TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
130


__ADS_3

Anggara telah pergi bekerja, kini tinggal Shabita bersama bayi dan tantenya yang yang kini sedang bermain dan bercerita di ruang tamu.


"Berapa tahun anakmu itu?" tanya Tantenya Anggara. Bernama Karina.


"Hampir empat tahun, Tante," jawab Shabita seraya memandang Dara yang kini sedang berlari mengejar bola semangka berwarna merah muda.


"Oh, kudengar dari Anggara kamu lagi hamil?"


"Iya, Tan."


"Berapa bulan?"


"Baru jalan tiga bulan," jawabnya seraya berlari mengangkat Dara yang terjatuh. "Cup, cup, cup!"


"Mama, bolanya nakal!" adu Dara seraya menangis.


"Nggak usah ditemani lagi bolanya, ya. Kita cari bola baru aja," bujuknya. Ia kemudian menaruh kembali Dara dan meraih boneka untuk anak itu. "Main ini aja," berinya.


"Saya jadi ingat Anggara kalau lihat kamu," kata Karina. Shabita menoleh, ia kembali duduk di samping Karina. "Anggara dulu masih kecil sekali sewaktu ibunya bekerja di Thailand. Papanya sering titip Anggara kalau pas lagi ke sawah."


"Anggara dipelihara, Tante?"


"Iya, kebetulan tante ini mandul. Makanya waktu ada Anggara rasanya ramai sekali rumah ini," ceritanya. "Biar gitu om kamu setia, lo sama tante. Hehehe ...." Ia menepuk paha Shabita seraya tertawa pelan. "Kamu jangan marah, ya. Tante dulu sempat naksir sama Anggara. Kayak lupa kalau dia itu keponakan sendiri, habis ganteng banget!"


Shabita meringis, ia mengerti perasaan Karina. Siapa yang tidak senang dengan Anggara, apalagi pemuda itu sangat perhatian pada setiap orang. "Tidak, Tante. Itu sudah lama," jawab Shabita.


"Masih sama perasaan saya, tuh. Cuma kamu jangan cerita ke dia, ya? Nanti dia marah, apalagi kalau sampai om kalian tahu, wah, berabe urusannya."


Ini orang mau memanasi atau memang sekadar curhat. Bahaya betul ini tante!


"Kamu, kok diam, marah, ya?" tegurnya.


Shabita hanya tersenyum kemudian berkata, "Asal Tante tahu diri saja. Maksud saya jangan menikung," singgungnya.


"Hahaha.... Enggaklah! Saya tahu aturan, tahu malu."


Anggara mendatangi Zakaria, ia sempat meneleponnya. Pemuda itu saat ini sedang membersihkan halaman Masjid saat Anggara datang.


"Tumben kamu menghubungi?" sapanya. Zakaria yang saat ini hanya mengenakan koko putih dan sarung kotak putih, kini memandang penampilan Anggara.


"Karena ada urusan aku ke sini, kalau enggak ngapain juga kemari." Anggara segera mengambil tempat di teras Masjid.


"Aku dan Shabita-"


"Hem, pamer. Mentang-mentang udah nikah terus nggak undang-undang aku. Sekarang datang-datang pengen pamer cerita kemesraan!" potong Zakaria.


"Cemburu ngomong?! Enggak usah motong-motong omongan orang!" protes Anggara.


"Bencinya aku sama kamu. Napa juga dia milih kamu," omel Zakaria seraya memukul pundak Anggara dengan pecinya.


Anggara hanya memandang pundaknya yang dipukul Zakaria. "Udah, aku datang cuma pengen minta bantuanmu," katanya.


"Apalagi?"

__ADS_1


"Di rumah ada hantunya," jawabnya.


"Terus?"


"Bantuin bersihin rumahku, dong," pintanya.


Zakaria memandang ke arah lain seraya cemberut. "Emangnya aku pembantu rumah tanggamu. Disuruh bersihin rumah, dibayar berapa?"


Anggara melepas topi dinasnya. Ia memukul pundak Zakaria dengan gemas. Zakaria meringis sakit lantaran topi itu keras sekali. "Bantuin bersihin hawa buruknya di sana, dodol!"


"Bilang, dong!" bentak Zakaria.


"Kamu aja yang lambat berpikirnya."


