TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
133


__ADS_3

Dara bermain di depan rumah. Ia memandang di bawah pohon hantu perempuan memanggilnya. Dara segera berjalan, sedangkan Shabita sedang berada di ruang tamu sedang menjahit pakaian. Ia sesekali melirik Dara yang kini sedang bermain kejar-kejaran di bawah pohon dengan seorang gadis cilik seusianya. Berbaju putih kemudian berikat rambut kuning. Merasa Dara sedang asyik, maka Shabita kembali menjahit.


Gadis kecil itu menarik Dara untuk berhenti di belakang pohon. "Kamu akan punya adik?"


"Kata mama gitu," jawab Dara.


"Jangan mau. Nanti kamu nggak disayang lagi."


"Maca?"


"Iya! Aku punya adik, dia nakal. Aku dimayah mama telus!"


"Mama cayang!" bantah Dara.


"Papa?"


"Juga cayang!"


Gadis kecil itu berubah menjadi hantu tadi. Ia menatap tajam Dara. "Anggara bukan papamu. Dia akan membencimu setelah adikmu lahir."


"Bo'ong!"


"Dengar, papamu sudah lama mati karena Anggara. Pamamu dibunuh papa Anggara."


"Mana ada!" Dara segera berlari ke rumah. Ia menangis.


"Eh, kenapa lagi anak itu?" Shabita segera mendatangi Dara yang kini sedang menangis di sofa. "Kenapa anak mama nangis?"


Dara menggeleng, ia tidak akan bercerita. "Mama, cayang?"


"Sayang, dong."


"Papa?"


"Semuanya sayang Dara," jawab Shabita sembari merangkul Dara.


"Adek?"


"Sayang Dara."


Shabita heran, ia merasa ada yang aneh pada putrinya. "Apa ada yang bilang, mama sama papa tidak sayang Dara?"


Dara menggeleng, ia membaringkan tubuhnya di pangkuan Shabita. "Papa apan pulang?"


"Sore."


Anggara merasa aneh saat Shabita bercerita tentang tingkah Dara yang sepertinya dihasut oleh orang lain.


"Siapa yang bilang kita tidak sayang lagi? Kuremuk orang itu!" kata Anggara. Ia marah dengan orang yang menghasut Dara.


"Tenang, ini masalah sepele," kata Shabita.

__ADS_1


"Sepele katamu? Banyak kakak yang bunuh adiknya lantaran dihasut begitu. Kebanyakan orang terdekat yang bilang gitu ke anak kecil. Katanya punya adik tidak disayang lagi dan sebagainya. Dasar orang tua gila!"


"Di sini cuma kita berdua, Anggara. Siapa yang menghasutnya?"


"Tetangga, bisa jadi."


"Masa tetangga kita seusil itu?" gumam Shabita.


"Anak kecil seumuran dia juga bisa. Apa kamu melihat dia bermain dengan temannya?" 


Shabita ingat, ia siang tadi melihat Dara bermain dengan gadis seusianya. "Pagi tadi aku lihat dia sama seorang anak, tapi aku lupa anak itu ternyata belum pernah kulihat sama sekali di desa kita."


Anggara berdiri ia mendatangi Dara di kamar. Dara saat itu sedang menggambar di lantai. Ia membuat gambar rumah dan berbagai aneka bunga. "Dara sedang apa?" tanya Anggara seraya mengusap lembut rambut Dara.


"Papa, bau! Enggak mandi!" Dara menutup hidungnya.


Anggara yang masih mengenakan seragam, membaui dirinya sendiri. "Harum," sangkalnya.


"Bau!" sangkal Dara. "Mandi cana!"


"Dara, papa cuma tanya-"


"Bau!"


Terpaksa Anggara menghentikan pertanyaannya. Ia segera mandi.


"Dara kenapa?" tanya Shabita seraya memandang lukisannya.


"Papa bau!" adunya.


"Teman."


"Siapa namanya?"


Dara diam, ia menggeleng.


"Dara, siapa itu? Mama cuma mau tahu."


