
Shabita masih marah, ia cemberut di saat pemuda itu meraih tangannya untuk merangkulnya.
"Aku akan pergi ke rumah yang ditujukan perempuan itu," kata Anggara. Ia tidak mau menyebut Kuyang lantaran takut Dara mendengarnya.
"Hem, terus baliknya jangan ke sini. Sana ke rumah perempuan miskin perasaan itu," sindir Shabita.
"Oke! Siap, Bos!" jawab Anggara penuh semangat. Ia segera pergi.
"Haaa? Sial!" umpat Shabita kesal.
Anggara berjalan menuju rumah kosong di depan sana. Para warga telah berkumpul semua, dilihat olehnya perempuan yang menjadi Kuyang itu telah bersatu dengan raganya. Ia diikat kemudian ditanyai kembali oleh mereka. Namun, kali ini penuh dengan emosi bukan lagi canda atau ucapan seperti tadi.
"Mana orang yang membawamu? Kamu bohong pada kami semua!" bentak seorang bapak bertubuh besar. Hanya memakai sarung kurung tanpa baju.
"Ti--tidak! Saya berkata benar. Kami sering di sini!" belanya.
Anggara membelah kerumunan mereka, ia memandang perempuan cantik berbaju merah darah yang sedang terikat. "Dia ngaku?" bisiknya pada Pak RT.
"Boro-boro, dari tadi tidak tahu terus jawabannya." ... "Coba kau tanyakan!" usulnya.
Anggara maju, ia bertanya pada perempuan itu. "Biasanya di mana dia tinggal atau dia pernah menyebutkan tempatnya?"
Perempuan itu menggeleng. "Saya dibawa ke sini oleh majikan saya dari Banjarmasin, kemudian kami di sini diasuh oleh majikan kami."
"Majikan?" Anggara heran. Adakah begitu?
"Ya, kami cuma korban. Sebenarnya kami tidak mau menjadi Kuyang."
"Kalau tidak mau kenapa bisa jadi? Mamakmu kah yang mewariskan?" tanya pemuda berambut panjang bertubuh ceking, berbaju ungu berlengan buntung.
"Jadi Kuyang itu tidak semua warisan. Bisa jadi memang dipilih!" ralat Anggara.
"Sebenarnya saya hanya perempuan biasa, saya ..." Perempuan ini diam. Ia menangis, hendak menyapu airmata yang mengalir. Namun, apa daya tangannya terbelengu. Akhirnya Anggara yang menyapu airmatanya. Ia terkejut, hatinya berdesir memandang pemuda itu.
"Sekarang cerita!" perintah Anggara.
__ADS_1
"Dua tahun lalu saya hanya seorang guru les Bahasa Inggris. Saya mengajar pada malam hari, di setiap hari saya pulang saat malam jam 21:22, entah kenapa di saat itu saya ada keperluan. Akhirnya saya pulang jam 23:40. Ketika itu ada yang menyiram cairan ke leher saya dan setelah itu saya tidak tahu lagi. Saya pingsan setelahnya," jelasnya. Ia memandang mereka semua untuk melihat raut wajah mereka. Ternyata sebagian ada yang percaya dan adapula yang menyangsikan pernyataannya. "Sungguh ini terjadi!"
"Ceritakan semua," pinta Anggara. Ia meminta mereka diam dengan isyarat tangan.
Perempuan itu menerawang ke masa dua tahun lalu. Tini adalah namanya, gadis manis yang sangat periang. Umurnya baru menginjak dua puluh tahun, tetapi ia sangat pandai. Selain kuliah di jurusan Sastra ia juga mengajar sebagai guru les Bahasa Inggris. Keseharian Tini sama seperti gadis kebanyakan, bermain, bercanda juga belajar.
"Kakak udahin pelajarannya sampai di sini dulu, ya." Tini berbicara dengan muridnya. Ia merapikan buku ajar dan berdiri dari duduknya.
"Kakak mau ada urusan, ya?" tanya Riski. Pemuda tanggung berusia lima belas tahun berbaju hitam bercelana biru.
"Iya, nih," jawab Tini sambil memandang arlojinya. "Kakak mau beli buku di toko dekat sini. Takut nggak keburu."
"Kenapa tidak tadi saja sebelum ke sini?"
"Titipan teman, baru saja dia kirim SMS," jawabnya sambil tersenyum dan melangkah ke luar rumah. "Kakak, pamit, ya."
Riski memandang kepergian Tini. Ia menutup pintu setelah Tini menjauh dari rumah. Tini berjalan sambil meraih sesuatu dari tasnya. Tes! Seseorang bertudung hitam menyiram lehernya dengan minyak. "Agh!" pekiknya sambil memegang leher. Ia merasa sakit kemudian tidak sadarkan diri.
"*Aku lapar!"
"Tolong, aku tidak mau lagi*!"
