TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
115


__ADS_3

Anggara mendengar kabar dari Rustam, bahwa Adi dalam tawanan mereka. Anggara memang sudah menduganya, sebab Adi sendiri sudah meramalkan bahwa dirinya akan dalam bahaya.


"Daripada kamu yang pergi, lebih baik aku saja. Kasihan istri dan anakmu bila sampai terjadi ini-itu padamu," kata Adi sewaktu mereka menikmati secangkir kopi di depan pos penjagaan. "Kecuali memang kamu mau dia menjanda ... aku siap menggantikanmu!" Masih tergiang benar perkataan sahabatnya itu. Adi memang menyukai Shabita, tetapi pemuda itu tidak pernah menikung. Hanya terkadang ia sering usil menggodanya lewat Shabita.


"Anggara," tegur Rustam di saat pemuda itu sedang melamun.


"Jangan bengong. Kopi," tawarnya seraya menyodorkan kopi.


Anggara menerimanya. "Bagaimana, apa Adi sudah berbicara dengan kalian?"


"Untuk saat ini belum." Rustam menikmati kopinya. "Aku cuma cemas kalau dia dihabisi atau dinikahi oleh nenek tersebut." Rustam menaruh kembali cangkir kopinya.


"Apes betul anak itu."


"Kita lihat saja nanti. Lagipula CCTV mereka sudah kita atur." Rustam berdiri. Ia mengembalikan cangkir kosong ke dalam pos.


***


Adi terbangun kembali. Ia memandangi kamar itu. "Kupikir di rumah!" umpatnya kesal. Tangannya sudah pegal karena harus terikat.


Kriet! Pintu terbuka perlahan. Nenek itu datang membawa makanan untuknya. "Makanlah," pintanya.


"Bagaimana saya bisa makan kalau begini?" protes Adi.


"Saya suapi," tawarnya.


Adi menelan ludah. Ia tak kuasa memandang kuku jemari si nenek. Hitam, panjang ada kuningnya. Astaga! Itu apa, ya? "Saya bisa sendiri," katanya. Tapi ... apa makanan itu bersih?


"Tidak ada jaminan setelah dilepas kamu tidak akan kabur dari sini," tolaknya.


Ih, masa aku makan itu? Adi ingin muntah. "Tunggu, Nek! Saya baru ingat kalau hari ini saya puasa."


"Puasa? Puasa apa kamu?"


"Biar cepat dapat jodoh!" jawabnya cepat. Asal jadi yang penting ada alasan walaupun dalihnya terdengar tidak masuk di akal.


"Sudah di depan matamu. Tidak usah puasa lagi, ayo makan!" Ia menyiapkan suapan untuk Adi.

__ADS_1


Mamak! Adi menjerit dalam hati.


"Nek, ada tamu!" lapor pemuda berkepala botak, mengenakan pakaian merah hati.


"Baik," jawab si Nenek seraya berdiri. "Kamu tunggu di sini. Nanti saya kembali lagi," pesannya.


Setelah beberapa menit, Adi menendang piring itu hingga berserakan di lantai. Sekalian tidak makan. Ia akan membuka talinya, tetapi pemuda berambut keriting datang dengan membawa air mineral. Pemuda itu sempat melihat makanan yang terjatuh itu, tetapi sama sekali tidak dipedulikan olehnya.


"Minum!" perintahnya.


"Saya sudah kenyang!" dustanya. Ia tahu bila mereka berniat menghabisi dirinya di belakang nenek tersebut.


"Ini perintah nenek. Katanya kamu perlu minum sehabis makan."


"Itu tumpah sebelum kumakan!" tunjuk Adi dengan memajukan wajahnya. "Lantas aku bagaimana mau minum kalau diikat begini."


"Tidak ada jaminan kalau dilepas kamu akan diam."


"Taruh saja di sana. Aku tunggu nenek saja!" tolaknya.


"Kamu harus minum. Akan kuminumkan!" paksanya sambil membuka tutup botol lantas di paksanya pemuda itu meminumnya. Oleh karena Adi menutup rapat mulutnya. Ia lalu menampar keras wajah pemuda itu. "Minum!" Adi bosan diperlakukan seperti itu, maka ia membenturkan kepalanya ke pemuda itu. "Awh!" Pemuda itu mundur. Ia mengeram, ingin menyerang Adi.


