TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
96


__ADS_3

Talia turun, ia menyimpan sayapnya saat berpijak di tanah. Berjalan menghampiri Jesica yang telah berdiri menantinya. "Di mana mereka?" tanyanya saat selangkah melewati Jesica.


"Mereka di dalam," jawab Jesica. "Biarkan mereka, Talia. Sudah cukup!" cegah Jesica saat Talia hendak melangkah.


Talia terhenti sejenak. "Aku tidak ingin membuat papa menderita tanpa istri dan anaknya."


"Hilangkan baktimu itu. Tidak pantas kamu memberikan itu pada orang tua yang tidak mengajarkan kebaikan untukmu." Jesica berbalik menatap punggung Talia. "Cukup, Talia. Sudahi semua," katanya seraya meraih pundak kiri Talia.


Talia hanya menepis tangan Jesica kemudian berjalan ke arah gubuk. Jesica hanya mendesah sambil menunggu di luar.


Anggara menangisi Shabita yang tidak jua sadar. Ia beralih memandang Talia yang kini menghapirinya. "Jangan pisahkan kami!" mohonnya sambil memeluk erat Shabita.


"Lepaskan dia Anggara!" perintah Talia sambil menodongkan pistolnya ke arah kepala pemuda itu.


"Tidak!" Anggara menahankan dirinya.


Talia berjongkok memeriksa Shabita. "Aku janji akan menolongnya bila kamu meninggalkan dia," negosiasinya.


Anggara menatap Talia, ia kemudian mencium kening Shabita sambil terisak. "Bunuh aku, Talia agar tidak lagi mendekatinya karena aku tidak yakin bisa menjauhinya!" mohonnya sambil meletakkan Shabita ke lantai kemudian bersimpuh di depan gadis itu.


Talia berdiri, ia menarik pelatuk pistol. Siap untuk menghabisi Anggara. Pemuda itu meraih pistol gadis itu dan menempatkannya di keningnya.


Deru angin secara tiba-tiba bergemuruh, membuat Jesica harus menutup matanya dengan lengan kanan untuk mencegah debu masuk ke matanya. "Toni!" desahnya. "Talia!" teriaknya.


Talia mendengar, ia menarik pistolnya. Ekh! Ah!" Shabita terjaga. Ia mengerang kesakitan.


"Papa tiba!" kata Talia. Ia melewati Anggara dan segera menggendong Shabita.


Talia segera ke luar dan melebarkan sayapnya. "Jesica, bawa pergi Anggara dengan motor itu!" perintahnya. "Anggara, ikut bersamanya," katanya sambil melompat ke atas dan segera melesat cepat.


Jesica mengambil motor lawannya yang tergeletak di tanah. Ia menaikinya kemudian berseru pada Anggara. "Hey! Ayo menyusul kekasihmu!"


Anggara awalnya tidak mengerti, tetapi ia paham sekarang. Talia tidak berniat menyakitinya karena Shabita. Pemuda itu segera ikut bersama Jesica.


Talia memercepat terbangnya. Ia cemas akan didahului oleh papanya. "Talia, aku tidak ingin berpisah dari Anggara!" mohon Shabita seraya memegang erat lengan gadis itu.


"Kamu harus pulang sebelum papa menemukan kita di sini!" kata Talia.


"Enggak mau! Aku ... egh! AH! Sakiit!" Ia mengerang sambil menambah pegangannya pada Talia.

__ADS_1


Jesica melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Talia berbelok, ia menuju stasiun kereta api sedangkan Jesica menyusulnya di bawah sana.


"Agh! Aku nggak mau anakku jadi sepertinya!"Shabita meronta dari pegangan Talia. Nyaris terjatuh bila gadis itu tidak segera mengeratkan pegangannya. "Ah!"


Talia tersentak saat memandang Shabita yang telah pecah ketuban. Ia terpaksa turun. "Jesica!" serunya saat gadis itu berhenti tepat di depannya.


Jesica segera menghampiri Talia. "Jaga dia!" perintahnya pada Jesica. Kemudian Talia beralih pada Anggara. "Bawa ibuku pergi! Aku akan menghalau papa untuk menjamah kalian." Talia menyerahkan Shabita ke tangan Anggara.


"Auh! Sakit!" Shabita menjerit. Ia meremas lengan Anggara.


"Dia akan segera melahirkan," kata Jesica sambil menarik Anggara agar mengikutinya.


Talia memandang ke atas. Ia menunggu Toni tiba sementara Jesica meminta Anggara untuk membaringkan Shabita di samping stasiun kereta api yang kini telah sepi.


Toni tiba di hadapan putrinya sambil menutup sayapnya yang mengembang. Ia memandang marah Talia yang telah mendustainya selama ini. "Di mana ibumu?"


"Tidak tahu," jawab Talia.


"Kamu bohong Talia!" bentaknya.


"Cukup, Papa! Jangan lagi berbuat begini."


Toni memandang marah sembari mendekati Talia. "Jangan menghalagi papa Talia. Di dalam rahim ibumu ada adikmu."


"Diam!" bentak Toni.


"AH!" Ia mendengar suara erangan Shabita.


"Jangan! Biarkan mereka hidup bahagia, Pa!" pinta Talia.


