TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
62 PERTARUNGAN TALIA DAN SHABITA


__ADS_3

Shabita tidak melepaskan Anggara, ia bahkan menaikkannya sangat tinggi. "Gara-gara kamu gadis ini menyegelku. Tidak akan kubiarkan lagi kamu hidup dan menggangguku!"


"Ap--apa, maksudmu, Rani!" Anggara yang sangat kesulita bernapas karena lehernya terkekang oleh kekuatan Shabita hanya mampu memaksa agar suara itu mampu keluar dari mulutnya.


"Akan kuhabisi kamu! Kumakan kamu agar gadis ini menyerah untuk tetap sadar!"


Talia memasuki halaman rumahnya. hari semakin larut, membuatnya mengusap lengannya kedinginan dengan udara malam. Ia masuk ke dalam rumah dan sempat terheran karena pintu masih terbuka di jam larut begini. "Noy, May!" panggilnya sambil meletakkan tas di atas sofa kemudian duduk dan melepas sepatu hak tingginya. Ia sandarkan tubuhnya pada sofa sambil memejamkan mata. "May, Noy!" panggilnya lagi pada kedua pelayannya. Tidak ada sahutan yang membuatnya mengerutkan dahi dan segera membuka mata memandang ke seluruh ruang tamu. Ke mana mereka semua? Talia menghela napas kemudian beranjak dari kesantaiannya menuju dapur. "Kosong?" gumamnya sambil memegang les pintu. Ia menuju kamar pelayan. Kenapa pintu ini rusak? Talia memandang ke dalam, berantakan seperti ada perkelahian.


Talia segera ke atas, menaiki anak tangga dan nyaris terpeleset kalau saja ia tidak sigap berpegangan pada dinding. "Air apa ini? Darah!" Ia berjongkok dan menyentuh cairan basah di lantai kemudian di bauinya. Talia berdiri, ia menyusuri jalan bergenang air dan terkejut karena asalnya berada di kamar Shabita. "Sha!" Talia segera berlari cepat menuju ke sana. "Sha!" panggilnya tepat di depan pintu. Sangat terkejut saat Shabita membuka lebar mulutnya siap menelan kepala Anggara. "Jangan!" Talia berusaha melepaskan Anggara dari gadis itu dengan menarik lengan Shabita agar melonggarkan jeratannya. "Lepas, Sha!"


Shabita mendorong Talia dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih menjerat Anggara. Talia terdorong ke dinding. Ia melihat Anggara yang nyaris tidak mampu menahan lagi. Talia memerhatikan Shabita, ia curiga ada sesuatu di tubuh gadis itu. Tidak perlu berpikir lagi karena bila ia terlalu lama maka nyawa pemuda itu akan tamat.  Talia segera mendorong tubuh Shabita dengan melompat menerjangnya. Anggara terlepas, pemuda itu nampak kesakitan. Shabita marah, ia segera berdiri menghadapi Talia. Talia menatap heran Shabita, dia tampak berbeda dari sebelumnya.


"Beraninya kamu menghalangiku untuk menghabisi dia!" bentak Shabita.

__ADS_1


"Sha, kamu kenapa? Tidak biasanya kamu begini! Siapa kamu sebenarnya?!"


"Aku Wati bukan ibu tirimu maka berhati-hatilah terhadapku!" ancamnya.


"Kenapa kamu merasuk ke tubuhnya?" tanya Talia.


"Ini rumahku dan keturunanya adalah rumahku! Sudah lama aku terkekang di dalam sini, tidak diberi makan oleh gadis ini. Sekarang aku sangat lapar. Ingin makan semua orang yang menghalangi niatku, termasuk kamu!" tuding Shabita.


Talia menelan ludah, tanpa sadar ia mundur karena tidak menyangka Shabita gadis yang begitu lemah lembut mampu memakan manusia. Anggara berdiri dan memandang dua perempuan beda usia itu sedang berbicara. Ia sungguh tidak mengerti dengan situasi yang membuatnya terseret ke dalam lingkaran setan


Talia memandang Anggara yang juga memandangnya. Ia memberi isyarat mata agar pemuda itu pergi dari sana atau bersembunyi. Anggara mengerti ia segera mundur, sementara Talia diam di sana dan memusatkan pusat kesaktiannya yang berasal dari perut menuju ke dada. Kukunya memanjang, meruncing.


"Hem," gumam Shabita.

