
Talia mengenakan pakaian merah muda, gadis itu mencepol tinggi rambutnya. Ia sedang berbincang bersama sahabatnya, sambil sesekali matanya memandang Anggara yang sedang berjalan mengawasi pesta. Malam itu pemuda itu sangat tampan dengan baju coklat tua dan kacamata bening.
"Siapa itu?" tanya salah satu temannya bertubuh sedikit kecil darinya.
"Pengawal pribadi ibuku," jawab Talia seraya meminum jus merah.
"Ganteng ya, dapat di mana?" goda gadis bermata sipit berbaju biru muda.
Talia tersenyum. "Kenalan," jawabnya.
"Kalau ada mau satu yang seperti itu," goda gadis berambut ikal sambil melirik Anggara.
Talia lagi-lagi hanya tersenyum, ia hanya memandang pemuda itu diam-diam. Pabila Anggara melihatnya maka ia mengalihkan pandangan pada salah satu tamu undangan.
"Ibumu cantik, ya? Aku takut dia ada pair dengan pengawalnya," singgung gadis bertubuh kecil tadi. "Aku jadi tak punya kesempatan untuk mendekatinya."
"Sembarangan, ibuku bukan seperti itu!" elak Talia sambil memukul pelan bahu si gadis.
"Kalau aku jadi ibumu, sudah pasti akan tertarik dengannya." Gadis berambut ikal menunjuk Anggara seraya mengcungkan sloki ke arah pemuda itu. "Apalagi ibumu sangat cantik," tambahnya.
"Ish, hari ini ulang tahunku!" omel Talia.
Shabita sedang berdiri di atas balkon sambil memandang mereka di bawah. Ia memang mengenakan gaun merah berenda mawar, tetapi gadis itu sangat enggan bergabung bersama mereka di sana, Sesekali gadis itu mendesah seraya memandang ke atas langit. Talia tersenyum melihatnya, ia pun tersenyum membalas senyuman itu.
Anggara memandang Talia yang tersenyum memandang ke atas, ia tujukan arah pandangannya pula ke sana. Shabita tak sengaja bertemu pandang dengannya. Ia mencibir dan memandang ke lain arah. Namun, kadang matanya terasa gatal untuk memandang pemuda itu diam-diam. Anggara tersenyum menangkap basah dirinya diperhatikan. Pemuda itu tertawa sekilas tanpa suara sambil menggaruk belakang kepalanya, ia menunduk kemudian memandang gadis itu kembali.Tidak sengaja atau hanya refleks, Shabita akhirnya tersenyum padanya. Namun, hanya sementara karena menyadari kebodohannya memberi harapan pada pemuda itu.
"Sha!" panggil Talia.
Gadis itu berbalik. "Ayo turun, aku mau potong kue!" Talia segera menggandeng Shabita untuk ikut bersamanya.
Shabita hanya tersenyum. Di sana mereka sudah menunggunya di taman, mengelilingi meja kue. Talia tersenyum, ia memeluk Shabita kemudian memotong kue. "Untukmu," berinya satu suapan kue pada ibunya. Shabita hanya menerima, ia tersenyum saat Talia memberikan satu kue lagi pada Anggara. "Ini untukmu!"
__ADS_1
"Tidak," tolak Anggara. Ia tidak enak menerima suapan dari gadis itu.
Shabita memberinya satu tatapan tajam, memaksanya agar menerima. Namun, Anggara masih menolaknya, hingga Talia sangat canggung. Shabita tersenyum manis pada pemuda itu, barulah Anggara membuka lebar mulutnya.
Talia tersenyum, ia memandang Shabita. "Kalau mau istirahat, istirahat saja."
"Aku bosan di dalam, biarlah aku di sini." Shabita segera berjalan di bangku yang telah disediakan untuk tamu. Ia sedang memerhatikan mereka yang sedang asyik makan dan adapula yang sedang memberi selamat pada Talia
"Hay, boleh aku duduk di sini?" tanya Lay. Pemuda itu duduk di hadapannya tanpa diminta.
Shabita tidak menjawab, ia meraih sloki berisi jus jeruk, kemudian memainkannya. Sikapnya sangat acuh, tanpa peduli pada Lay yang selalu memandang kagum ke arahnya.
"Kenapa diam di sini, tidak mau bergabung dengan anakmu?" tanya Lay.
