TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
137


__ADS_3

Di sudut ruang Talia memandang sesuatu yang aneh. Ia tidak pernah melihat itu di sana. Namun, mengapa baru ini melihatnya. Ia bingung, kemudian menghampiri.


"Dara?" Ia terhenti kemudian berbalik. Ada Dara di sana sedang berdiri memandangnya. "Apa yang kamu bikin di sini? Tidur sana, Dara!" Ia menghampiri Dara. "Ha?" Gadis kecil itu lenyap saat hendak menyentuh pundak kirinya. "Dara!" Ia mencari-cari sosok Dara.


"Kakak?" panggil Dara dengan nada mendesah.


"Dara!" Talia berputar mencari suara Dara. "Dara, kamu di mana?" Terdengar suara bayi membahana di seluruh ruang. Ia meremang, tiba-tiba saja merinding. "Suara bayi siapa itu?" Ia berjalan menuju kamar Shabita. Ia memandang terkejut Kuyang di atas bayi yang sedang tidur di sebelah Shabita.


"Hihihi ....!" Kuyang itu menatap dirinya. Membuat silau mata Talia. Ia menutup mata dengan lengan kiri. Suasana berubah menjadi sebuah ladang.


Ini ladang di tempatku? Kenapa bisa di sini? Ia segera mencari-cari suara bayi yang makin menghilang dari pendengaran. "Dara!" Ia yakin Dara pula ada di sana.


"Kakak," panggil Dara. Ia kini berada di atas batu besar tempat ratu Krasue berdiam dulu.


"Kamu kenapa di sini?" Talia segera meraih Dara.


"Kakak. Adik sudah pergi jauh. Papa pasti sayang lagi dengan Dara."


Talia terkesiap. Ia memandang  Dara yang kini berwajah pucat. "Dara, sadar! Dara!" Talia tersentak. Ia terbangun dari tidurnya. Segera berlari kecil ke kamar Shabita. Di sana Dara masih terlelap.


Talia kemudian kembali lagi ke sofa. Ia berbaring kembali. Anggara sempat mengintip Talia masuk ke kamarnya, ia tidak bergerak sama sekali hingga gadis itu pergi.


***


Shabita terbangun di jam 05:00, ia segera mengambil waktu salat bersama Anggara. Dara gelisah, ia terbangun memandang mereka salat.


"Mama," panggilnya saat mereka telah selesai.


"Ya," jawab Shabita seraya menghampiri Dara di kasur.


"Kenapa adik lama?" Dara mengusap perut Shabita.


"Dia bobo. Nanti kalau dia bangun, Dara bisa lihat."


"Ma, papa cayang?"


"Kenapa ditanya lagi, apa kamu nggak sayang papa?"


"Cayang!"


"Coba sana, peluk papamu!" bisik Shabita.


Dara turun dari ranjang. Ia merangkul pinggang Anggara. "Papa, Dala ikut!"


Anggara menggendong Dara. "Ikut ke mana? Papa mau kerja!" 


"Mau ikut!" rengek Dara.


Anggara memandang Shabita yang hendak meraih Dara. "Iya, papa bawa, tapi jangan nakal, ya?"


"Em," jawab Dara. Ia mencium pipi Anggara. "Ikut mamamu, ya. Papa mau ganti baju dulu."


Dara kemudian beralih pada Shabita. "Kamu serius mau bawa dia?"


"Anak kesayangan." Anggara mencubit hidung Dara dengan rasa gemas.


"Kamu, kan kerja?"


"Aku izin dulu, ajak dia main. Sesekalilah daripada dia bosan main sendiri terus."


"Terserahlah," jawab Shabita seraya duduk di ranjang.


"Sayang." Anggara mengenakan seragam seraya menghampiri Shabita. "Kamu ada waktu bersama Talia. Ajak dia jalan-jalan."


"Ke mana?"

__ADS_1


"Ke mana aja terserah. Makan di pinggir jalan atau ke pasar. Pokoknya hiburan, mempung anak sama aku."


"Benar kamu nggak papa?"


