TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
139


__ADS_3

Dara menghampiri Lani saat Shabita tengah memasak di dapur, sedangkan Anggara bekerja dan Talia sedang menyapu. "Adik, cayang!" Dara mengusap lembut rambut Lani.


Lani tampak tertidur pulas. Dara naik ke kasur kemudian tidur di sebelahnya. Talia menaruh sapu di ujung dapur, ia sempat berhenti untuk melirik Dara. Gadis cilik itu tengah tertidur di samping adiknya. Shabita usai dengan kegiatannya. Ia kemudian kembali ke kamar untuk melihat Lani. Dengan langkah pelan tidak hendak membangun kan mereka berdua. Ia meraih selimut kemudian diselimuti.


"Kamu sudah beres?" tanya Talia.


"Udah, nih. Aku mau nyuci dulu."


"Eh, jangan! Biar aku saja. Baru saja lahiran udah kerja berat." Talia lantas pergi ke kamar mandi.


"Ham, aku mandi lagi, deh. Gerah." Shabita kemudian meraih handuk.


Dara terbangun, ia memandang Lani yang kini merengek. "Adik manis, jangan nangis! Uss, uss...."


"Eh, kenapa ini?" Shabita usai mandi kemudian menghampiri Dara. "Kamu diganggu kakak, ya?" Shabita memangku Lani.


"Bukan! Dala cuma tidul di situ!" protes Dara. Ia tidak senang dituduh, walau maksud Shabita sebenarnya hanya bercanda.


"Masa? Bohong, nih?" goda Shabita.


"Benewan!" bantah Dara.


"Kakak nakal, ya, Dek."


Kamu cuma anak mamamu. Bukan anak papa Anggara. Kamu akan dibuang oleh mama dan papa bila mereka punya adik baru.  Dara masih ingat perkataan hantu tersebut. "Dala nggak nakal!" teriaknya.


"Susst, adik kecil bobo!" peringatan Shabita.


"Dala ngga mau adik! Mati aja dia!"


"Dara!" bentak Shabita.


Dara melompat dari kasur. Ia pergi ke teras dan menangis di sana. "Mati aja Lani! Dala nggak mau punya adik!"


Talia duduk di sebelah Dara. Ia menghela napas kemudian menyatukan tangan di pangkuan. "Dara marah, capek?"


"Dala nggak mau punya adik!"


"Kalau gitu mau Dara apa?"


"Mati aja adiknya!"


Talia memandang Dara. Anak seusia Dara memang banyak yang cemburu dan merasa takut tidak disayang lagi apalagi sampai ada yang menghasut maka akan tambah jadi. "Papa Anggara nggak disayang lagi?"


"Cayang!"


"Sayang mama atau papa?"


Dara berpikir, ia memandang ke atas. "Papa."


"Kalau sayang papa, Dara harus sayang adik."


"Nggak mau! Dia ambil papa Dala!"


"Siapa yang bilang?"


"Kak, Dala anak ciapa?" Dara memandang wajah Talia.


"Papa Anggara, dong."

__ADS_1


"Dala tau, Dala bukan anak papa," ucapnya pelan.


"Susst.... Didengar papa nanti Dara kena marah. Nggak disayang lagi."


Dara menangis, ia mengusap airmata sendiri. Talia segera merangkul Dara. "Bila sayang papa maka Dara harus sayang Lani."


"Tapi dia ambil papa!" bantah Dara.


Talia memangku Dara. "Coba Dara sayang papa nanti, ya. Ajak papa main."


"Papa pulang main cama Lani!" Dara berteriak marah.


"Hums," desah Talia. "Nanti kakak yang ngomong sama papa biar sayang Dara."


Dara diam, ia berbaring di pangkuan Talia. Shabita menggendong Lani, ia sempat heran mendengar tangis dan teriakan Dara.


***


Anggara pulang, ia langsung menuju Lani. Pemuda ini mencium kening Shabita kemudian memangku Lani di atas kasur.


"Lani tadi main apa?" tanyanya pada bayi yang kini terlihat sedang bermimpi sambil tersenyum. "Ih, lucunya anak papa."


Dara diam di sofa bersama Talia. Ia enggan ke kamar untuk melihat Lani. Talia memintanya diam kemudian menuju ke kamar. "Anggara, aku harus ngomong sebentar."


Shabita heran, tetapi ia hanya diam saja. Anggara membawa Dara sembari menghampiri Talia. "Apa?"


"Dara perlu perhatianmu. Dia marah kamu lebih sayang sama Lani ketimbang dia."


