TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
77


__ADS_3

Shabita sedang berada di sebuah pantai ia bermain dengan seorang gasis kecil. Gadis kecil itu mengenakan pakaian putih. Berlari bersama ibunya, Shabita-lah ibu dari gadis kecil itu.


"Mau ke mana, ayo!" Shabita menangkap dan memeluknya.


"Mama, nakal!" Gadis itu tertawa geli saat Shabita menggelitikinya. "Hahah ... Mama, udah!"


"Hey, mau ke mana?" Shabita berteriak saat gadis kecil itu lepas darinya. Ia hendak mengejar. Namun, Anggara merangkulnya dari belakang.


"Mau ke mana?" godanya sambil mencium pundak Shabita.


Gadis itu berbalik dan memandang Anggara, ia membelai rambut pemuda itu. "Dari mana saja kamu, Anggara?" tanyanya dengan mata sayu.


"Aku yang harusnya bertanya. Ke mana saja kamu, kenapa pergi dariku?"


"Aku ...."


"Pulanglah, sayang. Kutunggu dirimu," pinta Anggara.


Shabita memandang Anggara yang lama-kelamaan menipis dan hilang ditelan kabut. Ia mencari-cari pemuda itu. "Anggara! Anggara!" teriaknya. Ia berlari ke sana-kemari. "Anggara!"


Shabita terbangun dari tidurnya. Ia berkeringat. "Aku tertidur! Bagaimana aku bisa tidur, sial!" Ia segera berdiri dari ranjang Rumah sakit. Ia menyeka airmata di pipinya. "Dia menangis?"


Di tempat lain di halaman belakang rumah Talia. Sean masih memusatkan kesaktiannya. Ia akan membuat Shabita terlelap lagi agar Wati kembali tertidur. Shabita menahan agar ia tidak tertidur, ia sangat mengantuk. Ketika matanya akan tertutup, ia segera berjalan mondar-mandir untuk membuat dirinya kembali bugar, tetapi rasa kantuk itu sangat hebat hingga walaupun ia sedang melakukan aktivitas tetap saja mengantuk, nyaris ia terjatuh lantaran kepayahan.


"Aku tidak boleh tidur, dia akan bangun dan aku tidak bisa mencapai waktu empat puluh hari."


Sariani memandang Sean yang sedang memusatkan pikirannya pada Shabita. Ia yang memiliki usul itu lantaran Shabita sangat sulit dilawan dengan Fisik. Ia kembali memerhatikan Anggara yang berbaring di sebelah Sean. Pemuda itu memang ditidurkan untuk menjalin mimpi dengan mimpi Shabita.


"Apakah cara ini akan berhasil?" tanya Talia. Ia baru datang dan memerhatikan Sean.


"Kita lihat saja," jawab Sariani.


"Aku heran kenapa mesti Anggara? Papaku lebih dekat dengannya," bisik Talia.


Sariani memalingkan wajahnya, ia tidak ada niat menjawab ataupun berdusta pada gadis itu. Talia memandang curiga pada Sariani.


Shabita mencubiti wajahnya, ia menahan kantuk dengan itu. Namun, hasilnya masih sama malah makin menjadi. "Tidak!" teriaknya. Ia muak dan meremas rambutnya kuat-kuat. "Ini pasti ada yang mengerjai!" tebaknya. Gadis itu melotot marah. Matanya merah menyala. "Akan kudatangi dia!" Ia memandang ke atas dan melesat naik menembus langit-langit Rumah sakit.


Sean membuka matanya. "Dia menyadarinya!" Sean menatap Sariani dan Talia secara bergantian.


"Lalu bagaimana lagi?" tanya Sariani.


"Sembunyikan Anggara!  Dia akan menghabisinya bila menemukan kakakku di sini." Sean memandang Talia. sepertinya perintah itu memang ditujukan pada gadis itu.


"Kenapa dia mengincar Anggara?" tanya Talia. Ia masih belum mengerti.

__ADS_1


"Sembunyikan saja! Cerewet betul, sih!" bentak Sean. "Biar Shabita urusanku."


"Asam! Aku hanya bertanya, tapi kamu marah sekali. Aku curiga dengan kelakuan kalian semua!" omel Talia sambil menghampiri Anggara. Ia mengembangkan sayapnya dan mengangkat Anggara, kemudian terbang.


"Apa yang harus kita perbuat?" tanya Sariani.


"Bila dia tertidur kembali, masuk saja dan tekan ibumu agar jangan sampai bangun kembali," saran Sean.


Sariani mengangguk. Ia menunggu datangnya Shabita ke tempat itu. Shabita melesat cepat seperti sebuah kilat merah yang segera meluncur ke arah Rumah Talia. Ia tidak menyadari adanya Sean di sana. Ketika ia akan melesat turun, ia terkejut melihat Sean sedang bersama Sariani.


"Gawat! Aku dijebak!" Ia segera mengalihkan tujuannya. Yaitu pulang kembali.


Sean sudah meramalkan itu akan terjadi, maka ia segera mengangkat tangan kanannya. Mengeluarkan tenaga silver yang langsung menembak ke arah Shabita yang melesat jauh.


"Cahaya itu mengejar!" Shabita panik. Ia segera memercepat pelariannya.


Sean kembali memusatkan kesaktiannya. Ia mengeluarkan cahaya silver berbentuk sebuah jaring yang langsung dilesatkan ke arah Shabita.


Sariani memandang ke atas. Ia mengagumi kesaktian Sean yang begitu dahsyat. Hingga akhirnya Sean berkata, "Sar, waktumu!" perintahnya. Sariani segera melesat mengikuti jaring yang menuju ke arah Shabita.


