
Karena ini komedi, horor dan romantis, sekaligus fantasi. Jadi kalian jangan cemas kalau cerita ini bakal sad ending(sedih). Namanya romantis pasti endingnya bahagia. Jadi saya pastikan pasti bahagia, ya. Oke, kita langsung ke cerita.
_____
Shabita dititipkan di rumah salah seorang teman Anggara yang juga bekerja dengannya di toko Cina itu. Perempuan berusia dua puluh lima tahun sedang memangku Dara.
"Berapa bulan ini?" tanyanya.
"Baru dua minggu lebih," jawab Shabita sambil meminum teh buatan Bela.
"Sehat sekali, gemuk." Ia mencubit pipi Dara yang sedang mencari susu di dadanya. "Dia hendak menyusu," katanya dengan nada gemas. "Jangan sekarang," ejeknya pada Dara.
"Tidak ada anak kecilkah di sini?" tanya Shabita, sebab tidak ada suara apalagi anak-anak di rumah itu. Ia pula memandang lantai yang bersih, tanpa mainan apalagi noda bekas bermain.
"Aku mandul," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh, sudah berobat?" tanya Shabita prihatin.
"Sudah ke mana-mana. Bahkan menempuh jalur sesat pula pernah."
"Contohnya?" Shabita meletakkan cangkirnya di meja.
"Ke dukun," jawabnya.
"Nihil?" terka Shabita.
"Ya," jawabnya sambil tertawa miris.
"Bersabarlah," kata Shabita sambil meraih Dara kemudian menyusuinya.
"Anggara itu ... suamimu?" tanyanya.
"Bukannya kamu sudah tahu dari suamimu tadi?" Shabita heran. Kenapa dia bertanya begitu?
"Aku iri denganmu. Punya bayi cantik, sehat, suami polisi, ganteng lagi. Kamu juga cantik. Lihat suamiku, dia wajahnya pas-pasan, kerjanya serabutan. Sedangkan aku biasa saja, mandul pula," keluhnya.
Shabita jadi tidak enak hati mendengar ia memuji keluarganya sementara menghina suami sendiri. Memang di hati ia mengakui kekurangan mereka, tetapi ia tidak ingin menilai kekurangan mereka lantas menjadikannya buruk di matanya. "Itu jodohmu, tak suka pisah. Bila masih sayang diterima dengan rela hati," nasehatnya.
Bela tersenyum, ia kembali memainkan tangan Dara. "Iya, kamu benar. Maaf, aku jadi curhat ke kamu," katanya. "Tidur saja kalau lelah menyusui sambil duduk," sarannya.
"Iya," jawab Shabita.
__ADS_1
* * *
Anggara telah usai bekerja, ia segera menjemput Shabita dari rumah sahabatnya.
"Kalau lelah, bermalam saja di sini," tawar Boby. Lelaki bertubuh kurus, berbaju kaus oblong berwarna jingga.
"Enggak enak. Lebih baik pulang saja," tolak Anggara sambil meraih Dara dan mengangkat tas pakaian bayinya.
"Kasihan, istrimu sama anaknya harus jalan jauh. Lagipula rentan belum empat puluh hari," nasehat Bela.
"Saya pulang saja," tolak Shabita di saat Anggara sedang kebingungan.
"Oke, lah!" Boby hanya mendesah. Ia kemudian masuk ke dalam bersama istrinya.
"Kamu tidak papa jalan? Maaf, ya. Harusnya aku bawa motor saja walaupun dekat, kan ada kamu," kata Anggara.
"Enggak masalah," jawab Shabita sambil menggandeng lengan Anggara.
"Kamu kapan hamil? Coba lihat temanku itu, baru nikah sudah hamil istrinya?" sindir Boby pada Bela.
"Kamu kapan ganteng, Bang. Coba lihat temanmu itu. Dia nikah dapat suami temanmu yang ganteng sejagat. Terus kamu kapan gantengnya?!" bentaknya sambil menaruh sepiring nasi dan lauk di atas meja makan.
"Berapa duit?" sindir Bela.
Ditanya masalah uang, Boby lantas tertawa gelak. "Kalau ada kita sudah ke dokter bikin bayi tabung."
