TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
38 SARANG IBLIS


__ADS_3

Nulis capek hilang gitu aja gegara netbook tiba-tiba eror. Untung ada laptop yang nganggur. Maaf lama tidak up, silakan menikmati cerita di bawah ini.


Goa gelap, berair. Menjadi tempat berbaringnya tubuh Shabita, ya, sekarang gadis itu sedang berada di dalam sebuah goa yang amat basah. Ia berbaring di atas pantai batu dan di sampingnya ada kolam. Gadis itu merasakan ada suara jatuh air dari atas. Ia menggeliat dan bangun, memandang ke langit-langit. Ada tetesan air jatuh masuk ke dalam kolam. Shabita segera berdiri dan berputar di tempat, kemudian barlari panik dan mencari jalan ke luar. Banyak lorong hingga ia bingung, takut salah jalan.


"Sariani?" panggilnya penuh harap agar dibalas, tetapi Sariani tak ada di sana.


Langkah kaki terdengar, ia was-was dan mencoba mencari jalan untuk sembunyi. Namun belum sempat ia bersembunyi, seorang pemuda telah berada di belakangnya. Tampan, bermata sipit dengan manik mata cokelat. Alis tebal dan kulit putih kuning langsat. Mengenakan kaus buntung berwarna coklat serta levi's hitam. Shabita menyadari siapa sesungguhnya dia. Maka dari itu Shabita mundur saat pemuda itu mencoba meraihnya.


"Takut?" Pemuda itu mendekat dan berbisik, "Tak, 'kan kubiarkan kamu bersih."


"Siapa kamu?" Shabita tahu, namun masih bertanya jua.


"Baru dua minggu kamu bunuh aku, masa lupa?" Ia maju dan melewati gadis itu. Shabita tetap cantik walaupun bajunya masih sama dengan keadaan ketika ia melawan Sukma semalam.


Shabita mengawasinya. "Aku bukan kamu, Toni. Kenapa terus menggangguku?"


Pemuda yang disebut Shabita Toni itu tersenyum dan memandang ke samping, matanya melirik Shabita di belakang. "Karena aku suka. Apa kamu mau mendengar kisahku Shabita, kisahku yang kelam agar kamu mengerti kenapa aku menyukaimu?" Ia berbalik, memandang gadis itu.


"Tidak!" tolak tegas Shabita. "Apa pun itu tidak! Jangan mengambil alih pikiranku."


Toni memandang ke atas dan menadahkan telapak tangan kanan kemudian menerima tetesan air yang jatuh dari atas langit-langit goa. "Aku mencoba meraihmu Shabita, tetapi kamu lebih memilih manusia itu. Apa kurangku?" Toni menyudahi perbuatannya dan memandang Shabita seraya mendekati. "Besar cintaku melebihi apa pun, Sayang. Kita akan hidup abadi kalau bersama. Kita akan kaya!" tekannya. Ia sekarang berdiri jarak satu langkah dari gadis itu.


Shabita akan menghindar, lengannya diraih Toni. "Banyak yang sepertiku kalau kamu mau." Shabita mencoba menatap pemuda itu. Ada sesuatu yang aneh yang entah sulit diartikan oleh Shabita.


Pemuda itu menggeleng lemah. "Cinta tidak dapat dipindah walaupun diinginkan."  Perkataannya sotak membuat Shabita berdesir, merasa tersinggung. Ia ingat Anggara, perasaannya pun tak dapat diubah walau banyak yang lebih menarik dari pemuda yang saat ini dicintainya, contohnya yang berada di depannya. "Apa kamu bisa memindahkan cintamu untukku?" Pemuda itu menatap tulus Shabita.


Shabita termangu, tidak dapat berucap lagi, ia sadar pernyataannya tadi telah berbalik padanya. Gadis itu berbalik sementara pemuda itu masih setia memandangnya. "Apa yang kamu pikirkan, aku bisa saja melukaimu lagi?"

__ADS_1


Pemuda itu mendekat dan memegang bahu Shabita dari belakang. "Tak masalah, aku akan hidup lagi untukmu."


