TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
13 PEKERJAAN BARU


__ADS_3

Shabita alias Vanesa, saat itu gadis ini sedang mengenakan kemaja putih dengan rok selutut. Dengan kulitnya yang bersih ia menjadi sorotan para penunggu pelamar interview di kantor tersebut. Baik itu perempuan maupun lelaki. Daya tariknya sangat tinggi hingga siapa saja yang melihatnya menjadi terpana oleh kecantikan yang sangat belia padahal sudah menginjak usia dua puluh enam tahun.


Tidak lama namanya dipanggil oleh seorang karyawan kantor. "Shabita Lafinda," sebutnya.


Shabita segera berdiri dan mengangguk. Ia diantar masuk ke ruangan khusus seorang Ceo. Gadis itu memandang ragu isi kantor yang bak istana dan banyak sekali hiasan patung hewan.


"Duduk," suruh seorang pemuda tampan keturunan China. Pemuda itu sempat terpana melihat Shabita yang nampak bersinar dari pelamar lain.


Shabita menurut saja. Gadis itu memberikan CV-nya, dan diperiksa oleh orang itu. Ia sempat membaca papan nama yang berada di meja. "Chang He," gumam gadis itu yang membaca papan nama tersebut.


"Kenapa Anda merubah nama Anda. Bukankah di sini jelas nama Anda Vanesa?" tanya Chang.


"Maaf, saya hanya ingin dipanggil Shabita. Karena saya baru saja menggantinya," jawab Shabita.


"Di foto wajah Anda tidak jauh berbeda, tapi saya perlu mengecek keaslian CV ini," kata Chang seraya menyalakan komputernya dan memeriksa status siswa yang terdaftar pada fakultas kedokteran.


Shabita hanya diam. Ia memang merubah nama panggilannya, tapi untuk mengganti CV, ia tidak ingin identitas palsu.


"Kenapa Anda yang seorang dokter, memutuskan bekerja di sini?" tanya Chang saat pemuda itu telah memeriksa data Shabita.


"Saya bosan," jawab Shabita.


"Kenapa nama Anda harus dirubah?" tanyanya lagi.


"Saya punya kisah kelam dan saya ingin melupakannya," jawab gadis itu.


Chang diam dan mencoba memahami posisi Shabita. "Apa Anda punya pengalaman di bidang sekretaris?" tanya Chang. "Kebetulan saya sedang mencari karyawan untuk mengisi posisi itu," jelasnya.


Shabita menggeleng lemah, tapi kemudian mengangguk kuat-kuat. "Saya usahakan belajar!" jawabnya cepat.


Chang tersenyum. "Bisa atau tidak?" tanyanya.


"Ajari saya," jawab Shabita lirih. Gadis itu makin menggemaskan di mata Chang.


"Kamu saya latih selama satu bulan, bila dalam waktu itu kamu gagal, saya akan memutus kerjasama kita." Chang memandang Shabita dengan senyum menghias di wajahnya.


Shabita menatap Chang dengan gembira. Ia menjabat tangan pemuda itu dengan semangat. "Terima kasih, banyak. Saya akan berusaha," janjinya.


"Besok jangan terlambat. Saya ingin kamu sudah ada di kantor ini, pukul 07:30," kata Chang.


Shabita mengangguk dan segera pamit keluar. Ternyata di hari pertamanya melamar pekerjaan, tidak sulit. Ia sudah mendapatkan pekerjaan sebelum uangnya habis.


"Taksi, Bu?" tanya oleh seorang supir taksi yang menepi saat melihat Shabita sedang berada di luar halaman kantor.


Shabita mengangguk dan segera masuk. Ia duduk dengan santai. "Ke penginapan Soraya ya, Bang," kata gadis itu.

__ADS_1


Sopir itu tidak menjawab, ia hanya memerhatikan Shabita dari balik kaca spion depan.


Shabita mengambil handphone yang sengaja ia simpan di dalam tas hitam miliknya. "Siapa yang menelepon sebanyak ini?" Shabita heran saat di layar ponselnya tertera sebuah nomor panggilan tidak terjawab yang tidak bernama.


Taksi berhenti di suatu tempat, tapi bukan ke arah penginapan Soraya yang dimaksud gadis itu, melainkan di tempat asing baginya. Di pinggir hutan dan jarang dilalui kendaraan.


"Di mana ini, Pak?" tanya Vanesa Heran.


Si sopir tidak bergeming, tetap diam dan duduk di sana, sedangkan Shabita sedang penasaran apa yang dipikirkan orang itu padanya.


"Vanesa, hati-hati. Aku merasa hal yang buruk akan terjadi." Peringatan itu datang dari arwah Sariani.


Shabita melirik Sariani dan mengerutkan dahinya bingung. "Dia berniat mempermainkanku, maksudmu?" tanyanya.


"Hati-hati saja, jangan sampai akal sehatmu digantikan oleh dia. Orang yang berada di lehermu itu," pesan Sariani.


Sariani menghilang dan Shabita hanya diam menunggu reaksi si sopir padanya. Tidak lama dering telepon si sopir berbunyi. Orang itu segera keluar dari mobil dan berbicara agak menjauh agar tidak didengar oleh gadis itu.


Sudah tiga jam ia menunggu di dalam mobil. Shabita merasakan tubuhnya meremang, baru saja ia rasa berakhirnya waktu ibadah salat Ashar. Diliriknya lagi jam tangannya, sudah pukul 17:25, Shabita gelisah dan mencoba keluar secepat mungkin, namun pintu mobil terkunci.


