TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
121


__ADS_3

Keesokan harinya, Tini bergegas bangun lebih dahulu ketimbang Rustam dan ibunya. Ia segera menuju dapur untu berwudu, tetapi ternyata ada sesuatu yang tiba-tiba membuatnya meremang, hingga dirinya memercepat kegiatannya. Akhirnya tidak fokus dan malah memandang dengan lirikan ke sebelah kiri. Ternyata tidak ada siapa pun. Namun, ia berteriak, "Aaa!" Di bawah kakinya ternyata ada sebuah kepala sedang memandangnya. Ia segera berlari cepat menuju ke arah ruang tengah. "Aa ...!" Kembali berteriak disaat kepala dengan isi perut menjuntai itu mencegah langkanya memasuki ruang tengah. Ia segera memutar haluan. Kini berlari menuju dapur, lantaran merasa tidak mempunyai pilihan, akhirnya Tini putuskan untuk membuka pintu dapur dan segera berlari keluar. Ia berlari dengan sekuat tenaga saat Kuyang tersebut mengejarnya dengan melayang tinggi di atas kepala.


"Hihihi ...."


Rustam mendengar suara kikikan Kuntilanak, ia segera bangun. Rustam terkejut memandang Tini, kini berbaring di sebelahnya dalam keadaan gelisah. "Tini, bangun!" Ia menggoyahkan pundak gadis itu. "Tini!" panggilnya dalam nada sedikit berbisik lantaran takut didengar ibunya Tini, sebab mereka tidur di tempat yang sama. "Tini!"


"Tolong!" Tini berlari sekuat tenaga. Ia menyusuri hutan yang gelap.


"Hihihihi ...!" Kuyang itu merendah. Melesat menyerang Tini.


Tini membungkuk saat diserang dengan taringnya. Merasa Tini lolos darinya, maka Kuyang itu kini berbalik kembali menyerang Tini. "Tolong!" teriak Tini. Ia berlari lebih cepat menuju rumahnya kembali. "Rustam, Emak!" panggilnya. Melajukan lari menuju pintu rumahnya. "Rustam!" Tiba-tiba pintu terbuka di saat Kuyang itu hendak menyerang, sebuah tangan meraihnya, ia tahu itu tangan kokoh milik Rustam. Maka digapainya kemudian ia tersentak dari mimpinya.


"Tini!" panggil Rustam. Ia merangkul kepala gadis itu sembari menggerakkan tubuhnya.


"Rustam!" Tini merangkul pinggang pemuda itu. "Tadi seperti nyata. Aku takut!"


Hanya mimpi, tapi suara kikikannya terdengar jelas di telingaku. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Rustam hanya menenangkan gadis itu dengan mengusap rambutnya hingga Tini kembali tertidur pulas. "Suaranya akan terdengar jelas bila berada di sekitarmu. Ia juga memberi tanda sebuah mimpi pada korbannya" masih tergiang jelas diingatan tentang penjelasan Anggara sebelum dirinya mengantar Tini. Ia pun tidak akan bercerita pada Tini, karena hal itu akan membuatnya ketakutan.


Esok harinya Rustam segera membangunkan Tini. Ia tidak mau sampai ibunya mencari dan malah menangkap basah dirinya sedang berdua dengan gadis itu. Maka Tini segera bangun setelah Rustam memintanya untuk segera bangun kemudian pergi. Rustam memandang jendela kamar yang baru dibukanya. Cahaya mentari mengisi ruang, menjadikan dirinya hangat. Ia memandang ke luar jendela untuk melihat aktivitas di luar sana. Semuanya aman, tidak ada sisa keributan semalam.


"Pak, apa Anda mau mandi?" tanya Tini.


"Di sini, mandinya di mana?" tanyanya.


"Ada kali di sini, tapi bila malu ada sumur umum di sini. Maaf, kalau tidak ada kamar mandinya," ucap Tini. Ia sedikit menyesal telah merepotkan Rustam dengan pelayanan yang belum memuaskan dari rumah itu.


