
Lay sedang berduka atas kematian ibunya. Ia mendapat kabar menjelang subuh, bahwa ibunya ditemukan tewas tersangkut di kabel listrik yang putus. Tubuhnya nyaris tinggal tulang, kering tanpa cairan sama sekali. Talia mengenakan pakaian serba hitam, datang dan menepuk punggung sahabatnya itu. Lay hanya melirik gadis itu, kemudian kembali memandang peti mati yang sebentar lagi akan disemayamkan. Pendeta tampak sedang membaca doa.
"Aku turut berduka," bisik Talia, saat ibu pemuda itu telah dikuburkan dengan layak.
"Ya, semua baik-baik saja, kok." Pemuda itu tersenyum.
"Mau kutemani lebih lama di sini?" tawar Talia.
Lay menggeleng, ia tersenyum. "Tidak usah. Nanti kuliahmu akan terganggu."
"Tidak masalah. Aku akan izin sehari," kilah Talia.
"Nggak usah, aku cuma pengen sendiri."
"Benar, nih?"
"Ya," jawabnya sambil memandang kuburan.
"Oke." Talia tidak memaksa lagi. Ia hanya memeluk Lay dan menepuk punggungnya, kemudian pergi dari sana.
"Ibu, kenapa pergi ke sana? Kan, sudah kubilang dia berbahaya." Lay berbicara sendiri. "Shabita itu siapa, Bu? Kenapa dia begitu kuat, apa yang dimilikinya hingga bisa mengalahkanmu?"
Balaskan dendam ibumu, Nak! Ibu tidak akan tenang bila kamu tidak menghabisinya! Suara itu membuat Lay mundur dan memandang nisan ibunya. "Bu," panggilnya untuk memastikan itu suara ibunya. Balaskan! Balaskan! Kembali suara itu terdengar. Kali ini disertai angin kencang. Lay menutupi wajahnya dengan lengan agar debu tidak mengenai matanya. "Bu!" Balaskan! Balaskan! Setelah suara itu terdengar, kembali alam menjadi normal. Angin tidak lagi ada. Lay memandang kuburan ibunya.
Di sisi lain Shabita sedang berjalan di pertokoan. Ia memandang baju dress bunga sakura berlengan buntung. Tampak mengagumi keindahan coraknya. Ia menjadi pusat perhatian lantaran bajunya yang kumal dan tidak beralas kaki. Walau begitu kecantikannya masih menjadi daya tarik bagi mereka yang memandangnya.
"Kamu suka baju ini?" tanya seorang pemuda berwajah manis dan mengenakan kaus coklat berkerah. Shabita mengangguk. "Mau memakainya?" tanyanya. Shabita mengangguk. "Tunggu di sini," pintanya. Pemuda itu masuk ke toko dan berbicara sambil menunjuk baju yang gadis itu inginkan.
Kebetulan, aku perlu tempat tinggal. Manusia ini bisa kumanfaatkan untuk tempat persembunyianku.
Pemuda itu datang dan memberikan. barang belanjaannya. "Ini," suruhnya.
"Terima kasih," ucap Shabita sambil menerima tas belanjaan untuknya.
"Di mana suamimu?" tanyanya sambil melirik ke sana-kemari.
"Suami?" Apa dia mengenal Toni?
"Iya, suami. Melihat perutmu, masa cacingan, pastinya sudah menikah, kan?"
"Oh, dia tidak ada. Sedang sibuk."
"Sesibuk itukah sampai kamu berpakaian jelek dan tidak memiliki alas kaki begini?" Ia memandang Shabita dari atas hingga ke bawah.
__ADS_1
"Aku--"
"Apa kamu dicampakkan?" potongnya.
Shabita menunduk. Sial! Dipikirnya aku gembel!
"Ikut saya kalau begitu!"
Shabita memandang orang itu. "Untuk apa?"
"Aku kasihan melihatmu. Kamu seperti gembel!" Terang-terangan dia berucap sambil memasukkan kedua jemari tangannya ke saku depan celana.
Hem, dasar tidak tahu kecantikan. Shabita melotot tidak senang.
"Kamu punya rumah? Biar kuantar, tetapi bila tidak ada lebih baik tinggal di rumahku daripada melahirkan di jalanan."
"Aku ... tidak punya siapa-siapa," jawab Shabita lemah. Pemuda bodoh ini mesti dibodohi betul-betul!
"Oke," katanya sambil memangut. "Ikut saya saja."
