TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
55 KECEMBURUAN ANGGARA


__ADS_3

Shabita sedang memilih beberapa baju keinginannya sedangkan Toni sedang berada beberapa meter darinya sedang mengobrol dengan salah satu kenalannya. "Pilih saja apa yang kamu suka," ucapnya sebelum menerima telepon dari seorang kawan dan ditegur oleh kenalannya.


Shabita memilih pakaian berwarna ungu yang sangat manis. Jarinya tak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain. "Eh!" Ia kaget dan segera menarik, namun tangannya diraih oleh tangan orang tersebut. Ia ditarik masuk ke dalam banyaknya patung pakaian di sana.


"Kaget melihatku?" tanya Anggara sambil tersenyum manis.


"Kamu kenapa ke sini?" Shabita cemas. Ia memandang ke sana-kemari dan berbicara pelan.


"Untuk siapa lagi," goda Anggara.


"Pergi, nanti suamiku bisa melihatmu di sini!" usir Shabita.


Anggara menggeleng, ia tersenyum menolak. Shabita kesal dan berusaha pergi, namun pinggangnya telah diraih Anggara.


"Lepas!" mohon Shabita.


"Kabur, yuk!" bisik Anggara.


Seandainya bisa sudah kulakukan dari dulu. "Pergi dan lepaskan aku!" Shabita berusaha meronta dari pelukan Anggara.


Anggara tertawa pelan, ia ingin melihat sampai di mana kekuatan Shabita melepaskan diri darinya. Shabita hampir menangis karena kalah kuat dengan tenaga Anggara. "Jangan nangis, aku juga akan menangis," bisik Anggara lembut. Membuat hati Shabita luluh dan diam tidak lagi mencoba meronta. "I love you." Anggara segera melepas Shabita dan pergi darinya.


Gadis itu merasa kehilangan setelah Anggara pergi, namun ia segera sadar saat Toni memegang pundaknya. Ia berbalik dan tersenyum.


"Sudah?" tanya Toni.


Shabita tersenyum, ia mengikuti Toni untuk membayar yang dipilihnya, Shabita diminta menunggu di luar antrian, sedangkan Toni mengantre untuk membayar sambil menerima telepon. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun mengenakan pakaian biru muda memegang tangan Shabita dan memberikan sebuah tas belanjaan.


Shabita berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak gadis kecil itu. "Apa ini, sayang?" tanyanya lembut.

__ADS_1


Gadis kecil itu hanya menunjuk saat ditanya. Shabita segera memandang ke arah yang dituju si kecil. Matanya menyipit dan tersenyum, ada Anggara di sana sedang tersenyum padanya. "Pakai!" Sebuah isyarat yang diberikan pemuda itu padanya.


Shabita tersenyum dan memberi isyarat agar gadis itu meninggalkannya. Ia berdiri dan berbalik tidak mau terlihat mengharapkan pemuda itu, namun setelah beberapa menit ia berbalik dan melihat pemuda itu tidak adalagi. Membuatnya menyapu habis semua area itu dengan pandangannya.


"Aku ingin kalau kita bertemu lagi pakailah itu," bisik Anggara tepat di belakangnya.


Shabita segera berbalik, namun pemuda itu telah menjauh dan tersenyum padanya. Ia menunduk malu dan melirik diam-diam.


"Adalagi yang kamu mau?" tanya Toni saat sudah berada di dekatnya. "Kamu membeli sesuatu?" tanya Toni saat melihat yang ada di tangan gadis itu.


"Ya," jawab Shabita. "Talia menitipi sejumlah uang agar aku bisa membeli sendiri pakaian yang aku inginkan."


"Mau makan apa?" tanya Toni. Pemuda itu tak ingin membahas pakaian yang dibeli Shabita.


"Terserah yang penting halal," singgung Shabita.


"Baik," jawab Toni. Ia tidak mau membahas lagi. "Demi anak kita apa pun akan kulakukan."


"Jangan mengetes cintaku. Kalau sampai kubuktikan kamu tidak mampu berkutik!" kata Toni sambil memilih resto yang akan mereka kunjungi. "Kita makan di sini, kudengar di sini enak-enak makanannya."


