TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
15 BALIKPAPAN


__ADS_3

Changhe berjalan mendahului Shabita. Tampaknya pemuda itu sedang terburu-buru. Langkah kakinya langsung terhenti saat menyadari ia telah jauh meninggalkan gadis itu di belakangnya. Changhe menggeleng sambil tersenyum dan kembali menghampiri gadis itu kemudian menariknya agar lebih cepat. Shabita tidak membantah malah mengikuti walau jalannya dipaksakan agar secepat Chang.


"Kenapa tidak pakai mobil saja, Pak?" Mata Shabita melirik ke kanan-kiri jalan. Banyak kendaraan yang melintas di sana melewati mereka.


"Buat apa? Orang dekat, kok."


"Dari tadi?" protes Shabita.


Chang diam, tidak mengubris protes Shabita. Iya, dia tahu kalau mereka sudah berjalan satu kilo dari mobilnya yang mendadak mogok di jalan. Awalnya hanya berpikir "ah, nanti sampai tinggal lompat jadi" berbekal pemikiran itu akhirnya ia menyesalinya. Chang memandang arloji di tangannya. Matanya melotot dan menyerang Shabita dengan tatapan itu. "Kita hampir terlambat!" Ia segera memasang kedua tangannya ke jalan.


"Bapak, ngapain?"


"Nyetopin kendaraanlah, emang kamu lihatnya apa?" balas Chang kesal.


"Joget," jawab Shabita asal.


"Huh!" Chang mengejek.


"Mau sampai kapan? Jalanan ini hanya dilewati kendaraan roda dua, cuma motor dan roda angin. Mobil yang ada cuma angkutan sayur!"


"Apa pun yang lewat sikat! Tak peduli itu kendaraan apa!"


"Sadis," gumam Shabita dalam senyum dikulum.


Sreet! Mendadak truk sayur mengerem. "Woy! Gilakah tu?!" teriak si Sopir. "Mau mati?!"


Chang yang berada di depan truk menghalangi jalannya hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal kemudian melirik pada Shabita. Shabita sempat terkejut, dadanya rasanya hampir meledak. "Ikut, boleh?" Chang merayu.


"Mau ke mana memangnya?" jawab Sopir itu tanpa turun dari mobilnya. Bernada setengah berteriak dan memasang wajah angker.


"Mau ke Balikpapan. Mobil kami mogok tidak bisa jalan sama sekali," jawab Chang sambil menghampiri sopir.


Sopir kurus kering dengan pakaian ala partai memandang Chang kemudian memandan pada Shabita. "Naiklah, saya juga mau antar sayur ke sana!"


Chang segera membuka pintu samping dan menuntun Shabita untuk masuk lebih dulu.


"Ke Balikpapan mau ngapain?"

__ADS_1


"Ada kerjaan," jawab Chang.


"Oh," gumam si Sopir.


"Bapak ke mana, kampung atau kota?" tanya Chang untuk memastikan mereka akan singgah di jalan yang benar.


Si sopir melirik Chang sekilas. "Desa Batakan."


"Kalau gitu kami turun di kota saja," kata Chang.


Sopir tidak menjawab, ia sekarang fokus mengemudi. Chang meraih HP di saku baju kemeja putih yang ia kenakan saat ini. Asyik dengan benda itu. Sementara Shabita sudah menguap beberapa kali karena kelelahan.


"Pinjam bahu saya kalau kamu mengantuk," bisik Chang tepat di wajah gadis itu.


"Muka Bapak dekat sekali," protes Shabita sambil memojokkan diri di pintu mobil.


Chang tersenyum jahil. Ia memandang si sopir yang kini sedang melambai pada pengemudi lain yang berselisih dengan mereka. "Jangan di situ, nanti jatuh. Mending di sini sama saya." Chang menepuk bahunya sendiri.


Shabita cemberut. Wajahnya kini di palingkan ke sisi lain. Rasa kantuk mulai menyerang, membuat gadis itu tidak sadar dan tertidur pulas di bahu Chang. Diam-diam Chang tersenyum.


Makin lama makin buram, kini berganti dengan pemandangan yang mengerikan. Shabita berada di sebuah pantai sedang menatap lautan darah. Bau amis tercium, membuat gadis yang kini tadinya mengenakan kemeja ungu bercelana putih itu, berganti dengan pakaian putih bersih. Rambut tergerai indah menutupi separuh dari wajahnya.


