
Lima belas tahun kemudian. Usia dari kini menginjak sembilan belas tahun. Sedang masa kuliah. Gadis cantik menyerupai wajah Talia ini, memandang Anggara yang kini tengah memakan sarapan di meja bersama dengan dirinya dan juga Lani. Adik kecilnya ini telah menginjak usia hampir lima belas tahun. Gadis yang juga memiliki tubuh serta wajah yang nyaris serupa dengan Dara ini memiliki rambut bergelombang sedangkan Talia berambut lurus. Tak jarang mereka sering dikatakan kembar oleh orang yang baru melihatnya.
"Papa, kenapa hari ini tidak bekerja?" tanya Dara.
Anggara tidak memandang Dara. Ia sibuk menyuap. "Ada urusan," jawabnya. Seolah-olah sengaja menghindari.
"Papa," rengek Lani. Ia telah selesai makan. "Mau jalan ke rumah teman, boleh?"
"Tidak!" jawab Anggara tegas. Ia segera menyelesaikan makan kemudian menyapu bibir dengan tisu. Shabita sedang mencuci piring di dapur. Anggara segera menghampiri kemudian membantu. "Kamu sibuk?"
"Tidak juga," jawab Shabita. "Kenapa?"
"Bikin adik, yuk!" goda Anggara.
"Hah, apa kaubilang? Sudah tua juga!" protes Shabita.
"Bercanda, itu saja marah." Anggara mencolek pipi Shabita.
Shabita bergeser menghindari Anggara. Talia tidak sengaja memandang kemesraan mereka di dapur. Ia ragu untung menegur, tetapi Lani secara blak-blakan merangkul lengannya kemudian menarik ke arah kedua orang tua mereka.
"Papa, kapan berangkat? Lani dan Kak Dara udah mau telat, nih!"
Shabita melirik Anggara sedangkan Anggara tersenyum lantas mendorong mereka berdua perlahan keluar dari dapur. "Sana, tunggu di depan. Papa mau minta uang bensin dulu sama mama."
Anggara segera menghampiri Shabita. "Aku pergi dulu, ya. Nanti kita berdua lagi," pamitnya seraya mencium pipi kanan kiri istrinya.
"Emangnya setiap hari berpisah? Dasar!" omel Shabita pelan.
"Papa, kenapa lama?!" rengek Lani.
Anggara melirik Dara, ia kemudian masuk ke mobil tanpa menjawab rengekan Lani. Dara memandang wajah Anggara dari balik kaca depan. Secara tidak sengaja pandangan mereka bertemu saat Anggara ingin memandang Lani. Anggara dan Dara segera mengalihkan pandangan.
"Lani, sudah tiba. Belajar yang bagus!" pesan Anggara.
"Iya, Pa!" Lani lantas pergi bersama temannya ke gerbang sekolah.
Kini tinggal Dara berdua di mobil. Dara segera pindah ke depan sebelum Anggara menjalankan mobil. "Papa, kenapa, Papa diam saja? Apa ada masalah?"
"Nggak, Papa cuma sedang memikirkan pekerjaan," dustanya.
"Papa," panggilnya
"Ya."
"Papa sayang, Dara atau tidak? Kenapa perasaan Dara, Papa selalu menghindar?" Dara berucap lirih sembari memainkan jemari dipangkuannya. Ia menunduk ketika bertanya demikian.
Anggara melirik, ia menjalankan mobil. "Kenapa ditanya? Jelas, Papa sayang. Masa, sama anak sendiri tidak."
"Dara ngerasa, Papa masih marah sama Dara tentang yang du-"
"Diamlah," pinta Anggara sembari menepikan mobil di tepi jalan di bawah pohon.
__ADS_1
"Dara takut, Papa masih marah. Terus nggak sayang lagi sama Dara."
"Kamu mau kuliah, kan? Nanti terlambat kalau kamu ungkit terus masalah itu."
Dara memandang Anggara. "Dara, mau libur saja."
Anggara bersandar, ia memandang ke depan. "Papa, sayang. Masih sayang seperti Dara ketika kecil."
Dara memalingkan wajah. "Dara hampir terlambat, Pa."
Mobil pun dijalankan. Sesampainya di depan kampus. Anggara sengaja keluar untuk mengantar Dara masuk ke gerbang. "Kamu belajar yang baik. Jangan nakal apalagi sampai berteman dengan yang tidak baik," pesan Anggara seraya mengecup kening Dara lantas pergi.
Dara mengangguk. Ia sedih lantaran Anggara kurang akrab dengannya semenjak kejadian Lani di rumah tua tersebut.
"Hey, bapakmu itu ganteng, ya?" goda Anes sembari merangkul buku kemudian berjalan beriringan dengan Dara.
"Bapak aku, kok dilawan!" ejek Dara.
"Iya, tahu. Bapak aku nggak seganteng bapakmu, tapi jangan salahkan bila aku jadi mamak tirimu."
Dara mendelik tidak terima. "Kamu ngedoain papaku poligami atau mamaku mati?"
"Ellah, cuma bercanda aja marah," bantah Anes.
"Aku nggak mau punya mama tiri!" Dara lantas berjalan cepat ke kelas.
"Tu anak perasa sekali," gumam Anes sembari menyusul.
