TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
95


__ADS_3

Talia menghentikan mobilnya tepat tengah malam di daerah tersembunyi. Ia memusatkan pikirannya. Matanya merah kemudian sayapnya mengembang. Ia berdiri di atas atap mobil. Memandang ke atas kemudian melesat bagai angin menuju ke arah kereta melaju.


Jesica mendengar suara dari dalam gubuk. Awalnya ia tidak ingin peduli dan tetap meneruskan tidurnya, tetapi ia menjadi terganggu lantaran Shabita mengerang di dalam sana. Ia kemudian bangkit dan melompat ke tanah.


"Van, kamu nggak papa? Apa sudah waktunya?!" tanya Anggara panik sambil merangkul Shabita.


"Ah! Ak--aku, uh ... aku ... sakit sekali, Anggara!" erangnya sambil menghela napas dan menghembuskannya berulang kali. Ia menggenggam jemari Anggara.


Anggara mengusap wajah Shabita yang berkeringat. Wajah gadis itu menguning, ia sempat ketakutan bila Shabita terkena dampak keracunan janin. "Sabar, tarik napas, hembuskan, ya!"


Shabita menurut saja. Ia meringis sakit ketika nyeri itu datang kembali. "Ya, Allah. Sakit!" rengeknya.


Jesica masuk tanpa di suruh. Ia hanya berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan mereka berdua. Shabita memandang Jesica, ia panik dan memegang erat lengan pemuda itu.


"Mau apa?" tanya Anggara.


"Cuma bersiap dengan perintah." Jesica tidak memandang lawan bicaranya, ia malah memandang ke luar sana. "Apa perlu bantuan?" tawarnya. "Mempung aku belum ditugaskan menebas lehermu, maka aku akan menawarkan bantuan."

__ADS_1


"Tidak perlu!" tolak Anggara. Ia merasa bisa mengatasi bersalin Shabita sendiri tanpa bantuan orang yang sewaktu-waktu akan menghabisinya.


"Ang, aku mengantuk." Shabita berkata lemah.


"Jangan tidur!" bentak Anggara.


"Agh!" Rasa sakit itu datang kembali.


Jesica tersenyum kemudian menghela napas. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Talia, tetapi Talia rupanya tidak dapat dihubungi. Langkah kaki berjarak lima puluh langkah menghampiri mereka. Jesica memandang Anggara yang pula memandangnya. Ia tersenyum, Anggara sempat heran dengan Jesica. Ia sangat murah senyum walaupun dalam keadaan seperti sekarang.


Jesica ke luar, ia menutup gubuk itu. Matanya melirik ke sana-kemari sambil berjalan maju. Sebuah tendangan tiba-tiba menyasar ke lehernya. Beruntung Jesica berhasil menyamping kemudian memapas betis itu dengan tangan kanannya. Ia berputar ketika sebuah tongkat besi nyaris menusuk dadanya. Jesica berlari mundur sambil menghindari serangan musuh yang bertubi-tubi ke arahnya. Trang! Saat tongkat membentur lengan besi Jesica, percikan api terlihat. "Ah!" Punggung gadis itu berhasil ditendang lawan. Ia termaju kemudian kembali lawan lain menyerangnya dengan sebuah tendangan, tetapi Jesica pintar dalam menghindar maka ia berjongkok kemudian menyerang kaki lawan hingga musuhnya terjatuh di tanah. Saat sebuah pedang nyaris menusuk kepalanya, ia dengan cepat membuang dirinya ke tanah kemudian bergulingan menghindari tusukan lawan. Saat kembali lawannya menusuk, ia menangkap pedang dengan satu tangan kemudian satunya lagi digunakan untuk menarik lawan agar menggantikan posisinya di bawah. Dengan segera Jesica merampas pedang kemudian menusuknya saat lawan berhasil dibuat membalik keadaan olehnya. Dua musuhnyakembali menyerang dengan melakukan tindakan memukul tongkat besi ke arah berlawanan. Jesica menangkap kedua tongkat besi itu, lantas menariknya sehingga musuh tertarik oleh daya tangkapan Jesica. Gadis itu menendang perut mereka secara bergantian. Mereka mundur, meringis dan membungkuk sambil memegang perutnya. Mereka saling pandang memberi isyarat untuk menyerang Jesica. Awalnya Jesica tidak curiga, tetapi di saat lawan satu menyerangnya, ternyata lawan lain malah menuju ke gubuk. Ia kewalahan menghadapi musuhnya yang tanpa memberi ampun menyerangnya. Brak! Pintu ditendang. Anggara dan Shabita terkejut melihat seorang pemuda berpakaian hitam telah berada di depan pintu.


