
Anggara sedang mengasuh Dara, sedangkan ibunya sedang memasak. Ia sengaja pulang sebentar lantaran belum ada kasus yang harus ditangani. Kemarin saat menelepon Rustam, ia sempat mendengar kalau di kampung Tini ada keributan yang sama dengan beberapa hari yang lalu di tempatnya. Sambil berpikir ia memandang Dara yang kini mulai bisa menelungkupkan tubuhnya sendiri sembari mengoceh.
"Anggara," panggil Shabita dari dapur.
"Ya," sahutnya.
"Ambilin sayur di atas meja tamu, dong!" pintanya.
Anggara memandang pada meja. Ia melihat sayur kangkung di atas meja. Pemuda itu kemudian meninggalkan Dara sebentar untuk membawakan sayur pada istrinya. "Ini, Ma." Ia menaruh kangkung itu di meja dapur.
"Dara mana?" tanya Shabita heran saat dirinya tidak melihat bayi mereka digendongan Anggara.
Anggara menepuk dahinya. "Aku lupa!" Ia segera berlari kecil ke ruang tamu. "Haa? Dara!" panggilnya karena Dara tidak lagi di sana. "Dara!" Ia mencari-cari anak itu kesemua tempat termasuk kolong. "Mungkin di luar?" gumamnya.
"Ada apa, Ang?!" seru Shabita dari dapur karena curiga dengan teriakan Anggara. Pemuda itu tidak menyahuti, menjadikannya jengkel. Setelah mematikan air kran dan memadamkan kompor. Ia bergegas menyusul Anggara. "Kurang asam!" Shabita mengeram marah saat Dara ada dalam gendongan Vanesa.
Anggara berusaha mengambil bayinya. "Tolong sinikan."
"Cuma gendong sebentar. Saya gemas ingin punya anak seperti ini," tolak perempuan itu sambil menjauhkan Anggara dari Dara.
"Iya, tapi istri saya bisa ngamuk. Berikan, Bu!" desak Anggara.
"Sebentar."
"Bu, ini sama aja nyulik!" tuding Anggara. Ia sangat kesal kalau Dara diambil tanpa izin darinya.
"Ah, berlebihan!" sangkalnya.
"Hey!" teriak Shabita. Ia melangkah cepat sambil merebut Dara dari Vanesa. Plak! Ditamparnya perempuan itu. "Beraninya kamu masuk ke rumahku terus ngambil anak kami!" bentaknya.
Plak! Vanesa balas menampar. "Enak aja datang-datang main nampar orang!" balasnya.
Saat Shabita akan membalas, Anggara lebih dulu menarik istrinya. "Udah, sayang. Anggap aja orang gila!" hina Anggara.
"Apa tadi?" protes Vanesa. Ia tidak senang bahwa lelaki pujaannya mengatakan dirinya gila.
__ADS_1
"Kalau bukan gila, apa namanya? Masuk ke rumah orang tanpa permisi terus mengambil anak kami seenaknya!" tegur Anggara.
"Biar orang gila mesti dihajar biar kapok!" sela Shabita.
"Asam kalian!" bentaknya. "Awas aja, ya!"
"Udah salah malah ngancam. Mau saya tuntut!" ancam Anggara.
Vanesa terpaksa diam. Ia kembali dengan wajah marah.
"Tumben kamu belain aku, biasanya sama dia!" sindir Shabita.
"Dibela salah, nggak dibela kena juga!" desah Anggara.
"Nih, aku mau masak!" Shabita memberikan Dara. "Awas lirikan lagi sama tu perempuan!" ancamnya sebelum melangkah masuk ke rumah.
"Mamamu marah terus," keluh Anggara.
***
"Bos, kudengar Tini, gadis yang kita jual ke Samarinda itu berhasil lolos." Seorang gadis jelita berbaju biru berdiri di belakangnya.
"Cari dan habisi dia!" perintahnya. "Oh, ya. Jangan lupa beri makan peliharaan kita di bawah!" cegahnya saat perempuan itu akan menjalankan perintah menghabisi Tini.
