TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
21 TEROR PALASIK


__ADS_3

Shabita tertidur lelap di kasurnya. Ia tidak biasa mematikan lampu, gadis itu lebih senang bila lampu kamarnya menyala, bila mati ia sangat takut sekali kalau ada arwah lain yang mendatangi dan merasuk di tubuhnya. Suara tangis histeris bayi dari kamar Endraw membagunkannya. Shabita segera bangun dan melihat pada jam wekernya. Jam masih menunjukkan pukul 23:00 malam. Ia menggaruk kasar kepalanya dan menguap. Segera bangkit dan membasuh wajahnya di kamar mandi.


"Shabita, Shabita," panggil sebuah suara tepat di belakangnya.


Gadis itu kaget dan segera berbalik. "Ahh!!" teriak Shabita. Gadis itu menjerit ketakutan karena Palasit Toni sudah berada di depannya.


Toni melayang di udara setinggi dada Shabita. Dia tersenyum manis dengan wajah pucat kurang darah. Di lehernya darah segar menetes di lantai.


"Pergi!" usir Shabita sembari meraih gayung dan memukul-mukul Toni yang menghindar dari amukannya. "Sariani! Anggara!" teriaknya.


"Kita ini sama Shabita. Kenapa kamu menolakku, dengan adanya kita bersama maka kita akan hidup kaya raya?" Toni membujuk gadis itu seraya terbang mendekat.


"Jangan mendekat!" ancam Shabita dengan mengarahkan gayung kepada Toni. "Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku tidak pernah ingin menjadi seperti kalian. Pergi! Pergi!" usirnya.


Toni terkekeh menyeramkan. Dari giginya keluar darah segar yang membasahi dagunya. Shabita jijik dengan pemandangan itu, walaupun ia dulu adalah seorang dokter, tetapi ia tidak pernah melihat yang semengerikan itu. Ia jadi teringat ketika ia menjadi Kuyang, mungkin itu juga yang mereka lihat darinya.


"Kenapa, jijik?" tanya Toni.


"Pergi!" usir Shabita lagi. "Anggara!" panggilnya.


"Anggara lagi, siapa dia?!" tanya Toni marah. Ia menunjukkan wajah merahnya.


Bukannya menjawab, Shabita malah berteriak memanggil pemuda itu lagi. "Anggara! Dia menggangguku!" teriaknya.


Anggara yang berada di kamarnya hanya mendengar suara Shabita beberapa kali. Ia masih marah karena Shabita hanya menganggapnya teman selama ini, padahal pemuda itu sudah mengutarakan maksudnya untuk menikahinya. Maka dari itu saat Shabita memanggil-manggil namanya ia hanya diam dan tidak mau sama sekali menyahut apalagi datang, tapi karena Shabita berteriak kalau ada yang mengganggunya, mau tidak mau ia akhirnya berlari juga dan mendobrak pintu kamar gadis itu.


Shabita berusaha keras untuk menjauhkan kepala Toni yang ingin menciumnya secara paksa. Gadis itu sangat kepayahan menghadapinya. "Anggara tolong!" jeritnya seraya mendorong kepala itu agar menjauh darinya.


"Mu-mu-mu-mu."  Toni memajukan bibirnya.


"Setan!" maki Anggara sembari memukul Palasit Toni dengan sebatang sapu.


Toni terjatuh ke lantai. Pemuda itu mengeram marah. Saat akan menyerang, Anggara segera menodongkan pistolnya ke arah Toni.


"Akh! Awas kamu, aku gak akan biarin kamu selamat!" ancamnya kemudian ia melesat ke atas menembus atap.

__ADS_1


"Kamu gak papa?" tanya Anggara pada Shabita yang masih syok.


"Aku takut, aku takut sekali Anggara," kata Shabita dibarengi dengan isak tangisnya.


"Susst... jangan nangis. Ada aku di sini, malam ini aku akan tidur di sini." Anggara segera pergi ke kamarnya. Ia mengambil bantal dan selimut miliknya. "Yuk, tidur. Besok kita harus berangkat pagi," ajaknya pada saat ia sudah menyusun bantalnya di atas kasur gadis itu.


Shabita tampak ragu untuk mendekati Anggara. Anggara pura-pura tertidur setelah berkata itu. Ia ingin Shabita merasa nyaman dan aman tanpa gangguan dari Palasit(dalam bahasa Kalimantan, hantu kepala lelaki) atau Palasik Toni itu dan dari dirinya. Shabita pelan-pelan tidur di sebelah Anggara, gadis itu mulai menutup matanya. Diam-diam Anggara berbalik dan menjaganya.


Lampu kamar tiba-tiba mati. Anggara segera bangun dan memeriksa saklar lampu, ternyata saklar listriknya turun, dihidupkan kembali olehnya. Pemuda itu segera kembali dan kaget setengah mati saat mendapati tubuh Shabita sudah tidak memiliki kepala lagi.


"Van! Vanesa!" panggilnya. Ia segera mencari-cari gadis itu ke semua ruangan.


Suara bayi dari ujung lorong terdengar olehnya. Tangisan histeris itu datang dari keluarga yang baru saja diselamatkan oleh  dari dukun beranak jelmaan Kuyang tempo hari. Anehnya suara tangisan itu tidak membangunkan kedua orangtuanya yang saat ini terbius oleh mimpi masing-masing.


Shabita alias Vanesa melayang pelan setinggi dada orang dewasa menuju kamar di mana bayi merah itu menangis. Ia terkikik-kikik kegirangan mendengar suara serak dari bayi yang sudah membiru karena terlalu lama menangis. "Hihihi...."


