TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
TONI KEMBALI


__ADS_3

"Papa akan segera pulang ke rumah. Kita harus ada di sana sebelum dia datang," ujar Talia. Ia yang mengemudi sementara Shabita hanya duduk sambil bersandar memandang ke samping.


"Kapan dia akan pulang?"


"Besok siang," jawab Talia.


"Apa kamu baik-baik saja di sana?" tanya Talia yang hanya dibalas satu senyuman dari Shabita.


Shabita membayangkan wajah Anggara, ketampanannya, kemanisan sikapnya juga kesetiaannya. Ia masih ingat saat-saat bersama beberapa hari ini, sungguh indah dan sulit diartikan. Anggara duduk di teras bangku teras rumah, ia bersandar sambil menatap langit. Tak ia perhatikan bintang dan rembulan di atas, hanya wajah gadis itu yang tergiang di ingatannya. "Rani, siapa kamu? Aku tidak bisa melupakanmu."


"Sha, kenapa melamun?" tegur Talia.


"Eh, tidak apa-apa," jawab Shabita cepat. Ia meluruskan duduknya dan memandang ke depan.


"Sebentar lagi kita akan sampai di rumah," kata Talia.


"Em," jawab Shabita.


"Bagaimana Anggara, apa dia baik padamu?" tanyanya sambil berbelok ke kiri.


"Ya," jawab Shabita singkat.


"Baguslah. Oh, ya, aku ada rencana mencarikanmu pengawal pribadi. Masalahnya aku harus kuliah dan tidak bisa lagi selalu bersamamu." Talia mendesah sambil menghela napas.


"Siapa?" tanya Shabita.


"Kamu pasti kenal, tapi itu nanti setelah papa pergi baru kuminta orang itu untuk menjagamu," katanya seraya tersenyum.


Shabita penasaran, siapa orang yang katanya dikenal itu? Ah, sudahlah. Siapa pun dia asal mampu menjagaku dari mereka tak masalah bagiku.


"Kita sudah sampai," kata Talia sambil memarkirkan mobilnya di depan rumah


Para pelayan segera berkumpul di teras dan menunduk patuh. Shabita turun bersama Talia, gadis itu sempat memandang Talia yang melemparkan kunci mobil pada salah satu pelayan lelaki.


"Istirahatlah yang cukup," pesan Talia sebelum Shabita masuk ke dalam rumah.


Talia masih sibuk memberitahukan tentang kedatangan ayahnya besok sementara Shabita telah mengunci pintu kamarnya. Ia segera berbaring tanpa membersihkan tubuhnya lebih dahulu.

__ADS_1


"Anggara," ucapnya lirih sambil memejamkan mata.


"Rani," ucap Anggara seraya tersenyum memandang rembulan.


Talia mengetuk pintu kamar Shabita, namun tak ada sahutan dari dalam. Ia kemudian meraih kunci cadangan yang sengaja dibawanya selalu dalam saku celananya. Dibukanya pelan dan memeriksa keadaan gadis itu.


Talia menggeleng seraya tersenyum melihat Shabita tidak berganti dan malah tertidur lelap. Talia meraih sebuah selimut lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.


"Di mana ibumu?" tanya Toni setelah ia mengucapkan selamat pagi pada Talia.


"Ada masih tidur. Bukannya, Papa akan datang siang nanti?" tanya Talia heran.


"Rencananya, tapi beruntung papa datang jam 7 pagi ini," jawab Toni seraya menaruh kopernya di dekat meja tamu.


"Papa ingin ke kamar?" tanya Talia.


"Iya, papa ingin melihat ibumu tidur," jawab Toni.


Toni segera naik ke atas dan membuka pintu kamar Shabita. Terlihat gadis itu masih tertidur dan tak menyadari adanya. Toni tersenyum sambil menyingkap selimut dan memandang perut Shabita yang mulai membesar.


Shabita mengeliat dan memandang secara nanar ke atas kemudian merasa ada yang mengelus lembut perutnya. Ia kaget dan segera duduk. "Toni!"


