Shabita berhenti dan segera bersembunyi dari balik pintu saat pemuda itu menuju kamarnya. Bodoh, kenapa aku begini? Seperti anak kecil saja. Ia mengumpati tingkahnya sendiri.


Shabita ke luar dari persembunyiannya dan melihat ke sana-kemari.


Shabita tersentak karena sebutan Rani. "Anggara," ucapnya. Shabita berbalik dan memandang Anggara yang telah berada di dekatnya. "Ngapain kamu di sini?" desisnya.


"Mengawalmulah, memangnya mau apalagi."


"Pulang sana! Di sini tidak aman bagimu!"


"Saya di sini sedang bekerja. Mohon kerjasamanya," kata Anggara sambil mengangguk sekali.


Ish, kalau Toni melihatnya aku bisa apa? Shabita mendesah kesal. Ia akan kembali ke kamarnya.


Anggara merentangkan tangan kanan untuk mencegahnya masuk. "Kata Talia, Anda harus makan dulu sebelum istirahat kembali. Saya pun harus memastikan Anda memakai pakaian khusus untuk masa kehamilan."


Shabita memandang dirinya yang memakai celana ketat dan kaus longgar. "Saya bisa berganti sendiri!" tolaknya.


"Kalau begitu gantilah sementara saya akan memasak untuk Anda."


Shabita segera masuk dan mengunci pintu. "Sok, formal pakai bahasa baku ke aku." Ia kesal dengan sikap cuek Anggara padanya.

__ADS_1


Anggara memasak telur mata sapi dan menggoreng nasi. Ia menatanya di meja. Noy dan May saling senggol tidak senang diganggu.


"Biar kami saja yang menyiapkan sarapan," tawar May.


"Terima kasih. Saya cuma menjalankan perintah Nona," balas Anggara.


"Sebaiknya jangan diganggu dulu. Kita akan dapat masalah kalau sampai dia mengadu pada Talia," bisik Noy.


Shabita tidak turun juga untuk makan, padahal sudah dua jam pemuda itu menunggunya di meja makan. Ia mengambil nampan dan menata semua makanan di situ kemudian membawanya ke kamar Shabita.


"Rani, Rani!" panggilnya. Karena tidak ada sahutan Anggara menukar pegangan kanan ke kiri untuk memegang nampan itu. Diraihnya kunci cadangan pemberian Talia.


Shabita sedang melamun, dia duduk di ujung ranjang. Ia mengalihkan pandangannya saat Anggara datang dan menaruh makanan itu di atas kasur.


"Saya tunggu Anda di bawah, tapi tidak juga turun maka saya bawa makanan ini ke sini," alasan Anggara.


"Aku akan makan bila lapar," kata Shabita.


"Anda mungkin tidak lapar, tapi anakku pasti kelaparan."


Sontak mata Shabita melotot pada Anggara. Pemuda itu masih membahas anak di kandungannya sebagai anaknya. "Jangan bicara sembarangan, nanti suamiku dengar!"


"Baiklah," jawab Anggara.


Pemuda itu mengambil makanan dengan sendok dan berniat menyuapi Shabita. "Kenapa?" tanyanya saat Shabita menepis makanan yang menujunya.


"Aku bisa makan sendiri," jawabnya judes.


"Oke!" Anggara menaruh sendok dan memberi Shabita sepiring nasi goreng. "Kalau begitu makanlah!" perintahnya.


Shabita terpaksa mengambil dan makan. Ia nyaris muntah karena bukan makanan itu yang dikehendaki bayinya.


Anggara mengelus perut Shabita dan berkata, "Ibumu belum makan sejak kemarin."


Shabita terharu karena Anggara mencemaskannya. Ia menyuap nasinya kembali dan memakannya hingga habis. "Sudah!" Shabita menaruh piring di atas nampan dan meminum air mineral.


"Apa Anda perlu yang lain?" tanya Anggara.


"Enggak," jawab Shabita.


"Permisi," mohon Anggara saat ia akan menyapu bibir gadis itu dengan tisu. "Kalau ada perlu tinggal panggil saya."

__ADS_1


Shabita tersipu malu karena diperlakukan seperti itu oleh Anggara. Ia hanya menggeleng saat Anggara menawarkan bantuan.


"Atau Anda perlu teman bicara, saya bisa menjadi pendengar yang baik." Anggara berdiri dan menyusun dengan rapi sisa piring dan gelas bekas makan tadi. "Kalau kangen bilang, ya. Aku ada selalu," bisiknya. Setelah itu meninggalkan Shabita yang terdiam karena mendengar bisikan pemuda tadi.


__ADS_2