
Sariani tidak berani menatap mata Sean, ia selalu menghindar ketika pemuda itu memandangnya. Menuntutnya untuk berterus terang dengan kisah kelamnya. "Pemuda o'on ini kepo banget sih?" gumamnya.
"Aku dengar loh," sindir Sean.
"Diam!" bentak Sarani. "Jangan tanya lagi, aku malas bicara!"
"Itu ngomong," tunjuk Sean.
Sariani berdecih kesal, ia menghindari pandangan Sean. "Aku tidak mau mengungkit masa dulu." Sariani melemah.
"Oke, kapan pun bila mau bercerita?"
"Enggak akan," tolak Sariani.
Sean tersenyum, Sahbita yang dikuasai Sariani saat ini sedang cemberut. "Sampai kapan kamu akan menjaganya?"
Sariani menunduk. "Sampai ibuku berhenti," ucapnya. Karena akulah penyebab Vanesa begini, bila aku tidak mati maka ia tidak akan disinggahi. Sariani mendesah. Ia memandang langit.
"Bertahanlah sampai besok," saran Sean. Ia berdiri dan meninggalkan Sariani yang meliriknya menjauh.
"Om," sebutnya. Ia masih ingat almarhum suaminya. Ia membayangkan kisah indahnya bersama paman tirinya yang menjadi suaminya sendiri.
Malam semakin larut, tetapi Sariani masih berada di luar sana sedang bersandar pada dinding. "Temuilah dia." Sean mengagetkan Sariani.
"Siapa?" tanya Sariani.
"Anggara, kamu tahu, kan di mana Talia membawanya?"
"Aku malas, takut Talia curiga."
"Temui saja. Tidak mungkin Vanesa sampai membongkar dirinya di depan Anggara."
"Ya, tapi tunggu sebentar lagi. Aku masih bingung menghadapi pertanyaannya nanti."
"Terserahmu." ... "Oh, ya. Jangan menyebutku o'on lagi. Walaupun aku bodoh, jangan juga dihina. Takutnya kamu naksir aku. Hahaha ...."
"Sial! Pede sekali orang ini!" omel Sariani. Ia segera melenyapkan dirinya, tak mau menanggapi candaan Sean.
Talia membaringkan Anggara di ranjang, ia sengaja memilih rumah yang dulu pernah ditinggali Anggara ketika membawa Shabita dalam pelarian. "Kenapa Sariani tidak menyusul?" gumamnya.
__ADS_1
Talia memandang kembali Anggara, ia tersenyum. "Kenapa kamu terlihat manis ketika sedang tertidur?"
Sariani datang, ia sudah berada di dekat Talia yang sedang memandangi Anggara. "Aku datang," katanya.
"Kenapa lama?" tanya Talia tanpa mengalihkan pandangannya pada Anggara.
"Aku harus mengulur waktu hingga esok hari."
"Jadi malam ini ibuku tidak bisa kembali?"
"Tunggu pagi agar ibuku tertidur."
Talia menghela napas dan memandang Sariani. "Baiklah. Kita akan menunggu hingga esok."
Sariani duduk di tepi ranjang, ia mengusap wajah Anggara. "Kamu suka dia, kan?" tanyanya.
Wajah Talia memerah. Ia tidak menjawab, tapi Sariani tahu hal itu. Ia melihatnya tadi bagaimana Talia memandang Anggara. Kenapa kamu menyukai orang yang salah?
Malam berganti pagi. Sariani tidak lagi berada di dalam tubuh Shabita sedangkan Talia diminta Sean untuk meninggalkan mereka berdua di sana. Awalnya gadis itu menolak, tetapi Sean punya alasan sendiri untuk membuat Talia tidak dapat membantah perintahnya.
Shabita terbangun dengan kepala terasa pusing, ia terkejut saat tahu dirinya dibaringkan di sebelah Anggara. Gadis itu berusaha menghindar. Namun, usahanya itu membuat ranjang bergerak dan berbunyi. Maka bangunlah Anggara.
"Di mana ini?" tanya Anggara. Matanya separuh terbuka. Ketika mengawasi tempat itu ia memandang Shabita. "Rani!" Anggara segera bangun. Ia memegang wajah Rani untuk memastikan gadis itu memang nyata ada di hadapannya.
"Nggak tahu," jawab Anggara.
"Mana mungkin tidak tahu. Pasti kamu yang nyulik aku!" tudingnya.
"Sungguh!"
"Aku mau pulang!"
"Nggak usah pulang, ya. Kita beranak cucu saja di sini, ya?"
"Haaa? Ngaco!"
"Ran, aku kangen sama kamu. Udah berapa hari kamu pergi tinggalin rumah."
Aku juga Anggara, tapi kamu jangan dekat begini. Nanti aku khilaf! Ia takut salah bicara dan malah menyebut nama aslinya.
__ADS_1
"Ang, apakah kita akan di sini terus sampai Talia datang?"
"Mungkin," jawab Anggara. Ia pun bingung kenapa bisa berada di tempat ini. Yang pastinya ia sangat mengantuk sekali dan bermimpi sedang bersama Shabita. Ia melirik perut gadis itu yang terlihat sudah memasuki usia enam bulan. Padahal baru satu bulan ia mengandung. "Kamu baik-baik saja?"
"Seperti yang kamu lihat," jawab Shabita sambil berdiri dan membuka jendela kamar. Terlihat hamparan sawah membentang di depan sana.
"Kenapa suamimu tidak datang saat kamu sulit?"
Shabita menghela napas. Ia memandang Anggara. "Dia sibuk," jawabnya.
"Makanya denganku saja. Aku nganggur, kok." Pemuda itu tersenyum manis.
"Aku ingin muntah mendengarmu bicara!" hina Shabita. Ia tidak mau Anggara berharap lebih.
Anggara tertawa tanpa suara. "Vanesa," sebutnya.
Gadis itu melotot. Ia berbalik membelakangi jendela. "Siapa itu?"
"Ketika aku bermimpi, aku memanggilmu Vanesa. Apakah nama aslimu Vanesa?" tanyanya. "Aku seperti pernah mendengar nama itu."
"Namaku Rani!" jawab Shabita tegas. Ia kembali memandang ke luar jendela.
"Benarkah?" gumam Anggara. Anggara menghampiri Shabita dan ikut pula memandang ke luar jendela. "Maukah kamu menikah denganku, Ran?"
"Gila! Aku punya suami."
"Ceraikan dia."
Shabita memandang Anggara. "Terlalu pede kamu hingga berani menyuruhku cerai. Memangnya aku mau denganmu."
"Kurasa ya," jawab Anggara. "Kamu pasti suka denganku."
Talia datang, ia sengaja membawa mobil untuk menjemput mereka berdua. Walaupun ia harus berjalan kaki sedikit untuk bisa sampai ke rumah Anggara. Shabita memandang Anggara yang pula memandangnya. Mereka berhenti saat Talia mendehem.
"Apa kalian sudah siap kembali?" tanya Talia.
Shabita berjalan cepat ke luar. Ia segera masuk ke mobil. Anggara menyusulnya bersama Talia dari belakang. Shabita melotot saat ia harus duduk di belakang bersebelahan dengan Anggara.
"Sana-sana!" Ia memaksa Anggara untuk bergeser.
__ADS_1
Anggara tidak peduli, ia tetap mendempetnya, hingga Shabita hanya bisa berpaling dan memandang ke arah lain dengan perasaan jengkel.
Maaf bila saya sering posting lama dan baru malam sempatnya. Saya sibuk menulis di tempat lain, plis, mengerti. Terima kasih sudah mau membaca dan mengikuti kisah ini.