
Shabita masih berlari dengan Anggara mengejarnya, ia tidak menyadari sebuah mobil nyaris menyerempetnya bila saja pemuda itu tidak menariknya dalam dekapan. Shabita mendongak untuk melihat siapa yang menolongnya, gadis itu segera mendorong Anggara dan berniat pergi, namun segera tangannya diraih oleh Anggara.
"Lepas!" rontanya.
"Kamu kenapa, sih? Aku cuma mau membatu bukan jahat padamu!" bentak Anggara kesal. Ia tidak peduli pergelangan Shabita yang telah membekas. "Sini, ikut!" paksanya seraya menarik gadis itu.
"Nggak mau! Aku nggak mau ikut kamu!" Shabita mencoba bertahan agar tidak ditarik, namun tenaganya kalah oleh pemuda itu. Akhirnya ia terpaksa mengikuti walau diseret paksa.
Anggara berhenti, ia melepas Shabita. Mendesah sambil menggaruk belakang kepalanya, terlihat kesal di raut wajahnya. Shabita memandang ke kiri dan ke kanan, ia hendak menjauh, namun sebelum sempat itu terjadi Anggara telah menggendongnya.
"Lepas! Tolong! Tolong!" teriak Shabita sambil meronta dalam gendongan pemuda itu.
"Diam!" bentak Anggara marah.
Pemuda itu segera menuju mobil milik Talia yang terparkir di samping pasar dan memaksa Shabita masuk ke dalamnya.
"Duduk!" bentak Anggara saat Shabita akan ke luar. Ia segera mengunci pintu dengan cepat.
Shabita terpaksa diam saat mobil dijalankan, gadis itu memandang ke jendela. "Bawa aku pulang," pintanya lirih tanpa memandang lawan bicaranya.
"Tidak," jawab Anggara.
"Aku mau pulang!" tekan Shabita.
Anggara hanya menggeleng, ia tidak menghiraukan permintaan gadis itu. "Kamu akan pulang kalau Talia yang memintanya," jawab Anggara setelah beberapa detik bungkam.
Shabita mual, perutnya terasa bergejolak. Ditahannya, namun masih saja tak dapat menghentikan dirinya untuk mengeluarkan muntahan.
Anggara terkaget, ia menghentikan mobil dan segera mengambil berlembar-lembar tisu untuk menampung muntahan Shabita. "Muntahkan semua," katanya.
Shabita terharu, hampir menangis saat pemuda itu menampung sesuatu yang keluar dari mulutnya. Anggara segera ke luar dari mobil untuk mencari air mineral di toko, kemudian kembali dengan itu.
__ADS_1
"Minumlah," tawarnya seraya memberikan sebotol air mineral.
Shabita menerima, namun tidak memandang pada si penawar minuman. "Trims," ucapnya pelan.
Anggara memegang setiran sambil menunggu gadis itu selesai minum. Shabita menaruh botol mineral di atas dasboard dan segera duduk bersandar, menenangkan diri.
"Ha!" Ia terkejut saat pemuda itu menyeka bibirnya dengan tisu. Ia diam-diam memandang wajah pemuda itu, kemudian segera sadar dan menepis tangan Anggara. "Aku bisa sendiri." Mengambil tisu dan menghapus nodanya sendiri.
Anggara tidak bersuara lagi, pemuda itu melanjutkan perjalanan mereka. Shabita memiringkan kepalanya dan terlelap begitu bersandar. Pemuda itu memandangnya sekilas dan kembali lagi memandang ke jalan.
****
Talia pulang dengan keadaan lelah, ia segera membuka sepatu dan pakaian luarnya dan dilempar ke sembarang tempat.
"Sial! Siapa yang menghianati sekarang?" gumamnya seraya duduk di atas ranjang sekalian berpikir dan kemudian lantaran tak mendapat jawaban ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Noy datang membawa segelas teh hangat dan diletakkan di meja rias. "Saya tidak melihat nyonya, ke mana dia, Nona?" tanyanya.
Noy berkerut dahi, hendak bertanya, namun Talia telah mengangkat tangan, memberinya isyarat agar stop di sana dan jangan membahas. "Maaf, saya pamit." Noy menunduk hormat sebelum beranjak dari sana.