Shabita tidak membantah, ia menurut saat Toni memegang tangannya dan membawanya masuk ke dalam. Bahkan menyediakan kursi untuknya duduk. Pelayan datang, Toni memesan sambil berbisik pada pelayan lelaki yang menghampirinya. Shabita melihat-lihat di sekitar hingga di luar resto. Ia tercengang melihat Anggara berdiri di antara mereka yang lalu-lalang, pemuda itu melihatnya sementara Shabita langsung mengalihkan pandangannya.


Kenapa dia berdiri di sana, apa dia ingin Toni melihatnya? Shabita tersenyum saat Toni bercerita, ia tidak mendengar Toni, hanya saja ia membuat seperti memerhatikan agar Toni tidak curiga bahwa pikirannya telah teralihkan oleh Anggara. Makanan datang, Shabita hanya tersenyum pada pelayan. Ia melirik diam-diam Anggara, perasaannya lega setelah pemuda itu tidak ada di sana.


"Kamu berbeda, tidak seperti waktu itu?" tanya Toni sambil mengaduk makanannya.


"Biasa saja," jawab Shabita ketus.


"Dulu kamu selalu menjauh dan seminggu kemarin sewaktu kutinggal kamu marah padaku." Toni menyuap makanannya dan memandang Shabita dengan heran.

__ADS_1


"Terlanjur basah, aku tidak mungkin terus bermusuhan denganmu apalagi sudah memiliki anak," jawab Shabita. Berpura-pura berdamai adalah jalan baginya agar menjauh dari Toni secara perlahan.


Toni tersenyum dan memegang tangan Shabita. "Apa pun maumu katakan saja."


Aku mau menjauh darimu! Namun, keinginan itu hanya mampu diucap oleh hatinya, tak berani ia ungkapkan di depan Toni. Ia hanya mengangguk dan tersenyum manis.


Panas hati Anggara melihat kemesraan mereka, ia memandang dari kejauhan. Siapa di hatimu Rani, aku atau dia?


Shabita merasa tidak nyaman, ia seperti terhubung dengan perasaan Anggara. Gadis itu memandang ke luar dan menatap Anggara yang berdiri di sana, memandangnya dengan wajah kecewa. Shabita mengalihkan pandangannya dan menatap Toni yang sedang makan. Dia marah?


Apa yang kamu pikirkan, Rani? Aku penasaran denganmu. Kenapa kamu menciumku bila ternyata malah bermesraan dengannya di depanku? Batin Anggara sangat terluka walau ia pernah mengungkapkan akan selalu berada di sisinya walau hanya menjadi kekasih gelapnya. Ia tidak dapat menahan jua rasa sakitnya, kendati telah berusaha mencoba memaklumi posisinya di antara mereka berdua.


"Nanti semua kekayaan dan semua yang aku punya jatuh pada anak kita. Tidak akan kubiarkan kalian miskin, kalau bisa sampai tua kita tetap bersama." Impian Toni yang tersampaikan pada Shabita.


Toni tidak salah memimpikan itu semua, apa pun demi cinta ia sudah melakukan untuk mendapatkannya, walau jalannya memang sangat tidak lumrah. Shabita memahami sikap Toni, mungkin itu yang membuat Anggara juga gigih mengejarnya hanya demi cinta. Diam-diam ia kasihan pada Toni, namun juga membencinya karena menjauhkan dirinya dari Anggara dan membuatnya harus mengandung anak darinya.


Shabita


Aku tahu kamu terluka, tapi inilah nyatanya. Aku milik orang lain


Anggara


Aku tidak mau mengerti itu semua! Kamu satu-satunya yang mampu mengalihkan semua pikiran dan hatiku. Sungguh aku cinta kamu Rani.


Shabita


Semoga kamu paham dengan keadaanku Anggara.


Anggara

__ADS_1


Aku tersiksa di sini. Apa yang kamu lakukan dengannya membuatku mendidih.


Jangan lupa like ya. Biar tambah rajin aku up.


__ADS_2