
Dara merasakan sakit pada lehernya. Bagus yang asyik minum menjadi heran. "Kamu kenapa?"
"Rasanya sakit," bisiknya kerena tidak mau ada yang curiga.
"Kamu pakai pembalut di lehermu?"
"Sudah, tapi aku takut ini tidak akan sanggup."
"Sudah pernah lepas?"
"Maksudnya?"
"Terbang."
"Eh, itu aku nggak tahu."
"Coba deh, rasanya asyik," candanya.
"Dasar. Aku lagi sakit begini kamu malah bercanda."
"Aku cuma mau mengalihkan rasa sakitmu."
Dara terheran. Memang benar, ia hanya merasa nyeri, tetapi tidak seperti tadi. "Kamu tahu caranya?"
"Setahu aku dia ada karena kita terlalu berusaha bertahan. Coba deh kamu renungkan. Bila sedang melamun. Ada yang bilang nanti kerasukan. Coba kalau kamu fokus memikirkan sesuatu atau berbicara pada orang lain. Ini tidak akan terjadi. Jangan kosong Dara karena bila kosong pikiranmu akan dikendalikan."
"Tapi dia selalu datang. Tidak peduli aku sedang makan, menonton atau bersama orang lain."
"Cuma satu intinya Dara. Ingat Tuhan. Memang sulit bila kita akan menjalankan ibadah. Di mana ada azan di situ ia akan membuatmu sakit. Satu lagi orang yang kamu sayang. Itu yang akan mengendalikanmu." Bagus memainkan alisnya naik turun.
"Papa."
"Loh, kok papamu yang diingat? Abangmu ini, loh!"
"Enggak, aku nggak sayang kamu."
"Sudahlah! Aku mau pulang aja. Bunuh diri deh!" Bagus bertindak hendak pergi.
"Bagus!"
"Nah, nyesel kan. Udah mau lari kamu baru sada-"
"Bayar dulu ini. Aku lagi nggak bawa dompet!"
"Ah, asam!" Bagus mengeluarkan dompet. "Nih, bayar!"
"Eh, serius dengan dompet-dompetnya."
"Iya, kamu yang pegang." Bagus menuju motor.
Dara datang setelah membayar. "Ini dompetmu. Harganya cuma dua puluh lima ribu."
"Pegang aja."
"Loh, kok aku yang pegang?" Dara garuk pipinya. Ia bingung.
"Simpan saja."
"Kamu?"
"Ada. Pokoknya simpan saja buat kamu."
"Kok, baik banget. Ini modus, ya?"
"Modus apaan?"
"Biar mengikat aku jadi istrimu."
__ADS_1
"Emang iya. Kenapa, nggak suka?"
"Bagus, kamu serius mau nikahin aku, aku kan punya penyakit aneh?"
"Bilang aja nggak cinta. Itu aja ribet. Ayo, naik!"
Dara masih berdiri. "Gus, benar nggak nye-"
"Naik!"
"Ah, aku serius tanya tahu!"
"Naik, sayang. Nggak pegal kamu di situ?"
"Iya-iya. Ah, dasar, aku mau serius kamu marah terus!" Dara akhirnya naik motor.
***
Talia kini sedang lulur. Sementara Anggara dan Shabita kini sedang di luar berjalan-jalan.
"Kok, kita nggak di sana? Kan, tidak enak dengan keluarga Lai?" tanya Shabita.
"Mau apa, menonton orang luluran? Mending kita ke tempat Sean. Siapa tahu tu anak sudah nikah."
"Dia kan adikmu masa nikah, saja kamu enggak tahu?"
"Nggak pernah memberi kabar lagi setelah Dara berumur lima tahun. Aku saja heran kenapa sombong amat anak itu?"
"Kamu kali yang suka marah ke dia makanya dia suka menghindari."
"Enak saja. Anak itu memang begitu. Dulu juga aku datang ke rumahnya malah marah."
"Kabarnya Sariani bagaimana, ya?" gumam Shabita.