Di rumah ini banyak penghianat, aku tak dapat memercayakan dia pada mereka. Biarlah dia aman bersama pemuda itu. Talia mendesah kemudian menggaruk kepalanya kesal. "Papa!" teriaknya. Karena ulah ayahnya ia dalam masalah bersama Shabita, ingin rasanya ia mengumpati, tetapi masih takut dengan dosa.
"Di mana ini?" tanya Shabita saat mereka ada di sebuah kampung ramai penduduk asli Thailand.
Mereka memandangi mobil yang dibawa Anggara, heran melihat mobil itu di sana. Anggara melepas sabuk pengamannya dan hendak melepas sabuk pengaman Shabita, namun segera ditolak dan Shabita membukanya sendiri.
"Keluar," ajak Anggara sambil berdiri membuka pintu untuk gadis itu. Shabita heran, ke mana ia dibawa, tempat itu begitu asing baginya. "Ini di kampung, kita akan tinggal sementara di sini," ujar Anggara.
"Kenapa dibawa ke sini? Aku mau pulang!" Shabita memandang Anggara dengan tatapan menuntut.
Anggara mendekat, Shabita malah mundur. "Ma--mau apa?" tanyanya takut.
__ADS_1
Pemuda itu tertawa melihat Shabita menciut dan menggenggam selendang yang ada di lehernya. "Manisnyaaaa!" Gemas dia saat menyebut kata 'manis'.
"Apa?" tanya Shabita tak mengerti akan ungkapan pemuda di hadapannya barusan.
Bukannya menjawab pemuda ini malah menarik gadis itu untuk masuk ke dalam desa. Shabita tidak membantah karena kebingungan, diam-diam hatinya berdesir, jantungnya berdebar berbunga-bunga. Ingin rasanya merangkul punggung lebar pemuda itu, namun ditahan. Mereka menuju persawahan dan melewati jalan setapak, Shabita terkagum dengan keindahan desa itu. Sangat indah dan rapi tanamannya. Beberapa anak-anak berlarian sambil mengejar layang-layang, beberapa petani sedang menggarap sawah. Ada juga yang memandang tersenyum pada mereka, dan dibalas senyuman oleh Shabita.
"Mau ke mana kita?" tanya Shabita lagi.
"Ke rumah almarhum ibuku," jawab Anggara.
Shabita tidak pernah tahu bahwa ibunya Anggara telah tiada, selama ini ia hanya memikirkan dirinya tanpa tahu kehiidupan pribadi Anggara. Diam-diam ia menyesali ketidakpekaannya. "Kenapa Ibumu tinggal di sini?"
"Dulu aku masih sangat kecil saat ibu bercerai dengan ayah. Dia menikah lagi dan tinggal di sini, setelah aku remaja ayah menjemputku untuk pulang ke Indo, lalu aku besar di sana, setelah berselang beberapa tahun aku pendidikan, ibu tiada." Shabita hanya mengangguk, mengerti. "Itu rumahku!" tunjuknya pada rumah sederhana di pinggiran sawah yang luas membentang.
"Masuk," tawar Anggara setelah membukakan Shabita pintu.
Shabita memandangi rumah kayu nan sederhana itu, sangat nyaman dan bersih. "Di mana yang lain, apa cuma rumah kosong?" tanya Shabita tanpa memandang lawan bicaranya.
"Ayah tiriku menikah lagi dan tinggal di kota, jadi rumah ini kosong seperti yang kamu lihat," desah Anggara lewat helaan napas seraya mengangkat bahu. "Anggap rumah sendiri."
"Waa!" pekik Shabita saat tikus melangkahi telapak betisnya. Ia melompat dalam pelukan pemuda itu, memberikan kesempatan baginya mendekap hangat tubuhnya yang telah lama dirindukan.
Anggara menepuk punggungnya untuk menyadarkan Shabita. "Tidak apa," bisiknya.
Shabita malu, ia segera melepas diri dan menjauh. "Maaf," ucapnya lirih sembari menunduk.
Anggara tertawa simpul sekilas kemudian menggeleng. "Siapa namamu?"
"Apa?" tanya Shabita, terkejut ditanya nama.
"Iya, nama?"
__ADS_1
"Rani," jawab Shabita berbohong. Tak mau ia menyebutkan nama sebenarnya atau nama aliasnya. Anggara tak boleh mengingatnya lagi dengan nama lama.