
Saat azan Subuh berkumandang, Anggara bangun lebih dahulu. Ia segera mandi dan berpakaian ia kemudian mengambil air wudu. Uwe ... uwe .... Bayinya menangis saat Anggara hendak salat. Anggara menggendong bayinya kemudian diletakkan di samping sajadah. Ia kemudian mengerjakan salatnya dengan tenang walaupun Dara merengek tidak senang melihatnya salat.
Shabita terbangun dari tidurnya, menyadari saat meraba kasur, Dara tidak ada, maka paniklah ia. Ia memandang Anggara yang sedang salat di dekat ranjangnya. Shabita kemudian diam sambil menengok Dara yang merengek di sebelah Anggara. "Anggara," panggil Shabita saat Anggara memangku Dara.
"Ya," jawabnya sambil memainkan tangan Dara.
"Kamu, kok ganteng sih," puji Shabita malu-malu. Ia memang terpesona melihat Anggara seperti ini.
Bukannya malu atau balas memuji Anggara malah tertawa lepas. "Hahaha ...."
"Kok, malah ketawa, sih? Bukannya senang atau bilang makasih, malah diketawain!" protes Shabita.
"Basi! Udah lama aku pengen dipuji kamu, tapi kamunya selalu saja menghina." Anggara sejenak diam untuk melihat reaksi wajah Shabita. "Banyak yang bilang aku ganteng, tapi aku maunya kamu yang muji aku kayak gitu. Malah cuek aja."
"Ih, ngapain juga muji cowok," elak Shabita.
"Ngapain juga aku senang, kamu kayak nggak iklas muji," singgung Anggara. Pemuda itu meletakkan Dara kembali di samping ke kasihnya. "Pagi ini aku mau kerja. Kamu bisa, kan jaga Dara sendirian?"
"Loh, kerja apa? Hukumanmu masih dua bulan lagi, kan?" Shabita memandang Anggara yang memandang Dara.
"Mempung belum kembali, aku mau nyari tambahan. Lumayan buat nikahan kita," kata Anggara sambil memainkan alisnya.
"Kerja apa?" tanya Shabita.
"Kerja di kantoran," jawabnya.
"Kerja apa cuma dua bulan?" tanya Shabita heran.
"A--nu ..." Anggara menggaruk pelipisnya. Tidak mungkin ia jujur pada Shabita kalau ia tidak kerja di kantor.
"Apa? Jangan bilang kamu kerja kasar!" bentak Shabita. Ia dapat membaca gelagat Anggara. Pemuda rela melakukan apa pun untuknya walau itu sangat sulit.
Anggara tertawa canggung, ia kemudian merangkul Shabita. "Yang penting kerja," jawabnya.
"Tuh, kan." Shabita memukul Anggara.
"Aku kerja di toko, sayang. Ngecek barang keluar-masuk."
Shabita diam, ia menghela napas. "Kamu nggak perlu memaksakan diri. Kita cukup nikah di penghulu saja," katanya.
__ADS_1
"Iya, sayang, tapi temanku perlu diundang walaupun nanti sederhana pasti perlu dana," kata Anggara sambil mengusap puncak kepala Shabita. "Aku juga capek menganggur terus," tambahnya.
"Baiklah, kerja yang rajin jangan lirik cewek lain," goda Shabita.
Anggara tertawa sambil menarik gemas hidung Shabita. Ia melirik perut gadis itu. "Kapan kamu hamil lagi," kata Anggara sambil mengusap perut Shabita.
Shabita memukul pelan tangan Anggara. "Kapan kamu nanam benih, sampai aku harus hamil lagi?" sindir Shabita.
Anggara terkekeh, ia berbisik. "Habis nikah."
"Hem," ejek Shabita sambil tersenyum miring.
"Udah mau terang. Aku harus siap-siap bekerja dulu." Anggara segera turun dari ranjang. Ia mengganti pakaiannya, sementara Shabita berbalik malu melihat Anggara . "Kamu nggak usah masak, nanti aku bawa makanan dari sana," pesan Anggara sambil mencium pipi Dara, kemudian ia mengusap lembut rambut Shabita.
Shabita melepas kepergian Anggara yang sedang bekerja. Ia memandang seluruh sudut kamar, marasa merasa sepi tanpa adanya Anggara.