Ombak pantai laut membesar, sehingga lautan darah itu pula meninggi. Terlihat jelas di sana burung elang hitam yang sedang berterbangan memutari permukaan laut. Shabita maju perlahan sambil memerhatikan dengan pandangan menyipit ke tengah laut. Ada sesuatu yang aneh di sana. Burung itu memutar kemudian menukik tajam masuk ke lautan dan disusul oleh yang lainnya. Suara ribut mereka makin berisik membuat telinga Shabita menjadi sakit dan terpaksa menutup telinganya. Ia tercengang saat seekor burung ke luar dari lautan dan terbang ke arahnya. Makin lama burung itu makin membesar hampir sebesar tubuh Shabita. Shabita hanya diam mematung, bingung akan perbuat apa.


"Shabita!" sebut burung itu dengan nada serak dan menyeramkan. "Shabita!" pekiknya.


"Tidak!" teriak Shabita histeris saat burung itu berubah wujud menjadi sesosok kepala dengan usus yang menggelantung di dirinya. Menerobos masuk ke tubuh gadis itu.


"Hey! Binimu kenapa?" tanya Sopir itu yang menyadari teriakan Shabita.


"Hah?" Chang baru sadar. Ia asyik memainkan HP-nya sehingga baru sadar saat ditanya oleh si sopir.


Chang segera menepuk pipi Shabita yang tertidur gelisah. Keringat dingin keluar dari wajahnya.


"Van, Van!"


Shabita bergetar dalam rangkulan Chang. Gadis itu memucat dan mengigau. "Jangan! Aku nggak mau!"

__ADS_1


"Bangun, woy! Van, bangun!"


"Ini, pakai air!" suruh si Sopir.


Chang segera meraih botol mineral yang diberikan padanya. Memercikkan ke wajah Shabita dan kembali menepuk pipi gadis itu.


"Kamu mimpi?" tanya Chang saat Shabita membuka mata dan segera menjauh darinya.


Shabita mengusap wajahnya yang basah oleh air dengan tisu yang diambil Chang di atas dasboar mobil di depannya. Shaita memandang sopir kemudian Chang, dan kini beralih mengawasi setiap jalan yang mereka lalui. "Saya mimpi," jawab Shabita.


"Kalau mimpi jangan yang aneh-aneh. Saya jadi takut." Chang cemberut sambil mengalihkan wajahnya ke depan.


Shabita mengatur posisi duduknya agar lebih rapi. Ia menghela napas dan berucap, "Maaf." Dalam tunduk ia malu karena bermimpi dan mengigau.


"Jangan didengar. Mana ada mimpi bisa diatur," bela Sopir itu sambil mengejek Chang dengan memajukan bibirnya.


Shabita hanya tersenyum tipis. Masih jelas teringat mimpi tadi, sungguh mengerikan. Ia bahkan takut untuk membayangkan lagi. Siang berganti sore.


"Kayaknya kita bakal kemalaman di jalan," gumam Chang.


"Di sana banyak penginapan. Tenang saja," sahut si Sopir. "Apa mau saya singgahkan ke penginapan?" tawarnya.


Chang meminta pendapat Shabita sebelum menjawab tawaran sopir. "Menurutmu gimana? Kalaupun diterusin juga paling besok siang baru bisa ke kantor. Nggak mungkin malam ini juga kita rapat."


Shabita diam, ia mengalihkan pandangannya ke jendela dan berucap, "Terserah," balasnya pelan.


"Iya," kata Chang pada orang itu.


Sopir itu diam saja, namun sebagai jawaban ia melajukan kendaraannya dengan cepat. Shabita menguap lagi, ingin rasanya terlelap, namun takut bermimpi. Akhirnya ia menahannya dengan meraih HP yang berada dalam tasnya dan mulai memainkan benda itu.


"Ayo Turun!" pinta Sopir itu. Ia sudah memarkirkan mobilnya di depan hotel.


Shabita dan Chang memandangi hotel itu dengan rasa tidak nyaman. Kemudian memandang satu sama lain. Si sopir menjentikkan jarinya tepat di wajah mereka berdua.


"Hey, turun!" perintanya.


"Shabita kita bermalam di sini?"

__ADS_1


Shabita hanya mengangguk dan turun dan diikuti oleh Chang. Mobil pergi saat mereka sudah ada di luar. Chang menghela napas bersamaan dengan Shabita yang juga menghela napas. Bermalam di hotel malam ini tidak masalah bagi Shabita asal Chang tidak menjahilinya.


__ADS_2