Suara itu terdengar di telinganya. Tini mengerjitkan dahi, membuka sedikit matanya. Ia terbelalak tidak percaya saat memandang dirinya kini telah berada di sebuah tahanan.
"Kamu orang baru," tegur perempuan berambut acak-acakan. Ada bau amis keluar dari tubuhnya.
"Si--siapa, di mana ini?" tanya Tini penuh rasa takut. Ia memandang darah di baju dan di dagu perempuan itu. Kemudian lehernya. "Ke--kenapa itu?" tunjuknya. Ia meringsut mundur dan bersandar pada dinding sambil memeluk lutut.
"Kamu lihat ke depan sana!" perintahnya.
Tini menutup wajahnya, tetapi begitu ia tetap memandang di balik sela jemarinya. "Apa itu?" desisnya.
Seorang perempuan berumur tiga puluh tahun sedang meregang nyawa. Ia kesakitan dan bergulingan di lantai, kemudian sesuatu yang tidak terbayangkan oleh Tini adalah perempuan itu lambat-lambat mulai melepas kepalanya. "AAA!" pekik Tini ketakutan. Ia menenggelamkan kepalanya, tidak ingin melihat lagi.
Kuyang itu kemudian berada di lantai. Tini mengintip sedikit kemudian menutup kembali matanya. "Hey! Bawa perempuan yang belum jadi itu untuk dites!" Ia mendengar suara lelaki sedang memerintah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!" tanya Tini panik.
"Kamu bersama yang lain akan dibawa ke tengah lapangan." Perempuan itu memandang Tini.
"Bu--buat apa?" tanya Tini. Ia memandang satu per satu mereka yang diseret paksa oleh mereka.
"Ini peternakan Kuyang!"
Tini menelan ludah, ia mencoba normal. Tidak mau terpancing akan omongan yang menyesatkan hatinya. "Kamu jangan asal. Di sini aku takut, jangan ditakuti lagi," elaknya dengan tertawa miris. Ada getaran rasa takut menyelimuti diri. Hingga dirinya tidak sadar meremang.
"Keluar!" teriak seorang pria bertubuh besar berkulit kemerahan bertelanjang dada.
"Tidak mau!" Tini menggeleng. Ia makin merapat pada dinding.
Pria itu masuk ia menarik paksa Tini yang berteriak seraya meronta. Namun, tenaganya kalah kuat. Dirinya diangkat lantas dibawa keluar.
"Nggak! Tolong ... tolong!" Ia dihempaskan ke tanah bersama perempuan lainnya. Tini memandang mereka semua yang meraung meminta agar dipulangkan ke rumah masing-masing. "Plis, jangan apa-apakan saya!" mohon Tini.
Seorang gadis manis berumur dua puluh tahun sedang tersenyum berdiri di antara mereka semua. "Apa kalian sudah membawa semua?" Ia bertanya hanya memalingkan wajah saja. Tidak berbalik untuk melihat secara langsung pesuruhnya di belakang.
Tini memandang gadis manis berbaju santai dengan warna silver. Ia memerintah mereka, dipikir Tini pastilah ini bosnya. Ia kemudian merangkak mendatangi gadis itu.
"Tolong lepaskan saya. Saya tidak salah, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian!" mohon Tini.
Gadis itu berjongkok. Ia tersenyum manis kepada Tini. "Pasti," katanya sambil mengerling mata kepada Tini. Ia kemudian berdiri. Tini tadinya telah merasa lega, tetapi gadis itu ternyata tidak ada hati sama sekali. Ia berkata kepada mereka, "Dia yang Pertama!"
Mata Tini melotot, ia tidak percaya bahwa petaka menimpanya karena berani lancang memohon tadi. Tini meronta, melawan sebisa mungkin. "Jahat! Kamu nggak ada perasaan!" makinya lantaran tidak dapat lagi melawan. Ia mulai melemah, seluruh tenaga terkuras habis. Lelah, mengantuk, jua sakit hati. Berbaur jadi satu.
Tini dibaringkan kemudian dikekang oleh mereka. "Apa itu?!" bentaknya. Sebuah cairan minyak dalam botol dioleskan padanya. "Ah! Sakit!" rontanya. Ia kemudian dilepas dan dibiarkan meronta sendiri.
Mereka ketakutan memandang Tini. Ada yang menangis karena kasihan, adapula yang bersedih lantaran dirinya akan mengalami hal yang sama.
"To--tolong! Ah, sakkiiit!" Tini bergulingan di tanah. Ia mencakar lehernya sendiri. Matanya mengeluarkan tangis darah. Lambat-laun leher itu terbuka sendiri. Kras! Kraks! Akhirnya terpisah. Tubuh Tini tergeletak. Kuyang Tini mengikik kemudian terbang mencari mangsa.
bersambung
__ADS_1