
Dara sedang kemogokan motor, ia kini berada di tepi jalan. Pagi tadi Anggara tidak mengantarnya ke kampus karena ada tugas penting berlainan arah. Saat ini ia tengah kedinginan. Sembari mengusap kedua lengan secara bergantian ia pula mencegah kendaraan lewat. Tidak ada satu pun mau singgah. Teleponnya pun mati. Ia kebingungan. Hujan mengguyur dirinya. Ia segera berlari ke bawah pohon.
"Ah!" Ia mengaduh saat ada sesuatu yang membuat matanya terasa terbakar. Ia lantas mengambil ponsel dari kantung celana kemudian memaksakan ponsel yang telah lemah batrainya itu agar menyala, menjadikan cahaya ponsel untuk menerangi kaca bedak rias untuk melihat matanya. "Apa ini?" Ia terkejut memandang kedua bola matanya menjadi merah menyala. Ia segera memandang kembali. "Hups!" Lega hatinya saat mata kembali normal. Namun, ia masih penasaran lantas kembali melihat. "Aaaa!" Ia membuang cermin begitu saja. Bukan hanya mata, tetapi taring juga terlihat dari benda itu.
Dara mencoba berpikir rasional. Ia benar-benar syok. Apalagi di tengah derasnya hujan kemudian malam semakin larut. Ia tidak mampu berpikir kembali. Masih ngeri terbayang wajah dalam cermin. Saat sedang kebingungan, sebuah mobil menyinggahinya. Ia lantas memandang dengan heran. Pintu mobil terbuka begitu saja membuatnya terkejut. "Masuk!" perintah seorang lelaki. Ia didorong masuk ke mobil tersebut.
Dara mencoba melepaskan diri, tapi ia kalah kuat oleh tekanan kedua orang lelaki tersebut. Ia hanya sempat mendengar saat terkena bius oleh mereka. "Bos, kita dapat mangsa baru. Bisa dijual dengan harga mahal malam ini." Dara menutup kedua matanya. Tak mampu mengendalikan obat yang mengalir dalam darahnya. Ia hanya berucap satu, "Papa."
Shabita menunggu Dara pulang. Ia cemas karena Anggara pun tidak ada. Ia telah menghubungi sahabat Dara. Semua tidak ada yang tahu di mana anak itu. "Ke mana kamu, Nak?"
Anggara pulang basah kuyup. Ia segera masuk kamar melewati Shabita yang sedang mondar-mandir menunggu Dara. "Ada apa?" tanya Anggara setelah berganti baju.
"Dara, dia tidak pulang dari siang," adunya.
"Sudah hubungi temannya?"
"Sudah!Jawabannya tidak tahu."
Anggara menghentikan kegiatan menggosok rambutnya dengan handuk. Ia lantas mengambil kunci mobil yang tadi ditaruh di atas meja. "Tunggu di rumah!" cegahnya saat Shabita akan ikut. "Tunggu dia di sini. Bila dia datang hubungi aku!" pesannya. Anggara segera menuju mobil.
Lani menggosok kedua matanya. Ia heran melihat mereka ribut membicarakan Dara. "Mama," rengeknya.
"Tidur," pinta Shabita.
Terpaksa Lani kembali ke kamar. Ia kemudian berbaring. Shabita masih menunggu dengan cemas sembari memandang ponsel. Berharap ada yang menghubunginya.
Dara terbangun di sebuah kamar. Pandangannya berputar. Ia merasa pegal karena terlalu lama di mobil. "Di mana ini?" Ia memandangi seluruh sisi. Baru ingat sesuatu, ia kemudian mendengar suara pintu dibuka. "Gawat!" Dara lantas berlari. Ia bersembunyi di lemari.
"Di mana dia, gadis yang dijanjikan itu?"
Dara memandang sebuah kaki dengan celana hitam sedang mondar-mandir mencarinya. Dari kolong meja hingga kolong ranjang. Ia ingin menangis, sangat takut sekali. "Tolong!" rontanya saat pintu dibuka.
__ADS_1
"Di sini kamu rupanya!" Ia menarik agar Dara segera keluar.
