TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
SARIANI SEAN


__ADS_3

Maaf kalau seandainya episode 123, 124, 125 terulang karena bab itu belum lolos review, jadi seandainya lolos pasti terulang tiga biji. Saya akan berusaha mengedit kembali bab itu, semoga bisa. Ada yang minta Sariani dan Sean? Oke saya kabulkan, tapi untuk adegan aksi dan seram tidak, ya. Soalnya saya sudah kehabisan ide untuk peran mereka berdua. Jadi sekarang uwu ... uwu saja.


Sean merenung di depan teras rumahnya, ia sedang memandang Sariani dengan tatapan hampa. "Apa yang ada di hatinya sebenarnya? Ada akukah di situ?" gumamnya.


Seorang pemuda melewati rumahnya, sempat tersenyum manis kemudian menyapa Sariani.


"Ah, sial! Harusnya kubiarkan saja dia tidak terlihat oleh orang lain!" kecamnya sambil memukul pegangan kursi.


Sariani terlihat menghampiri, kemudian asyik berbicara banyak hal hingga tertawa. Sean menjadi kepo, ia berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.


"Kamu udah ada pasangan?" tanya pemuda manis berbaju merah itu.


"Tidak ada. Kamu?" balas Sariani.


"Sama. Pacaran, yuk!" goda pemuda itu.


"Ayuk!" jawab Sariani.


"Kuya, sekali mereka itu!" Sean meremas rambutnya. Ia tidak terima dibuat panas oleh Sariani.


"Mau?" tanya pemuda itu ragu. Namun, senyumnya tidak pernah pudar dari wajahnya.


"Iya," jawabnya.


"Hore!" seru pemuda itu. Terlihat sekali sikap kekanakannya.


"Kepalamu itu di situ?" tanya Sean dengan gaya cool.


"Maksudnya?" tanya pemuda itu heran. Ia sempat kaget dihampiri Sean.


"Pengen kupindahin ke tanah terus dikubur tanpa badan!" ancamnya. Ia kemudian memandang Sariani. "Dia ini istriku, lagi hamil sepuluh bulan dia," tuduhnya.


"Hamil?" Pemuda itu memandang perut Sariani yang kempis. "Om, bercanda, deh!" tangkisnya.


"Kamu ngomong apa, sih?" Sariani mencubit pinggang pemuda itu seraya berbisik.


"Aku nggak bohong, da hamil!" tegasnya.


"Hamil apa orang perutnya rata gitu," jawab pemuda itu.


"Hamil anak cicak! Pokoknya kamu jangan ke sini lagi untuk menggodanya, lewat depan sini pun jangan!" larangnya sambil menunjuk arah lain untuk mengusirnya.


"Lah, ini jalan umum. Lagipula saya lewat mana kalau bukan melewati jalan ini?"

__ADS_1


"Bikin terowongan, lewat bawah!" Sean kemudian menarik Sariani setelah menjawab pemuda itu.


"Ngapain sih, tarik-tarik?" protes Sariani.


"Berani kamu mendekati atau berbicara dengannya, aku nggak segan-segan nyakitin kamu!"


"Lebay!" omel sariani.


"Apa?!" bentak Sean. Ia meraih Sariani yang telah dilepasnya tadi. "Lebay, katamu? Yang lebay tu kamu. Dasar kurang kasih sayang, nyarinya bukan ke aku malah ke orang lain."


"Maksudnya apa, tuh?! Aku nggak suka kamu bilang gitu!"


"Emang benar. Emang apa kurangnya aku sampai kamu malah ke dia?" Sean menunjuk ke arah luar.


"Nggak ada, sih. Cuma aku bosan aja lihat wajahmu terus," jawab Sariani enteng.


"Oh, bosan! Oke, pacaran saja sama dia. Aku juga akan nyari yang baru."


"Silakan," jawab Sariani.


"Memangnya dia saja yang bisa ditaksir cowok, aku juga bisa ditaksir orang!" omelnya di luar sana.


Sariani gelisah, ia takut Sean marah kemudian tidak memerlukannya lagi. "Bagaimana kalau dia dapat, terus aku harus gimana? Pergi?" gumamnya. Tidak lama Sean kembali dengan membawa seorang gadis cantik berbaju biru dengan kacamata sengaja tidak dipergunakan malah kini dibuat menjadi sebuah bando.


Sariani memandang Sean yang berjalan melewatinya sambil bergandengan tangan mesra dengan rivalnya.


"Siapa dia?" tanya gadis itu pelan.


"Pelayan sini. Kamu bisa suruh dia apa pun yang kamu inginkan," katanya dengan suara sedikit nyaring agar didengar Sariani.


Oh, rupanya dia tidak peduli lagi denganku. Baik, aku akan pergi dari rumah ini. Ia segera menuju kamarnya, menulis sesuatu lantas diletakkan di meja kemudian pergi begitu saja melewati Sean yang sedang bercanda dengan pacar barunya.


