TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
93


__ADS_3

Talia mengintip ayahnya yang sedang tertidur pulas, ia dihampiri oleh pelayan wanita bernama Jesica. Talia hanya melirik tanpa berpaling pada Jesica. "Ada apa?" tanyanya pada gadis berpakaian hitam dengan celana senada dengan bajunya.


"Kita menemukan mereka," bisiknya.


"Di mana?" tanya Talia sambil memandang Toni yang mengganti posisi ke kanan menjadi menghadap ke kiri.


"Desa nelayan," jawabnya.


"Awasi dulu mereka. Aku akan menyusul nanti malam."


Jesica menjura, ia pergi saat diberi isyarat  oleh Talia. Gadis itu kemudian menutup perlahan pintu kamar Toni.


Anggara sedang membelah kayu bakar sedangkan Shabita hanya asyik memandanginya. Sesekali ia menggunakan ponsel pemuda itu untuk memotretnya diam-diam. Ia terkiki saat melihat hasil fotonya. Shabita kemudian membuka galeri, ia menemukan foto dirinya di sana. Berada di Rumah sakit sedang berbincang dengan rekannya.


"Kapan dia mengambil foto ini?" gumamnya. Ia mengenang masa di mana ia pernah menjadi seorang dokter. Mengenang pertama kali bertemu Anggara dan mengenang semua kejadian bersama pemuda itu. Ia kembali memandang Anggara yang sedang menyeka keringatnya. Hatinya terharu melihat betapa gigihnya pemuda itu demi dirinya. Shabita menangis tanpa disadarinya. Begitu kejam dirinya selama ini hingga tega menyakiti pemuda itu. Dia tidak mengharap imbalan, tidak pernah melecehkannya. Dia juga tidak pernah mengeluh dengan kekurangannya.


Hum! Hembusan napas Anggara menyadarkannya. Ia segera menyeka airmata kemudian berdiri menghampiri pemuda itu. "Capek? Nanti lagi. Ini sudah cukup, kok."


"Sekalian buat besok," jawab Anggara. "Kenapa matamu merah, nangis?" tanya Anggara. Ia menaruh kapak di atas tumpukan kayu.


"Kelilipan," jawab Shabita.


"Masa?"


"Iya."


Anggara mengambil air di dalam sumur yang memang tersedia di samping rumah itu. Ia kemudian membasuh tangannya. Ia menghampiri Shabita, meraih wajah gadis itu. "Mana sini kulihat?"


"Udah nggak papa," tolak Shabita.


"Kamu bohong, ya?" singgung Anggara.


"Enggak, kok." Shabita menyerahkan ponsel itu. "Tadi benar kelilipan, soalnya debu karena kayu yang kamu potong itu!" tunjuknya pada serbuk kayu di tanah.


Anggara memandang apa yang ditunjuk Shabita, kemudian ia memandang Shabita. "Jangan ditutupi kalau sakit atau ada masalah," pesannya sambil mengusap lembut puncak kepala Shabita. Ia kemudian mengusap perut Shabita.


"Sebentar lagi aku lahiran, tapi aku takut tidak bisa melahirkan anak ini dengan benar," keluh Shabita.


"Tenang. Aku sudah sering mengatasi ini. Kami memang dilatih untuk keadaan darurat seperti membantu proses bersalin atau memberi bantuan pernapasan."


"Tapi ...." Wajah Shabita memerah. Ia tidak dapat membayangkan Anggara melihat dirinya dalam keadaan seperti itu. Bila dokter mungkin ia tidak malu, tetapi Anggara, malunya setengah mati.


"Malu?" goda Anggara. "Aku sering mengganti pakaianmu, Van."


"Hah? Ka--kapan?" Shabita tidak percaya dengan ucapan Anggara.


"Ada, deh." Anggara sengaja main rahasia dengannya.


"Kapan, Anggara? Di mana, kamu nyuri kesempatan, ya? Asam!" Shabita mencubit lengan Anggara.


"Oh, banyak. Banyak banget yang kusentuh-sentuh. Di situ, situ, situ. Nah, di situ juga!" Jari Anggara menunjuk seluruh tubuh Sahabita.

__ADS_1


"Aaaa! Kenapa gitu?! Kamu ... ah, bikin malu aku!" Shabita menghentakkan kakinya. Ia nyaris menangis lantaran kesal.


Anggara berbalik, ia tertawa diam-diam. Shabita memandang punggung Anggara yang naik-turun. Ia tahu pasti pemuda itu menertawakannya.


Shabita menangis, ia berteriak, "Teganya kamu!"


Anggara berbalik saat Shabita akan pergi. "Eh, mau ke mana?" tanyanya sambil meraih tangan Shabita.