"Siapa kamu, jangan sok kenal!" singgung Shabita. Sikapnya menjadi dingin bila bertemu pemuda tampan.
Apa dia lupa padaku, dia yang menghabisi ibuku. "Masih ingat denganku, pemuda yang dulu kamu ancam?" tanyanya.
Lay tertawa, ia ikut bermain gelas itu. "Mungkin saja," ralatnya. Bunuh gadis itu! Dia berbahaya untuk kita! Lay mendesah. Bisikan arwah ibunya terus saja mengusiknya untuk menyakiti Shabita, sementara dirinya hanya ingin bersikap netral.
Anggara memandang mereka berdua, ia berkerut dahi. Pemuda itu kemudian datang menghampiri. "Anda sudah waktunya beristirahat," alasan Anggara. Ia berpura-pura melirik arlojinya.
Shabita melirik Anggara, kemudian ia tersenyum kepada Lay. "Aku pamit. Nikmati saja pesta ini," katanya. Ia mengikuti pemuda itu berjalan ke dalam rumah.
Gadis itu kemudian berjalan cepat mendahului Anggara, ia tidak mau diikuti maka segera berlari dan menutup pintu. Anggara hanya berdiri di depan kamarnya sambil bersandar di depan pintunya. Shabita membuka semua pakaiannya dan berganti dengan piayama. Ia tahu Anggara masih di sana, dari bayangan pemuda itu bawah pintu. "Jangan di situ, pergilah Anggara!" pintanya.
"Nggak mau, buka pintunya biar aku bisa menjagamu di dalam sana," tolak pemuda itu.
"Apanya yang menjaga, hadirmu membuatku tidak bisa tidur. Pergilah!" Shabita merasa kesal bila pemuda itu terus di sana, berdiri. Hatinya khawatir, bila Anggara akan lelah kemudian jatuh sakit. Gadis itu mendesah. Ia mematikan perasaannya. Biarlah! Dia yang mau, kan! Shabita berbaring dan tertidur pulas. Ia terbangun saat langkah kaki Anggara berjalan mondar-mandir di kamarnya. Gadis ini menatap jam dinding, telah pukul 23:00. Namun, pemuda itu masih di sana. "Dia belum makan dari siang karenaku," gumam Shabita.
Shabita terpaksa membuka pintu. "Aku mau makan! Buatkan aku makanan enak!" perintahnya.
__ADS_1
Anggara tersenyum, ia mengangguk. Shabita kemudian masuk kembali ke kamarnya. Tidak lama pemuda itu datang kembali sambil membawa makanan. "Kunci pintunya!" perintahnya. Anggara menaruh makanan di atas meja, ia kemudian berjalan mengunci pintu. Shabita hanya memandang lurus ke depan. "Makanlah!" perintahnya.
"Apa?" Anggara bingung.
"Kusuruh kamu masak buat makan itu."
"Ini kubuatkan untukmu!" bantah Anggara.
"Makan!" bentak Shabita.
Anggara mengambil makanan tadi dan menaruhnya di pangkuan Shabita. "Untukmu," katanya.
Shabita mendesah, ia mengambil sendok dan meraup sup. "Makan!" perintahnya. Anggara heran, ia memandang makanan yang diberikan gadis itu dan Shabita secara bergantian. "Makan!" Shabita memberi perintah.
Anggara terpaksa membuka lebar mulutnya. "Ini kumasak buatmu," bantahnya.
"Jangan sok kuat, ya. Kalau sakit aku yang paling berdosa," kata Shabita.
"Kenapa?" goda Anggara.
"Karena aku memarahimu setiap waktu. Talia pasti benci padaku nantinya," dalihnya.
Anggara tertawa sekilas. Ia kembali disuapi Shabita. "Bukan karena kamu yang cemas aku sakit?"
"Makan sendiri!" Shabita menyerahkan makanan itu ke pangkuan Anggara.
"Romantismu kenapa sekejap, lama sedikit kenapa?"
"Makan cepat. Bila sudah silakan Anda keluar dari sini!" usirnya.
Anggara sengaja makan dengan lambat, agar tidak disuruh keluar. Itu yang menjadikan Shabita mengkal, gadis itu menggaruk pelipisnya.
__ADS_1
"Aku hendak tidur. Kalau mau berjaga silakan ambil bantal dan tidur di bawah!" Ia segera memberi Anggara bantal dan guling. Ia berbaring sementara pemuda itu masih menikmati makannya.