"Hey, bikin minum!" teriak Sean. Ia tidak senang Sariani mengacuhkannya dan keluar begitu saja.


"Biar aku saja," tawar gadis itu.


"Oke, bikin yang manis, ya. Kayak kamu."


Sean terus melirik jam dinding. Hari semakin sore, tetapi Sariani belum jua pulang. Kesadarannya kembali sesaat gadis itu menepuk pahanya dan meminta di antar pulang.


"Aku bosan. Kamu terus melihat ke pintu dan jam dinding. Aku ingin pulang saja," rengek gadis itu.


"Maaf, aku nggak maksud PHPin kamu, tapi yang tadi itu pacar aku." Akhirnya Sean mengaku. Walau wajahnya sempat sakit lantaran ditampar oleh gadis itu.

__ADS_1


"Ngapain kamu goda aku kalau gitu? Mau manasin pacar kamu?!" Gadis itu melempar anak bantal sofa ke wajah Sean. Ia pergi dengan marah.


Malam pukul 22:00, Sariani tidak jua pulang. Hujan di luar sangat deras disertai petir dan angin kencang.


"Ke mana anak itu?" Sean kemudian berjalan ke kamar Sariani. Siapa tahu gadis itu sudah pulang tanpa sepengetahuannya. Namun, tidak. Sariani tidak ada. Kamarnya rapi sedangkan semuanya masih lengkap tidak ada yang dibawa oleh gadis itu hanya satu yang menjadi perhatian Sean, yaitu selembar surat di atas meja yang terbang tertiup angin dari luar jendela yang sedari siang tidak tertutup.


Sean maaf kalau aku selalu bikin kamu marah. Tidak menghargai cintamu, walau kutahu kamu pasti tidak akan peduli dengan semua sikapku selama ini. Sean sungguh aku bahagia kamu bisa mencari pengganti aku, orang yang pantas dinikahi. Bukan roh seperti aku yang tidak jelas akan ke mana arahnya. Sean jangan cari aku lagi. Aku pergi untuk hidup baru. Terima kasih Sean I love you.


Sean meremas kertas itu kemudian menggigitnya. "Enak saja main pergi setelah bilang cinta. Awas kau Sariani!"


Pemuda itu segera keluar kamar. Kini ia menuju kamarnya untuk meraih kunci mobil yang sengaja digantung di belakang pintu. Pemuda itu bergegas mengejar Sariani.


"Dingin," keluh Sariani. Ia mengusap kedua lengannya. Tubuhnya kini basah kuyup. Mobil melaju menyiram dirinya. "Mobil, asam!" teriaknya sambil meraih batu dan melempar mobil tersebut.


Ia menyesal tidak meminta Sean menarik kekuatan yang ada pada dirinya. Hingga kini ia mudah terlihat dan merasakan hal yang sama seperti manusia alami.


"Hay, cewek. Godain kita, dong!" seru pemuda di teras toko. Ia sedang berteduh di bawah sana.


"Stok untuk menggoda udah habis. Lain kali aja, Om!" jawab Sariani.


"Sini, berteduh di sini!" ajaknya.


Sariani menggeleng, ia melajukan langkahnya agar tidak terlihat oleh orang itu lagi. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti menghalagi jalan. Sean keluar dari mobil. Pemuda itu sempat membuat Sariani terkejut.


"Ngapain kamu di sini?"


Sean menyapu wajahnya yang basah kemudian berjalan menghampiri Sariani. "Pakai acara sok, nggak tahu segala kamu. Ya, buat jemput kamu, lah."


"Aku nggak diperlukan lagi olehmu. Jadi buat apa pulang?"


"Yang bilang siapa? Kamu ini main pergi saja tanpa diusir!"


"Aku mau pergi, tolong jangan halangi." Sariani coba menyingkirkan Sean dari hadapannya.


Namun, Sean menghalaginya dengan berkata, "Nggak lucu. Kita ini di jalanan lagi ujan-ujanan. Emangnya ini film Tum Hi Ho? Kamu bikin aku geregetan saja."


Sariani tersenyum mengejek. Ia tidak peduli, kini menepis tangan Sean. "Maaf, aku nggak mau pulang."


"Kamu cemburu, kan?" Sean menarik kemudian merangkul pinggang Sariani.


"Mukamu mirip tempe! Enggak sama sekali!" bantahnya.


"Hahaha ...." Sean tergelak. Ia mengeratkan rangkulannya. "Dia cuma teman. Kamu tetap di hatiku, Sar."

__ADS_1


Sariani diam, ia tidak membalas pernyataan pemuda itu, tetapi menjawabnya dengan membalas rangkulan Sean.


__ADS_2