
TALIA mendesah kesal lantaran mobil silver kesayangannya tidak mau berjalan. Ia meraih ponsel di saku depan celana dan mencoba menghubungi, tetapi tidak ada jawaban dari sana. "Benar-benar mengesalkan!" Ia memandangi ke sekitarnya dan mencari seseorang yang dapat membantunya. "Ah!" Saking marahnya, ia menendang ban mobil. Menyisir ke atas rambutnya dengan jemari dan menaruh tangannya pada dasboard, ia memandangi lagi ke sana-kemari. Timbul pikiran untuk melihat isi mesin mobil. Ia ambil kunci yang masih berada di dalam dan membukanya. Ia kemudian memeriksa, mobil itu berasap sehingga Talia mengipas wajahnya untuk menghalau asap mengenai wajah. "Perih!" keluhnya. Ia memandang mesin yang berasap itu, kemudian memandang ke sana-kemari lagi.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pemuda berbaju biru.
"Eh, iya!" Talia terpesona. Ganteng banget!
"Nona," tegurnya saat melihat Talia tidak berkedip menatapnya.
"Ya," jawabnya cepat.
"Saya akan memeriksa?" Ia meminta izin.
Talia tersenyum dan mengangguk, maka segera dilakukan pemeriksaan mesin. Setelah usah, pemuda menepuk tangannya sebagai tanda membersihkan debu dari telapak tangannya.
"Selesai," ujarnya sambil menutup mesin.
"Terima kasih," ucap Talia. Pemuda itu akan pergi, namun Talia mencegah. "Eh, tunggu! Ini tanda terima kasih," katanya seraya menyerahkan beberapa lembar uang sebagai bantuan memerbaiki mobilnya.
"Tidak perlu," jawabnya. Segera berlalu.
Talia dengan cepat masuk ke mobil dan berniat mengikuti. Pemuda itu berhenti dan memandang ke belakang. Talia menepi saat berada di dekatnya. "Mau ke mana? Biar saya antar," tawarnya.
Pemuda itu tampak menimbang, dan tersenyum. "Baiklah, saya ingin pergi ke kota, bisakah kamu mengantar saya?"
"Masuklah!"
Tanpa ada perdebatan, akhirnya masuk ke mobil.
"Sebelum ke tujuan, bisakah mampir? Sebagai balas budi aku ingin menyuguhkan teh," tawarnya.
"Baiklah," jawab pemuda itu.
Shabita kini berada di teras atas, sedang melamun. Matanya sembab habis menangis. Sangat pucat dan tidak ingin makan dan minum, kendatipun mereka menawarkan banyak pilihan makanan. "Kalau kamu tak makan maka anakmu akan mati." Ia teringat pesan Talia.
"Bawakan saya makanan," pintanya pada Pemuda berseragam hitam.
Pemuda itu menunduk hormat dan segera pergi, ke dapur dan kembali lagi membawa kereta makanan. "Silakan," katanya.
"Aku tidak lapar." Tiba-tiba ia hendak muntah melihat makanan itu. Aku ingin darah! Terbesit pikiran jahat dalam diri. Ia segera mengontrol keinginan tidak wajar itu.
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
"Tunggu! Diamkan dia di situ, aku akan makan!" kata Shabita. Aku harus memaksa makan-makanan ini!
Tidak jadi mengembalikan, pelayan muda itu kini menyiapkan hidangan untuk dinikmati Shabita. Shabita akan muntah, ia benar-benar memaksakan diri untuk menerima makanan itu. Anakku, jangan meminta yang bukan-bukan. Kita ini manusia, bukan iblis! Shabita berbicara dalam hati, berharap si janin mau mengerti.
Terdengar sebuah suara mobil, Shabita menengok ke jendela kemudian tak dihiraukannya lagi. Talia datang bersama pemuda itu, ia tersenyum dan menyilakannya masuk lebih dulu.
"Oh, ya. Aku belum tahu siapa namamu?" Talia berhenti dan menghadapinya.
"Anggara," sebutnya.
"Talia," balasnya sambil memberi isyarat pemuda itu agar duduk di sofa. "Tunggu, akan kubuatkan teh untukmu."
Anggara hanya mengangguk saat Talia mengatakan itu. Pemuda itu berdiri dan memandangi ruang tamu, ia penasaran dan berkeliling. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk berhenti. Ia memandang pada jendela kaca kamar seseorang. Shabita sedang menahan muntah, ia makan dengan mengurai airmatanya. Gadis itu amat tersiksa, tetapi demi bayinya ia harus makan.
"Sangat imut," gumam Anggara.
"Hey, rupanya kamu di sini." Talia datang dan menepuk punggungnya.
"Sedang melihat-lihat," dalihnya.
"Kamu di sini tinggal dengan siapa?" tanya Anggara sambil berjalan di samping gadis itu.
Talia dan Anggara telah berada kembali di ruang tamu. "Papa dan ibu tiri serta pelayan," jawabnya sembari duduk.
"Hem," jawab Anggara seraya meminum teh yang disuguhkan Talia di meja.
"Sekarang ibu dan papamu di mana?"
