TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
16 GETAR HATI


__ADS_3

Chang sudah mengatur penginapan untuk mereka. Ia kini menempati kamar berbeda dengan Shabita, gadis itu sekarang sedang membersihkan wajahnya di kamar mandi, kemudian menatap pada cermin. Ada pantulan wajah tanpa make-up miliknya. Keningnya berkerut, heran melihat matanya. Diteliti dengan melebarkan matanya, kedua jari tangannya membuka kelopak mata. Tidak merasakan ada hal yang aneh, tetapi matanya terasa perih. Dikucek mata itu hingga beberapa kali, kemudian menatap pada cermin. Tersentak tidak percaya melihat wajahnya di cermin kini berganti dengan sesosok Kuyang.


"Ah!" pekiknya. Shabita mundur setindak, kemudian segera berlari ke luar kamar mandi dan mengambil mantel putih. Cepat membuka pintu penginapan untuk ke luar dari sana. Napasnya dihembuskan perlahan sembari mengusap anak rambut di dahi.


Pelayan hotel melewatinya sambil membawa pakaian kotor menggunakan troli. Pelayan itu sempat membalas senyum Shabita. Gadis itu mengeluarkan handphone yang berada di mantelnya. Jam telah menunjukkan pukul 21:00 malam. Keluar mencari ketenangan, memandang keramaian restoran hotel bintang lima. Tersenyum setiap ada yang tak sengaja bertemu pandang dengannya.


"Cantik," gumam salah seorang dari mereka. Pujian itu tertuju pada Shabita.


Gadis itu dapat mendengar dan memandang mata kagum mereka, tetapi ia tidak merasa bangga akan itu. Baginya telah biasa dipuji apalagi ditatap sedemikian rupa.


"Hey," tegur pemuda yang tidak asing di pandangannya.


Shabita bepaling cepat kemudian mencoba menghindari, namun tangannya sudah lebih dulu dipegang pemuda itu.


"Mau ke mana? Duduk sini," ucapnya. Pemuda memagai seragam polisi berpangkat Bintara tinggi itu menatapnya dengan senyum di matanya.


"Lepas," pinta Shabita. Kakinya sudah ingin melangkah pergi.


"Duduk dulu. Kemarin belum sempat ngobrol sudah ditinggal pergi. Tega betul sih," goda Anggara. Ya, pemuda itu adalah Anggara.


Shabita terpaksa duduk dituntun Anggara. Kedua tangannya merengkuh bahu gadis itu dan membimbingnya agar duduk di kursi makan.


"Pesan apa, nanti aku yang bayar," ucap Anggara seraya memanggil pelayan dengan isyarat.


"Nggak ada," jawab Shabita sambil mengalihkan pandangannya ke pintu luar.


"Kenapa, biar kupilihkan ya?"


"Nggak usah," tolak Shabita sambil menatap sekilas mata Anggara.


"Oke," jawab Anggara. Walau setuju dengan ucapan Shabita, tetapi ternyata gerakannya menunjukkan gelagat lain, sekarang malah memesan dua minuman dan dua makanan. Shabita hanya mendesah kesal. Napasnya dehempaskan bersamaan dengan punggungnya yang tersandar pasrah di kursi.


"Oh, ya. Kita belum berkenalan. Siapa namamu, Nona?" tanya Anggara sambil memainkan tisu di genggamannya.


"Sha-bi-ta," eja Shabita seraya melipat kedua tangannya di dada. Terlihat dongkol dan malas.


Anggara tersenyum. "Bukan Vanesa?" selidik Anggara dengan senyum tidak lepas darinya.

__ADS_1


"Siapa itu?" Pura-pura tidak mengerti dengan merubah raut wajah bingung.


"Vanesa," ulang Anggara.


"Saya tidak paham," balas Shabita seraya memberi isyarat agar pelayan yang menyajikan makanan di mejanya menepi. Ia ingin segera pergi dari sana.


"Makan dulu," cegah Anggara sambil menyuap makanannya.


Shabita kebingungan, ia sudah terlanjur berdiri. Masa aku mau duduk lagi. Ia diam, dan segera pergi dari sana. Anggara melihat sekilas kemudian tetap makan.


```


****


```


Keesokan harinya, Chang dan Shabita telah berada di kantor Cabang. Pusat industri pakaian milik perusahaannya. Kumala Industri adalah nama perusaan yang sekarang dipimpin olehnya.


Shabita terlihat terburu-buru mengejar laju jalan bosnya. Chang berjalan cepat sambil merapikan dasi. Mereka berjalan menuju kantor milik Chang.