"Gawat! Kalau sampai ia menguasaiku, bisa mati orang itu!" katanya panik. Lehernya mulai membuka sedikit demi sedikit. Sakitnya bukan main. "Agh!" jeritnya histeris.


"Vanesa! Sadarlah! Berdoa, Vanesa!" Sariani tiba-tiba berada di sampingnya dan menegurnya.


Shabita meringis menahan sakit hingga airmatanya mengalir cukup deras. "To-tolong aku!" mohonnya. "Hihihi... aku haus! Aku lapar!" kata Shabita yang telah dikuasai iblis itu.


"Ada apa sih, di dalam berisik sekali?" Si sopir segera mendatangi mobilnya, karena penasaran dengan suara ribut Shabita. Ketika ia membuka mobil, Shabita duduk dengan tenang sembari memejamkan matanya. "Aneh, aku tadi mendengar suara ular meraung?" gumamnya. Kemudian ia menutup mobil itu kembali.


Tidak lama datang tiga orang bermotor besar, bertubuh besar dengan wajah menyeramkan. Mereka mendatangi si sopir.


"Mana, ceweknya?" tanya lelaki berambut gondrong yang diikat ke belakang.


"Di dalam," bisik si sopir.


"Jo, kamu lihat sana!" perintah si gondrong pada temannya yang bertubuh sedikit pendek darinya dan berambut kucai.


Jo menurut, ia segera membuka memeriksa dari balik jendela mobil, kemudian dibukanya. "Bro, tumben kamu dapat mangsa cantik begini. Busyet." Jo berdecak kagum melihat kecantikan Shabita.


Sariani hanya diam dan memperhatikan cara Jo yang memandang Shabita dengan menelusuri setiap inci tubuhnya. Tidak lama kedua temannya datang dan juga memandang Shabita, tidak hanya Jo, mereka juga terperangah kagum saat memandang kesempurnaan gadis itu.


"Lelaki mata keranjang," cibir Sariani. "Van, bangunlah. Sudah waktumu untuk bertindak," bisik Sariani.


Shabita tetap diam, tidak terbangun sama sekali oleh suara Sariani maupun suara berisik dari ketiga orang liar yang menatapnya dengan pandangan tidak senonoh.


"Angkat dia, kita bawa ke dalam hutan!" perintah si gondrong.

__ADS_1


"Hehehe, senang-senang kita." Jo terkekeh kegirangan seraya meraih Shabita dari dalam mobil.


"Pan, kamu siapkan alas di sana! Biar gampang kita," perintah si gondrong.


"Kamu ngapain?" protes Pan karena si gondrong hanya asal perintah saja.


"Aku mau bayar dulu. Masa kawan kita ini tidak diberi imbalan," jawab si gondrong sambil mengajak si sopir menjauh dan mereka bernegosiasi di sana.


Pan mendehem tidak senang, tapi pemuda bertubuh sedikit gemuk itu diam saja dan mengambil alas terbuat dari tikar purun dari dalam jok motornya. Ia segera menyusul Jo yang sudah membawa Shabita ke dalam hutan.


Sariani diam dan terus mengikuti mereka membawa Shabita. "Gadis itu tidur atau mati, jangan-jangan ia bunuh diri karena tidak tahan memertahankan dirinya," gumam Sariani.


Azan Magrib terdengar dari jauh. Sepertinya dari jarak 2 kilo perjalanan, ada sebuah musholla atau langgar. Hari makin gelap dan mereka tetap melaksanakan niatnya walau mendengar suara azan.


"Udah malam, Jo. Cepat nanti gak bisa lihat apa-apa lagi,!" perintah si gondrong.


"Yang duluan siapa?" tanya Pan.


"Aku aja!" seru Jo.


"Enak aja aku yang bayar," protes si gondrong.


"Udah! Kita suit aja," usul Pan.


Mereka bertiga berkumpul sedikit menjauh dari Shabita, membelakanginya. Sehingga tidak sadar kalau Shabita telah dikuasai oleh iblis itu. Kepala dan badan telah terputus, kini Shabita mengikik dan melayang mendekati mereka.


"Main bertiga saja. Saya kuat, kok," kata Shabita.


"Oke," jawab si gondrong. Saat ia berbalik ia sudah melihat iblis itu menatapnya dengan wajah pucat dan mata memerah. "Set-set-setaaan!!" teriaknya. Kalang-kabut ia segera lari.


Ketiga temannya melihat si gondrong lari, ikut juga lari dan sempat melihat tubuh Shabita yang tanpa kepala itu tergeletak di sana, sedangkan iblis tadi mengikik dan mengejar mereka.


"Kuyang, Jo! Aku takut Kuyang!" teriak si gondrong.


"Emak bilang, Kuyang takut sama lelaki, ini kenapa dia ngejar kita, sih?!" balas Jo seraya berlari sekuat tenaga.


"Kuyangnya genit, Jo!!" teriak Pan.


"Hihihi ...." Shabita terus mengejar mereka hingga telah sampai di daerah keramaian, barulah ia berbalik dan kembali lagi ke badannya.


"Untung kita sudah di desa, jadi dia tidak mengejar lagi," kata Jo.


"Astaga! Aku takut sekali. Sampai pipis di celana tadi," adu Pan.


Kedua temannya memerhatikan celana Pan yang basah, kemudian tertawa gelak, tapi yang membuat mereka lebih tertawa lagi, si gondrong rupanya sudah buang air besar di celana dari tadi.

__ADS_1


"Tobat! Aku takut masuk hutan, bawa anak gadis orang," kata Jo.


"Si sopir sialan! Akan kuminta uangku kembali," kata si gondrong dengan mengkeratakkan jemarinya sendiri.


__ADS_2