
Dara duduk di ruang tamu bersama Bagus. Ia meraih camilan di meja. Sementara Lani telah terlelap.
"Bagus, kamu punya pesan, tuh!" Ia memberi isyarat lewat lirikan saat ponsel Bagus bergetar di meja.
"Paling Zesi."
"Zesi, sering kirim pesan ke kamu?"
"Nggak juga."
"Kayaknya tu anak naksir berat. Jadian sana!"
Bagus mendorong wajah Dara. "Minggir! Kepalamu menghalangi penglihatanku menonton TV!"
"Ish, marah."
Namun, Bayu hanya diam saja. Dara kembali memakan camilan. Bayu melirik baju Dara yang kancingnya terlepas satu. "Tutup!" Ia menampar dada Dara dengan bantal sofa.
"Galak banget! Orang di rumah juga. Nggak ada siapa-siapa."
Tok, tok, tok. "Buka pintu sana!"
"Iya!" Dara segera menuju pintu. Ia membuka pintu perlahan. Merasa heran lantaran tidak ada orang sama sekali. Ia tidak tahu bahwa Maika melewatinya dari atas. "Aneh, kok tidak ada orang, ya?" Ia kemudian kembali. Justru terhenti saat melihat sesosok perempuan dengan baju putih duduk di sebelah Bagus. Dara kemudian berpura-pura tidak melihat. Dara mengambil duduk pula di sebelah Bagus.
"Eh, tumben bersandar." Bagus terkejut saat Dara malah bersandar padanya.
"Sayang, kangen!" Dara mencoba memanasi Maika. Terlihat sekali Maika sedang menatap tajam ke arah Dara.
"Wah, kangen apa ini? Tumben?"
"Kepalamu yang tumben. Ada hantu di sampingmu," bisik Dara.
"Oh, nggak masalah. Santai saja."
"Eh?" Dara tidak paham dengan Bagus. Pemuda ini justru merangkul Dara.
"Tuh, film seru!" tunjuknya pada televisi.
"Bagus ... Bagus," bisik Maika.
Bagus tidak peduli. Lagipula tidak melihat. Hanya saja ia percaya pada Dara. "Dara, kamu kalau aku gajian mau beli apa?"
Dara memandang Bagus. "Kamu mau traktir aku?"
"Iya."
"Em?" Dara mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk kanan. Ia sedang berpikir.
"Apa mau ditabung untuk biaya pernikahan kita," bisik Bagus.
"Ish!" Dara segera mendorong pelan pipi Bagus.
"Kenapa?"
"Kuliah dulu!"
"Yang bilang mau nikah sekarang siapa?"
"Kamu!"
"Sembarangan. Aku harus cari kerja yang upahnya cukup buat kita dulu."
"Oh, kira kamu mau nikah sekarang," ledek Dara. Ponsel Dara bergetar di samping ponsel Bagus. "Papa?" Dara membaca nama kontak pada layar ponsel.
"Angkat saja."
"Halo, Pa?"
__ADS_1
"Papa, lagi di rumah keluarga calon suami tantemu, nih. Kamu di mana?"
"Di rumah, Pa."
"Ada Bagus di sana?"
"Nggak ada!"
"Suruh dia temani kamu."
"Eh?" Dara terkejut. "Kok, boleh, kemarin dilarang?"
"Percuma dilarang. Bagus ada di sana, kan?"
"Nggak ada, kok, Pa."
"Ada."
"Enggak ada!"
"Ada. Pokoknya papa bilang ada ya, ada!"
"Nggak ada, Papa!"
"Ada! Harus bilang ada!"
"Gimana, sih, orang nggak ada juga dibilang ada?"
"Ya, sudah kasih teleponnya sama Bagus!"
"Bagus nggak ada!"
"Sini, biar abang bicara sama papamu!"
"Nih!" Dara menyerahkan ponsel dengan marah. Ia lantas melipat kedua tangan kemudian cemberut. "Apa lihat-lihat, naksir?!" Ia lupa harus berpura-pura tidak melihat Maika.
"Iya, Papa mertua!"
"Kamu jangan macam-macam. Anak saya masih kecil. Awas kalau ketahuan macam-macam!"
"Iya-iya!"
"Sudah. Aku tutup ini. Awas kalau kami ini itu!"
Bagus menaruh ponsel di meja. "Bapakmu itu bikin kesal." Bagus mendesah. "Eh, Dara. Kamu mau makan?"
"Emang makan apa tengah malam?"
"Yuk, ke luar daripada di sini sumpek. Kita cari angin."
"Ke mana?"
"Nongkrong."
"Tengah malam?"