"Seperti yang kamu lihat," jawab ketus Shabita.


"Aku baru pulang, kok disambut dengan ketusan? Ayo tersenyum." Toni menyentuh dagu Shabita untuk memandangnya.


Shabita menepis dan menjauh. Ia tidak bisa menerima perlakuan romantis pemuda itu. "Jangan sentuh aku," ujarnya.


"Aku suamimu!" tekan Toni dengan senyum mengancam. "Jangan pernah menolakku!"


Shabita memandang wajah Toni. "Aku mual, ingin muntah. Apa kamu tidak paham?" dalihnya.


"Baiklah," jawab Toni. Ia mulai melunak lantaran segera ingat bahwa istrinya sedang mengandung bayinya. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Toni sambil meraih tangan Shabita dan membelainya.


Aku bisa memanfaatkan situasi ini untuk mengerjainya. Kesempatan yang tak'kan datang dua kali dan akan diambil oleh gadis ini. "Bisakah kamu tidak mendekat, aku sangat ingin sedirian," pinta lirih Shabita.


"Apa cuma alasanmu saja untuk menghindariku?" sangkal Toni. Pemuda ini mencurigai permintaannya.

__ADS_1


"Ini demi anakmu," jawab Shabita tenang.


"Oke, adalagi?"


"Bisakah aku mendengarkan musik dan jalan-jalan? Aku bosan di rumah."


Toni mengangguk. "Ya," jawabnya mantap. "Kamu mau ke mana?" tanyanya lembut seraya membelai pipi Shabita.


"Ke mana saja asal jangan di rumah saja," ujarnya berdusta karena tahu Talia tidak akan menceritakan kejadian semalam.


"Baik, kamu mandi dan bersiaplah!"


"Kamu tidak capek, bukankah baru pulang?" tanya Shabita berpura-pura cemas.


"Demi kamu," jawab Toni.


Shabita terharu melihat kegigihan Toni mendapatkannya, tetapi karena ia memang tak mencinta maka ia pun tak bisa merelakan dirinya untuk Toni.


Toni menunggu gadis itu sambil mengobrol dengan Talia. Talia bercerita banyak, namun tak pernah menceritakan tentang kejadian di pasar. Gadis itu terlalu kuat memegang rahasia terkecuali ia sudah tak mampu mengatasinya sendiri.


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Toni sambil menghirup teh.


"Sangat menyenangkan, Papa." Talia berdusta. Ia tidak masuk kuliah lantaran Shabita harus dijaganya dan itu membuatnya kewalahan.


"Ada cerita lain?" tanya Toni.


"Tidak ada," jawab Talia.


"Papa dan ibumu akan pergi jalan-jalan. Apa kamu mau titip sesuatu?" tawar Toni.


"Tidak," jawab Talia sambil menatap ke atas. Ia memandang Shabita yang turun dari tangga dengan mengenakan pakaian biru muda dan rok hitam selutut. "Apakah, Papa tidak berniat membelikannya dress? Ia sedang mengandung, Papa. Rok berkaret akan menghambat pertumbuhan janin," saran Talia.


Toni melihat Shabita di bola mata hitam Talia, ia tersenyum dan berbalik memandang Shabita. "Sepertinya usulmu boleh juga," jawabnya seraya berdiri menyambut gadis itu.


Shabita menggelung tinggi rambutnya, sehingga leher indah putih mulus terlihat jelas. Bersih tanpa perhiasan sama sekali. "Ayo," ajak Shabita. Ia bersikap manis sambil mencari celah untuk bisa menaklukkan Toni melalui bayinya.


Talia heran, awalnya Shabita menolak, tetapi kenapa gadis itu malah bersikap sebaliknya? Ini yang menjadi pertanyaan Talia. Namun melihat ayahnya tampak bahagia, ia membiarkan saja.

__ADS_1


Sariani melihat dari kejauhan ketika Shabita masuk ke mobil dan pergi bersama Toni. Ia tak mampu mendekat bila sudah begitu, terpaksa harus menunggu Shabita ke luar sendiri.


__ADS_2