"Kakak," katanya seraya berlari kecil menghampiri Adi. "Maaf, saya sudah memberitahukan kalau tempat ini nggak aman, tapi kalian tidak mau mengerti dan malah bertanya."


"Katamu akan ada pertemuan di sini, kapan tepatnya?"


"Besok malam," jawabnya sambil memperhatikan wajah pemuda itu yang memar. "Ini kenapa, apa mereka menyakitimu?" Ia mengusap lembut wajah pemuda itu.


"Kamu pikir saya ini kucing, main usap sesuka hati!" bentaknya.


"Eh, maaf! Saya nggak bermaksud." Gadis itu salah tingkah.


"Sana, pergi!" usirnya.


"Apa, Kakak tidak ingin saya lepaskan?"


"Nggak usah! Kamu kira saya ini orang lemah!"

__ADS_1


Galak sekali orang ini. Aku nggak mau nikah sama orang kayak gini. Gadis itu kemudian pergi.


Adi kemudian membuka ikatannya dengan mudah. Ia meraih camera kecil di sisi ranjang. "Kalian dengar, kan? Besok malam bersiaplah!" Adi kemudian mengembalikan benda itu dengan cepat. Ia kembali melilitkan tangannya pada tali. Seolah-olah sedang terikat.


Tini sedang menangis. Ia mendengar suara pintu dibuka. Gadis itu bergegas siaga. "Mau dibawa ke mana?" rontanya di saat dirinya dipaksa mengikuti mereka berdua. Dua pemuda berpakaian serba hitam. "Lapas!"


"Ini dia!" Salah satunya mendorong Tini.


Tini termaju, ia sekarang berada di ruang tamu. Seorang pemuda berusia tiga puluh lima tahun sedang memandang ke arahnya. Tersirat pandangan melecehkan di mata orang itu.


"Ini majikan barumu," kata si Nenek.


Tini menggeleng. "Ja--jangan! Biarkan saya tetap di sini saja!" mohonnya seraya bersimpuh di kaki si nenek.


"Kamu sudah tidak ada gunanya bagi saya."


"Tolong, saya tidak mau ikut dia!" isaknya.


"Bawa anak ini bersamamu, cepat!" perintah si Nenek.


"Enggak mau!" Tini meronta-ronta dari pegangan pemuda itu. "Nenek!" Ia mencoba berlari kembali ke dalam. "Pak! Tolong saya! Saya tidak mau pergi!"


Adi mendengar teriakan Tini, ia tidak bisa keluar begitu saja atau semua rencananya akan gagal, maka ia kembali meraih alat bantunya di sisi ranjang. "Tini dibawa orang."


Rustam segera memerintahkan mereka untuk melacak kendaraan yang terekam CCTV. "Ridwan, kejar mobil yang membawa Tini!" perintahnya di saat pemuda itu tengah asyik bermain ponsel.


"Baik!" katanya. Ia segera menyimpan ponsel, kemudian berlari ke mobil.


"Urusan kita dengan gadis itu sekarang beres. Tinggal urusan hati yang belum," gumam si Nenek.


"Besok malam kita harus pindah tempat, Nek. Saya cemas kalau mereka akan menggerebek tempat ini," usul pemuda berambut panjang.


"Aku juga berpikir demikian. Atur saja di mana tempat yang aman untuk menaruh mereka. Untuk sementara saya harus mengurus pemuda itu terlebih dahulu." Nenek itu kemudian menuju kamar Adi.


Adi berpura-pura tidur. Ia tidak mau disuruh makan kembali. Si nenek memandang terkejut makanan yang berserakan.


"Kenapa ini?" Ia marah. Nenek memandang Adi yang tertidur. Ia melihat ada air mineral dan tanda biru di wajah pemuda itu. "Siapa yang datang kemudian menyakitinya?" gumamnya.

__ADS_1


Nenek itu segera keluar dari kamar. Adi mengintip dengan sebelah mata. "Siapa di antara kalian yang tadi masuk ke kamar?!" Terdengar suaranya yang sedang memarahi pesuruhnya.


Mereka menggeleng tidak tahu, tetapi si nenek mencurigai si besar dan rambut keriting. "Awas, kalau terjadi sesuatu padanya, saya akan buat kalian menderita!" ancamnya dengan menuding ke arah mereka semua.


__ADS_2