TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
101


__ADS_3

Mereka tiba di Indonesia, Anggara sengaja tidak memberitahukan kedatanganya pada rekan atau orang terdekatnya. Saat ditanya kapan menikahnya, Ia hanya menjawab di tempat sepupunya Sean di Thailand. Bahkan ia berencana menikah setelah Shabita tiga bulan kematian Toni.


"Kapan nikahnya, udah punya bayi? Cara bikinmu instan sekali, apa adonannya, tepung atau semen?" ejek Ridwan saat ia berkunjung ke rumah Anggara.


"Bubur," jawab Anggara sambil tertawa. Ia tidak menanggapi ejekan Ridwan dengan serius.


"Serius, Anggara. Kapan kamu nikahnya? Perasaan baru tiga bulan kamu pergi ke kampung ibumu?"


"Anggaplah khilaf," jawab Anggara santai tanpa malu. Sedangkan Shabita malu setengah mati mendengarnya. Ia mencuri dengar di pintu dapur.


"Huh, bikin dosa. Memalukan dapartemen saja."


"Yang penting nggak lari," jawab Anggara sambil tertawa lepas.


"Suka-suka kamulah," kata Ridwan sambil meraih gelas berisi teh buatan Shabita. "Sebaiknya menikah lagi di sini biar gampang diurus surat-menyuratnya," nasehatnya.


"Setelah anakku empat puluh hari," jawab Anggara.


"Aku pergi dulu. Nanti dicari bos," pamitnya. "Oh ya, titip salam sama istrimu."


Anggara membereskan cangkir di meja dan membawanya ke dapur. Shabita berdiri di samping pintu saat ia melewatinya untuk mencuci piring dan gelas.


"Kenapa tidak mengaku saja kalau aku ini janda? Malu karena teman-temanmu nggak ada yang nikah sama janda?" Shabita melipat kedua tangannya di perut.


"Jangan diungkit, Van, yang dulu biarlah dulu." Anggara meninggalkan pekerjaannya kemudian menghampiri Shabita. Ia mengurung Shabita di dinding dengan kedua tangannya bertumpu pada dinding. "Kalau aku malu tidak mungkin kukejar sampai gila seperti waktu itu."


"Terus kenapa kamu bikin malu dirimu sendiri tadi?" Shabita tidak mau memandang Anggara. Ia lebih memilih memandang ke kiri.


"Sebab aku benci dengan Toni."


"Termasuk Dara," singgung Shabita.


"Jangan kaitkan Dara dengan dia. Dia anakmu, anakku juga."


"Tau, ah. Gelap." Shabita mendorong Anggara. Namun, pemuda itu menahan diri.


"Seandainya aku selingkuh apa perasaanmu?" tanya Anggara tiba-tiba.


"Kok, jadi arah pembicaraan kita ke situ?" tanya Shabita tidak senang.


"Jawab saja!" desak Anggara.

__ADS_1


"Kutinggalin. Buat apa memertahankan orang yang udah nggak sayang lagi."


"Tuh, kan. Gimana ini?" Anggara mundur.


"Emangnya ada niat?"


"Enggak, sih."


"Kamu kepengen selingkuh, ya?" tanya Shabita. Belum apa-apa hatinya sudah sakit lebih dulu.


"Enggak, cuma mau tahu perasaanmu dan tindakanmu kalau aku begitu." Anggara meraih Shabita dalam pelukannya.


"Biasanya kalau tanya pasti sudah terjadi!" elak Shabita. Ia menjauh dengan wajah marah.


"Aku cuma tanya, Van. Enggak mungkin aku tinggalin kamu," kata Anggara sambil menarik Shabita. "Sumpah!" janjinya.


"Aku takut mimpi itu jadi kenyataan," keluh Shabita.


"Aku juga takut," kata Anggara.


"Aku merasa gadis itu dekat dengan kita." Shabita berucap lirih.


Anggara tahu dan mengenali siapa gadis itu, tetapi ia diam tidak akan mengatakan pada Shabita siapa sebenarnya gadis dalam mimpinya itu. Maka itulah sebabnya lebih baik Dara tidak tahu bahwa dirinya hanyalah ayah tirinya.


"Oh, ya. Apa?" tanyanya.