Shabita terbang secara zigzag untuk menghindari kesaktian Sean yang nyari mengenainya. Ia terkejut saat ada sebuah cahaya menerangi tempat itu. Gadis itu menutup wajahnya dengan lengan lantaran silau. Ia tidak menyadari bahwa jaring itu dengan cepat ke arahnya dan mengurungnya hingga Shabita tidak bisa berkutik walau telah meronta dan menggunakan seluruh kesaktian yang ia miliki.


"Lepaskan aku!" teriaknya. Ia mencoba berontak. Semakin melawan, semakin erat jaring itu mengikatnya. "Egh!" Sakit sekali kulitnya hingga rasanya seperti terbakar.


"Tidak! Aku ingin hidup, ingin bebas! Jangan tidurkan aku lagi!" tolaknya.


Sean memejamkan matanya. Ia memusatkan kembali kesaktian yang tadi dipergunakan untuk menidurkan gadis itu.


Shabita mulai mengantuk. Ia coba menahannya kuat-kuat dengan menggeleng, tetapi setiap ia bergerak maka kulitnya akan terbakar. "Egh!" erangnya.


Sariani masih menunggu Shabita terlelap. Ia mengawasi setiap gerak-gerik Shabita. "Tidurlah, Ibu." Sariani mengangkat tangannya dan mengeluarkan asap putih kemudian diarahkan pada Shabita.


"Jangan! Aku tidak mau! Ja--ngan!" Ia terkulai dan tidak sadarkan diri.


Jaring terlepas, Shabita jatuh meluncur ke bawah. Sariani segera mengejarnya dan merasuk ke dalam tubuh itu. Setelah berhasil, Sariani terbang kembali. Ia melesat menuju Sean yang telah mengembalikan semua kesaktiannya.


"Aku datang," ujar Sariani di dalam tubuh Shabita.


Sean tersenyum. "Terus saja di tubuh itu hingga esok hari. Biarkan dia terlelap dulu dan jangan lupa merasuklah ke dalam mimpi gadis itu agar dia segera bangun kembali."


Sariani mengangguk. Ia memusatkan perhatiannya dengan tubuh yang dirasukinya ini. Ia memejamkan mata untuk masuk ke dalam mimpi Shabita.


"Van," panggilnya pada Shabita yang sedang duduk termenung di pasir pantai. Shabita menoleh dan kemudian melanjutkan termenungnya. Ia sempat menghela napas berat. "Kenapa kamu tidur terlalu lama?"


"Aku lelah hidup. Aku capek!"

__ADS_1


"Hidup itu sesulit apa pun harus dijalani, Van. Apalagi kamu sedang hamil. Apa kamu ingin membunuh anakmu juga?"


"Sepertinya begitu," jawab Shabita pasrah.


"Lalu Anggara?"


"Kita tidak mungkin bersama."


"Apa kamu Tuhan, bisa menentukan itu semua?" singgung Sariani. "Pulanglah dan raih mimpimu bersamanya."


"Sudah kubilang aku lelah!" Shabita berdiri dan memandang marah pada Sariani. "Aku capek! Biarkan aku tidur!"


"Sampai kapan? Apa sampai batas empat puluh hari berlalu?! Vanesa, kamu akan mati setelah waktu itu. Dia menipumu, Van!"


"Biarlah," jawab Shabita. Nadanya melunak.


"Dia akan hidup di ragamu. Apa kamu rela?"


"Terserah!"


"Walau Anggara yang akan menjadi korban. Dia nyaris menghabisinya kalau saja Talia tidak datang untuk menyelamatkan."


"Biar!" teriak Shabita seraya melangkah mundur. "Dia akan mati juga walau tidak dengan Wati. Dia akan mati oleh Toni!"


"Sejahat itukah, kamu?" tanya Sariani.


Shabita menitikkan airmatanya. Ia terisak dan segera berbalik. "Siapa suruh dia mau denganku, siapa suruh dia datang padaku. Aku menjauh, tapi dia datang. Aku tidak pernah minta!"


"Siapa yang menyuruhnya mencintaimu walau ia telah lupa siapa kamu sebenarnya? Siapa yang menduganya?" Sariani menghampiri Shabita dan meraih pundaknya. "Kalau bukan jodoh untuk apa bertemu. Kurasa ini takdirmu."


Shabita memandang Sariani. Ia kembali menangis dan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Van!" Suara itu terdengar di telinganya. Ia membuka wajahnya dan melihat Anggara di sana sedang merentangkan kedua tangannya.


"Anggara!" Shabita berlari menujunya. Ia merangkul erat pemuda itu.


Sariani membuka kedua matanya. Ia memandang Sean yang kini menyapu airmata di pipinya. Ia menepis pelan tangan Sean.


"Sudah selesai?" tanya Sean.


"Hem, ya." Sariani segera berdiri. Ia memandang kembali Sean yang memerhatikannya. Curiga ia dengan sikap pemuda itu. "Ada apa?" tanya Sariani.


"Aku ingin mendengar kisahmu, bagaimana nasibmu bisa menjadi arwah dan kenapa kamu tidak tenang?" Sean menghampiri gadis itu.


Ada sesuatu yang aneh yang membuat dadanya berdesir. Ia tidak pernah lagi merasakan ini, tetapi kenapa setelah sekian lama terjadi lagi dan sekarang dirinya adalah arwah yang tidak pantas merasakan itu semua.

__ADS_1


__ADS_2