"Besok. Ya, sekarang, sayangku!" Bagus meraih jaket merah. Ia menutupi tubuh Dara dengan itu.
Maika mengikuti mereka. Dara dan Bagus pergi dengan motor. Tidak lama mereka malah singgah di tepian Samarinda.
"Gus, kok di sini?"
"Tuh, ada abang bakso. Kita makan itu aja."
Dara duduk di bangku panjang yang telah disiapkan. Ia masih melihat banyak pejalan kaki. Jalanan masih ramai. "Aku belum pernah keluar malam."
"Kalau begitu sering-sering kita keluar." Bagus mengambil duduk di depan Dara.
__ADS_1
"Masuk angin, tahu!" Maika duduk di sebelah Bagus. Ia memperhatikan makanan yang disajikan untuk mereka. Saat Dara hendak makan. Gadis ini tidak jadi ia meringis melihat cacing menggeliat.
"Kenapa, sayang?" Bagus heran saat Dara tidak jadi makan.
"Aku tidak nafsu."
"Mungkin mau yang lain? Itu ada pedagang gado-gado."
"Enggak, ah. Lihat cacing gemuk aja udah bikin merinding. Gila, kali masa aku diberi ini."
"Eh, masa? Ganti, dong!" Bagus segera menukar baksonya.
Maika segera menunjuk bakso agar berubah menjadi bakso sebenarnya. Sementara milik Dara dibuatnya seperti tadi. Dara menaruh kembali sendok yang hendak ia gunakan. "Nggak jadi makan. Malas makan!" Ia melipat kedua tangan. Dara melirik tajam Maika.
Maika tersentak karena mata Dara memancarkan api kemarahan. Bernyala di kegelapan. "Ke-kenapa aku takut padanya?" batin Maika. Ia menghindari tatapan Dara.
"Sini, tukar pu-"
"Biar kumakan! Dia menantang aku akan ladeni!" Dara memakannya hingga habis.
Maika meringis, ia yang mengusili Dara saja jijik. Namun, Dara mengunyahnya hingga habis.
"Wah, habis. Kamu mau nambah?" tanya Bagus.
"Tidak. Aku mau minum. Kalau ada air got kasih saja!"
Maika tersinggung dengan sindiran Dara. "Kenapa dia bisa melihatku?" pikirnya.
"Bayu, ke tempat asyik manalagi, nih?"
"Pulang, yuk. Tidur, besok kita ke kampus."
"Ah, nggak seru. Masa, langsung pulang!"
"Maunya ke mana, sayang?"
"Ke mana, kek. Kalau bisa nggak dijangkau sama pelakor. Heran aku. Nggak manusia, nggak setan ada aja kelakuannya."
"Hus, ngomong apa, sih?"
"Hem!" Dara berdiri. Ia meraih ponsel yang sengaja ditaruh di atas meja.
"Eh, tunggu, aku bayar makanan kita dulu!" Bagus segera membayar.
Dara telah menunggu di motor. "Cepat, ah!"
"Iya, sabar!" Bagus segera mengajak Dara pergi.
Mereka tiba di rumah. Dara segera masuk ke kamarnya sementara Bagus duduk di sofa. Dara duduk dengan keadaan kesal. Maika melirik Bagus. Ia kemudian melayang menembus kamar Dara. Gadis itu kemudian bercermin. Ia melihat Maika di belakangnya. Dara tidak peduli. Hingga Maika malah melindungi pandangannya seolah-olah dirinya berada dalam cermin. Dara tidak peduli dengan tipuan itu. Sudah terbiasa baginya. Dara berpura-pura menatap cermin. Ia kemudian merapikan tempat tidur. Gadis ini meraih selimut.
"Ini." Dara menyerahkan selimut pada Bagus. "Eh!" Dara terkejut saat Bagus menariknya kemudian membungkus mereka berdua dengan selimut.
"Aku nggak bisa tidur sendiri. Kita duduk di sini sampai ketiduran, yuk!"
Dara tersenyum manis. "Nanti Lani-"
"Ah, biar! Nggak macam-macam. Cuma duduk doang. Nonton, tuh. Filmnya seru."
"Nonton melulu," ledek Dara. Namun, Bagus tidak menjawab. Pemuda ini fokus menyaksikan film action kesukaannya.
Maisa mengepalkan tangan. Merasa cemburu dengan kedekatan mereka. "Awas saja!"
Dara melirik Maika, ia tersenyum senang telah memanasi Maika. "Bagus, kamu sayang aku?"
"Hem?" Bagus heran. Dara diam-diam mencubit perut Bagus. "Iya ... iya! Iya!"
"Kurang asam! Kenapa terlihat sengaja memanasiku, sih?"
__ADS_1