"Nyonya, Anda harus pulang!" Lawan mereka mendekati Shabita dengan memikul sebuah tongkat besi panjang.


"Ah, Anggara!" erang Shabita. Dalam keadaan panik maka bertambah parah sakit yang sedang dideritanya saat ini. Darah mengalir deras di antara kedua kakinya.


Anggara tidak dapat meninggalkan Shabita untuk bertarung sementara bayi mereka sudah akan terlahir. Namun, tak ada pilihan lain selain melawannya. Maka ia berdiri sambil melepaskan Shabita. Pemuda itu menurunkan tongkatnya. Ia maju dan segera menyerang Anggara dengan tongkat besi. Anggara hanya mampu menghindari dan menangkis karena lawannya sulit sekali didekati. Nyaris saja ia menginjak Shabita yang berada di sana. Ia segera menyingkir untuk mengalihkan lawan.

__ADS_1


Jesica menebas mereka dengan kekuatan penuh, tetapi usahanya berhasil dipatahkan oleh tangkisan tongkat lawan. Bahkan ia diserang oleh musuh melalui jalur bawah, hingga kakinya yang menjadi sasaran harus terluka. Jesica tidak ingin menyerah begitu saja. Maka ia memutar pedangnya dengan amat lincah untuk menyerang musuhnya. Setiap kali mereka menyerang dari sisi berlawanan tiap kali pula gadis ini menangkisnya. Ia menyamping dengan menangkis tongkat yang akan menyerang dada. Ia pula berkayang sambil menangkis tongkat yang akan menusuk dadanya.


"Anggara!" teriak Shabita. Darah hitam keluar dari dirinya.


Jesica mendengar. Ia memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan yang darurat. Ia segera menyegerakan pertarungan mereka dengan menangkis tongkat dengan pedangnya kemudian menusuk dengan pedangnya. Ia kemudian melompat ke udara dan menukik ke bawah dengan sikap siap menebas kepala mereka secara serentak. Sekali tebas wajib binasa, itu pikirnya. Maka ia melakukannya, tetapi rupanya mereka dapat membaca gerakan Jesica maka dengan cepat mereka melintangkan tongkat ke atas kepala, menjadikan perisai. Jesica mengubah gerakannya. Ia tidak menukik, tetapi malah berputar kemudian kakinya berpijak pada tingkat mereka. Ia bersalto lagi kemudian mendarat dengan berjongkok di tanah, sekali mendarat langsung menebas kaki-kaki lawan hingga putus. "Agh!" erang mereka. Roboh di tanah dengan bergulingan kesakitan.


Jesica segera berlari ke gubuk. Ia sempat melihat Anggara sedang bertarung dengan lawan mereka. Lantaran kesal Jesica melompat dan menusuk ubun-ubun orang itu. Darah memercik membasahi wajahnya. Ia kemudian memandang Anggara yang pula memandangnya. "Urusi kekasihmu itu!" perintahnya sambil menarik kembali pedang kemudian menasukkan kembali ke dalam warangkanya.


"Van!" Anggara panik memandang wajah Shabita yang memucat. Ia memandang bawah gadis itu. Penuh dengan darah hitam. "Vaan! Bangun, jangan tidur!" Anggara menepuk pipi Shabita.


"Ia akan tewas bila dibiarkan tidur dalam keadaan sedang bersalin," kata Jesica.


Anggara menampar wajah gadis itu beberapa kali. Ia panik lantaran Shabita tidak kunjung membuka matanya. "Vaan!" Anggara nyaris menangis.


Angin bergemuruh di luar sana. Jesica segera menyelipkan pedang di punggungnya. "Nona Talia tiba," katanya.


"Bunuh saja kami sekarang, tetapi tolong jangan serahkan kami pada Talia!" mohon Anggara sambil merangkul Shabita. Ia pasrah asal jangan dipisahkan kembali dari kekasihnya.

__ADS_1


Jesica tak bergeming, ia hanya melirik Anggara tanpa berbalik. Ia kemudian keluar mendatangi suara gemuruh di luar sana.


__ADS_2