"Saya tidak suka mandi," goda Rustam. Tini ternganga. Rustam tertawa dalam hati melihat wajah Tini.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu."


"Di mana kalinya, saya mau mandi?"


"Ikuti saya," pinta Tini.


Rustam meraih handuk dari dalam tasnya. Ia mengikuti Tini menuju ke luar. Tidak jauh, hanya berjalan dua puluh meter saja, kali sudah terlihat di bawah sana.


"Bapak," bisik Tini. "Sebaiknya cepat mandinya. Jangan lama-lama."


Rustam mengerutkan alis, menyipitkan mata memandang Tini. "Kenapa?"


"Di sana banyak perempuan. Saya takut kalau kelamaan nanti ...." Tini bingung meneruskan kata-katanya.


"Sudahlah! Saya cuma mandi, setelah itu langsung balik ke rumahmu." Rustam segera turun menuju kali.


"Lihat yang bening, segar ya," bisik seorang ibu muda bersarung biru di dada.


Rustam tidak peduli, ia tetap mandi walau dirinya dijadikan televisi oleh mereka.


"Orang baru, ya?" tegur perempuan cantik bertubuh sintal memakai kain menutupi dada hingga ke lututnya.


Rustam tidak peduli, ia tetap dengan kegiatannya. Malah terkesan tuli dan buta saat salah satu kain panjang yang menutupi tubuh seorang gadis berumur tujuh belas tahun melongsor dengan mulus hingga kainnya terbawa arus sungai.


"Eh, tilasan mandiku!" Ia segera duduk di air sembari menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan.


Sedang asyik mandi, saat dirinya hendak meraih air untuk menggosok tubuhnya ternyata tidak sengaja meraih kain gadis itu. "Apa ini?" gumamnya. Merasa tidak memiliki dan bukan urusannya kemudian dengan seenaknya Rustam melemparnya ke daratan.

__ADS_1


Gadis itu memandang kainnya yang dilempar Rustam. Ia berdiri, tidak ingat dengan dirinya yang tanpa sehelai benang pun. Membuat teman-temannya melongo memandang kepolosan sahabatnya itu. "Hey! Itu kainku. Kembalikan!" bentaknya.


Tini menutup matanya. Terus terang ia malu sekali karena telah mengenal gadis itu sebelumnya. "Bungul!" ("Bodoh!")


"Darsia!" tegur perempuan bertubuh sintal tadi. "Kamu gila, tubuhmu itu!" bentaknya dalam nada berbisik.


"Ah!" Darsia terkejut. Ia segera bersembunyi di antara para sahabatnya. Wajahnya merah menahan malu setengah mati.


Rustam tetap tidak peduli ia bahkan meneruskan mandinya. Sempat melihat, tetapi tidak ingin membahas. Di sini orangnya aneh-aneh!


"Mana kainmu, aku pinjam?" Darsia berbisik.


Perempuan bertubuh sintal memberikan kainnya untuk dipakai Darsia. Dengan cepat ia berlari ke daratan dan segera meraih kainnya kemudian pergi. Tidak lama Rustam pun usai, ia segera mengalungkan handuk ke lehernya.


"Pak, kenapa dibuang kain orang?" Tini bertanya dalam nada jengkel.


"Kukira sampah," jawab Rustam enteng. Tanpa sedikit pun merasa bersalah karena membuat seorang gadis malu.


"Dasar," ucap Tini pelan.


"Oh, ya. Kamu ikut ke kota sama saya, ya? Soalnya di kampung ini tidak aman buatmu," kata Rustam seraya melepas sendalnya di depan pintu rumah.


"Kenapa, bukannya di sana juga tidak aman?" Tini mengikuti langkah Rustam masuk ke rumah.


"Di sini ada orang kampung yang selalu curiga kalau di kota kita bebas tidak ada yang mengurusi kamu dan saya berdua di kamar. Kutakut mereka nanti mengganggumu sedangkan saya tidak bersamamu," jelas Rustam seraya berhenti di depan kamar.


"Saya izin bapak-ibu dulu," jawab Tini.

__ADS_1


__ADS_2