
Shabita tengah berjalan di tengah kota Bangkok. Ia menjadi pusat perhatian, tanpa alas kaki apalagi make-up yang menghiasi dirinya. Tetap memukau, hingga yang melihatnya menjadi bersimpatik dan menaruh kekaguman atas kecantikannya.
"Lihat dia, cantik sekali," ucap seorang Ibu. Berbaju merah dan sedang berbisik dengan temannya berbaju kemeja jingga.
Shabita tetap sama, baju yang dikenakannya pada waktu itu. Yaitu dres berlengan panjang berwarna biru muda. Ia memandangi orang-orang yang memandang ke arahnya. Gadis itu terus berjalan dan nyaris tertabrak sebuah mobil, bila si pengemudi tidak mengerem mendadak. Semua terkejut tidak terkecuali dengan si pengendara itu sendiri. Shabita tidak marah, malah bersikap tenang dan terus berjalan tanpa memedulikan mereka yang memandangnya dengan ketegangan di hati masing-masing.
"Sayang, mau makan di mana kita?" tanya seorang lelaki memakai kemeja biru pada istrinya yang tengah mengandung lima bulan.
Shabita memandang pasangan suami-istri yang berjalan maju hendak melewatinya. Gadis itu diam di sana sambil tersenyum memandang perut buncit istri orang itu.
"Aku ingin makan yang manis-manis," rengeknya sambil berjalan menggandeng lengan suaminya.
Mereka melewati Shabita. Em, nangka masak! Shabita menghirup udara sedalam-dalamnya dan mengunyah sesuatu. Darah keluar dari bibirnya. Ia tersenyum puas dan menyapu bibirnya.
"Hah! Sayang! Perutku kempis, ke mana anak kita!" teriak istrinya panik di tengah keramaian kota.
"Ti-tidak mungkin?!" Suaminya meraba perut istrinya yang kempis.
Mereka berhenti untuk melihat dan kendaraan menjadi macet lantaran keributan itu. Sementara Shabita berlalu dengan mengusap perutnya yang telah kenyang sehabis memakan janin mereka.
***
Talia sedang mengobrol bersama Sean. Ia masih penasaran dengan pemuda di sebelahnya ini. Sesekali ia melirik Sean yang memandangnya secara diam-diam. Entah apa yang dipikirkannya?
"Bagaimana cara kita menemukannya?" tanya Talia. Saat ini mereka tengah berada di teras atas rumah itu.
"Aku bingung," jawabnya.
"Kamu, kan dukun, kok bisa bingung?" sindir Talia. Gadis itu mentertawakan pemuda itu dalam hati.
"Aku bukan Tuhan! Mana bisa bertindak semauku!" protesnya. Pemuda ini memandang Talia dengan rasa jengkel.
Gadis jelita bermata sedikit sipit ini memalingkan wajahnya, ia tertawa tanpa suara melihat Sean murka. "Aku cuma tanya, kenapa marah?"
__ADS_1
"Pertanyaanmu seperti menuduhku tidak becus dalam mengerjakan profesi yang kujalani sekarang!" jawab Sean. "Lagipula ibumu yang cantik itu sudah pasti bertambah sakti dan sulit untuk diatasi oleh dukun lainnya."
"Cantik?" Talia tersinggung. Ia tidak senang ibunya dipuji orang lain selain ayahnya sendiri.
"Emangnya harus bilang jelek?!"
"Dari tadi, kok kamu ngegas melulu, PMS?" singgung Talia.
"Aku pusing, lagi cari cara untuk mendeteksinya." Sean menyadarkan diri pada kursi dan memandang ke atas.
"O...." Bibir Talia membulat.
"Anggara mana?" tanya Sean. Ia menoleh kesemua yang dilihatnya.
"Ku-cutikan," jawab Talia sembari memainkan jemarinya pada pegangan kursi yang ia duduki di teras itu.
"Oke, baiklah. Sampai nanti ibumu ditemukan dia harus ada bersama kita!" tekan pemuda itu.
"Perutku sakit!" potong Sean cepat. Ia segera berlari meninggalkan Talia.
Sial! Kenapa dia selalu menghindari pertanyaanku ini? Talia kesal. Ia memandang kepergian Sean hingga pemuda itu tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Sepertinya memang harus bertindak sendiri kalau tidak mau Talia tahu semuanya. Pikir Sean. Pemuda itu kini sedang berada di belakang pintu.
