TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
LAGI MARAHAN


__ADS_3

Di kampus. Dara terlihat sepi tanpa Bagus. Ia sesekali mencuri pandang kepada pemuda yang sedang ia pikirkan sepanjang malam itu. Begitu asyiknya Bagus bersama teman-teman perempuannya. Dulu saat Dara ada, mereka tidak ada yang mengusik. Hari ini berbeda. Dara terlihat bagai kekasih yang dicampakkan.


"Asam!" decitnya pelan. Ia lantas membuka setiap lembar halaman buku dengan kasar. Nyaris robek buku itu dibuatnya.


"Pacarmu terlihat tidak senang kita dekati?" bisik Zesi. Gadis manis berponi lurus.


Bagus tidak peduli. "Kamu tumben ke sini?"


"Eh, aku tadi ngomongin cewekmu. Kenapa jadi membahas aku?"


"Biasalah namanya juga hubungan. Sedikit ada renggang."


"Idih. Nanti malah makin jauh, lo."


"Hem, oh." Itu saja yang ia jawab.


"Kalian itu putusan?" tanya Lili. Gadis berambut ikal.


"Tanyakan sama dia. Putus atau tidak?"


"Eh, kok, aku yang disuruh bertanya?" Lili garuk kepala.


"Tanya saja, tapi jangan bilang aku yang suruh, ya!" Bagus mendorong Lili.


"Ih, aneh." Walau begitu ia tetap menuruti perintah Bagus.


Dara heran melihat Lili. "Ada apa?"


"Anu, aku boleh nanya nggak?"


"Iya, apa?"


"Kamu sama Bagus, putusan atau masih, sih?"


"Eh, apa?"


"Kamu pacaran apa udah putus, sih?"


Dara melirik Bagus yang kini sedang asyik bercanda dengan yang lain. "Putus."


"Oh, gitu."


"Eh, tanyain juga. Dia itu udah putus atau pacaran sama aku!"


"Eh, kok, gitu?" Ia garuk pelipis kanan. Heran karena Bagus dan Dara memiliki hobi bertanya yang terbilang unik alias aneh.


"Udah, tanyakan saja! Nanti kalau dia jawab kamu balik sini lagi!" Dara mendorongnya.


"Apa katanya?" tanya Bagus.


"Putus."


"Oh, begitu." Bagus melirik sekilas kemudian tak peduli pada Dara. Dara terlihat sedang asyik pula dengan seorang cowok.


"Anu ... kamu sama Dara itu sebenarnya putus atau terus, sih?"


"Kalau dia bilangnya putus ya putuslah. Kalau dia bilang nyambung ya terus."


"Oh. Jadi kesimpulannya?"


"Diputusin aku, tuh. Tega nian dia!"


Lili datang lagi. "Katanya putus."


"Oh, gitu." Dara tak peduli.


"Kamu mutusin dia?"


"Nggak, tuh. Kita baik aja. Dia yang bilang putus, berarti hubungan kami juga putus."


"Eh, tapi katanya itu karena kamu bilang putus jadi dia putusin. Terserah kamu katanya."

__ADS_1


"Buh! Bagaimana bisa terserah aku? Ini, kan dia yang duluan bilang putus tadi ke kamu. Kenapa jadi aku yang salah?!"


"Nggak tahu. Kamu jangan marah sama aku, dong. Aku kan cuma korban kalian."


"Heh! Kaubilang sama dia, ya! Cowok lain banyak di jelas ini. Jangan sok gitu! Pacaran saja tidak sudah ngomong putus segala!"


"I--iya, aku datang ke situ lagi, deh!" Lili segera berlari dan menyampaikan lewat bisik pada Bagus.


"Kasih tahu dia. Cewek emang banyak, tapi yang pacaran sama aku cuma dia. Sana!" Ia mendorong Lili.


"Aduh, sampaikan sendiri kenapa?"


"Sana, kamu! Biar aku yang menggantikan tugasmu." Zesi dengan langkah percaya diri menghampiri.


"Ah, apalagi ini anak?" batin Dara. "Apa?"


"Wih, mukanya seram amat. Pantas Bagus pergi dan milih nembak aku."


Dara kerutkan dahi. "Nembak kamu?"


"Iya, dong. Katanya kamu itu cerewet."


"Oh, gitu." Dara melirik Bagus. "Terus dia bilang apalagi?"


"Nggak ada, sih. Cuma nggak tahan aja sama sikapmu yang begitu. Oh, ya. Aku datang ke sini cuma mau kasih tahu itu aja. Jangan rebut dia, ya." Ia kemudian pergi.


"Idih, apaan juga. Siapa yang mau merebut cowok gila itu!" batin Dara.


"Apa katanya?"


Zesi mencibir ke arah Dara. "Nggak tahu, tuh. Nggak jelas banget. Ditanya baik-baik, eh malah nyolot!"


"Seperti apa itu?"


Zesi melirik lengan Bagus kemudian memandang wajahnya. "Kamu laki apa perempuan, sih, kek cewek aja? Suka gosip!"


"Sudah sana!" Bagus mendorong Zesi.


