TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
Episode 90


__ADS_3

Anggara duduk di sebelah Shabita. Ia tidak berani menyentuh gadis itu karena di dalamnya ada Sariani. “Sampai kapan kamu akan di tubuh ini?” tanya Anggara.


Sariani memandang Anggara dengan leher kakunya. “Kenapa, gerah ingin sentuh-sentuh dia?” godanya dengan wajah datar.


“Bukan begitu. Aku ngerasa nggak kenal makanya nggak betah,” dalih Anggara. Padahal memang benar yang diucapkan Sariani tadi. Ia memang ingin menyentuh jemari kekasihnya.


Sariani menatap ke depan. Ia memandang televisi yang berada tepat di atas sana. “Namaku Sariani. Penjaga calonmu ini.”


“Seperti sering mendengar namamu, dulu.”


“Hem,” jawab Sariani.


“Kenapa tidak pulang saja sekalian?” tanya Sariani. Ia kemudian memandang Anggara.


“Banyak yang mengincar kita. Kalau kamu kenapa tidak pulang saja membawa kami?” Anggara balik bertanya.


“Kesaktian Kuyang ada batasnya. Kami tidak bisa menyeberangi lautan kecuali dibawa dan aku tidak bisa membawa Vanesa menyeberangi lautan lantaran ada Kuyang dalam dirinya kecuali dia menggunakan transportasi manusia.” Sariani kembali memandang ke depan. “Roh ibuku mungkin akan lenyap, tapi jin dalam tubuh  Vanesa akan tetap berkuasa. Sangat berbahaya sekali bila jin itu bangun. Ibukulah yang menidurkannya kemudian aku yang datang untuk menidurkan ibuku. Kami saling menyerang satu sama lain di situ.”


Anggara mengerutkan dahi, ia menggaruk pelipisnya. “Aku bingung?”


“Nggak usah ditanya kalau bingung. Jagankan kamu, aku saja bingung!” bentak Shabita.


Anggara mengurut dada, ia kaget dibentak Shabita. Pemuda itu kemudian memandang ke samping. Ia memandang jalanan yang mereka lewati. Kereta tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mereka semua memandang ke depan dan ke jendela. Pintu terbuka, dua orang polisi masuk dan memerhatikan mereka semua. Awalnya Anggara tidak peduli, tetapi lantaran Shabita menyenggolnya dengan sikunya, akhirnya ia juga memandang kea rah dua polisi yang datang. Ia tersurut dari duduknya.


Shabita tertawa tanpa suara, ia tidak memandang Anggara. Namun, ia tahu apa yang dilakukan pemuda bodoh di sebelahnya. Mereka melewati tempat Anggara dan Shabita duduk.


“Mereka melewati kita?” tanya Anggara sambil memandang ke depan. Ia terkejut memandang wajah Shabita telah bertukar dengan wajah cantik Sariani. “Si—siapa kamu?!” Ia menunjuk wajah Sariani. Memperhatikan pakaian yang digunakannya sama dengan yang digunakan Shabita tadi.


Shabita tidak menjawab, ia malah berkata, "Tidurlah, Anggara. Aku akan mengembalikan Vanesa saat keadaan sudah aman nanti," nasehat Shabita.


***


Talia marah, ia kembali ke rumahnya. Telepon rumahnya berdering. "Halo?" sapanya.


"Hay, sayang. Ini papa," kata Toni sambil menaruh bantal di kasur kemudian berbaring.


"Hay, Papa," jawabnya.


"Gimana kabar mamamu?"


"Baik," dustanya.

__ADS_1


"Papa akan pulang seminggu lagi saat menjelang kelahiran adikmu."


Talia meremas celananya, mencoba menahan diri agar jangan sampai menceritakan keburukan Shabita pada ayahnya. "Ya, kami menunggu kedatanganmu, Ayah."


"Apa mamamu masih terbangun? Papa ingin sekali mendengar suaranya."


"Dia sekarang sedang beristirahat, Papa."


"Baiklah, sampaikan salam padanya." Toni menutup sambungan telepon.


Talia menaruh telepon pada tempatnya. Di mana kucari dia? "Sean!" Talia segera mengambil kunci mobil yang ditaruhnya di meja telepon. Ia melaju menuju ke rumah pemuda itu, berharap Sean masih di sana.


Sean memandang Talia yang kini berjalan ke arahnya. Saat ia sedang menyiram tanaman pagi itu, Talia datang dengan keadaan kacau.


"Di mana mereka?" tanyanya saat telah berada di depan Sean.