Sariani diperintahkan untuk mencari Shabita. Roh cantik itu melayang di udara dan menatap ke bawah mengawasi setiap orang yang ia lihat. "Sudah sepuluh hari, bila dia tidak disadarkan, Shabita bisa tewas!" Pesan yang diberikan Sean masih diingatnya dan terus menjadi penyemangatnya untuk terus berusaha mengambil alih gadis itu kembali.
Sariani turun ke bawah dan berbaur dengan manusia. Ada yang berjalan menembus dirinya ada pula yang melewatinya. "Ke mana harus kucari dia?" gumamnya.
Sariani melayang, memandangi wajah mereka satu per satu. Ada yang menyadari keberadaannya dan mengusap tengkuknya, adapula yang tetap tidak terpengaruh oleh kehadirannya di situ.
***
Di sebuah ladang yang gelap dan hanya di tumbuhi rumput menguning layu. Lay mengadu pada ratu. Ia menceritakan seluruh kejadian yang dilihatnya waktu itu. Ratu mengeram dan seringai terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Dia lagi! Apa satu per satu dari kalian semua tidak mampu menandingi dia yang hanya sedirian saja?!" bentaknya.
"Maaf, jikalau kami mampu, manalah mungkin mereka semua tewas dan hanya tinggal saya sendiri dibiarkan hidup untuk sekadar menyampaikan pesan ini," bantah Lay. Ia tidak menyenangi sifat sang Ratu yang dianggapnya kurang bijak dan terlalu egois.
"Hem, memang kalian saja yang tidak becus bekerja!" Selalu saja ada alasan untuk membantah sangkalan Lay.
"Ibu! Kenapa kau begitu egois?! Saya tidak suka dengan caramu mengorbankan kami semua!" teriak Lay. Ia muak dengan makhluk kepala itu.
"Anak nakal! Berani kamu membentak ibumu sendiri?!"
"Saya muak menerima perintahmu, mengikuti jalanmu! Semua salah dan semua tidak ada yang benar. Bisakah sedikit saja memahami kami?" Lay memandang ratu yang murka.
"Kalau tidak mengingat kau adalah anakku, sudah pasti kukirim kamu ke neraka sekalian bersama mereka!" ancamnya.
"Egois, tidak punya perasaan. Tidak takut dosa!" hardiknya. Ia segera meninggalkan ibunya.
Beraninya dia melawanku! Makan apa anak itu atau ada yang memengaruhinya.
Lay ke luar, ia sempat memandang Talia yang melihat ke arahnya. Gadis itu membuatnya salah tingkah. Ia adalah anak dari seorang pelayan yang kebetulan menjadi ratu bagi para Krasue. Bukan maksudnya untuk mencelakai keluarga itu, tetapi ia pun tidak bisa lepas dari pengaruh ibunya. Selama ini pemuda itu bersikap netral tanpa memihak siapa pun. Terkadang timbul rasa takutnya bila Talia tahu apa yang mereka lakukan di belakannya. Ditambah ibunya mendapatkan ancaman yang mengerikan dari gadis cantik yang diam-diam dari pandangan pertama sudah membuatnya berdecak kagum.
Talia mendesah memandang Lay di bawah sana. Ia mencurigai pemuda itu juga ikut andil dalam kecelakaan Shabita. Namun pemuda itu memiliki sifat abu-abu yang kadang sulit ditebak. Itulah kenapa ia tidak berani asal menuduh sebelum ada bukti nyata.
"Aku belum menemukannya!" kata Sariani.
Talia terkejut saat Sariani bicara dan tiba-tiba muncul di depannya. "Tidak bisakah kamu menyapa dulu sebelum bicara?!" bentaknya. "Begini saja, aku akan perintahkan semua suruhan papa untuk mencarinya."
"Baiklah, tapi kuharap ayahmu jangan sampai tahu tentang ini semua!" pesannya.
"Aku tidak janji. Bila tidak ketemu aku terpaksa mengadu!" ancam Talia.
"Baiklah." Sariani lenyap kembali.
Talia memijat keningnya, ia penasaran dengan mereka berdua. Banyak sekali yang menjadi pertanyaan baginya. Namun mereka seperti sengaja menyembunyikan kenyataan itu.
__ADS_1