"Kamu mikirin apa?" tanya Shabita sambil memperhatikan wajah kekasihnya.


"Pastikan Dara jangan sampai tahu kalau aku bukan ayahnya. Biarkan dia menganggapku ayah kandungnya."


"Kamu begitu takut dia tahu?"


Anggara diam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Shabita. Anggara mendengar Dara menangis. Ia kemudian ke kamar untuk menggendong bayi itu. Shabita hanya memandang heran Anggara yang seperti menghindari pertanyaan darinya.


***


Di malam hari saat Anggara terlelap, Shabita bangun dari tidurnya. Ia terkejut saat Dara tidak ada di antara mereka.


"Dara! Dara!" panggilnya. "Anggara, Dara nggak ada, Anggara!" Shabita membangunkan Anggara dengan cara menggerakkan lengan pemuda itu.


"Aku masih ngantuk, Van," kata Anggara sambil berbalik arah tidurnya.

__ADS_1


"Anggara, Dara hilang!" rengek Shabita.


Anggara segera bangun. "Hilang di mana? Kenapa bisa hilang?!" tanya Anggara sambil memandangi kasur dan kamarnya.


"Enggak tahu, tapi tadi di sini. Tidur sama kita."


Anggara segera berdiri. "Cari kesemua tempat di rumah ini!" perintahnya sambil berjalan mencari-cari Dara.


"Apa dia diculik?" tanya Shabita panik. Ia mencarinya ke ruang tamu bersama Anggara.


"Lewat mana?" Anggara tidak percaya, sebab pintu dan jendela masih terkunci rapat dari dalam.


Uwe ... uwe ... uwe! Tangis Dara terdengar di kamar mereka. Shabita dan Anggara segera berlari ke kamar. Dara telah berada di sana sendang menangis. Anggara segera menggendong dan melarikan Dara , ia sempat melihat darah di bibir Dara, maka ia segera membersihkan sebelum kekasihnya syok lantaran melihat putrinya seperti senasib dengannya.


"Anggara kemarikan Dara," pinta Shabita.


Anggara segera memberikan bayinya setelah ia selesai membersihkan wajah Dara.


"Ke mana saja kamu, Nak? Mama cemas," kata Shabita sambil memeluk dan mencium dara. "Kenapa Dara bau amis?" gumamnya. Ia kemudian memandang Anggara.


Anggara segera meraih Dara. " Mungkin bau pesing," dalihnya. "Biar aku bersihkan dan ganti pakaiannya."


Shabita tidak akan salah mengenali bau amis itu. Bau itu bau darah, lalu darah siapa itu. Itulah yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tidak dapat menduga-duga apa yang terjadi dengan Dara sewaktu menghilang tadi. "Anggara, aku mencium bau darah di wajah Dara," katanya sambil menghampiri Anggara yang sedang mengganti pakaian Dara.


"Perasaanmu saja. Wangi, kok." Anggara mengangkat Dara dan menciuminya. "Coba cium," katanya sambil menyerahkan Dara.


"Iya, tapi tadi baunya amis banget!" sanggah Shabita. Ia masih memandangi Dara dan memeriksa wajah serta tubuh bayinya. "Anggara aku takut hilangnya anak ini tadi ... em, lagi--"


"Nyari mangsa maksudmu?" potong Anggara. "Jangan mikir kejauhan."


"Sorry, aku terlalu takut kalau dia jadi sepertiku."


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur." Anggara kembali membaringkan Dara yang sedang bermain sendiri dengan pandangannya ke kanan ke kiri.


"Aku takut dia hilang lagi," rengek Shabita.


"Tidurlah. Biar Dara aku yang jagain," kata Anggara.


"Em," gumam Shabita sambil berbaring. Tidak lama ia telah terlelap.


Anggara memandang Dara yang sedang berusaha melepaskan kedua tangannya dari bungkus selimut. Ia bergerak seperti ulat, membuat Anggara tertawa gemas melihat Dara.

__ADS_1


"Jangan lagi seperti tadi, Nak. Nanti mamamu marah, papa juga marah," bisiknya.


Dara memandang Anggara. Sepertinya bayi itu mengerti perkataan pemuda itu. Ia memegang wajah Anggara dengan tangan mungilnya.


__ADS_2