TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
63 PERTARUNGAN TALIA 2


__ADS_3

Talia memandang ke luar jendela, gadis itu melangkahkan kaki kanannya ke belakang, bersiap untuk mendorong Shabita ke sana. Berlari dengan cepat menubruk Shabita yang terkejut melihatnya datang menyerang. Brak! Teralis besi terlepas dari jendela. Talia mendorong Shabita ke luar, gadis itu berusaha melawan cakaran Shabita yang berontak dari pegangannya.  Mereka meluncur dengan cepat ke bawah, Talia tidak membiarkan Shabita terlepas darinya maka ia melebarkan sayap hitamnya, membawa gadis itu terbang tinggi ke udara. Anggara terpana melihat mereka berdua saling serang di udara terbuka. Sariani memandang ke atas, ia melihat Shabita dikuasai oleh Wati.


Bisa gawat kalau Shabita tidak sadar juga. Gadis itu akan tiada dalam 40 hari dan Wati akan hidup dalam dirinya. Sariani beralih memandang Anggara di sana. Toni akan menghabisinya bila melihat pemuda itu di sini. Mata Sariani kini menyipit, ia mencari cara untuk mengunci Wati.


"Germ!" Shabita terlepas dari Talia. Nyaris menimpa sebuah rumah beratap runcing bila Talia tidak menukik dan menangkapnya, kemudian melemparkan Shabita ke tempat lain.


Kras! Shabita terhempas jatuh menimpa puncak pohon, kemudian terjatuh ke tanah. Shabita berusaha bangkit kembali, namun Talia telah mengangkatnya kembali ke udara dengan kecepatan penuh lalu melempar Shabita lagi ke arah barat hingga gadis itu terhempas menubruk bangunan di sekitarnya. Tembok bangunan roboh dan Shabita telempar jauh ke dalam sana. Gadis itu terdampar di bawah reruntuhan bangunan. Talia melompat ke bawah sambil menyimpan sayapnya di dalam daging punggungnya. Berjalan memasuki gedung di mana Shabita terlempar tadi.


"Hahaha. Kamu boleh juga." Shabita berbaring telentang sambil melihatnya. Matanya tidak menampakkan kegelisahan apalagi kesakitan.


Talia merasa aneh karena hanya bajunya saja yang koyak sebagian, tetapi tubuhnya tidak terluka sedikitpun. Kenapa dia masih bertahan walau sudah nyaris habis tenagaku untuk menyerangnya? Talia berdiri tepat di depan Shabita berbaring. "Sha, sadarlah. Masih ada waktu untukmu kembali." Talia mencoba membangunkan kesadaran Shabita.


"Sadar. Hahahaha.... Tidak perlu! Karena dia sudah menyerah untuk hidup. Aku bisa terbangun karena melakukan perjanjian dengannya." Shabita bangkit berdiri.


"Apa maksudmu?" tanya Talia tidak mengerti perjanjian yang dimaksud. Matanya mengawasi Shabita yang berjalan mengitarinya.


"Gadis ini nyaris mati kalau bukan aku yang menawarinya untuk melawan, tetapi dia bodoh mau percaya kalau aku akan menguasainya sementara karena aku tidak akan membiarkannya hidup. Dia harus tiada dan aku yang akan hidup. Hihihi...." Shabita berhenti di hadapan Talia. "Anak ini akan kuberi makan apa yang kumakan selama ini."


Talia masih tidak mengerti kenapa ibu tirinya bisa melakukan perjanjian seberbahaya itu dengan iblis licik ini, tapi akan sangat berbahaya bila sampai Shabita terlepas olehnya hari ini, gadis ini akan menjadi momok paling mengerikan di kotanya.


Shabita terkikik di wajah Talia. Rambutnya melayang di udara meliuk seperti ular. "Kamu pasti heran melihat Kuyang yang membawa raga utuh untuk memangsa korbannya atau kamu takut aku lepas darimu?"

__ADS_1


Pertanyaan gadis itu tepat sasaran karena yang ditanyakannya sempat membuatnya berdecak takjub tidak percaya. "Keluarlah, biarkan gadis ini bahagia. Kamu sudah cukup hidup di masamu maka jangan mengganggu kehidupan yang masih berlangsung," nasehat Talia. Ia mengatur kekuatannya untuk berjaga-jaga bila Shabita kembali menyerangnya.


"Enak saja kalau bicara!" bentak Shabita. Ia mencengkram leher Talia hingga gadis itu mengeluarkan darah di bibirnya.


Talia berusaha meronta saat Shabita menaikkannya tinggi hingga terangkat dari lantai. "Aku sudah bilang kalau aku lapar maka jangan membuatku kesal! Aku sebenarnya hanya ingin memakan Anggara karena pemuda itu selalu bisa mempengaruhi Shabita dan aku muak denganya!"


"Agh! Apa hubungan kalian berdua dengan pemuda itu?" tanya Talia. Ia berusaha mengeluarkan pertanyaan walau dada dan lehernya sangat kesakitan.


