TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
114


__ADS_3

Adi terjaga dari pingsannya. Ia melenguh sakit dibagian kepala bekakang, hendak menusap, tetapi tangannya ternyata terikat oleh sebuah tali tambang. Ia memandang di sekelilingnya kemudian beralih pada Tini yang sedang menagis bersandar pada dinding tepat di sisi ranjang.


"Berapa lama saya tidur?" tanyanya.


"Dua jam," jawab Tini lirih.


"Oh," gumam Adi tenang. Tidak ada raut cemas apalagi sedih terlukis di wajahnya.


"Maaf, karena saya Anda mendapat masalah."


Adi meringsut mendatangi Tini. "Ngomong-ngomong kamu tadi melihat berapa orang di sini?" bisiknya.


"Lima," jawab Tini.


"Lima," gumam Adi.


"Kenapa?" tanya Tini.


"Susstt .... Ada yang datang," bisiknya. Ia segera meringsut kembali dan menjatuhkan dirinya ke lantai.


"Kamu yakin polisi itu nggak dicari temannya atau adalagi yang mengintai ke sini?" tanya pemuda berambut keriting, berbaju hijau nila kepada sahabatnya bertubuh besar bertelanjang dada mengenakan celana training.


"Sudah kuperiksa CCTV. Memang cuma ini yang ada."


Tini mengkerut saat dua orang itu mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Nggak curigakah, takutnya dia pakai alat pelacak atau alat rekam?" tanya pemuda berambut keriting tadi.


"Iya, juga." Si besar berjongkok untuk memeriksa tubuh pemuda itu. "Tidak ada, dia bahkan tidak bawa dompet dan pistol."


"Nekat sekali anak ini," ejek si rambut keriting.


"Kenapa kalian lama sekali? Kita harus menyiapkan tempat untuk besok!" tegur nenek yang menjadi majikan Tini.


"Lantas pemuda ini mau kita apakan?" tanya si besar. "Apa perlu kita bunuh?"


Nenek itu memandang Adi. Ia meneliti wajah pemuda itu. "Wajahnya boleh juga. Biarkan dia hidup!" perintahnya.


"Tapi sangat berbahaya bila--"


"Saya suka dia! Ada yang protes?!"


Mereka berdua bungkam. Hanya di hati masing-masing yang mengutuki tingkah nenek tersebut.


Nenek bau tanah! Adi tidak terima ditaksir nenek tersebut, ia tadi telah mengintip sedikit dan menilai sebagaimana buruk rupanya orang itu.

__ADS_1


"Bawa pemuda ini ke kamar saya!" perintahnya. Ia kemudian beralih kepada Tini. "Apa? Kamu berharap bisa lepas, bisa pulang, hah? Jangan harap! Saya akan jual kamu."


"Pu--pulangkan saya. Saya janji tidak akan bercerita kepada mereka!" mohon Tini.


"Enak saja mau pulang setelah bikin masalah. Walau begitu makasih sudah membawa calon suami untuk saya. Hahaha ...." Ia tertawa jahat.


"Tolong jangan diapa-apakan dia! Saya akan turuti kemauan, Nenek!"


Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia malah meninggalkan gadis itu di sana.


"Gila nenek itu. Dia sukanya sama brondong!" maki si badan besar sambil merapikan kaki Adi yang berada di tepi ranjang.


"Kita harus bunuh orang ini kalau tidak mau rahasia terbongkar," bisik si rambut keriting.


"Nenek pasti marah besar," tolaknya.


"Persetan dengan orang tua itu! Bila kita diendus polisi siapa yang kena imbasnya kalau bukan kita?"


"Sekarang?"


"Nanti, kita buat saja seolah-oleh, ni anak matinya alami. Jadi kita nggak kena salah."


"Oke, kita biarkan dia di sini."


Mereka keluar dan pintu dikunci. Adi segera bangun. Ia membuka ikatan kemudian meraih di lipatan kerah baju paling belakang miliknya. Ada alat kecil sekali berbentuk sebuah lensa. "Rustam!" panggilnya dalam nada berbisik.


"Aku udah tiba di rumah yang kita bicarakan waktu itu."


"Lantas?"


"Memang benar di sini sarangnya," jawabnya.


"Coba cek apa di kamar itu ada CCTV?"


Adi segera memandang ke bagian atas. Ia menjulurkan lidah seraya menggigitnya. "Hehe ... aku lupa," dalihnya.