"E ... enggak tahu!"


"Dara, masa nggak tahu temannya siapa?"


"Nggak tau, Ma!" rengek Dara. Ia tidak mau melanjutkan melukis.


Anggara mengenakan piyama biru. Ia bersila duduk di antara Dara dan Shabita. "Sini anak papa. Papa udah mandi, udah wangi!" Ia meraih Dara kemudian dipangkunya. "Dara, sayang papa?"


"Cayang," jawab Dara.


"Cerita-cerita, dong. Siapa, sih teman Dara itu, selain beruang, robot dan cicak?"


"Cicak bukan temanku!" bantah Dara.

__ADS_1


Anggara tertawa geli. "Oh, bukan. Papa pikir itu teman Dara juga. Papa salah, ya?"


"Nggak ada," jawab Dara.


"Terus kenapa Dara tanya papa-mama sayang Dara?" tanya Shabita.


Dara tidak memandang Shabita, ia sibuk menciumi pakaian Anggara yang wangi.


"Dara, dengar mamamu. Ditanya, tuh?" nasihat Anggara.


"Nggak ada," jawab Dara.


"Dara nggak bohong?" bisik Anggara.


Dara merangkul Anggara. "Ade ada, apa, Papa asih cayang aku?"


"Masih, dong. Kan, anak papa." Anggara mencubit gemas pipi Dara. Ia melirik Shabita.


"Nanti Dara bantu mama jaga adik, ya?"


"Iya!" jawab Dara senang. Ia beralih merangkul Shabita.


"Nah, gitu, dong. Mama tambah saaayang, sana Dara."


Anggara merangkul Shabita. "Mau, dong pelukan!"


"Ikut-ikutan," ejek Shabita.


Anggara gemas, ia menggigit pipi Shabita. Dara tertidur di pangkuan Shabita. Anggara segera membawanya ke tempat tidur.


"Aku takut dia tahu kalau aku ini bukan bapaknya," keluh Anggara seraya mengusap lembut kepala Dara.


"Kenapa kamu setakut itu?" Shabita dari dulu heran dengan sikap Anggara yang selalu melarangnya mengungkit soal Toni. "Apa kamu cemas bila dia marah kemudian ba-"


"Bukan itu!" potong Anggara.


"Lantas?"


"Perasaan anak ini berbeda. Aku takut sekali," jawabnya. Ia takut perasaan Dara bukan lagi perasaan seorang anak pada ayahnya, melainkan perasaan perempuan yang menyukai lawan jenisnya. Ingin rasanya menghapus ingatannya tentang mimpi yang lalu. Namun, bila Shabita memimpikan hal yang sama pula, maka besar artinya, itu akan terjadi di masa yang akan datang.


"Aku kurang paham maksudmu," jawab Shabita. Ia kini bersandar pada kepala ranjang.


Anggara segera duduk di sebelahnya. Ia meraih jemari kanan Shabita. "Seandainya kita nanti harus berselisih, kuharap kamu tetap bersamaku. Jangan pernah memilih antara aku dan Dara," pintanya.


Shabita heran, ia memandang Anggara, ingin mencari jawaban di mata pemuda itu. "Aku bingung. Aku tidak paham mengapa kamu akan berpikir aku akan memilihmu di antara Dara?"


"Berjanjilah saja!" rengek Anggara.


Shabita menghela napas. Ia kemudian tersenyum sembari mengangguk. "Aku janji. Akan selalu berdiri di tengah kalian berdua," ikrarnya.


"Dan aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Anggara.

__ADS_1


Hantu perempuan itu berdiri di bawah pohon. Kini ia tidak dapat masuk ke rumah Anggara lagi, tetapi niatnya untuk menghancurkan pemuda itu masih besar dan hingga kini ia masih dendam dengan Anggara. "Kamu yang membuatku terbunuh, Anggara! Aku tidak akan biarkan kamu tenang, bahkan anak gadis itu akan menjadi sumber petakamu!" Ia kemudian lenyap.


tolong divote dan like seikhlasnya.


__ADS_2