TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
Krasue


__ADS_3

Sariani mendatangi Datuk yang sedang meratapi kepergian cucunya. Baru saja ia menasehati, tetapi telah terjadi hal yang paling ditakuti selama ini.


"Maaf," ucap Sariani.


"Aku tak masalah. Hanya saja apa yang akan kukatakan pada warga yang menanyai di mana kepalanya. Apa yang harus kuperbuat." Ia duduk di  ranjang di mana jenazah Samma yang buntung tanpa kepala saat ini terbaring.


Sukma meratapi sambil menangis dipeluknya jenazah putrinya, ia tidak tahu apa-apa. "Kenapa Samma jadi begini? Kenapa menyedihkan kematianmu, Nak?"


"Aku tak bisa berbuat banyak, jangankan mencegah menyelamatkan Vanesa saja aku tak mampu. Sekarang pemuda itu pun berada di Rumah sakit." Sariani mendesah, merasa kecewa pada diri sendiri.


"Jagalah dia kalau kamu bisa. Aku akan membantumu seandainya kamu dalam kesulitan,'' janji Datuk.


Sukma merasa heran. "Ayah bicara pada siapa?" tanyanya sambil memerhatikan ke sekelilingnya. Tak ada siapa-siapa.


"Tidak ada," jawab Datuk. Ia kembali memandang Samma dan menepuk bahu Sukma kemudian berdiri. "Sebaiknya kaumandikan anakmu ini. Kalau ada yang melihat bisa gawat, biar kita berdua saja yang tahu kematiannya."


"Tapi, Ayah. Kenapa putriku begini?" tanya Sukma tidak terima putrinya langsung disemayamkan begitu saja. ''Akan ku'urus ini ke kepolisian biar pelakunya ditangkap!" tekadnya.


"Apa yang kamu katakan?! Jangan gegabah!"


"Tapi kenapa?!" teriak emosi Sukma. "Kenapa Ayah seperti menyembunyikan sesuatu, kenapa, Ayah?!"


"Tak ad-"


"Aku tak peduli! Kalau tak membalas aku tak akan hidup tenang!" Sukma bangkit dan hendak ke luar.


"Balas, balaslah! Maka kamu akan bernasib sama dengan putrimu. Jadi Kuyang saja sana, jadi saja!"


Sukma terdiam kemudian segera berbalik, ia terkejut mendengar perkataan ayahnya. "Apa maksud, ayah?" Ia mendekat dan menuntut jawaban lewat pandangan.

__ADS_1


"Samma anakmu adalah Kuyang, dulu kamu juga begitu."


Sukma termundur beberapa langkah, ia terpukul mendengar semua itu. "Apa aku ... Kuyang?"  Menaruh telapak tangan ke dada.


"Ya, kamu Kuyang. Karena kamu anakmu menjadi Kuyang pula!" Datuk menunjuk Sukma.


Sukma mundur dan berbalik, menangis. "Aku ...." Tak sanggup berucap. Ia berlari memeluk putrinya. "Kenapa terjadi padamu? Apa yang ibu lakukan anakku?" Ia mengusap tubuh Samma sambil berderai airmata.


Sariani masih di sana, ia hanya mengawasi. Datuk memandangnya sambil mengangguk, Sariani kemudian pergi dari sana. Ia hadir kembali di  Rumah sakit untuk menjenguk Anggara. Menembus pintu kamar dan memandang Anggara di sana.


"Ku ingin memulihkan ingatanmu, tapi pasti kamu akan mengejarnya. Anggara aku serba salah," ucap Sariani.


Ali datang membawa mawar, langsung duduk di sofa sebelah dipan Anggara. Mengambil HP-nya yang berada di kantung celana depan sambil menunggu Anggara bangun. Sariani menghilang.


 


****


"Sebentar lagi kita akan tiba di rumah," katanya sambil melirik arlojinya.


Shabita tidak menoleh apalagi ingin membalas. Ia diam seribu bahasa, pasrah dengan keputusan Toni. Toni mendekat dan menghapus airmata di pipi shabita, gadis itu tak membantah, diam saja seperti batu.


Toni tertawa melihatnya kemudian kembali santai di tempatnya. "Jangan keterlaluan mencintainya. Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku nanti." Tanpa berpaling apalagi melirik, ia menyandarkan sikunya di jendela samping dan mengusap dagunya sendiri.


Shabita bersandar dan memandang pada jendela samping dan membayangkan Anggara di sana. Aku gila, aku rela demimu, sayang. Ia tersenyum namun matanya menangis. Memejamkan mata, mengontrol emosi.


Mobil berhenti di sebuah rumah megah berhalaman mencapai 1 hektar lebih. Shabita ke luar namun sebelumnya ia diberikan pelayanan buka pintu oleh pelayan di sana. Ia memandang rumah putih berhias banyak bunga pas di situ.


"Ayo!" ajak Toni seraya menuntun Shabita agar masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Shabita dan Toni disambut sepuluh pelayan wanita dan lima pelayan lelaki. Memakai seragam hitam, wajah mereka pucat tanpa darah.


"Mereka adalah pelayanku." Toni memerkenalkan mereka pada Shabita.


Shabita diam saja. seorang gadis datang langsung memeluk Toni, usianya ditafsir Shabita baru menginjak dua puluh tiga tahun, sangat manis dan imut.


"Siapa dia?" tanya gadis itu heran.


"Dia calon ibumu," kata Toni sambil meraih pinggang Shabita.


"Oh," gumam gadis itu sinis. "Rupanya sejenis Krasue juga," sindirnya dengan senyum miring.


Shabita memandang Toni, tidak paham maksud gadis itu. "Krasue adalah Kuyang di sini," bisik Toni. "Oh, ya. Nama putriku adalah Talia, sedangkan namanya adalah Shabita." Toni memerkenalkan mereka berdua.


Toni memeluk Shabita kemudian berbisik, "Aku tak mau ibu tiri," tegasnya.


Shabita memandangnya yang telah melepas rangkulan darinya. ia hanya mampu tersenyum manis dipaksakan. Pelayan menunjukkan kamarnya, ia pandangi tempat itu dan berkata, "Pergilah."


Pelayan wanita bertubuh besar itu mengangguk kemudian pergi. Shabita segera mengunci pintu dan menangis di belakang pintu itu. "Hikz ... hikz ...."


Sementara Sariani berdiri di luar sana, ia ingin memasuki tempat  Toni, namun terhalang pagar gaib yang selalu mendorongnya. "Van, aku di sini. Bisakah kamu membuka jendelamu dan menatapku di bawah?" gumamnya.


Shabita seperti mendengar suara Sariani, ia berlari ke luar kamar dan menuju ke ruang tamu, akan keluar. Seorang pelayan lelaki berkepala botak menghalanginya di pintu. Shabita mundur dan kembali.


Sariani masih menunggu hingga Shabita keluar dari sana. Ia hanya berharap Shabita dapat keluar dan berbicara padanya walau hanya sebentar saja.


 


 

__ADS_1


 


Part selanjutnya LADANG KRASUE


__ADS_2