"Aku sibuk, mungkin malam Minggu baru sempat," jawab Zakaria. "Sekarang di mana kalian tinggal, apa masih di rumah itu atau mengungsi?"


"Sementara tinggal sama tante," jawab Anggara seraya memandang petugas kotak amal sedang menaruh kotak amal di depan jendela kaca teras Masjid.


"Jangan melihat kotak amal hingga segitunya. Entar ada yang hilang aku nuduhnya kamu malingnya," sindir Zakaria.


"Asal aja kalau ngomong," bantah Anggara. "Malam Minggu aku jemput. Awas kalau malam itu nggak ada!"


"Udah minta tolong, malah diancam."


"Aku pergi dulu cari nafkah buat yayangku." Anggara kemudian turun dari teras Masjid menuju motornya yang terparkir di halaman dekat pohon mangga.


"Huh, dasar." Zakaria kemudian meraih kembali sapu. Ia melanjutkan menyapu halaman.


***


Komisaris Revando keluar dari ruangannya. "Anggara," panggilnya.


Anggara tidak menjawab, ia hanya membalas dengan tindakan. Anggara masuk ke ruangan atasannya, ia duduk kemudian diam.


"Kudengar kemarin ada banyak keluhan tentang kalian. Katanya kalian itu lambatlah, inilah-itulah. Sebenarnya kerjanya apa, sih?"


"Tidur," jawab Anggara pelan seraya bersandar.


"Apa?"


"Habis mau bagaimana lagi, Om. Saya dan yang lainnya sudah berusaha, ya kalau masih saja ada komplain, ya biarkan saja. Toh, kita tidak diam."


"Haeh," hela Revando. "Saya tahu, tapi nggak enak kalau ada protes gitu sampai didengar saya."


"Sumbat kupingmu, Pak!"


"Enak saja kamu ngomong, Anggara! Mereka nggak cuma ngomong di mulut, tapi di jari juga. Lagian kita ini aparat, ya harus selalu siap kalau ada apa-apa," jelasnya.


"Iya-iya!" jawab Anggara dengan nada malas.


"Pokoknya saya nggak mau tahu, ya. Anak buahmu kamu atur sebaik-baiknya, jangan sampai lengah!" tekannya.


"Siap," jawab Anggara dengan nada yang sama.

__ADS_1


"Kamu kayak nggak makan setahun. Jawab yang betul!" bentaknya.


"Yes, Pak!" jawab Anggara dengan nada lantang.


"Nah, gitu dong. Sana minggat!" usirnya.


"Ngeri bahasanya," ejek Anggara.


Anggara kembali ke tempatnya. Bukannya memberikan nasehat pada bawahan, ia malah asyik membalas pesan Shabita. Revando geleng-geleng kepala dibuatnya.


Shabita: aku nggak enak tinggal di sini, tidak bisa ngapa-ngapain.


Anggara : tunggu seminggu lagi, cintaku.


Shabita : oke.


Anggara : aku di sini rindu kamu.


Shabita: Baru pagi ketemu, tiap hari juga ketemu.


Anggara: yang mana ya? Perasaan setahun kita belum ketemu.


Shabita: lantas ini anak siapa?


Anggara: Itu karena kamu membayangkan aku makanya dapat anak.


Shabita: ngawur.


Anggara: hehehe.


Shabita : sekarang kamu sedang apa?


Anggara: mikirin kamu.


Shabita: serius nanya, dodol!


Anggara: lagi di kantor.


"Anggara, kamu lupa pesan saya tadi?!" tegur Revando di pintunya.


Anggara segera menyimpan ponselnya. "Iya, Pak."


"Ingat!" ancamnya.


Anggara hanya mengangguk, ia kemudian berlari di belakang Ali yang sedang menghitung sisa gajinya minggu lalu.


"Ngapain kamu sembunyi di sini?" tegur Ali.


"Susst, aku lagi seru balas pesan yayangku!"


"Hah, kurang kerjaan!" omel Ali. "Sana kerjain perintah bos!"


"Bentar lagi," jawab Anggara.

__ADS_1


Revando kembali keluar. Merasa Anggara tidak ada, dipikirnya pemuda itu sedang bertugas. Ia kemudian kembali masuk ke ruangannya.


__ADS_2