TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
88


__ADS_3

Sariani mencoba menerobos kereta api, tetapi beberapa kali ia terpental dan terhempas ke udara. Ia melesat kembali mengejar kereta api yang dinaiki Anggara dan Shabita. Hasilnya tetap sama, ia memandang ke sana kemari untuk mencari jalan keluar. Sariani kembali lagi melesat cepat mengejar kereta api, kali ini ia tidak berniat menembus melalui samping melainkan menembus ke atas.


"Ah!" pekiknya saat sebuah bias merah menerpa dirinya ketika hendak menembus atap kereta. "Asam!" umpatnya. Sariani kembali lagi melesat mengejar kereta api dengan kekuatan penuh, kemudian kembali mencoba menembus atap yang berbeda. Namun, hasilnya tidak beda. Ia lagi-lagi mengumpati kegagalannya. "Talia!" teriaknya geram. Ia sedang berpikir, setelah berpikir, ia mendesah. Terpaksa mundur dan melenyapkan diri.


Sean sedang duduk sambil memejamkan mata di sofa. Jarinya bermain di anak sofa. Ia tersenyum saat Sariani datang. "Tumben," sapanya. Ia membuka mata, melihat bagaimana kesalnya Sariani terhadapnya.


"Aku butuh bantuanmu," kata Sariani.


"Jadi kamu datang bukan lantaran kangen denganku?" Sean kembali memejamkan mata.


"Hah, bodoh sekali manusia satu ini!" hina Sariani.


"Tidak perlu meminta bantuan kepada orang bodoh macam aku."


"Ish, kalau bukan karena Vanesa dan kakakmu, mana mau aku datang!"


"Memangnya mereka kenapa?" tanya Sean sambil membuka mata.


"Anggara dalam bahaya, aku tak dapat membantu karena Talia mengirimkan mantra pada salah satu pesuruhnya untuk menghalangiku," jelas Sariani.


Sean berkerut dahi, ia meluruskan duduknya. "Di mana mereka sekarang?"


"Kereta api, menuju kampungmu."


"Hem," gumam Sean.


"Cepatlah, mati kakakmu nanti!" desak Sariani.

__ADS_1


"Ah, biarin aja," kata Sean sambil bersandar manis di sofa.


"Adik durhaka!" Ingin rasanya Sariani mencekik orang di hadapannya.


"Aku akan membantu, tapi ada syarat untuk itu," tawar Sean sambil memandang Sariani.


Orang gila ini mau apalagi dia? "Apa?"


"Setelah ini kamu harus berada di sisiku."


"Buat apa?" protes Sariani.


"Buat apa, kek. Ada saja, deh."


"Baiklah. Cepat, aku sudah tidak punya banyak waktu lagi!" Sariani pasrah. Ia tidak paham dengan persyaratan Sean, tetapi ia harus bergerak cepat.


"Pergilah, akan kubuka mantra Talia dari sini!" perintah Sean. Ketika Sariani akan melenyapkan diri, Sean berkata, "Ingat janjimu untuk berada di sisiku, Sariani."


"Sar!" Shabita mendesah. Ia berharap roh itu datang tepat waktu.


Kedua lawan Anggara saling siaga, mereka berdua saling melempar isyarat mata agar menyerang Anggara secara serempak. Mereka berdua kembali menyerang dengan pukulan dan tendangan. Anggara terpaksa merebahkan dirinya ke kursi lantaran mereka berdua menyerang ke dada secara bersamaan. Kaki lawan satunya ingin menindih Anggara yang terbaring di kursi. Anggara menangkapnya. Satu lawan lagi melompat ke kursi dan meraih kerah Anggara untuk di bawa ke jendela. Anggara tahu ia akan dilempar ke luar sana. Maka ia juga memegang erat leher lawannya. Aksi saling dorong dan berpegangan terjadi.


"Anggara!" Shabita ngeri melihat kepala pemuda itu keluar dari jendela. Bila ada tiang atau apa yang menjadi penghias jalan, maka Anggara tidak akan selamat.


"Diam!" bentak pemuda itu. Ia menguatkan kembali cengkramannya pada Shabita.


Sariani melesat seperti kecepatan meteor, ia meninggikan kesaktiannya agar mampu mengejar kereta itu. Ia tersentak melihat Anggara dalam bahaya. Sariani segera menembus kereta. Mereka bermain curang, saat Anggara mencoba memertahankan diri agar kembali bisa melawan, saat itu pula satu di antaranya malah sengaja menekan lukanya. "Agh!" Anggara mengerang. Ia meraih tangan yang menekan lukanya agar lepas, tetapi itu yang menjadikannya lengah Akhirnya di dorong ke luar. Beruntung Anggara sigap berpegangan pada jendela, walau kakinya terseret pula oleh kereta api.

