
Shabita mengelilingi koridor kantor di tempatnya bekerja. Ia ketinggalan sesuatu, maka dari itu ia segera kembali ke kantor untuk mengambil tasnya yang tertinggal di dalam ruangan Chang. Tanpa disadari atau memang kebetulan ia tidak sengaja melihat sebuah kepala melayang mendekati sebuah berangkas penyimpanan yang ada di tempat Chang. Kepala itu mendongak dan menatap sekilas Shabita yang juga menatapnya. Seperti takut atau malu, pemuda itu segera pergi meninggalkan Shabita yang berdiri mematung memandangnya.
"Toni," gumamnya. Shabita pernah melihat wajah pemuda itu di kantor ini. Wajah seorang lelaki yang dicurigai Sariani. "Benar dugaanku, ternyata dia palasit yang sering mencuri uang perusahaan," gumamnya. Shabita segera mengambil tasnya di meja dan segera berlari ke luar. Ia tidak mau taksi yang dipesannya menunggu terlalu lama.
Toni mengejar Shabita dari belakang. Ia melayang di udara hingga Shabita berhenti di sebuah gang dekat jalan apartemannya. Setelah taks itu berlalu. Shabita hendak melangkah, namun suasananya berubah menjadi menyeramkan. Gadis itu seperti merasakan kehadiran Toni di sekitarnya, tidak berani memandang ke sana-kemari, maka ia segera berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri dari kejaran Toni. Pemuda itu yang tahu bila gadis yang diincarnya berusaha lari darinya, ia segera melesat cepat dan membuat Shabita ketakutan setengah mati hingga gadis itu pun menangis dan berdoa. Bila roh halus ia akan mampu melawan, tetapi ini manusia hidup, katakanlah dia serupa dengan vampir yang bisa menyakiti manusia.
"Vanesa, aku di sini. Biarkan aku mengatasinya," bisik Kuyang dalam dirinya.
"Gak!" teriak gadis itu histeris sambil berlari sekuat tenaga.
Palasit Toni hampir mencapainya. Ia membuka lebar-lebar mulutnya untuk menangkap lengan gadis itu. Shabita memukulnya dengan tas yang dibawanya. Terbang palasit itu menjadi oleng, kepalanya pusing dan setelah sadar ia mengejar gadis itu kembali.
Seorang pemuda manis sedang berjalan sambil bersiul-siul. Sesekali ia tersenyum sambil bersenandung. Baju yang dikenakannya berwarna jingga dengan celana hitam. Peci yang melekat di kepalanya. "Eh, kenapa?!" tanya pemuda itu pada saat Shabita menubruk tubuhnya. Ia kaget saat melihat gadis itu datang sembari berlari kencang tanpa melihat dirinya di hadapannya. Untung saja tubuhnya langsung merespons untuk menangkap gadis itu, jika tidak Shabita dan dirinya akan jatuh ke tanah.
"To-tolong saya, Bang," mohon Shabita.
"Ada apa? Kenapa?" tanya pemuda itu panik saat melihat wajah pucat Shabita. Shabita segera bersembunyi di belakangnya dan menunjuk ke arah depan. Pemuda itu segera memandang ke arah yang dituju, betapa kagetnya ia ketika melihat sebuah kepala terbang ke arah mereka dengan wajah pucat dan bibir biru serta mata merah. "Kenapa kamu di sini, kenapa kamu mengganggu gadis ini?" tanya pemuda itu.
"Bukan urusanmu! Menjauhlah!" perintahnya.
Shabita makin meremas lengan pemuda itu. "Kita lari saja," katanya.
Pemuda itu diam tidak menghiraukan ucapan gadis di belakangnya. Ia malah merangkul Shabita agar gadis itu tidak dijadikan sasaran ketika sedang lengah.
Melihat itu, Toni marah dan ingin menyerang Shabita di belakang pemuda itu tadi, tapi sial pemuda itu tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Lepaskan dia, aku tidak bermaksud jahat padanya," kata Toni.
"Pergilah, jangan mengganggunya," tolak pemuda itu.
"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkannya," bantah Toni.
__ADS_1
"Jangan memaksaku untuk membaca ayat suci ya," ancamnya.