"Vanesa, sadarlah. Bangun segera, jangan kamu terbuai dalam mimpi yang diciptakan olehnya," tegur Sariani.


"Pergi kamu! Saya tidak suka kamu!" usir Shabita.


"Pergi! Hihihi...."


"Van!" seru Anggara. Pemuda itu berlari padanya. "Jangan begini. Kalau kamu mencintaiku, pasti kamu tidak akan begini," ucap Anggara Lirih.


"Hihi... persetan!" Shabita tidak peduli. Ia mencoba menerobos pintu kamar korbannya, tapi sebelum itu terjadi  ia berteriak marah. "Jangan sekarang! Jangan bangun! Aku lapar!" teriaknya tidak terima. Ia terbang melawan dirinya sendiri sementara kepalanya seperti memiliki keinginan untuk kembali.


"Terus Vanesa, kembali!" seru Sariani dengan semangat. Sariani bertepuk tangan sekali seraya tersenyum kegirangan.


"Tidak! Aku mau makan!" teriak Shabita yang kepalanya melayang mundur dan maju. Ia paksakan untuk menuju ke arah pintu, namun rupanya kesadaran Shabita lebih menguasainya untuk kembali ke tubuhnya. Satu kepala dua pikiran, itu yang terjadi sekarang.


Angggara tidak sabar, ia segera membuka piayamanya dan menangkap kepala Shabita. Ia membantu Shabita untuk kembali. Kuyang itu meraung-raung dalam pakaian Anggara, mengeram saat Anggara dengan berlari kembali ke kamar mereka.


"Aku lapar! Aku mau makan! Gerr!"


Kepala itu diam saat Anggara telah tiba di hadapan tubuh Shabita yang terbaring tanpa kepala. Ia segera membuka bungkusan piayamanya dan meletakkan kepala yang tertidur itu dekat dengan leher Shabita. Secara ajaib kepala itu terbang sendiri dan usus serta seluruh organ dalamnya kembali masuk ke tubuh gadis itu secara otomatis. Kini Shabita tertidur pulas dengan wajah tenang dan tanpa terjadi apa pun. Lehernya segera diseka oleh Anggara dengan air hangat. Ia merawat Shabita dengan telaten. Tanpa terasa sudah pukul 4 subuh, Anggara menguap dan tidak sengaja terlelap sambil menggenggam erat jemari Shabita.

__ADS_1


Ketika terbangun ia kaget dan segera bangkit dari kasurnya. Ia kehilangan gadis itu di sampingnya. "Van, kamu di mana?" panggilnya panik dan segera berlari ke kamar mandi. Karena dilihatnya gadis itu tidak ada, maka ia segera berlari ke luar dan memanggil-manggil gadis itu. "Van!" panggilnya lagi.


"Cari siapa, Dek?" tanya Endraw yang kebetulan baru keluar dari tempatnya sembari menggendong Rumi.


"Bapak lihat Shabita, saya cari dia tidak ada?" tanya Anggara.


"Oh, Shabita. Tadi baru saja berangkat kerja," jawabnya sambil memandang penampilan Anggara yang hanya mengenakan celana piayama dan kaus putih dalaman. "Kalau boleh tahu, kamu apanya dia?" tanyanya.


Anggara memandang Endraw sejenak. "Masih calon," jawabnya.


Endraw tersenyum. "Oh, gitu ya. Ya sudah saya ikut senang," ucapnya tulus.


"Permisi, Pak. Terima kasih atas infonya. Saya mau siap-siap kerja dulu," pamit Anggara.


Anggara melangkah meninggalkan bapak beranak satu itu dengan perasaan lega sambil menguap ia masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor lagi.


Sementara Shabita di sana sedang pusing menyusun semua data perusahaan yang masuk dan akan segera ditandatangani oleh Chang.


"Van, tolong data dari perusahaan yang ingin bekerjasama dengan kita kemarin diperiksa lagi. Sekalian atur jadwal rapat untuk lusa," pinta Chang yang sibuk memperhatikan layar komputernya.


"Baik, Pak," jawab Shabita. Gadis itu segera menjalankan perintah. Ia segera mengumpulkan kertas perjanjian perusahaan. "Pak, saya harus menggandakan ini dulu," izinnya.


Chang tidak menjawab, pemuda itu hanya mengangguk seraya tersenyum manis.


"Ngapain kamu?" tegur Toni.


"Kamu?!" Shabita kaget setengah mati karena Toni tiba-tiba berada di sebelahnya. Ia sempat begidik ngeri.


"Siapa lagi yang kemarin?" tanyanya dengan tenang. Ia sempat tersenyum kepada karyawan yang tidak sengaja melihatnya mengobrol dengan Shabita.


Shabita tidak ingin menjawab. Gadis itu dengan cepat menyusun berkas yang sudah digandakannya. Toni menarik tangan gadis itu ketika Shabita akan pergi.


"Jangan menghindar. Kita ditakdirkan bersama, entah itu kamu suka atau tidak," katanya dibarengi dengan senyum memikat lawan jenis.


Lain di mata perempuan lain, lain pula di mata gadis itu. Bagi mereka senyum Toni seperti guna-guna yang kuat menarik perempuan agar jatuh hati padanya, tapi bagi Shabita senyum Toni adalah senyum yang membuatnya merinding. Bulu romanya berdiri saat Toni membelai lengannya.

__ADS_1


"Permisi," elaknya. Gadis itu segera pergi menjauh dan kembali ke ruangannya lagi.


__ADS_2