Perempuan itu mengangguk, ia kemudian berjalan ke luar. Berbelok menuju samping rumah kemudian berbelok lagi menuju sebuah rumah kecil di samping rumah itu. Dibukanya pintu yang tergembok kemudian masuk dan segera mengunci kembali dari dalam. Ia berjalan beberapa langkah, berhenti lantas berjongkok membuka pintu lantai di ruangan tersebut. Menuruni anak tangga kemudian berjalan lurus menuju ruang bawah tanah. Suasana gelap hanya diterangi lampu berukuran lima watt berwarna kuning.
"Apa sudah diberi makan?" tanyanya pada pemuda bertubuh besar berbaju hitam.
"Baru saja," jawabnya.
"Aku ingin melihat," katanya seraya berjalan lurus kemudian menemukan sebuah labirin. Jalan yang seperti itu sengaja dibuat agar membingungkan si penyusup.
Mereka makan dengan lahap. Daging mentah serta darah tersedia di lantai sedangkan tubuhnya dibiarkan tergeletak di sampingnya.
Perempuan itu tersenyum, ia memandang salah satu dari mereka yang lebih menyeramkan di antara yang lain. Kepalanya sangat besar kemudian lebih kuat dibandingkan dengan teman-temannya. Sering menyalak seperti anjing. "Aku ingin dia!" tunjuk perempuan itu.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya pemuda itu.
"Untuk menyerang seseorang," bisiknya. "Nona yang pinta."
"Sebaiknya jangan. Akan lebih baik kita sendiri yang tangani karena aku takut bila melepasnya kita akan celaka juga," nasihatnya. Bukan karena apa, tapi Kuyang satu itu adalah Kuyang gila yang sengaja dibuat untuk membunuh Kuyang-Kuyang yang tidak berguna bagi mereka. Namun, seiring beberapa tahun ini, Kuyang itu makin tidak terkendali. Malah sering membunuhi salah seorang dari mereka untuk dimangsanya.
"Baik, tapi bila kalian gagal maka aku terpaksa melepas Kuyang itu. Ingat, Tini dijaga oleh polisi!"
"Akan kupersiapkan mereka." Pemuda itu segera pamit.
Perempuan itu menatap Kuyang yang kini memandangnya dengan senyum. Namun, senyum itu sangat menyeramkan hingga bulu kuduknya tiba-tiba saja meremang. Ia segera keluar sambil mengusap tengkuknya.
***
"Ada apa di luar itu?" tanya Ibunya Tini saat ia terbangun.
"Ada Kuyang, Mak!" sahut Tini.
"Loh, bukannya di sini sudah aman. Semua sudah diperiksa?" herannya sambil memandang ke jendela luar teras.
"Sebaiknya tidak perlu ikut campur," saran Rustam. Ia menarik Tini untuk tidur bersamanya. "Kamu lebih baik tidur sama saya," bisiknya.
"Tapi emak?"
"Jangan bilang. Diam-diam saja," jawab Rustam sambil melirik ibunya Tini.
"Saya jagain kamu. Jadi jangan takut."
Tini terpaksa menurut, ia berjalan pelan menuju kamar kemudian mengunci pintu dari dalam sementara ibunya malah keluar untuk melihat mereka. Tini memberikan selimut dan bantal agar Rustam tidur di bawah.
"Bapak, tidak takut? Biasanya dia di kolong juga," kata Tini. Ia tidak bermaksud menakuti. Hanya saja ia cemas dengan keadaan Rustam yang di bawah sana.
"Dia juga bisa di samping sana!" tunjuk Rustam pada sisi ranjang sebelah kiri gadis itu. "Bisa juga di atasmu atau di telapak kakimu, di dalam selimutmu!" godanya.
Asam! Tini menyesal memperingati Rustam karena pernyataan pemuda itu sukses membuatnya ketakutan setengah mati. Hingga dirinya selalu memandang ke tempat yang pemuda itu tunjuk. "Bapak, saya takut!" katanya. Ia kemudian memandang Rustam di bawah sana. Pemuda itu sudah pulas. "Sial!" umpatnya. Terpaksa ia berlari dan tidur di sebelah pemuda itu.
__ADS_1