"Baik," jawab Shabita seraya menaruh dokumen di atas meja Chang kemudian gadis itu menghubungi manajer. "Dipanggil oleh Bos," kata Shabit di telepon. Ia segera menutup telepon dan mengambil alih kursi di ujung ruangan itu.


"Pak," panggil Manajer Chang. Tubuhnya sedikit kurus dengan kacamata menempel di wajahnya. Berpakain kemeja merah dengan celana hitam pas di kakinya.


"Masuk!" perintah Chang. Ia memandang pemuda yang berdiri dari luar.


"Permisi," kata pemuda itu sambil menatap Chang dan Shabita bergantian. Kemudian masuk dengan sopan dan duduk di hadapan Chang setelah dipersilakan duduk. "Ini nilai keuangan kita bulan lalu. Sudah saya kirimkan, tetapi saya masih bingung kenapa tidak sesuai dengan laporan sebelumnya," adu Manajernya.


Chang Hee diam, tidak membalas pembicaraan. Ia mengambil sikap bersandar pada kursi seraya meraih map di mejanya. Hembusan napas lelahnya terdengar saat membuka dokumen pemberian Rino, manajernya.


"Kenapa ini?" keluhnya pelan. Tidak bermaksud untuk membahas dan dijawab, tetapi Rino melihat Chang memijit keningnya sambil memejamkan mata membuatnya gelisah. "Sudah ketemu orang yang mencuri uang kita?"


Rino menggeleng lemah, membuat Chang menghela napas. Memajukan duduknya dan mengatur kedua tangannya saling menyatu di atas meja. Shabit memerhatian Chang, ikut merasa bingung.


"Ke luar saja. Nanti kita urus lagi! Kamu urus pemasukan hari ini."


"Baik, Pak." Rino kemudian ke luar.

__ADS_1


"Apa perusaan kita akan bangkrut?" tanya Shabita.


Chang memandang gadis itu kemudian tertawa pasrah sambil geleng kepala. "Mungkin," jawabnya sambil menerawang ke sisi lain.


"Apa ..." Shabita tidak ingin melanjutkan pertanyaannya. Ia ragu, takut Chang tersinggung.


"Tenang saja, perusahaan saya banyak. Buat nikah seratus kali juga masih bisa. Bahkan nikahin orang satu kampung juga masih cukup. Tidak perlu khawatir dipecat karena pengurangan karyawan." Chang bernada datar, tetapi kata-katanya membuat Shabita tidak bisa untuk tidak tertawa. "Nikahin kamu juga kalau perlu," lanjutnya sambil menatap Shabita.


Shabita diam, ia tertawa dikulum dan mengalihkan pandangannya ke kiri.


"Saya bingung, kenapa bisa hilang tanpa jejak. Keuangan juga sedang macet padahal laporan selalu untung besar. Ke mana ya, semua itu?" Chang menggumam.


"Mungkin Tuyul," jawab Shabita pelan pada diri sendiri.


"Hah! Ngawur kamu," ejek Chang sambil tersenyum miring.


Shabita tertawa singkat. "Bisa jadi, kan?"


"Masa? Kok geli ya, dengar kamu ngomong gitu." Chang melonggarkan dasinya kemudian berdiri menuju lemari folder. "Besok kita pulang. Kalau kamu mau jalan-jalan, puas-puasin di sini. Banyak emol di tempat ini."


"Mall," ralat Shabita.


"Suka-suka akulah," jawab Chang sambil berjalan memberikan folder yang diraihnya dari lemari, pada gadis itu.


Shabita tidak membalas, ia hanya mengangguk sembari menerima folder berisi dokumen di tangan chang. Kemudian membuka komputer untuk mencocokkan data di dalamnya. Handphone-nya bergetar, tidak bernama membuat gadis itu berkerut dahi. "Halo," jawabnya.


"Hay," jawab seseorang dari seberang sana.


Shabita terkejut, segera mematikan telepon, kemudian memandang gelisah Chang yang dari tadi melihat tingkahnya.


"Kenapa dimatikan?" tanya Chang seraya memandang kembali laporan dari Rino.


"Salah sambung," jawab Shabita cepat seraya buru-buru mengetik.


"Gelisah sekali. Nanti copot papan ketiknya," tegur Chang.


Shabita terdiam, menyadari kebodohannya. Siapa yang mau dia dustai, kalau gelagatnya tak dapat menyembunyikan isi hati.

__ADS_1


__ADS_2