"Iya, masa nggak percaya." Anggara meraih Dara. "Anak papa mau jalan sama papa? Mandi dulu sama mama, ya."


"Yuk," ajak Shabita. Mereka ke kamar mandi bersama.


"Kamu nanti jalan saja sama Vanesa, ya. Aku bawa Dara main biar kalian bisa liburan." Anggara berdiri di depan Talia yang sedang memainkan ponsel di sofa.


Talia memandang Anggara yang mengenakan seragam. "Kamu mau bawa anakmu jalan dengan seragam? Emang jalan ke mana, kejar-kejaran sama maling atau kausuruh dia ikut kamu baku tembak?"


Anggara mau tidak mau tertawa mendengar candaan Talia. "Kamu mikirnya ke situ-situ. Terlalu asyik kalau diajak ke sana."


Talia tidak membalas, ia mengalihkan pandangannya pada ponsel. Dara telah siap dengan dres mawar merah muda. Ia berlari mendatangi Anggara.


"Ayo," ajak Anggara sembari menggendong Dara.


"Sayang, papa pergi dulu." Anggara mencium kening Shabita.


"Mama." Dara jua mencium pipi Shabita.


"Dadah!" Shabita melambai di depan pintu.


"Kamu mau ajak aku ke mana?" Tanya Talia.


"Aku nggak tahu," jawab Shabita.


Talia menghela napas. "Cowok di sini nggak ada yang bagusnya, ya. Jelek semua termasuk suamimu."


"Ish, bilang saja masih cinta. Dari kemarin sentimen terus dengan Anggara."


"Asam!" umpat Talia pelan. Jujur masih sayang, tapi kenapa diingatin dia terus?! "Aku mau keluar dulu. Kamu siap-siap, deh." Talia segera keluar mencari udara segar di teras Shabita.


Vanesa keluar membeli sayur. Perempuan itu awalnya buang muka melihat Talia, tapi setelah ia sadar kalau itu bukan Shabita, perempuan itu kemudian mengamit ibu di sebelahnya yang juga sedang sibuk memilah sayur yang akan dibelinya.


"Katanya adik Shabita," jawab ibu berbaju daster biru sembari memilih kangkung.


"Muka mereka beda. Lebih mirip Dara, apa Dara itu ... eh! Bu, sini saya belum selesai ngomong!" Ia memanggil ibu tadi yang telah pergi.


"Ini niat beli atau bergosib?" sindir pedagang lelaki berbaju putih.


"Mau beli, lah!" Ia segera memilih sayur. "Hutang!"


"Lah, kemarin belum bayar!"


Vanesa segera mendatangi Talia yang sedang berkacak pinggang, melihat ke arahnya dengan tatapan heran. "Orang baru atau adiknya yang punya rumah?"


Ondel-ondelkah, ini? Inikah rupa manusianya? "Ya," jawab Talia. Ia masih menilik penampilan Vanesa.


"Oh, kupikir ibunya Dara. Kupikir istrinya mandul."


Mulut orang ini mesti dirobek, tapi kasihan. "Dapat info dari mana itu?"


"Cuma opini, habis mirip sekali sama kamu."


"Hem," gumam Talia.


"Anggara kok, bisa dapat kakakmu, ya. Main dukun?"


Orang ini minta dihajar bolak-balik. "Ke mana-mana ya, cantikan aku." Vanesa berlenggok di depan Talia.


Talia merubah gaya yang tadinya berkacak pinggang menjadi bersidekap. Ia perhatikan lama-lama hingga orang di depannya kikuk.


"Vanesa, ngapain kamu datang lagi!" bentak Shabita.

__ADS_1


"Eh, siapa katamu, Sha? Vanesa?"


"Orang itu nyama-nyamain nama aku!" tunjuk Shabita. Ia telah siap dengan kemeja ungu berenda mawar dan levi's biru.


Talia memandang Vanesa, ia bandingkan mereka berdua. Perempuan itu manis, tapi sayang make up-nya ketebalan. "Sebenarnya ada apa, sih? Dia benci betul denganmu?" bisik Talia.


"Dia itu pelakor, mau rebut Anggara."


