
Dara mengerang sakit. Ia tobat tak ingin merasakan hal itu kembali. "Kenapa ini terjadi, siapa aku?" Ia bergulingan di ranjang.
Lani curiga, ia mendengarkan dari pintu. "Kakak, Kak!" panggilnya. Namun, Dara tak menjawab. Hening seketika. "Kak," lirihnya. Ia membuka pintu mencari Dara. Namun, Dara tidak ada. "Kakak!"
Sementara Dara saat ini berada di sebuah rumah. Yaitu kontrakan Shabita. Ia melihat seorang gadis yang ia kenali sebagai ibunya. Ia terdiam saat ibunya bergulingan menahan sakit.
"Sekarang kamu tahu, kan. Siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas kesakitanmu? Yaitu ibumu sendiri! Dia adalah perempuan jahat! Dia mempelajari ilmu sesat demi mendapatkan Anggara. Setelah ia dapatkan kemudian dicampakkan demi ayahmu. Setelah dapat kepercayaan dia lantas membuangnya dan kembali pada ayahmu. Sungguh ibumu itu perempuan bermuka dua! Kamu harus balaskan dendam ayahmu!"
"Tidak mungkin!" Dara mundur dengan gontai. Nyaris terjatuh. "Mama nggak mungkin sejelek itu! Kamu fitnah!"
"Lihatlah!" Suara itu mengajak Dara untuk melihat Shabita bermesraan dengan Anggara saat mereka di kamar. Saat Talia lengah dan Toni sedang sibuk bekerja. Ia juga memperlihatkan perilaku Anggara yang merangkul Anggara di ladang. Terakhir yang membuat trauma hingga terus berada dalam mimpi adalah ketika Shabita mengarahkan pedang untuk membelahnya.
"Mama!" pekik Dara secara refleks. Ia menghindar. Saat melihat tak terjadi apa pun pada dirinya ia lantas melihat tangan Anggara yang berdarah melindunginya. Sampai di sana ia melihat kasih sayang Anggara.
"Itulah kamu."
"Aku?"
"Ya, itu kamu."
"Anggara telah melindungimu. Jika bukan dia maka kamu sudah tewas sedari bayi."
Dara menghampiri gambaran itu. Ia hendak menyentuh wajah Anggara, tetapi gambar itu telah hilang. "Papa," sebutnya.
"Selama ini Anggara yang mencintaimu. Sedang ibumu adalah perempuan tidak baik. Dia akan mengambil Anggara darimu, Dara. Maka kamu harus pertahankan dia sebelum ibumu menyakitinya juga."
"Ak--aku ..."
"Lakukan, Dara! Ini demi ayahmu Anggara."
Dara bingung, ia sungguh tidak membenci ibunya, tapi bila Anggara akan disakiti ia tak bisa menerima.
***
Bagus memakan permen karet. Ia heran melihat Dara yang hanya terdiam.
"Eh, kok kamu diam saja?"
"Aku lagi nggak enak badan."
__ADS_1
"Gampang, tinggal kasih garam aja."
"Aku serius, Bagus!" desahnya kesal.
"Dara, kamu ini jangan begini terus, deh. Melamun bisamu. Apa kamu tidak takut kesurupan?"
"Habisnya aku bosan." Dara bersandar seraya melipat tangan. Bagus menyingkap sedikit kerahnya. "Ngapain, sih?" desisnya.
"Hanya memastikan tidak ada belatung," candanya.
"Aku masih ada, tahu!"
"Oh, hahahahaha."
"Em, Bagus. Wajar nggak, sih aku jatuh cinta sama bapak sendiri?"
Bagus terheran. "Papa mertua?"
"Iya."
"Wah, gila kamu. Kurang tampan apa coba aku ini. Hingga kamu suka padanya. Eh, kehabisan stok lelaki sampai bapak sendiri kamu ma--"
"Aku tahu dia bapak tirimu, tapi nggak boleh Dara. Jangan begitu, ah. Kita juga serius kan, jangan main-main dengan hubungan kita."
"Tapi--"
"Kubur perasaan itu, Dara. Cukup, jangan diteruskan. Kamu bisa menyakiti ibumu dan juga aku."
Dara terdiam, ia hela napas. Memang benar juga apa yang dikatakan pemuda ini. Ia akan menyakiti mereka. Namun, ia merasa bahwa yang dijelaskan oleh Kuyang kemarin juga sepertinya fakta. Jika benar Anggara tidak bersalah dan hanyalah korban Shabita maka ia tak akan rela.
Bagus meraih tangan Dara. Ia menyematkan cincin hadiah Citos. Memang hanya cincin mainan bermata serangga. "Ini dulu, deh. Nanti kalau ada uang aku beli sepasang. Jangan dibuang itu belinya mahal! Satu dus citos belum tentu dapat itu!"
"Helleh, orang kamu sering dapat dua ribuan di situ."
"Eh, masa? Ada ya, dua ribuan di sana? Kok, aku lihatnya kertas bertulis angka dua ribu saja." Otomatis jawaban ini membuat Dara mengusap kasar wajah Bagus. "Huh, gini amat!" gerutunya.
"Gus, jadi aku harus bagaimana?"
"Ya, nggak gimana-gimana. Jalani saja dulu hingga nikah. Apa kamu mau nikah cepat biar lepas dari rumah?"
__ADS_1
Dara melotot. "Kamu gila, ya? Papa nggak bakal izinin!"
"Kalau diizinin gimana?"
"Nggak bisa!"
"Aku ada kerjaan, loh. Walau cukup buat makan mie tiga kardus sebulan. Lumayanlah bisa bikin badan kita mirip cacing kremi yang penting kan hidup berdua. Soal anak tidak perlu pusing. Papamu mau jaga mungkin."
"Kamu ngomong apa, sih Gus? Mana mau aku susah begitu. Makan mie tiap hari yang ada aku mencret!"
"Dihalalin kamu marah."
"Eh, mulut!"
"Canda, doang ah! Kamu, sih serius terus. Kesal aku jadinya."
"Ngomong kalau berani sama papa aku. Pasti dia nggak mau!"
"Oke!" Bagus meraih ponsel.
Anggara yang kini sedang menghadiri pesta pernikahan Talia segera menyisih ke kamar. "Iya, Gus?"
"Saya mau menikahi Dara, boleh?"
Anggara berkerut dahi. Ia tak langsung menjawab, tetapi mengikuti nasihat dari Sean ia harus menjauhkan Dara dari Shabita dan masa lalu Dara. Akhirnya dengan berat hati ia berkata, "Baiklah, Gus. Kapan rencanamu?"
"Secepatnya."
"Gus, bisakah ibumu dan ayahmu tidak tahu kalian menikah?"
Bagus terheran. "Kenapa?"
"Jawab saja. Bisakah?"
Bagus memikirkan ayahnya. Ia memang tidak ingin berhubungan lagi. Namun, ibunya ia juga bingung. Harusnya perempuan yang telah melahirkannya itu tahu, tapi ia sadar bahwa Dara berbeda dan ibunya dapat mengetahui. "Baiklah, Om. Saya setuju."
"Setibanya aku pulang. Kita bicarakan pernikahan kalian. Lebih cepat lebih baik."
"Apa kata papa? Pasti nggak setuju, kan?" ledek Dara.
"Iya," jawabnya berpura-pura.
__ADS_1
Dara tergelak. Ia mengejek Bagus. Andai ia tahu Anggara setuju bagaimana perasaannya.