"Nah, itu juga nggak ada kabarnya. Anak itu ke mana juga. Sama sifatnya seperti Sean."
"Anak. Dia tua tahu!"
***
Sean merasa pusing, ia memijat pelipis kanan.
"Kamu kenapa?" tanya Sariani sembari memindah siaran televisi.
"Mendadak pusing."
"Mikirin cewek lain?" sindirnya.
"Jangan mentang-mentang langgananku banyak cewek kamu lantas bilang aku mikirin dia, ya!"
"Biasa, sih. Buaya nggak mau disebut buaya."
"Sudah, ah! Capek ngomong sama orang cemburuan!" Sean kemudian bersandar. Ia pejamkan mata untuk meredakan rasa sakit. "Serius, ini pusing banget!"
"Mau dipijat?"
"Kalau boleh."
Sariani menaruh remote di meja. Ia kemudian menuntun agar kepala Sean berbaring di pangkuannya. "Bagian yang mana?"
"Semua bagian kening."
Sariani mulai memijat. Sean terpejam. Tidak lama suara bel berbunyi. "Ada orang."
"Aduh, coba kamu bilang. Aku lagi nggak bisa diganggu."
"Oke." Sariani segera menuju pintu. Seorang wanita cantik berbaju minim bahan memandangnya. "Gawat, yang begini yang disuka Sean!" batinnya.
__ADS_1
"Sean-nya ada?"
"Ada perlu apa?"
"Saya ingin meminta penglaris."
"Oh. Dia kebetulan tidak ada. Silakan datang lagi nanti so-"
"Siapa itu, sayang?" Suara Sean.
"Kampret!" decitnya.
"Nah, itu ada. Saya masuk, permisi!"
"Eh, dia tidak ada!" Namun, wanita itu telah masuk sebelum kata-kata Sariani habis. "Genit!"
"Tuan Sean. Saya Kiya." Ia duduk tanpa dipersilakan duduk oleh Sean.
"Maaf, saya sedang tidak enak badan. Silakan Anda tang lain kali." Bicaranya demikian karena di dekatnya Sariani telah memberinya peringatan.
"Tapi, Tuan. Ini sangat penting bagi karir keartisan saya." Ia duduk dengan menyilangkan kaki. "Saya akan bayar sesuai permintaan, Tuan."
Sariani melotot melihat rok wanita itu terangkat sedikit. Ia kemudian memandang Sean yang tersenyum manis. Sean menjadi salah tingkah. "Awas!"
"Sebaiknya saya kirim lewat jarak jauh saja. Uangnya Anda bisa transfer lewat rekening."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Ia menjabat tangan Sean kemudian menariknya. "Istrimu cemburu." Ia kemudian pergi.
"Bisik-bisik apa tadi?!"
"Enggak, dia cuma bilang kamu cantik."
"Bohong."
"Seriusan!"
"Besok jangan buka praktek dukun lagi. Banyakan dukun cabul sekarang!"
"Waduh, aku kok, disamakan juga?"
"Kamu kerja apa, kek. Gali kubur atau selokan bisa, kan?"
"Tega sekali!" Sean kembali duduk. "Aku nggak tahu lagi dengan sikapmu yang cem-"
"Oh, nggak suka?" Sariani berkacak pinggang.
"Suka! Bagus, teruskan saja, hehehe."
"Bagus!" Sariani kembali duduk. Ia meraih remote kembali.
"Sayang." Sean kembali berbaring di pangkuan Sariani.
"Hem?"
"Kamu nggak bosan kan, kita pacaran tanpa ikatan?"
"Mau bagaimana lagi. Aku hantu sementara kamu manusia."
"Hums, andai aku jadi hantu--"
"Kamu jangan mikir mati!"
"Kan, andai sayang, kok marah?"
"Diam kau!"
"Aku tambah pusing bila diam."
__ADS_1
"Ah, ya sudah. Ngomong terus sampai besok."
Sean tertawa kecil. Ia menarik hidung Sariani.