Dara dihampiri oleh Bagus. Gadis ini terlihat tidak peduli. Padahal di hati ingin segera menyepak kaki Bagus.


"Nih, bajumu."


Dara melirik bajunya yang ditaruh Bagus di atas meja. "Oh, makasih." Dara kemudian acuh.


"Kok, renggang, kalian bubaran?" tanya Anan saat Bagus kembali ke bangku yang sengaja ia tukar dengan Paul. Kini malah Paul yang akrab dengan Dara.


"Kenapa ?"


"Oh, jadi enggak ada hambatan lagi, dong aku dekat sama tu anak?"


Bagus menumpu pipi pada tangan kanan. Ia kemudian memandang Dara yang kini sedang asyik bercanda. "Boleh, aja. Kalau mau aku bunuh!"


"Eh, kok gitu? Janganlah bercanda. Aku serius naksir dia."


"Hem, terserahlah. Tanya aja apa dia mau sama kamu."


"Jadi betulan nggak papa, Bro?"


"Nggak papa. Paling mayatmu tak buang ke laut terus diberi pemberat biar nggak ditemukan."


"Mengancam terus dari tadi." Namun, begitu tetap ia menghampiri Dara. "Hay, Dara manisku."


"Hai, juga."


Bagus di sana berbalik. Ia malah melirik ke arah Vindi. Gadis itu malu. Ia menunduk sembari mengalihkan pandang ke kiri. "Loh, kok, berpaling, lihat sini, dong!" goda Bagus.


"Malu, Kak. Takut juga. Nanti Dara marah."


"Nggak. Dia orangnya mukanya memang kayak hantu, tapi sebenarnya ba--aw!" Kepalanya ditampar oleh Dara dengan buku yang sengaja digulung olehnya.


"Ngomong apa tadi kamu?"

__ADS_1


Bagus otomatis memandang Dara. "Ih, siapa juga yang ngomongin kamu. Dasar, kepedean."


"Barusan kamu bilang aku apa?"


"Nggak ada."


Dara sungguh kesal. Ia lantas meninggalkan Bagus. "Dasar, Bagus. Dia sebenarnya kenapa? Kenapa malah berubah?!" Dara duduk di taman kampus. Tidak lama malah mengisak. "Benci betul aku sama dia! Dasar kawan asam! Nggak punya perasaan!"


Bagus datang menawarkan sebotol air mineral. "Minim dulu biar tenang."


"Siapa ini? Nggak kenal!" Dara bergeser. Namun, Bagus merapat. "Jauh kau!" Dara mendorongnya.


"Nggak mau, ah!"


"Kamu kenapa, sih, jadi jauh sama aku?"


"Lagi bosan aja dekat kamu." Enteng sekali bicaranya sehingga membuat Dara mengepalkan tinju.


"Jadi kamu bosan?"


"Nggak juga, sih?"


"Kamu pasti marah sama papa aku. Kamu marah juga sama aku."


"Siapa bilang? Aku tuh, nggak marah. Cuma nggak pengen aja melanggar larangan papamu."


"Kok, gitu?"


"Yalah, aku kan, anak baik. Lagian baru belajar salat. Nanti kalau udah pintar aku bakal jadi imam kalian."


"Kok, kamu gitu, kan kita cuma teman. Masa, kamu nganggap omongan papa aku?"


"Masa, kamu nggak paham, sih? Mana mungkin papamu melarang kita berteman cuma gara-gara aku nggak bisa jadi imam salat. Ada dong, alasannya."


"Apa?"


Bagus merangkul pundak Dara. "Kamu kan, calon istriku."


"Eh, kok ngaku-ngaku?" Dara mendorong Bagus.


"Bukan ngaku. Ini serius, tahu! Tanya papa mertua kalau nggak percaya."


"Enggak mau, ah. Aku sama kamu. Genit!" Dara melipat kedua tangan.


"Masa?"


"Udah, ah. Jangan bercanda terus. Itu maksudnya suruh si Lili nanya kita putus atau masih, maksudnya apa?"


"Mau tahu aja pikiran kamu."


"Ih, dasar."


"Eh, kalian kok, baikan. Tadi, kan pisah?" tanya Zesi.


Bagus melirik Dara yang langsung buang muka. "Namanya juga suami-istri. Ribut terus rujuk udah biasa." Asli dari jawabannya itu membuat Dara melotot ke arahnya.


"Bagus, kok, gitu, tadi katanya sayang aku?" Zesi hendak meneruskan sandiwaranya.


"Eh, kapan, ya, Yang, aku ngomong ke dia kayak gitu?" Ia malah menyindir.


"Nggak tahu, ah. Pelakor, sih," cibir Dara.


"Heh, bilang apa you?!"


"Gus, aku haus. Ngantin, yuk!" Ia menarik Bayu.


"Gendong!" rengek Bayu.


"Apaan, sih!" Dara mendorong.


"Awas, aja. Bakal kutelepon dukun langganan mama. Nggak kudapat nggak bakal berhenti!" batin Zesi.

__ADS_1


lagi telat up. Padam listrik dari tadi pagi


__ADS_2