"Kamu tidak mengucap salam, malah membentak," sindir Sean. Ia melakukan kegiatannya menyiram tanaman.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu, kan yang sudah membuka segelku untuk menghalangi Sariani mendekati Shabita?" tudingnya.


"Kalau iya, kenapa?" tantang Sean. Ia tidak menghentikan kegiatannya.


Talia membuang selang yang digunakan Sean untuk menyiram tanaman kemudian gadis itu merenggut kerah baju Sean. "Di mana dia?" paksanya.


"Jangan menguji kesabaranku, Sean!"


Sean menepis kuat Talia. Pemuda ini menjauh dan berbalik. "Toni dan kamu sama saja. Tidak pernah membiarkan orang bahagia. Ayahmu itu jahat, dia sudah memisahkan Anggara dari dulu dengan Shabita. Dasar perebut milik orang!"


"Papa bukan seperti itu," elak Talia.


Sean berbalik memandang Talia. "Aku mengenal mereka berdua jauh daripada ayahmu itu."


"Kamu jangan memfitnah!" bentak Talia. "Aku yakin memang tabiat Shabita buruk!" Plak! Pipinya ditampar Sean. Talia menatap tajam Toni sambil meraba pipinya yang memerah.


"Dia kakak iparku! Beraninya kamu menghinanya!" Sean meradang memandang Talia yang menatapnya dengan marah. "Kalau bukan karena dia, mungkin Anggara tidak ada. Toni, hem, ayahmu yang baik itu yang melukainya! Dasar sial kalian sekeluarga!" maki Sean.


"Asam!" Talia ingin menghajar Sean. Namun, ia merasa lemah di dekat pemuda itu. Entah apa yang dilakukan Sean padanya.


"Cari tahu dulu sebelum kamu marah-marah," nasehat Sean. Pemuda itu kemudian meninggalkannya masuk ke rumah.


"Sean!" teriak Talia. Ia mencoba memasuki rumah itu, tetapi langkahnya terhalangi oleh bias silver yang sengaja dimantrai Sean untuk menangkalnya menerobos ke dalam. "Sial!"

__ADS_1


***


Anggara terbangun dari tidurnya. Ia memandang mereka yang satu per satu keluar dari kereta api. Ia kemudian memandang Shabita yang telah berdiri menunggunya.


"Keluar, yuk!" ajak Shabita.


"Vanesa?" Ia coba menerka.


"Sariani."


Anggara kecewa lantaran bukan Shabita yang berbicara tadi. Ia menghela napas kemudian berdiri. Shabita keluar lebih dulu setelah itu barulah Anggara.


"Ke mana lagi?" tanya Shabita.


Anggara menarik Shabita untuk ikut bersamanya mencari sebuah taksi. Taksi didapat, mereka kemudian masuk. Anggara hanya menyerahkan alamat yang dituju tanpa berbicara pada sopir. Shabita memandang ke sekitarnya. Ia mendengar dering telepon Anggara berbunyi. Sempat diperhatikannya, kemudian kembali memandang jalanan. Anggara menyerahkan telepon pada Shabita, gadis itu sempat heran. Namun, ia tetap menerima.


"Halo, Sar. Apa kabarmu?" tanya Sean.


Shabita mendelik, ia tidak suka dihubungi Sean. "Ada apa?"


"Setelah kamu mengantarnya, pulanglah."


"Untuk apa?"


"Ingat janjimu."


"Aku tak bisa. Selamanya mungkin terus di sini."


"Jangan membantah. Aku takut Toni melukaimu bila kamu berhadapan dengannya."


"Aku takut Vanesa celaka." Shabita bersikeras.


"Biarkan saja kalau itu sudah menjadi nasib mereka. Yang pasti pulanglah bersamaku."


"Jangan memaksa, Sean. Nyawa kakakmu juga dalam bahaya!" tekan Sariani.


Anggara memandang Shabita. Ia ingin tahu sekali apa yang dibicarakan mereka berdua.


Sean mendesah. Ia berjalan menuju kamar. "Mungkin terdengar gila. Mungkin cuma aku satu-satunya yang paling gila di dunia ini, Sar. Tetaplah jaga dirimu di sana. I love you, aku cinta padamu."


Shabita tersentak, ia tanpa sadar menjatuhkan ponsel Anggara. Beruntung ponsel hanya terjatuh ke pangkuan bukan di lantai mobil.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Anggara cemas.


Shabita menggeleng. Ia memerah lantaran malu.


__ADS_2