__ADS_1


Mereka berdua leluasa untuk menghajar wajahnya, Anggara hanya mampu menghindari setiap pukulan bertubi-tubi dari mereka. Saat satu tangannya dilukai dengan menggunakan pisau, ia sempat terlepas kemudian kembali lagi memaksakan diri berpegangan. Kali ini satu lagi tangannya yang akan menjadi korban tusuk mereka. Namun, Anggara memainkan tangan itu agar tidak sampai ditusuk seperi tangan kanannya. Ia sengaja memindahkan tangannya ke pegangan satunya.


"Lama sekali! Bunuh dia!" perintah pemuda yang tadi mengekang Shabita.


"Plis, jangan!" mohon Shabita.


Salah satunya meraih pistol yang berada di pinggang, siap menarik pelatuk untuk Anggara. "Selamat jalan!" katanya.


Dorr Anggara terlepas dari kereta. Namun, sebuah tangan meraih pemuda itu. Pemuda yang mengawasi Shabita terkejut, ia melihat Shabita telah berada di sana, sedang meraih Anggara.


"Raih gadis itu!" perintahnya.


Mereka berdua berusaha menarik Shabita yang berusaha menarik Anggara masuk kembali. Entah kekuatan dari mana, tetapi Shabita tidak bergeming. Ia kini menarik Anggara masuk. Menenangkannya di kursi. Shabita memandang mereka bertiga dengan datar.


"Beraninya!" Pemuda yang mengawasinya tadi maju untuk meraih Shabita.


Shabita menepis, ia berjalan mengawasi mereka bertiga kemudian tersenyum. "Langkahi dulu aku baru kalian bisa menyakiti mereka berdua!" tantangnya. Mata Shabita seketika berubah merah dan itu menandakan Sariani yang sedang berada di dalam dirinya. Mereka terkesiap memandang mata itu.


Sariani maju dan menyerang lebih dahulu. Ia melancarkan pukulan, kemudian tendangan berputar ke arah lawan. Lawan tersurut mundur dan memuntahkan darah, ia menyeka darah di bibirnya. Marah dan mencoba untuk membalas dengan maju, melakukan pukulan ke dada kemudian ke perut. Selalu saja ditepis Sariani dengan membalikkan serangannya menjurus pada apa yang dilakukan pemuda itu pula padanya.


"Bosan aku main-main!" Shabita mendesis. Ia maju dan menerjang lawan secepat kilat kemudian melemparkannya ke luar jendela. Ia beralih pada lawannya yang di belakang. Shabita lenyap, mereka berdua mencari-cari di mana gadis itu berada. Shabita muncul di pemuda yang mengekang Shabita tadi. Ia mencekik lawannya hingga sangat sulit terlepas walau telah meronta sekuat tenaga. Tertinggal satu lagi yang terkejut saat Shabita kembali melempar temannya ke luar dan mengenai tiang jalan. Ia mundur perlahan saat Shabita maju.


"Berhenti atau kutembak!" ancamnya. Ia masih ingat pesan Talia, tetapi dalam keadaan seperti ini mana yang lebih penting. Ia tahu Talia akan menghabisinya bila melepaskan Shabita, tetapi paling tidak setelah menghabisi gadis itu, ia dapat lari dari Talia. Dorr! "Apa?!" Ia terkejut saat peluru hanya melubangi baju gadis itu, tetapi tidak kulitnya atau dalamnya. Malah berasap seperti sedang membentur baja. Peluru jatuh ke lantai. "Siapa kamu?!" tanyanya panik seraya mundur.


"Sariani, titisan Kuyang sebenarnya!" ucap Sariani. Ia kembali lenyap dan muncul di samping pemuda itu. "Aku akan habisi siapa pun yang mengganggu sahabatku!"


Pemuda itu kemudian berbalik dan menodongkan pistolnya. Ia heran mendengar, tetapi tidak menemukan Shabita di sisinya. Saat ia kembali menghadap ke depan, Shabita telah mencekiknya hingga pemuda itu naik ke atas karena Sariani sengaja mengangkatnya dengan satu tangan. "Egh!" erangnya sambil berusaha lepas dari Shabita. Prang! Shabita melemparnya ke arah jendela berkaca hingga pemuda itu terhempas ke luar dan jatuh ke sungai.

__ADS_1


Talia sempat memandang salah satu dari mereka yang terlempar ke luar dan mengenai tiang jalan. Ia mengeram, dan mendorong gas mobil agar memercepat laju kendaraannya. Ia tidak peduli itu rel kereta api. Langsung saja diterobosnya dan berjalan di atasnya. "Awas kamu Sariani!"


Shabita tersadar, ia spontan memandang ke belakang. Ia memang tidak melihat Talia, tetapi merasakan hadirnya di sana. "Sangat gawat!"


__ADS_2