"Ke rumahmu?" tanya Shabita curiga.
"Tentu."
"Ikut saja. Tidak perlu takut karena saya tidak jahat."
Pemuda itu berjalan mendahului Shabita, tetapi beberapa langkah ia berhenti dan memberi isyarat agar Shabita bergerak. Shabita segera mengikuti langkah lelaki itu masuk ke mobil.
"Siapa dia?" tanya seorang wanita bergaun putih. Ia memandang Shabita dari kaki hingga kepala. Dia, hamil?
Setelah sampai di sebuah rumah megah Shabita hanya memandang ke sekitarnya sedangkan pemuda dan wanita itu menjauh membicarakannya.
"Dia kutemukan di depan toko. Kamu lihat, dia mengandung?"
"Lantas, jangan bilang karena aku mandul kamu punya anak dari dia?!" tudingnya.
"Bukan itu maksudku! Kita bisa memeliharanya dan mengambil bayinya bila sudah lahir kelak."
Wanita itu kembali melirik Shabita yang masih asyik memandangi keindahan lukisan di dinding. "Dia tahu?" tanyanya.
"Tidak dan jangan sampai tahu," jawabnya sambil memandang Shabita. "Dia cantik, kan? Anak kita pasti sangat sempurna?" Ia meminta pendapat wanita itu.
"Ya," jawab Istrinya.
__ADS_1
"Rawat dia dengan baik dan turuti kemauannya!" perintahnya.
"Sampai kapan?!" Wanita itu protes.
"Kita buang dia bila sudah memberi kita anak!" Niat jahat tercetus begitu saja.
"Bila timbul masalah, bagaimana?" tanyanya cemas.
"Kita bersihkan sampai tuntas!" jawabnya yakin.
Wanita itu tersenyum, mengerti maksud dari suaminya. Ia menghampiri Shabita dan memegang pundak gadis itu. "Namamu siapa?" tanyanya ramah.
"Shabita," jawab Shabita.
"Saya Maria, istri dari Leo. Orang yang membawamu kemari." Ia menunjuk suaminya yang tersenyum ke arah mereka. "Panggil saja kakak, ya?"
Shabita tersenyum manis. "Iya," ucapnya.
"Mari, kakak tunjukkan letak kamarmu," ujarnya sambil menuntun Shabita. Ia sempat berkedip mata pada Leo.
Shabita diberi kamar mewah. Ia sempat memandang Maria, kemudian memandang ruangan dengan mata berbinar. Sungguh elegan dengan fasilitas lengkap seperti hotel. Bukan hanya itu, di situ ada banyak boneka lucu.
"Ini kamar saya?" Seolah tidak percaya bila semua itu disiapkan untuknya.
"Tentu," jawab Maria sambil tersenyum manis. Kalau bukan karena anak, mana sudi aku menampung perempuan yang lebih cantik dariku. Lantaran Leo saja aku rela menerima perempuan gembel macam kamu! "Nikmati semua yang kamu mau," katanya. Setelah itu meninggalkan Shabita yang merangkul boneka beruang.
Shabita membuang boneka ke kasur. "Asam! Ternyata dia sudah beristri. Hem! Akan kubuat istrinya sakit-sakitan dan aku akan menggantikan posisinya di rumah ini!"
"Bagaimana, apa dia suka dengan kamar itu?" tanya Leo saat Maria keluar dari kamar Shabita.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" jawab Maria ketus. "Aku tidak suka kamu membicarakan perempuan lain."
"Karena kita harus membuatnya betah. Tolong kamu jangan mencolok membencinya."
"Ya, ya! Aku tahu. Sekarang apalagi?" jawab Maria dengan malas-malasan.
"Kali ini kamu harus sabar. Aku tidak mau dia mengetahui rencana kita. Kamu ingat tiga mayat wanita yang kita kubur di belakang rumah? Itu karena kamu tidak sabaran, terpaksa aku menghabisi mereka bertiga." Leo menatap tajam Maria.
Maria memutar bola matanya. Ia bosan selalu diingatkan tentang kesalahan kecilnya. Kali ini ia pun tidak mau dipersalahkan lagi. "Ya, aku janji. Dia akan kujaga dan mulutku akan kukunci biar tidak keceplosan lagi!"
"Itu baru Maria-ku." Leo merangkul pundak istrinya.
Up sini dulu. Saya mau bobo dulu. Makasih udah meluangkan waktu untuk membaca.
__ADS_1