Toni menepis tangan Talia, hingga gadis itu terdorong. Ia tidak ingin mengerti. Talia berlari dan merentangkan tangannya di hadapan Toni. "Menyingkir!"


"Tidak!" bentak Talia. "Bunuh Talia dulu!" tantangnya.


Toni diam di tempat, ia memandang putri kesayangannya. Bayi yang selalu dijaganya hingga sekarang. "Maaf, sayang. Papa tidak bisa menuruti kemauanmu!" Egonya mengalahkan rasa cintanya pada Talia. Ia menghempaskan Talia dengan sekali hentak hingga gadis itu terjatuh di rel kereta api yang sedang aktif.


Toni melajukan langkahnya mendatangi Shabita yang sedang bersalin. Jesica menghalangi langkahnya saat Toni hendak menghajar Anggara yang sedang sibuk mengurusi Shabita. "Menyingkir!"


"Tidak, Tuan!" tolak Jesica sambil meraih pedang di pungungnya.

__ADS_1


Toni tertawa ia maju menghampiri Anggara, tetapi Jesica telah mengacungkan pedangnya untuk menjadi tameng mereka berdua. "Kurang asam!" bentak Toni sambil menangkap pedang yang dimaksudkan untuk menebas kepalanya. Ia menarik pedang kemudian meraih leher Jesica hingga gadis itu meronta kesakitan lantaran Toni mengangkatnya dengan sebelah tangan.


Talia berdiri, ia mengembangkan sayapnya. Melesat cepat untuk menerjang ayahnya. Usahanya gagal lantaran Toni sudah membaca gerakan cepat Talia. Kini gadis itu juga diperlakukan sama seperti Jesica. Mereka berdua sama-sama meronta.


"Sedikit lagi, Van. Terus!" Anggara memberi semangat Shabita untuk mendorong bayi mereka keluar.


"Anakku!" kata Toni disertai dengan gerakan melempar kedua gadis itu secara bersamaan ke tembok.


"Auh!" Jesica menjerit kesakitan saat tubuhnya menubruk tembok.


Brak! Talia terhempas ke pilar stasiun. Pilar itu retak terkena tubuhnya. Ia terjatuh ke lantai segera setelah pilar retak. Gadis itu memuntahkan darah segar. Ia memandang Toni yang kini meraih Anggara, menjauhkannya dari Shabita yang sedang berusaha melahirkan bayinya.


"Toni!" teriak Shabita. Ia panik, tetapi saat rasa sakit itu kembali mendera ia terpaksa mendorong kuat bayinya agar segera keluar.


Talia berdiri sambil terseok. Ia mendekati Toni yang telah berada dicengkaraman ayahnya. "Papa, jangan!" katanya.


"Aku menyesal membiarkan dia hidup. Harusnya dia sudah kuhabisi sedari dulu!"


"Apa maumu, Toni? Kenapa kamu begitu jahat pada kami?" Anggara berusaha lepas dari Toni yang mencengkram erat kerah bajunya.


"Aku benci denganmu!" bentaknya. Ia memanjangkan taringnya siap menghisap darah Anggara.


"Papa!" teriak Talia sambil berlari menerjang ayahnya.


Anggara terlepas, ia segera berlari menghampiri Shabita. Membantunya untuk bersalin.


"Beraninya!" bentak Toni. Ia berdiri dan memandang Talia yang terbungkuk merasakan nyeri di dadanya.


"Langkahi dulu Talia!" tantang Talia. Gadis ini maju untuk menerjang kembali Toni.


Toni lagi-lagi menepisnya, sehingga Talia terhempas menimpa kereta api yang melaju kencang. Semua penumpang panik karena merasakan getaran yang nyaris membuat kereta terbalik. Talia segera menyingkir sebelum dirinya terjatuh ke tanah. Ia melesat terbang ke atas atap kereta kemudian kembali melesat ke arah Toni yang sedang bertarung dengan Jesica. Talia memanjangkan kukunya, ia tidak peduli siapa yang ia hadapi sekarang. Ia siap mencakar ayahnya. "Hiya ...!" Talia menerkam Toni.


"Anak durhaka!" bentak Toni saat kedua pundaknya diterkam putrinya kemudian dibawa terbang menuju rel kereta api. "Talia!" teriaknya saat gadis itu membuangnya di sana.


"Maaf," kata Talia. Ia menjatuhkan Toni ke depan kereta api yang melaju menuju ke arahnya.


Toni terhempas, ia memandang kereta yang melaju kencang ke arahnya. Tanpa sempat ia menyingkir, keteta itu telah menggilas tubuhnya.


Talia menitikkan airmatanya. Ia sungguh menyayangi Toni, tetapi tidak menyesali perbuatannya melukai Toni.

__ADS_1


Suara tangisan bayi Shabita terdengar. Talia segera menyapu airmatanya. Ia turun dan mendatangi mereka. Tampak Anggara menyelimuti adiknya dengan selendang yang diberikan Jesica. Bayi cantik, mungil sedang menangis dipelukan Anggara.


Eit, jangan senang dulu. Toni masih hidup. Nantikan part selanjutnya Toni melawan bayi Shabita


__ADS_2