TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
83


__ADS_3

Anggara masih demam, terpaksa Shabita terus merawatnya. Talia pun berada di sana untuk membantunya, ia merasa senang lantaran ibu tirinya sudah berdamai dengan Anggara.


"Kalau aku pacaran dengan Anggara, apa pendapatmu?" pertanyaan itu masih tergiang selalu di ingatan Shabita. Akan sangat gawat sekali bila Talia bercerita tentang Anggara pada ayahnya.


"Kenapa kamu melamun?" tanya Anggara. Pemuda itu bersandar pada kepala ranjang.


"Kalau seandanya Talia menyukaimu bagaimana?" tanya Shabita.


"Em, nggak mungkin!'' bantah Anggara.


"Mungkin saja," belanya. "Apa kamu akan memilihnya?" tanyanya lagi.


Anggara menggeleng lemah. "Untuk apa? Ada kamu, kok."  ... "Itu juga bisa jadi alternatif, daripada kabur mending nikahi dia, jadi kita selingkuh di belakangnya," canda Anggara.


Shabita memandang Anggara, ia tidak terkesan dengan candaan itu, justru sebaliknya ia kesal. "Yang kutakutkan bukan itu, tapi ayahnya," ungkap Shabita.


"Aku belum pernah bertemu langsung, jadi mana mungkin ada masalah, kan?"


Shabita memandang pemuda itu, seraya mendesah. "Siapa namaku?" tanyanya.


"Rani?" jawab Anggara ragu, lantaran Shabita malah bertanya namanya yang sudah jelas dia sendiri yang memerkenalkan dirinya sebagai Rani.


Shabita menggeleng seraya tersenyum. "Va-ne-sa!" ejanya.


"Vanesa?" gumam Anggara. "Seperti pernah dengar?"


"Sha-bi-ta," ejanya lagi.


Anggara membesarkan bola matanya. "Siapa kamu sebenarnya?"


"Menurutmu siapa?" tanya Shabita.


Anggara menggeleng lemah. "Aku tidak tahu. Tidak ingat!" Kemudian Anggara menerawang, ia pernah bermimpi memanggil nama itu, bahkan rekannya pernah menyebutkan nama itu. "Apakah kamu gadis yang kucari selama ini?"


"Sussttt..... Nanti didengar Talia," bisik Shabita.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya pemuda itu lagi.


Shabita tidak menjawab, ia malah berjalan ke pintu dan menguncinya kemudian kunci itu sengaja dibiarkan berada di lubangnya agar Talia tidak masuk ke kamar. "Apa kamu tidak menyesal bila bersamaku, Anggara? Aku takut kamu menyesal kemudian sia-sia," kata Shabita. Ia duduk di sisi ranjang.


"Tidak," jawab Anggara.


Shabita berbaring di sisinya, ia memejamkan mata. "Tidurlah," katanya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?"

__ADS_1


Shabita membuka matanya, Ia berbalik membelakangi pemuda itu, terdengar isak darinya, membuat Anggara segera merangkulnya. Shabita berbalik dan balas merangkul pemuda itu. "Kenapa kamu datang lagi, Anggara? Kenapa kamu tidak menjauhi walaupun sudah melupakan masa lalu kita," isaknya.


"Masa lalu? Apa maksudmu?" Anggara melepaskan Shabita, ia kini menuntut agar dijawab rasa penasarannya. "Ceritakan semua, ceritakan masa lalumu itu! Kenapa kamu bilang begitu tadi?"


"Ak--aku ... bingung harus mulai dari mana?' Shabita menatap Anggara. "Aku takut pada Toni," adunya.


"Kenapa kamu tinggalkan aku, kenapa?"


"Aku takut!" tekan gadis itu. "Aku benar-benar takut kehilanganmu," ucapnya lirih.


"Kalau takut kenapa meninggalkanku? Kenapa, Rani?"


"Vanesa, kamu dulu memanggilku begitu," sangkal Shabita. "Van ... Vanesa, aku suka caramu menyebut namaku, suka mendengar suaramu." Shabita menggapai wajah pemuda itu. "Bagaimana dulu gigihnya kamu meraihku, selalu ada di sisiku walau aku terus saja menolakmu." Anggara meraih tangan Shabita dan mengecupnya. Ia hanya mendengarkan gadis itu bercerita. "Bukan mauku meninggalkanmu, tapi terpaksa. Lantaran Toni, dia memaksaku membuat pilihan." Shabita diam, ia memandang Anggara.


"Sudah, jangan cerita lagi." Anggara merangkul erat Shabita. "Tidak peduli sekarang apakah dulu kita pernah bertemu atau tidak, yang penting sekarang kamu bersamaku. Kamu suka kupangil Vanesa, kan? Akan kupanggil begitu."


"Kamu tidak marah?"


"Tidak, kalau marah untuk apa aku di sini," jawab Anggara.


Shabita tersenyum, ia tidak tahu sampai kapan mereka akan bertahan. Namun, yang pasti akan bersama hingga akhir.


***


"Mendingan," jawabnya sambil meraih botol mineral di atas kulkas.


"Apa perlu diperiksa untuk memastikan?"


"Enggak usah," tolaknya.


"Bagaimana ibuku, baik?" Talia memandang Anggara yang menuang air ke dalam gelas.


"Lumayan daripada kemarin."


"Em, aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?" Anggara melirik sekilas.


"Kenapa waktu di pesta kamu tidak membawa pacarmu? Bohong, ya?" goda Talia.


"Ngapain bawa pacar waktu bertugas?" sindir Anggara.


"Oh, gitu," gumam Talia.


"Udah, ya. Aku mau istirahat dulu." Anggara meninggalkan Talia.

__ADS_1


"Ngapain kamu masuk ke kamar ini?" tanya Shabita. "Harusnya kembali saja ke kamarmu," usirnya.


"Tiba-tiba kepalaku pusing sekali." Anggara memijat keningnya.


"Alasan! Bilang saja tidak mau pindah," ejek Shabita.


Anggara tertawa lepas. Ia menghampiri gadis itu. "Jangan gitu lagi."


"Huh, kapan kita pergi?" tanya Shabita.


"Nyari waktu yang tepat," jawab Anggara.


"Aku nggak mau Toni datang dan menemuimu. Bila itu terjadi larilah dan tinggalkan aku di--"


Anggara menutup bibir Shabita dengan telapak tangan kanannya. "Jangan bilang begitu. Aku pasti membawamu, tunggu saja ya."


Shabita mendesah, ia menepis Anggara. "Nggak tahu, aku capek berharap bahagia."


Ponsel Anggara berdering. "Ya, Sean."


"Serius kamu pengen kabur sama bini orang?" tanya Sean. Ia sekarang sedang berada di caffe.


"Sudah baca pesanku, kan? Ya, berarti begitulah."


"Gila! Nanti Talia bisa menghabisi kalian berdua."


"Biarin aja," jawab Anggara enteng. Ia mengusap mesra rambut Shabita.


"Aku cuma bantu kalian lari saja, untuk biaya jangan harap aku sudi membantu!" tekannya.


"Ish, pelitnya!" ejek Anggara.


"Dasar! Kamu itu kere, sok pakai bawa bini orang, mana bini orang kaya lagi."


"Udah, ah diam! Pokoknya dua hari lagi."


"Oke, dua hari." Sean menutup sambungan telepon mereka.


"Apanya yang dua hari?" tanya Shabita.


"Siapkan dirimu. Dua hari lagi kita pergi," bisik Anggara.


"Gila, tu anak. Bisa-bisanya kabur tanpa persiapan," gumam Sean.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2