"Dia kekasih ibumu!" Shabita membentak Talia kemudian melemparnya ke dinding. Dinding pecah hingga Talia melesat jatuh ke bawah. Gadis itu jatuh berdebam ke tanah dan anehnya suara ledakan dan hancurnya pertarungan tidak membuat warga sekitar terjaga dari tidur mereka, seperti ada kekuatan gaib yang mampu menidurkan mereka.


Talia tersedak darah yang keluar dari mulutnya. Hidungnya mimisan, Shabita kembali akan menyerang, namun lebih dulu Talia bangkit berdiri dan berlari menghindari gadis itu yang melesat bagai kilat. Ia terdorong dan terlempar jauh. "Ah!" erangnya. Tubuhnya terasa remuk semua, sulit berdiri hanya mampu mengawasi sekitarnya. Takut kalau Shabita menyerang secara tiba-tiba ke arahnya. Bayangan melesat cepat melewatinya, Talia memandang lesatan itu kemudian berbalik memandang ke arah berlawanan. Di mana dia? Agh! Tubuhku terasa nyeri semua! Ia diam-diam sangat takut dengan kekuatan Shabita padahal sebelumnya Talia adalah gadis paling berani dan tak pernah mundur bila sudah bertarung.


Talia terkejut melihat betapa ia tidak akan mampu menandingi kesaktian Shabita. "Papa! Papa!" teriaknya. Ia mengadu papa ayahnya.


Shabita segera memandang tajam Talia dan mengeram marah, memerkuat cekikannya pada leher gadis itu hingga Talia kesulitan untuk bernapas. "Beraninya kamu mengadu! Akan kuhabisi kamu!"  Shabita mengangkat Talia dan membantingnya ke tanah.


Sariani melihat Talia dalam bahaya. Shabita memanjangkan kukunya yang kini meruncing mengeluarkan darah hitam menetes ke tanah dan melehkan apa saja yang dikenainya. Betapa ngerinya kekuatan Wati bahkan Sariani belum tahu bahwa Kuyang bisa memiliki kemampuan selebih itu. "Apa karena minyak itu?" gumamnya.


Talia berusaha mundur dengan cara  mengesot. Ia melihat betapa mengerikan kekuatan gadis itu dan baru sekarang ia mengalaminya. "Eg!" Talia menahan sakit saat telapak tangan yang dipakai sebagai berjalan malah terkena duri. Darah mengalir deras sementara Shabita terus maju. Ia mendengar sebuah suara. Biarkan aku membantumu, aku berjanji akan pergi setelah mengalahkannya. Talia masih berpikir. Cepatlah putuskan bila ingin selamat! Talia memantapkan keputusannya, baginya tidak ada cara lain. Maka gadis itu mengangguk setuju. Sebuah perasan menyesak dalam dirinya membuatnya tersentak dan tubuhnya kembali bugar.


Shabita terkejut saat melihat Talia menghilang dari hadapannya, raib seketika. Ia mencari-cari dengan ekor matanya. Talia terheran saat ia sudah berada di atas atap gedung pertarungan tadi. Ia meraba tubuhnya dan memastikan keadaannya yang seketika pulih kembali. "Apa yang terjadi, kenapa aku masih sadar padahal sedang dirasuki?" gumamnya. Ia kemudian memandang Shabita di bawah sana sedang mencarinya.

__ADS_1


"Aku tidak mengambil sepenuhnya dirimu. Kubiarkan kamu bertindak sesuai keinginanmu, aku hanya meminjamkan kesaktianku padamu. Kuharap kita bisa berkerjasama dengan baik," bisik Sariani dalam pikiran gadis itu.


"Siapa kamu sebenarnya?"


"Roh penjaga Shabita. Aku yang mengunci Wati agar jangan sampai terbangun," jelas Sariani.


Talia masih ingin bertanya, namun rupanya Shabita telah menangkap basah dirinya di atas atap. Talia terpaksa bungkam dan bersiap. "Dia datang!" adu Talia saat melihat Shabita melompat melesat ke arahnya.


"Kurang ajar!" Shabita kehilangan Talia. Gadis itu raib dari penglihatannya.


Talia nampak di kejauhan dengan sayapnya. Ia memandang dirinya, takjub dengan kekuatan baru yang dipinjamkan oleh Sariani padanya. Shabita menangkap sosok Talia yang berdiri di udara dengan matanya. Gadis itu mengeram marah. Sinar matanya melesat menembak Talia, namum lagi-lagi gadis itu menghilang. Shabita kebingungan mencarinya.


"Sariani! Sampai kapan kamu menggangguku?! Anak durhaka!" teriaknya murka.


"Dia ibumu?" gumam Talia tidak percaya.


Sariani tidak menjawab, ia bahkan membuat Talia bergerak sendiri, maju menyerang Shabita dengan kekuatan penuh. Awalnya Talia terkejut dirinya bergerak sendiri, tapi ia juga harus bisa bekerjasama dengan Sariani maka Talia memusatkan seluruh inti kesaktiannya untuk menyerang Shabita yang berdiri menembakinya dengan sinar matanya. Talia menghindari setiap tembakan yang datang, terkadang gadis itu menepisnya hingga mengenai pepohonan yang kini terbakar oleh perbuatannya.


Bersambung....


Capek mikir saya lanjut besok

__ADS_1


__ADS_2