Talia memandang kembali Vanesa. "Oh, gitu." Diucapkan dengan keras. "Iya, sih. Di mana-mana cantikan kamu. Dia mah, nggak ada apa-apanya. Cuma modal tampang."


"Kamu!" Shabita mencubit pinggang Talia.


Vanesa tertawa bangga. "Betul itu, kamu saja bisa lihat aku dan dia bagusan mana."


"Tapi, bohong! Wee!" Talia segera berlari ke dalam sembari menarik Shabita.


"Hey! Kurang asam kalian! Awas, ya!"


Talia tertawa gelak di dalam rumah. "Aku mau ganti baju dulu!" Ia berseru sambil masih menahan tawa.


***


Talia menggandeng lengan Shabita. Mereka terlihat seperti adik-kakak. Sama cantiknya, tetapi memiliki daya pikat sendiri-sendiri. Menjadi pusat perhatian orang-orang pasar sudah pasti. Hingga ada yang tersungkur karena fokus memandang mereka berdua.


"Nggak bisa lewat cewek," ejek Talia prlan dengan bibir dimiringkan. "Di mana aku bisa dapat suami kayak Anggara, yang nggak pernah jelalatan?"


"Langka yang begitu," jawab Shabita sembari menariknya ke tempat pedangang sayur.


"Ih, lakimu nyuruh liburan. Bukan nyuruh beli sayur."


"Namanya juga emak-emak. Yang dilirik pasti ini dulu."


Talia menarik Shabita. "Cari mangsa, yuk. Sesekali kamu pura-pura masih gadis. Kita hiburan lirik-lirik cowok sini."


"Selingkuh? Ah, enggak!" tolak Shabita.


"Enggak selingkuh. Kita cuma pura-pura bebas aja. Kamu ya, jangan maulah digoda. Kita cuma hiburan, jalan-jalan seolah-olah masih remaja."


"Okelah, tapi aku nggak sudi, ya, hianiti Anggara!" Ia menuding wajah Talia.


"Negatif mulu." Talia menarik Shabita ke mall depan pasar. "Kita main ke mall, beli ini-itu. Aku yang teraktir."


"Anak tiri, asam! Baru ini ada anak asam kayak kau!" umpat Shabita.


"Karena dirimu pula asam!" balas Talia sembari terkikik. Ia menarik Shabita menuju pintu mall.


Mereka memilih baju untuk Dara. Shabita tersenyum memandang baju kemeja karet warna hitam kilat. Talia memperhatikan wajah Shabita. "Untuk Anggara?"


"Aku ingin beli," jawab Shabita.


"Ambil saja. Nanti kubayar."


"Enggak, kamu bisa bayar yang lain. Aku ingin bayar sendiri ini," tolak Shabita.


Talia menggedikkan bahu. Seorang pemuda menghampiri Shabita, tangannya hendak meraih tas kecil yang dibawa Shabita. Talia melirik, ia hanya berdehem sembari memilih pakaian Dara. Orang itu tampak kaget. Akhirnya tidak jadi.


"Aku suka yang ini juga?" Ia bingung memilih antara yang hitam dan cokelat.


Pemuda tadi berpura-pura memilih pakaian pria. Talia menghampiri Shabita, kini berdiri di tengah-tengah mereka. "Sudah, yang hitam saja." Talia merebut warna cokelat, kemudian memberikan yang hitam. Ia kemudian sengaja meraih tangan pemuda tadi. "Eh, maaf. Mau nyolong jam, malah nyolong hatimu!"


Pemuda tadi wajahnya merah. Ia kemudian pergi. Shabita mencolek Talia. "Genit banget, sih."


"Biarin!" Talia kemudian membawa pakaian yang telah dipilihnya ke kasir.


"Ke mana lagi kita?" tanya Shabita saat mereka telah mendapatkan yang diinginkan.

__ADS_1


"Makan, yuk." Talia kemudian menariknya ke tempat makan yang berada mall tersebut. 


Shabita melirik Talia gadis itu terlihat sedang melirik ke sana-kemari sedangkan ia gelisah ingin pulang merangkul Anggara.


__ADS_2