"Nggak usah tanya!"


"Udah, jangan nangis. Aku cuma bercanda sama kamu. Nggak gitu, kok."


Shabita memandang Anggara. "Serius?" tanyanya.


"Ya, serius."


"Jadi yang ganti baju itu bohongan?"


"Kalau yang itu benaran."


"Anggara ...!" Shabita memukuli lengan Anggara.


"Sumpah, aku nggak pernah niat apa-apa, kok. Kalau terdesak saja baru kulakukan. Tidak pernah macam-macam!" jawab Anggara sambil menangkis tangan Shabita.


"Tetap aja kamu lihat!" elak Shabita.


Anggara menangkap kedua tangan Shabita. "Sudah ya, jangan marah. Nggak usah dendam gini. Nanti juga lambat laun pasti ..." Ia ragu mengucapkan kata itu karena Shabita sudah menatap marah padanya.


"Eh, mau hujan. Jemuran belum diangkat!" Anggara segera berlari menghindari Shabita.


"Ish!" Shabita berdecih jengkel.


***


Talia mengendarai mobil silver kesayangannya. Ia bergegas menuju ke desa nelayan. Kring ... kring. Dering ponsel. "Halo," sapanya dengan menggunakan earphone.


"Bos, saya sedang memandang mereka di depan rumah." Jesica mengawasi Shabita sedangkan dirinya duduk di atas perahu. Menutupi tubuhnya dengan selendang biru.


"Awasi, jangan sampai mereka lepas."


"Baik."


Talia kembali fokus pada tujuannya. Toni terbangun dari tidurnya, merasa heran karena rumahnya begitu sepi. Ia memandang kamar Shabita yang kosong.


"Kenapa tidak ada orang?" gumamnya.


"Talia, kamu di mana?" tanyanya. Ia memang sedang menghubungi Talia.


"Menjemput mama. Mobilnya mogok di tengah jalan, jadi aku harus menjemputnya," dustanya.


"Kamu tidak bohong, kan?" tanya Toni. Ia mengerutkan dahinya, menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Tidak, Pa."


Toni menghela napas. Sorang pelayan lelaki bertubuh tegap menghampirinya. "Ya, ada apa, Ken?" tanya Toni tanpa mengalihkan pandangannya kepada ponsel yang sedang digenggamnya.


"Maaf bila saya berkata lancang. Nona Talia sedang berdusta di--"


"Apa maksudmu?!" bentak Toni. Ia memandang kesal pada Ken.


"Dia pergi untuk mencari Nyonya Shabita yang kabur bersama pengawalnya." Ken menunduk saat berkata demikian.


"Anggara?" duga Toni. Siapa lagi yang dicintai Shabita dan bersedia melakukan apa pun kalau bukan untuk pemuda itu.


"Benar, Tuanku," jawab Ken.


Toni membanting ponselnya. "Berani benar pemuda itu datang kemari dan menculik istriku! Akan kuhabisi dia!" Toni segera pergi tanpa mengganti pakaiannya.


Baron mengintip pembicaraan mereka. Ia tidak sengaja mencuri dengar perbincangan Ken dan Toni. Ia meraih ponselnya. "Nona, tuan menuju ke arah tujuanmu."


"Kacau!" Talia kembali memutus sambungan telepon. Ia menampar setiran mobil. Melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.


Sean mengusap rambut Sariani yang sedang tertidur pulas. Hatinya seperti diremas saat sedang termenung tadi. "Perasaan apa ini?" gumamnya sambil menghentikan kegiatannya mengusap rambut Sariani. Kini ia mengusap dadanya sendiri.


"Anggara, apa kamu baik-baik saja di sana?" tanya Sean di telepon.


"Iya, emangnya kenapa?" tanya Anggara bingung.


"Aku merasa tidak nyaman. Seperti akan ada sesuatu."


"Em, terus?"


"Pergi dari sana, menjauh ke tempat aman."


"Di mana?" tanya Anggara sambil melirik ke sekitarnya.


"Ke mana saja. Asal jangan di sana lagi!"


"Baik," jawab Anggara sambil mematikan hubungan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Shabita saat melihat raut serius terlukis di wajah Anggara.


"Sean bilang kita harus pergi dari sini."


"Ke mana?" tanya Shabita.


"Ke mana saja. Apa kamu masih sanggup berjalan jauh, Van?" Ia melirik perut Shabita yang makin membesar.


Shabita mengangguk. "Ya," jawabnya.


"Bos sepertinya mereka menyadari posisi mereka." Jesica memandang Anggara yang berjalan membawa tas ransel bersama Shabita.


"Ikuti!" perintah Talia

__ADS_1


__ADS_2