"Ceroboh!" omel Rustam. "Sembunyikan kembali cameramu. Aku akan mengalihkan CCTV mereka ke kita."


Adi kembali menyelipkan alat itu. Namun, kali ini tidak di kerah itu lagi, tetapi di sisi ranjang. Alat itu mudah sekali menempel pada benda apa pun.


Rustam membawa berkas itu ke depan Komisaris. "Adi sudah di sana. Tadi dia menghubungi," katanya seraya duduk di depan atasannya.


"Ada bukti?" Komisaris memeriksa berkas laporan yang dibuat Anggara kemudian diambil alih oleh Adi sebagai pelaksana.


"Kita akan tahu nanti setelah melihat rekaman di rumah itu."

__ADS_1


"Kapan kamu balik ke Jakarta? Kalau bisa masalah ini harus tuntas sampai kamu kembali bertugas di sana."


"Akan diusahakan," jawab Rustam. "Lagipula setelah ini saya harus ke Banjarmasin untuk memulangkan Tini dan mengabari kepolisian sana."


Revando tahu, Rustam sangat sibuk sekali. Polisi yang khusus bertugas keluar-masuk provinsi itu sangat lelah. Bagaimana tidak, ia selalu dipindahtugaskan ke sana-kemari bila ada kasus-kasus yang sulit diatasi oleh mereka. Bahkan Rustam pernah mengeluh ingin menetap seperti yang lainnya. Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, belum jua memiliki pasangan hidup.


"Kalian berjaga di luar!" perintah Nenek itu sambil menutup kembali pintu kamarnya. Ia memandang Adi yang masih belum sadar.


Nenek itu menghampirinya. Mengusap lembut tangan pemuda itu. Duh! Jijiknya! Namun, ia harus bertahan di sana pada hari yang ditentukan oleh mereka.


"Siapa yang membuka ikatan orang ini?" gumam si nenek.


Lupa! Adi ingin mengerutkan wajahnya, tetapi ditahan agar tidak ketahuan.


Nenek berbaju kuning itu kemudian meraih tali tambang di lantai, kemudian mengikat kembali tangan pemuda itu. Kali ini disambungkannya di kepala ranjang agar tidak mudah terlepas.


Rustam sempat melihat wajah nenek tersebut saat mengambil tali. "Sudah kalian sambung camera di sana dengan di sini?" tanyanya pada rekan-rekannya.


"Masih dalam proses," jawab Burhan. Pemuda kurus berkulit sedikit kemerahan itu tampak sibuk di layar komputernya.


"Pak, kapan kita ke sana? Takutnya Tini dan Adi tidak tertolong?" tanya seorang polwan bernama Marwa. Rambutnya pendek menyerupai lelaki, berhidung mungil berbibir tipis.


"Tunggu aba-aba dari Adi. Bila dia bilang kita harus bergerak, maka segera bergerak." Rustam diam, ia memperhatikan kembali.


"Lama sekali tidurnya," gumamnya. Nenek itu segera meraih gelas berisi air di meja kemudian dipercikkan ke wajah Adi.


Pemuda itu terbangun, ia menatap nanar seluruh ruangan. "Di mana ini?" dustanya.


Rustam mendengar pembicaraan mereka. "Pak, telah terhubung!" lapor Burhan. Rustam segera mendatangi pemuda itu dan menatap Adi sedang bersama seorang nenek.


"Kamu di rumahku," jawab si nenek.


"Mana, Tini?" tanya Adi panik. "Kenapa aku diikat di sini?" Ia mencoba melepaskan kekangan itu.


"Dia baik-baik saja asal kamu memenuhi syaratku," tawar si nenek.


"Apa?" Walaupun ia tahu syaratnya, tetapi masih pula bertanya. Tak terasa keringat dingin keluar dari pelipisnya. Jangan bilang nikahin kamu!


"Menikah dengan saya."


Tuh, kan! Kupikir juga apa, sial!


Rustam nyaris tertawa mendengar pernyataan nenek tersebut. Tidak terkecuali mereka yang berada di sana, ikut tertawa gelak.


"Mau tidak? Atau dia dihabisi malam ini juga!" ancamnya.

__ADS_1


Huh, kalau bukan karena tugas mana mau aku. "Terserah, Nenek saja. Saya takut durhaka," jawabnya dengan senyum manis.


Aku curiga dengan anak ini. Dia tenang sekali.


__ADS_2