__ADS_1


Talia menunggu Shabita bergerak menyerang sambil mengira-ngira titik kelemahan Shabita, namun belum sempat ia menyimpulkan Shabita telah menerjangnya dengan melompat dan mendorong talia ke dinding. Talia menagkap tangan Shabita yang hendak mencakar wajahnya. Talia tidak tahan lantaran Shabita menjilat wajahnya, maka gadis itu mendorong dan memutar tubuhnya sekaligus melakukan tendangan berputar. Shabita terlempar dan menubruk lemari di belakangnya. Shabita tertawa sambil berdiri, tidak cedera sama sekali, melainkan Talia yang sekarang merasakan dadanya sesak, sulit untuk bernapas, gadis ini memandang Anggara yang berdiri di ujung tempat tidur, sedang mencemaskannya. Talia tersentuh melihat wajah Anggara, ia tidak akan membiarkan pemuda itu terluka. Mata Talia berubah merah menyala, ia memandang marah Shabita.


"Aku tidak peduli kamu ibu tiriku karena ibuku tidak seperti ini. Dia gadis yang sangat baik, walaupun papa mungkin akan menghabisiku karena membunuh kalian, aku tidak menyesal!" tekan Tali.


"Bagus! tidak perlu sungkan denganku, aku pun tidak akan sungkan memakanmu!" katanya.  Talia memandang Anggara memerintah dengan sorotan mata menyeramkan agar Anggara segera pergi. "Oh, dua cinta satu lelaki!" gumam Shabita. Kini sasarannya bukan lagi Talia melainkan pada pemuda itu.


Talia terkejut melihat Shabita berbalik menyasar Anggara, pemuda itu segera menjauh agar tidak terkena sasaran cakar Shabita. "Mau ke mana kamu?!" bentak Shabita.


Talia segera meraih tubuh Shabita dengan merangkul pinggangnya dan melemparnya menjauh, Shabita marah. Ia kembali menyerang Anggara dengan menerjang dan siap dengan kukunya yang panjang. Talia sekarang mengerti sasarannya adalah Anggara, pemuda ini cukup lemah sehingga membuatnya kewalahan melindunginya.  "Papa!" desahnya. Segera ia menubruk tubuh Shabita yang siap menyerang Anggara. Mereka berdua terjatuh bergulingan di lantai Talia berdiri, begitu pula dengan Shabita. Gadis itu masih menyasarkan serangannya pada pemuda itu. Talia melirik Anggara di sana yang sedang was-was. Taring Talia memanjang, mulutnya melebar. Siap untuk menghabisi Shabita. Talia menerjang Shabita dengan kekuatan penuh sehingga ibu tirinya itu terdorong ke dinding. Dinding retak dan memanjang, lama-kelamaan pecah dan runtuh lantaran Talia menekan dadanya terlalu kuat. Akh!" erang Shabita. Ia coba melepaskan diri dari Talia dengan mencakar lengannya. Darah mengalir dari tangan Talia karena tertusuk kuku panjang Shabita. Shabita mengertak, menekan rasa sakitnya untuk menekan tubuh gadis itu. Brak! Pecahan dari tembok mengenai kepalanya, membuatnya melepaskan Shabita. Darah mengalir dari kepala Talia. Ia tidak menghiraukan itu semua karena Shabita langsung membalsa serangannya dengan mencekik leher Talia dan mendorongnya ke dinding di belakang Talia. Ia melesat cepat menekan gadis itu di sana. Nyaris tidak percaya bahwa Shabita memiliki ilmu pelenyap tubuh. Talia berusaha melepaskan diri dengan mencengkaram lengan Shabita yang mencekiknya, ia terkejut saat kuku runcingnya tidak mampu menembus daging Shabita.


"Aku tidak bisa mati, tidak bisa terluka. Jadi jangan sia-siakan tenagamu untuk melawanku!" Shabita mendekatkan wajahnya, siap untuk menggigit leher gadis itu.


Anggara kebingungan, di sisi lain ada Shabita dan Rani yang harus diselamatkannya. Dengan menguatkan hati ia mengambil kursi yang terdapat di depan meja rias untuk menghantam Shabita. "Brak! Shabita mengalihkan sasarannya pada Anggara, ia melepas Talia dan berjalan menuju pemuda itu. Talia kembali bisa bernapas lega, ia segera memandang Anggara yang dalam keadaan dalam bahaya. Talia tidak tahan lagi, ia memandang ke jendela. Satu-satunya cara menjauhkan Anggara dari Shabita adalah dengan mengajaknya bertarung ke luar.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2