Shabita melihat telapak tangan pemuda itu di bahunya. "Aku akan pergi dan menikah dengannya," tantang Shabita.


"Akan kurebut kamu darinya."


Shabita menepis tangan itu dan menghadap, kini mata mereka saling beradu. "Coba saja.


Toni tersenyum dan berbalik. "Semoga kamu betah di goa ini Shabita. Aku akan mengatur perjalan kita ke Thailan."


Shabita bagai tersengat, ia mulai khawatir jauh dari Anggara. "Aku tidak mau!" teriaknya.


Toni tidak menjawab, ia berjalan ke luar goa. shabita ingin menyusul, tetapi sebuah kekuatan aneh menyambarnya dan membuatnya terhempas ke dinding goa. Mulutnya mengeluarkan darah, mencoba berdiri, ia usap darah di bibirnya. Beruntung ia sempat menelan minyak Bintang dan itu menyebabkan tubuhnya tidak terluka sama sekali, tetapi di dalamnya sangat sakit.


Bagaimana ini, aku tidak mau di sisinya. Aku harus pergi! Vanesa.


****


Anggara tiba di penginapan Shabita, sedang mencari petunjuk gadis itu. Semua dibongkar olehnya. Tak satu pun ada petunjuk, pemuda itu memejamkan matanya kemudian mendesah. Ia duduk di kasur dan merebahkan diri seraya meletakkan tangannya kanan di atas kepala.


Ke mana lagi kucari dia? Ada sesuatu yang membuatnya langsung membuka mata dan memandang ke sana-kemari. Ia berdiri, rasakan angin menerpa gorden jendela dan membuat seprai melambai. Ia perhatikan semua kemudian memandang ke depan.


"Akan kutunjukkan di mana Shabita." Suara tanpa raga membuat Anggara penasaran dan mencari-cari ke semua ruang kamar gadis itu. Di toilet, di dapur, di ruang tamu. Tak satu pun ada petunjuk adanya orang di sana. "Dari mana asalmu, kenapa kamu sembunyi?"


"Akulah keturunan asli Kuyang yang bersarang di tubuh kekasihmu. Akulah titisan itu," balasnya.


Anggara mengerutkan kedua alisnya. "Berarti kamu yang mengusiknya selama ini?" tuding Anggara.

__ADS_1


"Bukan. Aku malah membantunya terlepas dari Kuyang itu."


"Kalau begitu kenapa tidak dari dulu?"


"Aku tak kuasa, aku pun mati karena menolak darah Kuyang dari ibuku."


"Kenapa Kuyang yang dibawa ibumu menginginkan Shabita alis Vanesa?" Anggara diam, tetapi matanya mencari-cari keberadaan si pemilik suara.


"Aku pun tidak paham." Suara itu mendekat. "Baiknya jangan tanya hal itu dulu, kita harus cepat sebelum Shabita berangkat ke Thailan."


"Di mana dia, kenapa harus ke sana?"


Sariani tampak berpikir, ia ingin agar Anggara melihatnya, tetapi tak mampu karena keterbatasannya. "Tunggu, aku akan datang lagi dan membawamu ke sana." Kemudian ia raib.


Anggara bingung, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kini hanya mampu menunggu hingga Sariani kembali dan memberinya petunjuk.


"Anggara!" Sariani datang lagi tepat di sebelahnya.


Anggara bingung harus melihat ke arah mana. "Di mana kamu?"


"Pergilah ke rumah Sukma, perempuan yang diselamatkan Vanesa pagi tadi."


"Kenapa harus ke sana?"


"Kamu akan tahu nanti," balas Sariani. Roh itu menghilang lagi.


Anggara segera mengambil HP yang terdapat di saku celana depannya. "Halo, Aji. Beri aku alamat perempuan yang tadi pagi!" Anggara kemudian memutus telepon. Ia memainkan ponselnya, ketika SMS datang, ia segera membuka dan melihat alamat yang diberikan Aji. Langsung pergi tanpa mengganti seragamnya.

__ADS_1


__ADS_2