TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
68 TUMBAL


__ADS_3

Shabita sedang berdiri di atas gedung pencakar langit Mahanakhon. Rambutnya tergerai indah dan roknya berkibar terkena hembusan angin. Ia memandang ke bawah, menatap banyaknya kendaraan dan para pejalan kaki yang lalu lalang. Ada satu dua orang yang melihatnya dan menunjuk ke atas. Akhirnya itu mengalihkan perhatian mereka semua yang berada di bawah untuk memandang ke atas. Kendaraan terhenti dan mereka yang berada di dalam mobil keluar untuk memandang Sabita di atas sana.


"Siapa itu, kenapa dia berdiri di sana?"


"Apakah akan bunuh diri?"


"Panggil bantuan atau polisi untuk mencegahnya!"


Tidak lama bantuan datang, ambulan, pemadam dan kepolisian. Mereka berdiskusi dan membuat persiapan untuk mencegah gadis itu. Pemadam mengambil kain untuk dibentangkan di bawah gedung dan polisi bergerak cepat menuju ke atas. Mereka berlari ke lantai atas yang berliku-liku.


"Ada apa ini?" tanya penghuni gedung itu. Ia heran tempatnya dipenuhi mereka yang berlari ke atas.


"Ada yang mencoba bunuh diri!" jawab Polisi bertubuh kurus dengan cepat. Ia tidak memiliki waktu lebih lama untuk menjawab, maka ia segera meninggalkan orang itu setelah menjawab pertanyaan tadi.


"Cepat!" perintah atasan mereka.


Di bawah mereka bersiap menunggu Shabita diselamatkan atau jatuh dan mereka yang menangkapnya.


"Dia akan melompat!" seru gadis manis berbaju merah yang baru pulang sehabis les biola.


Mereka memandang Shabita yang siap melangkahkan kakinya. Jantung mereka terasa berdetak kencang lantaran sikap Shabita yang seolah akan terjun bebas dari gedung itu. Polisi datang tepat waktu saat Shabita akan menjatuhkan dirinya, seorang dari mereka meraih tangan gadis itu.


"Hentikan, Nona!" cegahnya. "Cepat turun!"


Aina tersenyum dan mengeleng lemah tanpa membalikkan tubuhnya atau menatap wajah orang yang berbicara padanya.


"Nona!" tegur Polisi bertubuh sedikit berisi dan bermata kecil.


"Nona, tolong turun dan kita bicarakan baik-baik masalahmu itu. Nanti kita carikan solusinya," bujuk Polisi bertubuh sedang sambil mendekati Shabita yang masih dipegangi oleh rekannya tadi.


Shabita menepis tangan itu dan terkikik, ia melompat ke bawah. "Kya!" teriak mereka serempak karena takut dan ngeri melihat gadis itu melompat dari ketinggian 314m dan memiliki 77 lantai. Mereka segera bersiap menampung gadis itu dengan kain panjang yang dibentang lebar untuk menangkap gadis itu. Shabita melesat ke bawah dan menghilang di saat pertengahan. Mereka terkejut dan mencari-cari jatuhnya gadis itu.


"Apa kamu melihatnya jatuh?" tanya salah satu petugas pemadam.


"Tidak," jawab rekannya bertubuh pendek. Ia kemudian melihat rekannya yang lain dan jawabannya sama, tidak ada yang tahu ke mana gadis itu jatuh.

__ADS_1


"Anakku!" teriak seorang ibu muda berbaju ungu. Ia sedang membawa kereta dorong bayi dan terkejut lantaran bayinya hilang. "Anakku hilang!" teriaknya histeris.


Semua pandangan tertuju padanya, mereka mengerumuni dan melihat keranjang bayi itu kosong.


"Ke mana bayinya?"


"Tadi aku sempat melihat bayi di situ!"


"Tidak mungkin, siapa yang mengambilnya. Kita semua sibuk di sini?"


Itulah komentar mereka semua.


Uwe! Uwe! Bayi dalam gendongan Shabita menangis. Gadis itu membawanya ke dalam sebuah terowongan, ia yang menculik bayi tadi. Bayi yang kini menangis histeris lantaran takut dengan Shabita. Gadis ini mengikuti jalur terowongan dan terus masuk ke dalam. Bunyi air menetes yang dihasilkan dari uap air yang menggenang dan jatuh ke bawah. Terus berjalan hingga menemukan sebuah meja altar. Di sana para bayi menangis bersahutan. Ia menaruh bayi itu di antara bayi-bayi lain.


"Aku butuh lebih banyak bayi lagi untuk membangunkan iblis ini!" gumamnya. Ia memandang ke kiri dan melepaskan sebuah kesaktian berwarna merah ke dalam air. Sungguh ajaib, air itu bangkit berdiri membentuk sebuah cermin yang langsung memantulkan dirinya di dalam sana.