"Papa ada bisnis ke luar kota, sedang ibuku yang kamu lihat di ruangan itu," tunjuknya pada kamar yang tadi disinggahi Anggara.
Anggara selesai meminum tehnya. "Saya harus pergi." Ia berdiri.
"Baiklah, saya antar," kata Talia, menepati janjinya.
Di saat mereka pergi, Shabita merasakan suara Anggara tidak jauh darinya. Ia ke luar kamar dan memerhatikan ke ruang tamu bagian bawah. Tidak ada siapa pun di sana.
***
__ADS_1
Siang berganti malam, tepat pukul 20:00, Shabita merasakan haus, ia meminta pelayan untuk memberinya minum, tetapi yang disuguhkan ternyata bukanlah minuman melainkan darah. Lebih aneh lagi gadis itu tak menyadarinya dan terus minum hingga habis.
Ia tertidur dengan tenang, damai tanpa ada yang dipikirkan. Tak lama sesuatu yang tak terduga terjadi. Kepala Shabita terpisah dengan tubuhnya.
"Hihihi.... Aku bebas! Aku bebas!" Kuyang Shabita melayang di atas raga gadis itu. Ia merasa puas dan senang.
Shabita menjauh dan melayang meninggalkan tubuhnya kemudian menembus dinding.
Di sana mereka sedang menunggunya. "Saat kita melihatnya, langsung saja serang!"
Sementara di sisi gadis itu dua pelayan penghianat sedang membawa pisau dapur siap melukainya. "Kita bunuh raganya selagi kepalanya tidak ada!"
Mereka mendekat, pisau siap menikam, merobek isi perutnya. Talia datang, mereka menjadi urung dan menyembunyikan pisau di balik kantung rok mereka.
"Nona, gawat!" lapor seorang pelayan bertubuh gemuk itu. Ia berpura-pura panik.
"Ada apa?" tanya Talia sambil mendekati. Begitu terkejutnya ia mendapati raga tanpa kepala itu terbaring di sana. "Kenapa Shabita menjadi Kuyang?" Talia memeriksa kondisinya kemudian menyentuh adiknya. Masih, berdenyut. "Di mana kamu?"
Kuyang Shabita melayang ke luar, namun belum sempat ia menembus pagar rumah, langsung terpental masuk ke dalam. Cahaya merah terlihat saat ia mencoba menerobos. Ia pandangi ke sana-kemari, coba mencari cara agar mampu mencari makanan(janin).
Beberapa pasang mata mengawasinya, giginya bertaring dan bentuknya nyaris sama dengannya. Ya, Krasue, mengincarnya.
"Kita bunuh dia dengan cepat agar Talia tidak dapat mencegah."
Di kamar di tempat Talia menjaga gadis itu. Kedua pelayan itu saling pandang, ia kebingungan.
"Biarkan saja, kita tak dapat merusak raganya selama gadis itu masih menjaganya, tetapi di luar sana kepala itu rentan diserang," bisik Pelayan kurus.
Talia bergumam sendiri, ia bingung harus berbuat apa, sementara Shabita di luar sana. Ia takut gadis itu tak dapat pulang dan berakibat fatal pada calon adiknya.
Bagaimanakah nasib Shabita? Like dan rate ditunggu agar semangat melanjutkan cerita.
________
Halo pembacaku yang cantik dan ganteng. Berhubung banyak yang tanya gini, "Thor, kenapa tiba-tiba Anggara ada di Thailand?" Sebenarnya jawabannya ada di part berikutnya, tetapi karena masih pada bingung. Saya jawab ya, di cerita ini langsung. Kalau di kolom komentar takutnya enggak kebaca sama kalian.
Anggara hanyalah anak petani miskin yang ibunya bermaksud mencari kerja sebagai tenaga kerja di Thailand, oleh karena jarang pulang dan lantaran kurang komunikasi akhirnya mereka bercerai Anggara dibawa oleh ibunya kemudian beberapa tahun dijemput lagi oleh ayahnya. Setelah itu ayah Anggara jatuh sakit kemudian meninggal. Kemudian ibunya menjemput Anggara untuk tinggal bersamanya lagi di Thailand, bersama pula suaminya yang baru. Profesi suaminya sekarang adalah seorang Dukun, kemudian Anggara punya adik tiri dari hasil pernikahan mereka. Namanya Sean, kalian bisa baca part berikutnya yang judulnya: Sean. Anggara rupanya tidak betah tinggal bersama ayah tirinya karena sering melihat hantu, kemudian melanjutkan sekolah ke Indonesia hingga menjadi polisi, Ia tinggal bersama pamannya kemudian setelah bertemu Vanesa ia malah tinggal di sebelah gadis itu. Nah, sampai di sini karena diskorsing sebagai polisi, ia hanya ingin menghabiskan liburannya di kampung ayah tirinya di mana ia ingin mengenang almarhum ibunya. Btw, ibu Anggara meninggal karena sakit, sedangkan Sean mewarisi ilmu ayahnya sebagai dukun.
kalau masih bingung juga silakan baca terus
__ADS_1