"Nasibmu," ejek Bela. Ia menghampiri Boby. "Kamu nyesal nikah sama aku, ya Bob? Enggak pengen gitu cari istri lagi biar bisa punya keturunan?"
"Satu saja susah ngasih makan, masa mau nambah lagi."
"Kali aja ada orang kaya khilaf yang mau."
"Istri cukup satu di dunia. Enggak usah banyak. Malah dosa nanti aku menyakitimu."
***
Anggara memersilakan Shabita untuk masuk lebih dahulu, kemudian barulah ia masuk dan mengunci pintu. Shabita menaruh Dara yang sedang tertidur di kasur. Ia segera hendak mandi, tetapi lupa ada Anggara di dalam.
"Sorry!" katanya cepat sambil menutup kembali kamar mandi. Dasar ceroboh, bikin malu aja! Ia mendengar suara Dara sedang menangis histeris.
"Sayang! Anak kita kenapa?" seru Anggara dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Shabita tidak menjawab, ia bergegas ke kamar mereka. Alangkah terkejutnya ia melihat sebuah kepala dengan usus menempel di kasur sedang menjilat Dara. "Pergi!" usir Shabita. Ia mencari-cari sesuatu dengan matanya. Sebuah gunting di atas meja rias. "Pergi!" usirnya sambil menakuti Kuyang tersebut.
"Germ!" Mata merah menyala. Ia marah dengan Shabita, tetapi tidak bergerak sama sekali. Malah menantang Shabita.
"Pergi kubilang atau kulukai dengan mata gunting ini!" teriak Shabita.
"Van, ada apa?!" tanya Anggara sambil bergegas mandi dan segera keluar dari kamar mandi.
"Pergi!" bentak Shabita sambil mendekat dan siap menusuk wajah Kuyang tersebut.
"Van," panggil Anggara. Di saat Anggara mendekat, Kuyang itu segera terbang ke langit-langit rumah mereka. "Kamu kenapa? Sinikan guntingnya!" rebut paksa Anggara. "Anakmu bisa luka karena ini," omelnya sambil menaruh kembali gunting itu di meja.
"Dara ...."
"Iya, kenapa lagi?"
"Diganggu Kuyang!"
Sontak Anggara memandang Shabita, kemudian ia merangkul Dara yang sedang menangis. Apa perempuan yang tadi pagi itu? Anggara curiga.
Shabita duduk di tepi ranjang, kemudian ia menangis. "Aku takut," isaknya.
"Jaga anak kita. Aku mau salat dulu," pamit Anggara.
Shabita segera memeluk erat Dara. Ia segera menyeka tubuh Dara dengan air hangat yang tadi sudah dipersiapkannya untuk Dara sebelum ia akan mandi dan kebetulan ada Anggara di sana.
Seusai salat, Anggara kembali memangku Dara. Ia melihat Shabita sedang melamun memandang ke bawah. "Ngapain melamun? Apa mikirin pernikahan kita?" goda Anggara. "Sebentar lagi, sayang."
Shabita kini berubah sikap, yang tadinya hanya meluruskan betis. Kini ia sekarang merangkul kedua lututnya sambil mendesah kecewa. "Kamu nggak keberatan setiap hari selalu saja seperti tadi? Kalau kamu nggak kuat mending keluarin aja kami dari sini," katanya sambil membenamkan kepalanya di antara kedua lutut.
"Ngomong apa kamu, aku nggak dengar, tuh!" ejek Anggara.
Shabita meraih bantal kemudian melempar Anggara tanpa melihat apalagi mengubah posisi tubuhnya.
"Hahaha ...." Anggara tertawa gelak karena lemparan kekasihnya meleset. "Tiap hari gini malah seru. Rame nggak sepi kayak rumah tetangga kita."
"Ngomong apa orang ini? Sinting!" Mau tidak mau Shabita tertawa. Ia tidak mengubah posisinya sama sekali. Namun, dari tawanya dan gerak punggungnya yang bergetar, Anggara tahu Shabita sudah kembali tenang.
Semoga foto di bawah ini sesuai dengan Anggara dan Shabita.
__ADS_1