Anggara lupa bila biasanya ia selalu menemui Dara sepulang kerja. Kini ia hanya fokus ke Lani. "Di mana dia?"


"Di sofa." Talia menyingkir sehingga Anggara dapat melihat Dara.


"Ciapa, nggak kenal?" Dara mengikuti tingkah Talia. Ia bergeser saat kepala Lani akan menyentuh lengannya.


"Kok, menjauh? Dara nggak sayang papa lagi?"


"Mayah!" Dara cemberut.


"Kok, malas? Sini, dekat papa sama Lani."


Dara melirik Lani, kemudian memandang Anggara. "Adik nakal! Dala nggak mau!"


"Coba Dara lihat. Adiknya kecil, tidak bisa ngomong. Dia juga tidak bisa gerak. Tuh, diikat, kan?" Ia menyodorkan Lani untuk dipandang Dara. "Bisa, tidak adik pukul Dara?"


Dara menggeleng. "Enggak."


"Bisa Lani marah?"


"Enggak."


"Lani bisa bergerak?"


"Dia diikat celimut, Papa!" bentak Dara. Ia jengkel ditanya Anggara. "Mana bica oyang geyak kalau diikat celimut!" omelnya.


Anggara menggeleng sembari tertawa pelan. Dara memandang wajah Anggara. Ia sangat suka memandang wajah tampan ayahnya ini. "Dala cayang, Papa."


"Papa juga. Sini kita ketawain adik sama-sama." Ia meraih Dara kemudian menunjuk hidung Lani. "Coba lucu, kan? Mirip apa?"


"Wotel!"

__ADS_1


"Masa?"


"Iya!" seru Dara. Lani menangis, Dara panik. Ia takut Anggara marah, maka langsung memandang ayahnya.


"Lani cengeng. Masa gitu aja nangis."


Dara memandang Lani. "Adik, cengeng?"


"Iya, Dara kuatkan? Enggak cengeng kayak Lani, kan?"


"Dala kuat!"


"Coba sayang. Dia diam kalau disayang."


Dara mengusap kepala Lani dengan lembut. Lani diam, ia meresapi usapan Dara. "Adik diam. Pintal adiknya," puji Dara.


"Kalau dia nangis, Dara ginikan aja, ya?"


"Ya!"


"Eh, nangis lagi."


Dara takut, karena ia berseru makanya Lani kembali menangis. Ia lantas bergeser, takut dimarah Anggara. "Enggak mau. Adik nakal."


"Masa? Eh, adiknya pipis. Coba lihat."


Dara melirik Anggara yang segera menggantikan popok Lani. "Maca pipic nangic?"


"Iya. Bam, adiknya nakal!" Anggara menampar pelan sofa.


Dara tertawa gelak melihat kelakuan Anggara. "Bam, nakal!" Ia mengikuti tingkah Anggara.


"Papa taruh ini dulu di tempat cuci. Jaga adik, ya."


Dara memandang Lani yang kini diam di sofa. Ia mendekat mencium pipi Lani. Saat Anggara datang, ia bergeser cepat.


"Adiknya tadi nakal?" tanya Anggara. Ia mengusap sayang kepala Lani.


"Enggak."


"Papa taruh di dalam adiknya, ya. Nanti kita main."


Dara tersenyum, ia mengatur rapi duduknya. "Papa," sebutnya saat Anggara kembali dengan membawa sebuah camilan untuknya.


"Ini stik kentang. Papa tadi beli di jalan." Anggara menarih kentang di meja kemudian memangku Dara. Ia kembali meraih stik. "Mamam, ya?"


Dara mengambil satu kemudian disuapkan ke Anggara. Ia mencium pipi Anggara. "Ini untuk Dala." Ia kemudian mengambil untuk dirinya.


"Tadi Dara ngapain aja?"


"Main sama adik, tapi mama mayah!" adunya.


"Dara nakal?"


"Lani nakal. Dala cuma pegang pipi. Dia nangic!"


"Oh, Lani nakal, ya. Cengeng!"


Dara kembali memandang Anggara. Ia mengusap pipi Anggara dengan sangat lembut. Entah kenapa ia sangat sayang daripada Shabita. Sangat, hingga tidak mau terpisah. "Jangan buang Dala!" pintanya dalam hati.

__ADS_1


Seperti mengerti dan mendengar perasaan Dara, Anggara merangkul Dara dengan erat. "Papa sayaaang, Dara."


__ADS_2