Dara memukuli tangan yang hendak menjamahnya. "Papa, Dara takut! Papa!" Ia ditarik kemudian diangkat. "Papa! Aw!" Dara dilempar begitu saja ke ranjang. "Tolong!" Ia menangis sejadi-jadinya seraya meronta.
Kamu bukan manusia lemah. Kamu adalah ratu. Maka bangkitlah dirimu! Sebuah suara membuatnya tersentak lantas terdiam mematung. Lelaki itu heran mengapa Dara malah terdiam. Namun, ia tidak peduli. Demi memuaskan hasratnya ia akan melakukannya. Namun, belum sempat itu terjadi ia tersentak lantas mundur. "Seettttaan!" teriaknya. Ia berusaha lari saat mata Dara menjadi merah. Taringnya memanjang.
"Hihihihihi...." Dara tertawa dengan memandang tajam korbannya yang kini hanya mampu berlari di tempat. "Mau bersenang-senang, Om," godanya sembari menjulurkan lidah panjang ke arah leher.
"Tidak, ampuun!" mohonnya sembari bersimpuh. Ia sudah lelah berusaha lari.
Dara tertawa kembali. Ia kemudian menarik rambut orang ini hingga terangkat. "Enak saja. Tadi kamu ingin main-main. Sekarang kamu ingin menyudahi. Aku belum puas."
"Ampuun!" hibanya.
"Hem, aku sudah lama tidak menghisap darah," bisiknya sembari menjulurkan lidah kemudian menusuk telinga korbannya. Darah menyembur.
"Agh! Sakit!" Korbannya mengaduh sakit karena gendang telinganya pecah.
Dara memandang jendela. Ia lantas melompat dari sana kemudian segera berlari cepat menerobos hujan. "Apa yang kulakukan tadi?" Ia kebingungan. Tidak tahu kenapa ia bisa berbuat demikian. Bila ingat itu ia segera meludah. Jijik rasanya. Ia menyapu darah dari bibirnya kemudian memandang jalan. Lampu mobil menyilaukannya membuatnya harus menutup sebagian wajah dengan lengan.
"Dara!" Anggara segera berlari.
"Papa!" Dara berlari merangkul Anggara. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Ada apa sayang?" Ia terkejut karena pakaian Dara robek sebagian. "Dara!" bentaknya karena Dara hanya menangis tidak mau bicara.
"Dara takut!" teriak Dara.
"Ayo, kita masuk!" Ajak Anggara. Ia segera mengajak Dara masuk ke mobil. Anggara kemudian memberikan baju cadangannya pada Dara. "Kamu sakit, terluka atau ada yang mengusikmu?" tanya Anggara hati-hati sekali.
"Dara diculik."
__ADS_1
Terkejut Anggara mendengarnya. Kebingungan. "Terus kamu bisa kabur, bagaimana?"
"Dara nggak ngerti," jawab Dara.
Anggara kebingungan bertanya. Kalau perempuan lain mungkin ia akan bertanya secara mudah, tapi ini anak gadisnya sendiri. "Apa kamu dino--ah, lupakan!" Anggara tidak jadi bertanya. Ia takut prasangkanya terjadi. Bagaimana dengan Shabita nanti.
Dara melirik Anggara. "Papa, kenapa?"
"Tidak ada. Kita pulang."
"Aku nggak mau!" tolak Dara.
"Apa kamu takut sama mamamu?"
"Tidak."
"Lantas?"
"Dara nggak mau jauh dari papa. Dara takut sekali!" Ia sebenarnya ingin bercerita tentang keanehan dirinya pada Anggara, tetapi takut Anggara takut dan malah menjauhinya. Dari itu ia pendam saja.
"Sini!" Anggara kemudian merangkul kepala Dara. "Ceritakan saja apa yang kamu rasakan sama papa, ya. Jangan ditutup-tutupi." Anggara mengusap lembut rambut Dara.
"Papa, tadi Dara dilecehkan."
Anggara mendesah. "Siapa orangnya?"
"Dara tidak kenal. Dara juga tidak tahu siapa, tapi Dara berhasil lari dari orang itu, Papa."
"Baiklah, sekarang kamu istirahat. Papa akan mengirim pesan pada mamamu."
Dara kembali pada posisinya. Ia menyandarkan diri kemudian terpejam.
__ADS_1