Dara kembali menangis, kemudian Shabita tersadar. Ia tersenyum bermaksud untuk mengajak Dara ke luar. "Kita jalan-jalan, yuk!" Ia segera membuka pakaian Dara, kemudian memandikannya. Setelah semuanya beres, Shabita kemudian menyiapkan dirinya.
"Wah, anak Anggara, ya?" sapa seorang gadis manis berumur dua puluh delapan tahun. Ia menyapa karena sedang menunggu taksi. Kebetulan Shabita lewat di depannya sambil menggendong Dara.
"Iya," jawab Shabita sambil memandang gadis itu yang sedang mencolek pipi Dara.
"Anggara curang. Dia tidak bilang waktu mau nikah," keluhnya.
"Hem, aku nggak tahu. Dia setahun pindah ke kosan lain terus pergi lagi ke Thailand. Padahal aku sering menghubunginya," kata gadis itu sambil memandang Shabita.
"Memangnya kenapa Anggara?" tanya Shabita curiga.
"Jangan marah, ya? Aku udah lama naksir dia, tapi dia nggak peka."
Walaupun didengar dari penjelasan gadis itu Anggara tidak pernah menanggapi, tetapi tetap saja hati Shabita gelisah. Apakah ini yang dirasakan Anggara waktu aku bersama Toni? Ia ketakutan sendiri, takut bila Anggara ternyata diam-diam menyukai gadis ini. Shabita tersenyum dipaksakan.
"Kamu nggak marah, kan?" tanya Gadis itu. Ia memandang wajah Shabita yang terlihat terganggu dengan penuturannya tadi. "Sorry, aku nggak maksud--"
"Enggak masalah. Itu udah lama," potong Shabita. "Permisi," pamitnya. Ia segera pergi dengan hati panas. Sungguh gelisah mendengar Anggara ditaksir oleh perempuan lain. Ingin rasanya menangis, tetapi apa yang harus ditangisinya. Ia tidak mau terlalu berlebihan, padahal Anggara saja tidak pernah membalas mereka.
"Mas, beli mie instan dua bungkus!" serunya pada pedagang berkebangsaan China berumur empat puluh tahun, mengenakan kaus oblong berwarna putih.
"Merek apa, Bu?" tanyanya.
__ADS_1
"Yang itu!" tunjuk Shabita.
"Harganya enam ribu dua bungkus. Adalagi?" tanyanya sambil mengemas pesanan Shabita.
Shabita tampak sedang berpikir sambil menimang Dara. "Pembalut," katanya pelan.
"Apa, Bu?" tanya orang itu. Ia tidak mendengar ucapan Shabita barusan.
"Pembalut," kata Shabita sedikit nyaring.
"Oh, iya." Pedagang itu segera meraih pembalut di dalam rak kaca di depannya.
"Ini beras ditaruh dimana?"
"Taruh saja di sana!" sahut pedagang itu kepada orang yang bertanya tadi.
Shabita seperti mengenali suara itu. Ia berbalik, tetapi orangnya tidak adalagi di sana. "Aneh," gumamnya. "Kong, siapa tadi yang mengantar beras?" tanya Shabita saat menerima kemasan belanjaannya dari pedagang itu.
"Oh, itu. Polisi yang lagi cuti."
"Polisi?"
"Iya, katanya nyari tambahan mempung masih cuti."
"Baik, makasih ya!" Shabita bergegas keluar toko. Ia mencari-cari orang yang dicurigainya sebagai Anggara.
Anggara bersembunyi di tembok toko. "Huh, ngapain juga dia keluar terus belanja di situ?" gumamnya.
"Hem, ini rupanya kerjaanmu, ya?" tegur Shabita. "Katanya cuma keluar-masuk barang aja yang perlu dicek. Nggak tahunya tukang pikul beras," sindirnya.
"Eh, nggak, kok." Anggara salah tingkah.
"Aku mau pulang." Shabita berbalik. "Aku nggak tega lihat kamu capek," katanya. Setelah itu pergi meninggalkan Anggara.
"Anggara! Beras datang lagi, tuh!" panggil bosnya.
"Iya," sahut Anggara sambil menatap Shabita yang telah menjauh.
Ia membantu mereka menurunkan beras dari mobil dan membawanya masuk ke toko.
__ADS_1
Dasar, Anggara! Dia itu bikin aku merasa bersalah aja. Bisa tidak dia jangan terlalu memikirkan aku? Shabita berjalan cepat menuju rumahnya. Ia meletakkan Dara di kasur, kemudian menangis.