Mata Toni membulat marah, ia menyerigai dan menampilkan gigi runcingnya. "Aku cuma menginginkan gadis itu. Aku tidak akan mengganggumu, atau menyakitinya. Kenapa kamu selalu membantahku?!" geramnya.
"Aku gak mau ikut kamu. Aku gak mau sama pemuda maling dan gak baik kayak kamu!" seru Shabita. Ia tahu sekarang kenapa iblis itu mengejarnya, ternyata bukan untuk dibunuh melainkan ada maksud lain yang membuat Toni ingin memilikinya.
Toni tertawa menyeramkan mendegar gadis itu menyahutinya. "Shabita, kamu ikut aku atau ikut dia, pilihanmu cuma satu. Tentu harus ikut aku," katanya.
"Kenapa kalian saling berbicara, apa kamu kenal dengannya?" tanya pemuda itu.
"Dia-" Shabita ingin bicara.
"Dia calonku," aku si Toni.
"Bohong!" bantah gadis itu. "Tolong aku," mohonnya pada pemuda itu.
"Calon makanan atau apa?" ejek pemuda itu sembari meraih tasbih yang ada di saku baju depannya. Ia mulai membaca ayat-ayat suci secara berulang.
"Makasih," ucap Shabita tulus.
"Sama-sama. Mau pulang atau ke mana? Biar saya antar," tawarnya.
"Saya bisa pulang sendiri saja," tolak halus gadis itu.
"Oh, ya. Namamu siapa?" tanyanya.
"Shabita," jawabnya.
"Aku Zakaria. Benar tidak mau diantar pulang, soalnya kalau dia mengganggu lagi bagaimana?" tanya Zakaria sedikit menggoda Shabita agar mau diantar olehnya.
__ADS_1
"Tempatku dekat kok. Tidak jauh dari sini. Tinggal masuk ke gang itu," tunjuknya.
"Kalau di dalam rumah ternyata dia menunggumu, bagaimana," godanya lagi.
"Maksudnya?" tanya Shabita mulai kesal karena pemuda di hadapannya secara halus memaksanya. "Jadi maksudmu aku tidur serumah denganmu malam ini?!" bentaknya.
"Eh, iyakah? Aku gak merasa kalau kata-kataku menjurus ke sana. Maaf deh kalau kamu tersinggung," kata Zakaria. "Aku cuma takut aja kalau dia mengikutimu lagi," jelasnya.
Shabita berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Zakaria memang tidak salah, tetapi masa ia membiarkan orang lain menginap di rumahnya. Ia menggeleng lemah dan berkata, "Tidak usah, aku bisa meminta bantuan pada tetanggaku bila itu terjadi lagi," ucapnya.
"Oke, terserah. Hati-hati saja," pesan Zakaria.
Shabita tersenyum membalas senyum manis Zakaria. Ia melangkah meninggalkan pemuda itu, sedangkan Zakaria masih memandangnya hingga gadis itu tidak terlihat lagi di ujung jalan sana.
::::::
Keesokan harinya Shabita membuka pintu rumahnya untuk berangkat kerja. Ia terkejut saat melihat Anggara sudah berada di depannya, pemuda itu kini sedang memandangnya.
"Mau apa kamu kemari?" tanya gadis itu.
"Aku baru pindah kemarin. Kamu kerja sih, makanya tidak melihat aku." Anggara menunjuk pintu bangsal di sebelah kamar Shabita.
"Aku gak nanya! Kamu kenapa di depan sini, ini pintuku dan itu pintumu!" kata Shabita tegas.
"Sekadar menyapa tetangga baru saja. Kan, kita bakal jadi tetangga nih, syukur-syukur kalau sampai nikah. Amin," katanya seraya mengaminkan doanya tadi.
"Sinting," gumamnya. Kemudian gadis itu menyingkirkan tubuh Anggara yang menghalagi jalannya.
"Hey, biar kuantar," tawar Anggara seraya berlari kecil mengejar Shabita.
__ADS_1
Shabita diam-diam tersenyum dan pura-pura jual mahal. Ia ditarik dan dipaksa untuk naik motor polisi Anggara.