Seorang pemuda berkemeja hitam polos melirik Dara. Ia meraih buku di atas meja kemudian menulis. Dibuatnya sebuah bola kertas kemudian dilempar ke meja gadis tersebut. Dara meraih, lantas dibaca, "Kamu ada pacar, nggak? Kalau nggak mau jadi pacar aku?" Dara melirik, ia lantas merobek-robek kertas kemudian acuh untuk memandang ke arah lain. Kembali kertas kedua dilempar. "Kok, dirobek, tidak dibalas dulu? Aku tunggu balasanmu." Dara menghela napas kemudian memandang Bagus. "Kamu ini kenapa, sih? Jangan usil, ya!"
"Pacarmu banyak. Di seluruh sidut kampus ini! Terus aku mau kaujadikan yang keberapa?"
"Sembarangan kalau ngomong. Aku nggak ada pacar!" protes Bagus sembari merengut.
"Cewek itu contohnya!" Dara menunjuk gadis di depan pintu yang kini melambai karena dipandang Bagus.
"Aduh, itu bukan cewekku. Dia aja yang naksir aku!" bantahnya sembari berpaling dari gadis berbaju hijau.
"Yang kiri ujung sana?" Dara melirik arah kiri.
Bagus lantas memandang. Gadis manis berwajah bulat bernama Rara. "Dia juga bukan!" Bagus akui Rara memang suka melirik dan mencari perhatian, tetapi belum tentu gadis itu benar mau dengannya.
"Yang di situ!" tunjuk Dara di sebelahnya dengan bibir.
Bagus memandang Hayati sekilas. "Itu bukan pacar, sayangku!" Ia gemas. Ingin sekali mencubit kedua pipi Dara yang sangat imut.
"Hallah, nipu. Paling juga di luar bagi hati, bagi tugas!" ledeknya. Dara lantas memandang ke depan.
"Ngasal aja kalau bicara. Nggak mungkin aku senakal itu."
Dara tidak menjawab, ia hanya melirik Bagus sekilas kemudian kembali sibuk memandang ke luar kelas.
__ADS_1
***
Anggara kembali. Ia melirik Shabita yang kini sedang menyaksikan acara televisi. "Kamu ngapain?" gombalnya seraya duduk berdempet dengan Shabita.
"Ngapain dekat-dekat? Apa sudah tidak ada tempat duduk?"
"Sewot terus!" Anggara mencubit mulut Shabita
"Malas aku lihat kamu."
"Eh, kenapa lagi? Masa aku mau dibuang?" Anggara meraih kedua pundak Shabita.
"Kamu manja betul. Makin tua makin manja."
Anggara tertawa. Entah kenapa semakin bertambah usia, ia semakin ingin dimanja oleh Shabita. Padahal dulu ia yang memanjakan istrinya kemudian setelah anak mereka dewasa, ia berbalik ingin dimanja. Tak jarang ia sering curi-curi kesempatan untuk merangkul Shabita. "Kan, wajar. Biar tambah mesra," dalihnya.
"Aku curiga kamu tambah mesra cuma mau nutupin selingkuhan kamu di luar situ," sindir Shabita. Ia memang curiga. Semenjak Anggara diangkat menjadi Komisaris, dia jarang pulang ke rumah. Hanya suara telepon dan pesan chat yang selalu mesra, tetapi jarang sekali dibalas bila di-chat. Sekarang dia menunjukkan sisi manja yang berlebihan yang membuat Shabita mencurigai dirinya.
"Nggak, sayang. Aku cinta sana kamu dan nggak ada yang lain selain kamu!" tekan Anggara sembari mencubit kedua pipi Shabita.
"Malu-maluin aja udah kepala empat kelakuan kayak gini!" ledek Shabita seraya menepis tangan Anggara.
"Tapi wajah kita nggak kelihatan begitu, kan? Malah mereka sangkanya kita masih kepala dua. Hahaha ...."
"Serahmu, mau ngomong apa juga!" Shabita meraih remote televisi kemudian ia mengganti salurannya.
"Sayang," bujuk Anggara.
"Hem," jawab Shabita.
"Malam ini jalan, yuk!"
"Jalan aja sana. Dari sini ke dapur jalan kaki."
"Hih, kok gitu? Maksudku jalan keluar rumah. Kita cuci mata sambil cari makanan ringan."
"Kamu beli aja kerupuk di warung. Terus kita makan di sini."
Anggara gemas, ia kemudian mengguncang tubuh Shabita. "Aku kangen! Tahu nggak kamu?!"
"Ya, sudah. Nanti malam kita jalan."
"Hore!" Anggara bertepuk tangan.
Gila orang ini! Shabita risih melihat kelakuan Anggara yang sangat aneh. Seperti remaja. Apakah di sedang puber?
Hantu perempuan itu masih mengikuti di saat Dara tengah mencuci tangan di kran sekolah. "Papamu itu tidak perhatian lagi padamu, kan? Aku punya solusi agar dia bisa bersamamu selamnya."
"Bagaimana?" bisik Dara.
"Goda dia."
__ADS_1
Dara menghentikan mencuci, ia lantas melanjutkan kembali setelah berhasil menghela napas. "Aku tidak mau." Dara usai. Ia lantas pergi ke kantin berkumpul dengan sahabatnya yang telah menunggu di sana.
Maaf, saya baru posting. Karena saya tidak punya cadangan bab untuk novel ini maka saya menulis setiap hari. Dan oleh karena beberapa hari ini saya sedang berduka jadi saya tidak fokus membuat cerita. Tolong keikhlasan mendoakan almarhum ayahanda saya yang telah wafat di tanggal 29 Des 2020. Semoga diberikan tempat yang mulia, diterima amal ibadahnya dan dihindarkan dari siksa api neraka. Amin. Terima kasih yang telah sedia menanti cerita ini.