"Hem, cantik juga aku rupanya. Pantas saja Anggara terpikat. Apa aku kendalikan saja dia untuk mencari mangsa?" gumamnya. "Tidak! Kalau Sean mengetahui aku memengaruhinya bisa gawat! Aku harus menghindari mereka berdua dulu, sebelum membangunkan jin ini." Shabita masih memandangi dirinya dalam cermin.


***


Aku tidak yakin Talia akan mendukung Anggara, justru yang kutakutkan, ia malah balik menyerang dan mendukung ayahnya. Anggara biarlah tidak tahu tentang Rani ada adalah orang yang sama. Bisa gawat kalau pemuda itu malah mengejarnya dan menantang Toni. Itulah pemikiran Sean.


Talia yang menerima pemuda itu di ruang tamu dan berbincang. Malah sekarang mondar-mandir kebingungan lantaran Sariani dan Pemuda itu ada sesuatu yang mereka tutupi darinya.


"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Anggara.


Talia memandang Sean, ia juga menunggu cara pemuda itu mengatasi masalah mereka.


"Kulihat gadis itu memiliki dua jiwa yang jahat." Sean diam sebentar. "Kuyang yang selama ini hidup dalam dirinya adalah Kuyang dari roh manusia, tetapi ..." Ia diam lagi.


"Apa?" tanya Anggara dan Talia secara bersamaan.


"Ada iblis lain yang berada dalam dirinya. Lebih kuat, lebih berbahaya."


"Apa, bagaimana bisa dia dirasuki dua iblis sekaligus?" tanya Talia heran.

__ADS_1


Sariani datang dan berkata, "Ibuku menganut Jin Kuyang, ia mengabdi padanya dan membawanya ke dalam tubuh gadis itu. Kemudian bila ibuku telah membangunkan iblis itu maka sulit untuk dicegah!" jelasnya. Ia memang sengaja tidak menampakkan diri di depan Anggara. Namun begitu suaranya dapat didengar oleh pemuda itu.


Sean yang tadi menyimak kini berkata, "Perlu 99 bayi untuk membangunkannya. Itu artinya saat ini dia sedang mencari bayi untuk tumbal," ujarnya.


"Sekuat itukah, gadis ini hingga mampu menampung dua kesaktian sekaligus?" gumam Talia. Ia bertanya pada diri sendiri, tetapi Sean mendengar perkataan lirih itu.


"Kenapa harus dia yang dipilih?" tanya Anggara. Ia yang tidak tahu apa-apa sedari tadi cuma menjadi pendengar yang baik dan tergelitik jua untuk bertanya.


"Bukan tidak ada sebab, ia dipilih. Selain gadis itu memiliki ketahanan mental yang baja, Shabita juga adalah cucu dari Kepala adat yang pernah menjatuhkan hukuman penggal pada ibuku. Ini bisa diistilahkan dendam. Ibuku menaruh dendam pada keturunan Kepala adat." Sariani menjelaskan hal yang belum pernah diceritakannya pada Shabita.


"Lalu bagaimana kita menemukan, sementara ini sudah hari ke lima?" tanya Talia. "Apa aku harus memanggil papa?"


"Jangan!" tolak serempak Sean dan Sariani. Mereka sempat saling tatap sekilas dan langsung mengalihkan pandangan.


Anggara dan Talia merasa heran, mereka terlihat menggebu untuk melarang Toni turut campur dalam masalah ini.


"Kenapa kamu berdua menolak, bukankah lebih baik ada yang membantu?" tanya Talia. Ia memandang Sean dan Sariani secara bergantian.


Sariani langsung menghilang, kini yang tersisa hanyalah Sean. Talia mengalihkan pertanyaannya pada pemuda itu. Sean menggaruk pelipisnya.


"Sekarang tinggal kamu. Ayo jelaskan!" perintah Talia.


"Jemuranku lupa diangkat!" Sean segera lari ke belakang.


"Emang dia jemur pakaian di belakang rumah kita?" tanya Talia pada Anggara. Pemuda itu hanya menggeleng tidak paham. "Kenapa, sih, mereka itu tidak jujur saja? Ah, pusing kepalaku ini!" Talia memijat keningnya.


Sean bersembunyi di balik pintu dapur dan terkejut saat Sariani juga di sana. "Kamu ngapain di sini?"


"Yang kamu lihat apa?" Sariani balik bertanya.


"Tidak ada," jawab Sean.


Sariani melirik mereka di ruang tamu dan berbisik di telinga pemuda itu. "Kita harus pandai-pandai membodohi Talia. Kalau tidak dia akan mengorek terus tentang rahasia Vanesa."


"Tidak perlu dibisiki juga aku sudah paham. Yang terpenting cari akal dulu agar dia tidak mengadu pada ayahnya," jawab Sean.

__ADS_1


__ADS_2